Select Language

Kamis, 16 April 2015

Seputar Penyerangan Osirak, Irak oleh Israel

Route of attack 1
Route of attack 1
Beberapa helai kertas kerja mendarat di meja kerja Perdana Menteri Menachem Begin. Jika saja tidak memakai kop Menora, simbol MOSSAD, Begin pasti akan mengabaikannya. Isinya singkat dan padat. Tanpa basa-basi, “Tuan Perdana Menteri, dalam tempo delapan belas hingga dua puluh empat bulan dari sekarang, Irak akan berhasil memproduksi bom atomnya sendiri. Saran kami hanya satu: Hancurkan!”. Keseluruhan misi hanya memakan waktu tiga jam. Operasi Babylon pun selesai. Herannya, dunia internasional hanya bisa mengeluarkan kecaman yang tidak memiliki implikasi apa pun terhadap keberadaan negeri zionis ini. Dalil penyerangan terhadap reaktor Irak yang dikemukakan Israel sebagai bentuk pertahanan diri diterima begitu saja. Padahal, diam-diam, Israel juga memiliki pusat reaktor nuklir yang oleh banyak kalangan bahkan diyakini sengaja memproduksi senjata pemusnah massal (Weapons of Mass Destruction).
Menachem Begin terdiam sesaat. Dia kemudian mengangkat telpon, mengontak Gedung Putih. Hanya dalam hitungan detik, suara Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter, terdengar. Perdana Menteri Israel yang berasal dari Partai Likud ini dengan datar menyampaikan laporan anak buahnya. “Jika dunia internasional tidak membantu kami, maka kami akan bergerak sendiri,” Begin mengakhiri pembicaraan.
Di seberang Samudera Atlantik, Carter hanya bisa mengangguk.
Presiden Amerika ini sangat paham bahwa Begin tidak sedang bercanda, “Ya, kami akan membantu dengan sebaik-baiknya.” Telepon ditutup.
Upaya Carter ternyata tidak maksimal. Zionis-Israel hilang kesabarannya. Pembangunan instalasi nuklir Irak yang dibantu Perancis sudah lama dianggap duri dalam daging yang sewaktu-waktu bisa sangat menyakitkan. Petinggi Israel sudah lama menugaskan MOSSAD untuk mengawasi proyek mercusuar Negeri Seribu Satu Malam ini tiap detik. Sejak 1976, MOSSAD telah membentuk satu unit tim khusus dengan misi utama menyabot usaha Irak dalam menguasai teknologi nuklir.
Di akhir Maret 1979, agen MOSSAD yang ditanam di Perancis mengendus adanya rencana pengiriman inti reaktor nuklir ke Irak. Rencana sabotase disusun dengan cermat. Tepat sehari sebelum dikapalkan, pada 6 April 1979, tiga buah bom meledak di fasilitas nuklir milik perusahaan Perancis bernama Constructions Navales et Industrialles de la Mediterranee di La Seyne-sur-Mer dekat Marseilles, menghancurkan inti reaktor yang siap diberangkatkan.
Sabotase ini mengundurkan program Irak sekurangnya selama setengah tahun. Bom-bom juga dipasang di kantor-kantor dan rumah-rumah para pejabat pemasok kunci Irak di Italia dan Perancis pada tahun itu.Tak sampai setahun kemudian, pada 13 Juni 1980, Dr. Yahya Meshad, pakar fisika nuklir Mesir yang bekerja pada Komisi Energi Atom Irak, mati terbunuh di Paris di dalam kamarnya. Keberadaan Meshad saat itu untuk memeriksa uranium yang telah diperkaya yang hendak dikapalkan sebagai bahan bakar utama bagi reaktor nuklir Irak. Victor Ostrovsky, mantan agen MOSSAD yang membelot, mengatakan bahwa rangkaian teror tersebut didalangi oleh MOSSAD yang menamakannya Sphinx Operation.
Menachem Begin tidak sabar. Sejumlah jenderal Israel yang gemar perang pun sudah mendesak agar Israel segera memberi pelajaran kepada Irak. Serangan kilat harus secepatnya dilaksanakan. Apalagi Israel telah memiliki gunungan data dan informasi tentang instalasi nuklir Osirak. Akhirnya Begin meneken surat perintah penyerangan ke Osirak. Nama sandinya Operation of Babylonia.Dennis Eisenberg (MOSSAD, vol.II, 1986) menulis, “Minggu petang, 7 Juni 1981.
Pantulan cahaya matahari berkilau di ujung landasan pacu Bandara Etzion di Gurun Sinai. Di menara pengawas, seorang jenderal AU-Israel berdiri di samping sebuah pesawat telepon khusus yang langsung terhubung ke pusat komando di Tel Aviv. Dalam hitungan menit, empatbelas pesawat tempur paling mutakhir di dunia keluar dari ruangan besar di bawah tanah. Mereka berjajar rapi di depan hanggar. Para pilotnya sudah berada di bawah kokpitnya masing-masing. Mereka tengah melakukan checking terakhir untuk satu misi yang dikatakan sang jenderal sangat penting bagi kelangsungan hidup negeri Zionis ini.”
Delapan pesawat berjenis F-16 Fighting Falcon yang diberi kode F-16I. Pesawat itu tiba di Israel dari AS tahun 1977. Setelah dimodifikasi Israel, pesawat itu kini punya banyak kelebihan, di antaranya mampu menggendong 2000 bom berbobot 16 ton TNT, belum termasuk rudal Sidewinder di bawah dua sayapnya.
Enam pesawat lainnya F-15 Eagle, sebuah pesawat tempur setingkat lebih canggih dari F-16. Keempatnya ditugaskan untuk mengawal delapan F-16I selama misi.
Jarum jam di menara pengawas telah menunjuk waktu 16.40 waktu setempat. Pesawat telpon dekat sang jenderal berdering. Pesannya singkat dan datar, “Berangkat.” Tidak berapa lama kemudian, burung-burung besi itu telah mengudara dengan gelegar suara yang sanggup merobek gendang telinga.Sesuai rencana, empatbelas pesawat tempur itu terbang ke arah selatan sedikit lalu belok ke kiri, menyusur garis perbatasan Yordania dengan Saudi Arabia, kemudian langsung menuju Sungai Tigris. Di wilayah perbatasan kedua negara, pantauan radar tidak efektif. Alat pendeteksi bunyi pun tidak mampu menangkap sinyal apa-apa sehingga jalur ini dianggap paling aman.
image003
Pola serangan F-16I ( hasil oprekan IAF , mampu menggendong 2000 punds of bomb dalam 1 kali sorti dan membawa AIM sidewinder 2 buah)
Setelah terbang sejauh 965 kilometer, pesawat pertama mengirim sepasang rudal yang dikendalikan video dan tepat menghajar kubah utama reaktor nuklir Irak. Dalam hitungan sepersekian detik, pesawat kedua menjatuhkan muatan bomnya tepat di atas kubah yang sudah bolong dan menghantam semua mesin yang ada di dalamnya. Pelindung atom dan inti reaktor hancur. Seluruh mesin reaktor tersebut jatuh berkeping-keping ke dalam kolam pendingin di bawahnya. Api berkobaran di atas langit sore Irak yang mulai temaram.
Keseluruhan misi hanya memakan waktu tiga jam. Operasi Babylon pun selesai. Herannya, dunia internasional hanya bisa mengeluarkan kecaman yang tidak memiliki implikasi apa pun terhadap keberadaan negeri zionis ini. Dalih penyerangan terhadap reaktor Irak yang dikemukakan Israel sebagai bentuk pertahanan diri diterima begitu saja. Padahal, diam-diam, Israel juga memiliki pusat reaktor nuklir yang oleh banyak kalangan bahkan diyakini sengaja memproduksi senjata pemusnah massal (Weapons of Mass Destruction).
Pilot Israel yang menyerang reaktor nuklir Irak di Osirak
Pilot Israel yang menyerang reaktor nuklir Irak di Osirak
Dalam lawatannya ke Jerman pekan kedua Desember 2006, Perdana Menteri Ehud Olmert ketika diwawancara Stasiun Televisi N24 Sat1 secara tegas menyatakan, “Iran, secara terbuka, eksplisit, dan umum mengancam untuk menghapus Israel dari peta dunia. Dapatkah Anda katakan, ini sama artinya bahwa Iran ingin punya senjata nuklir seperti yang dimiliki Perancis, Amerika, Rusia, dan Israel.”
Pernyataan Olmert memicu kegeraman di kalangan Israel sendiri, karena selama ini Israel menjalankan politik ambiguitas tentang nuklir: tidak mengakui tetapi tidak juga menyangkalnya.Menteri Pertahanan AS yang baru, Robert Gates, juga mengamini Olmert dan mengatakan kepada Senat, “Iran ingin memiliki senjata nuklir karena dikelilingi negara-negara nuklir seperti Pakistan di timur, Rusia di utara, Israel di barat, dan AS di di Teluk Persia.”Keterus-terangan Olmert tentang kepemilikan senjata nuklir oleh Israel dikecam di dalam negeri, tetapi mendapat pembenaran di luar Palestina. Mantan teknisi reaktor nuklir Dimona-Israel, Mordechai Vanunu, yang pernah ditangkap MOSSAD pada tahun 1986 dan dipenjarakan 18 tahun karena dianggap membocorkan rahasia instalasi tersebut menyambut gembira pernyataan itu.
“Ucapan Olmert bukanlah hal baru, tetapi bagus jika Israel memutuskan untuk mempublikasikannya. Seharusnya, dunia kini tidak hanya membahas Iran, tetapi juga Isael sebagai satu ancaman, terkait kesepakatan guna membuat Timur Tengah bebas nuklir dan damai,” ujar Vanunu.
Dan setelah melihat perkembangan kawasan timur tengah sekarang ini menyangkut nuke-nya Iran, apakah operasi semacam itu bisa terjadi lagi?
  • kesimpulan singkat dari sekilas operation of babylon adalah:
    Operation Opera adalah Operasi Udara Militer Israel dengan tujuan membom reaktor nuklir Irak Osirak di Irak bagian tengah
  • Operation Opera dikenal pula sebagai Operation Babylon. Operation Opera dilaksanakan pada Juni 1981
  • Seiring dengan mudahnya perubahan keadaan geopolitik di timur tengah, menjadikan kawasan itu selalu “panas” oleh konflik
  • Adanya indikasi perlombaan senjata nuklir di timur tengah, konflik di kawasan itu seolah menjadi tidak berujung
  • Israel terlebih dulu memiliki kemampuan nuklir dengan keberadaan reaktor nuklir Dimona yang ditengarai memproduksi sejumlah senjata nuklir
  • Pada 1976, Pemerintah Irak mulai menanamkan investasi dalam program riset Teknologi Nuklir secara besar-besaran
  • Pemerintah irak melobi perancis dan italia untuk memberikan bantuan secara materi dalam program riset teknologi nuklirnya
  • Perancis akhirnya menjual Reaktor Nuklir Osiris-class kepada irak, dan fasilitas pendukungnya mulai dibangun di tenggara Baghdad
  • Keseluruhan Fasilitas Teknologi Nuklir irak bernama Al Tuwaitha Nuclear Center yang terletak 12 mil sebelah tenggara dari kota Baghdad
  • Israel yang menganggap Program Nuklir irak sebagai ancaman serius, mulai melakukan segala cara untuk menggagalkan program nuklir irak
  • Israel mengirim surat ancaman kepada perusahaan2 swasta perancis dan italia yang terlibat maupun sebagai supplier bagi program nuklir irak
  • Israel juga melobi pemerintah perancis dan italia untuk menghentikan support terhadap program nuklir irak
  • Pemimpin irak saddam hussein menyatakan bahwa Pembangunan Fasilitas Nuklir sepenuhnya untuk tujuan damai dan ilmu pengetahuan
  • Tidak mau menyerah, pada April 1979 agen Mossad yang beroperasi di perancis meledakkan inti reaktor atom yang akan dikirim ke irak
  • Tidak tanggung-tanggung, Mossad juga membunuh Yehia El-Mashad, Ilmuwan Mesir yang terlibat dalam Program Nuklir Irak
  • Seolah belum cukup, Mossad membom semua kantor perusahaan perancis dan italia yang terlibat dalam Supplier Program Nuklir Irak
  • Tetapi semua ancaman dan usaha yang dilakukan mossad gagal menghentikan program nuklir irak, akhirnya israel mengambil cara keras
  • Israel menyusun operasi udara mendadak bernama Operation Opera / Operation Babylon untuk membom Reaktor Nuklir Osirak
  • Israel hanya punya beberapa bulan saja sebelum reaktor mulai beroperasi, untuk mencegah kontaminasi setelah serangan dilakukan
  • Tanpa diduga, pada september 1980, F-4 Phantom AU Iran terlebih dahulu menyerang reaktor nuklir Osirak, setelah Perang iran-irak meletus
  • Kerusakan yang ditimbulkan tidak parah, dan Reaktor Nuklir Osirak masih dapat diperbaiki dalam waktu singkat
  • Akhirnya, pada 7 Juni 1981 setelah pelatihan yang intensif, Operation Babylon / Operation Opera dilaksanakan
  • AU Israel mengerahkan 8 unit F-16A Fighting Falcon, masing dipersenjatai Bom Mk.84 seberat 2000 pound dengan sistem Delay-Action Fusex`
  • Israel telah mampu dan bahkan membuktikan dunia bahwa militernya mampu melakukan serangan jauh melampaui batas sebuah negara / behind enemy lines
  • Apapun yang dilakukan oleh Israel seluruh dunia pun tidak mampu mencegah bahkan menetralisir
  • Kehandalan AU israel dan pakarnya dalam mengoprek kemampuan F-16 AS yg diterimanya
  • Selain AU , inteljen mereka sungguh aktif , tidak hanya mengendus dalam negeri oleh anggota Mossad -nya sendiri yang membelot salah satunya , akan tetapi bisa mencegah, bahkan menghancurkannya di negeri lain / kemampuan pre-emtive strike luar biasa
  • Herannya Arab saudi, yang nyata wilayahnya digunakan dalam pola seranganke Irak tidak membalas bahkan mengecam ataupun berbuat sesuatu -nya
  • Finally , negeri ini tidak akan ” hancur” seperti ini / mungkin , bila Saddam Hussein tidak menebar teror,ancaman, bahkan penyerangan ke negara tetangga ( kuwait ) yang membuat banyak negara mempersalahkan posisinya , sehingga kepeutusan penyerangan militer dianggap keputusan sesuatu yang logis Di PBB.
Di samping itu memperolok foto Presiden G bush Senior di hotel babylon-nya membuat AS berang dan membuat dalih penyerangan oleh G Bush yunior dengan WMD ( weapon of mass destruction ) meski alasan terakhir ini sulit dibuktikan dari artikel diatas mari dibahas mengenai:
1. kemampuan radar , dan bagaimana penanggulangan pesawat sulit terendus karena terbang rendah
2. Sejauh mana kekuatan radar RI dalam menyikapinya seperti artikel di atas
3. Kemampuan IAF mengoprek F-16 melebihi load maximum , sejauh ini kemampuan TNI dalam menganalisa , mengoprek alutista-nya yang sudah ada
4. seluruh awak pilot, dilarang komunikasi menggunakan radio , isyarat bila perlu , sama seperti angkata udara argentina ( armada ) dalam menyiapkan pola serangan ke kapal HMS Shefield oleh rudal Exocet MM38 Argentina yang dibeli dari Perancis.
Disajikan oleh : BFB (bukan fan boy)
sumber : http://genjo565.blogspot.com/2012/02/akankah-opera-itu-kembali-terjadi.html
posted by : genjo565 publish 2012
http://twitpic.com/bo55fb
“Operation Opera: Operasi Penghancuran Reaktor Nuklir Osirak Irak 1981″ by @TweetMiliter
koran pribadi ane
sumber: jakartagreater.com

0 komentar:

Poskan Komentar

hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner