Select Language

Rabu, 28 Mei 2014

Menyimpul Badai: WE ARE INDONESIA(N)

Turkey's Servet Tazegul kicks Britain's Martin Stamper (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Turkey’s Servet Tazegul kicks Britain’s Martin Stamper (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Saya bukanlah seorang Taekwondo-in yang baik. Setidaknya apabila dilihat dari alasan yang melatari saya dalam mempelajari seni beladiri asal negeri ginseng tersebut. Sempat tumbuh di beberapa negara Eropa, Amerika dan Afrika, membuat saya lebih akrab pada sosok bintang film Hollywood yang lagi ngetrend saat itu, Chuck Noris..! Kelincahan dan keluwesannya saat berduel, telah memikat hati saya untuk lebih mempelajari seni beladiri karate. Namun ketika ibu saya menerima tawaran untuk menjadi konsultan sebuah perusahaan tekstil terbesar di Asia Pasific milik Jepang yang berkedudukan di Bandung, saya mulai dihadapkan pada suatu dilema. Sekolah yang akan menjadi tempat saya melanjutkan pendidikan itu, hanya menyediakan kelas Taekwondo dan Pencak Silat untuk bidang studi ekstrakurikuler Seni Beladiri. Tidak ada pilihan lain..! Hehehe..!
Adalah Tubagus Indra Zuhri, yang kemudian menyarankan saya untuk memilih kelas Taekwondo. Alasannya sederhana. Dia menilai saya cukup baik dalam penguasaan basic karate. Namun tentu saja bukan hanya karena itu, pada saat yang sama saya juga tertarik dengan kelas melukis di kelas seni rupa. Terdorong oleh iming-iming janjinya yang akan melatih saya setiap hari Minggu, maka jadilah saya sebagai peserta baru di kelas Taekwondo. Berada dalam bimbingan langsung salah satu anggota Dewan Guru Taekwondo dunia pada setiap minggu, adalah kesempatan langka yang amat membanggakan..!
Sepenggal kisah masa lalu itu, sekilas mengalun dalam pikiran saya, sepanjang perjalanan menuju suatu tempat yang telah dijanjikan. Di sini, tempat dimana segala yang berbau Korea bisa dengan mudah kita dapatkan. Mulai dari bumbu dapur, sabun mandi, parfum, produk fashion, mainan anak-anak, pusat kebugaran, pusat pengobatan tradisional Korea, klinik bedah plastik, salon, bahkan hingga ke jasa pelayanan sexual dari wanita-wanita asal Korea..! Ya, inilah perkampungan Korea yang ada di salah satu sudut kota Kuala Lumpur. Hehehe..! Tapi tentu saja bukan untuk tujuan yang satu itu jika pada Jumat malam tadi saya berada di sana. Kedatangan saya semata-mata untuk memenuhi undangan seorang sahabat.
Berbekal sekeping kartu nama, petugas keamanan berkebangsaan Nepal di perumahan tersebut membimbing saya ke sebuah rumah yang sudah tidak asing lagi. Yup, rumah itu adalah rumah sahabat saya, orang Korea. Seperti biasa, gonggong anjing akan menyalak, menyambut setiap tamu yang datang. Menangkap kehadiran saya, beberapa orang yang telah lebih dulu datang, bergegas berdiri untuk membukakan pintu dan menyambut kedatangan saya dengan begitu hangat, khas Korea..! Beberapa sahabat Korea saya terlihat hadir, termasuk dua lelaki asal Indonesia yang sudah sangat saya kenal, Tubagus Indra Zuhri beserta sang ayah, Tubagus Zuhri, seorang purnawirawan TNI AD yang pernah menjadi salah satu direksi di PT Pindad saat masih dalam kendali BJ Habibie. Karena mereka jugalah, saya bisa hadir di antara mereka dalam kesempatan itu.
Family Day, sejatinya adalah moment yang dihadiri oleh seluruh anggota keluarga dalam tradisi bangsa Korea, untuk menyambut kedatangan sesepuh atau orang yang dituakan dalam keluarga tersebut. Tujuannya adalah untuk memperat hubungan persaudaraan dan membimbing seluruh anggota keluarga untuk senantiasa berada dalam jalur yang baik dan benar. Berbagai teguran dan pesan penting yang penuh dengan nilai-nilai cinta dan kasih sayang akan dibekalkan kepada semua hadirin. Hal yang paling unik bagi saya adalah tentu saja atraksi yang dipersembahkan oleh masing-masing keluarga yang berlangsung hingga ke pagi hari. Ada nyanyian, tarian, persembahan musik dan ada juga atraksi bela diri yang menampilkan berbagai ilmu bela diri tradisional dari Korea. Selain itu, hal yang paling saya nantikan adalah bertemu dengan sesepuh keluarga tersebut. Biasanya, dia merupakan sosok yang paling dihormati dan paling didengar di dalam lingkungan keluarga besar. Termasuk sosok lelaki tua yang sedang berhadapan dengan saya saat ini. Sebut saja Kim, panggilan akrab yang sudah melekat sejak kecil.
Kim adalah seorang veteran perang Korea yang sangat dihormati semasa mudanya. Kecerdasan, kegigihan dan keberanian, adalah karakter yang melekat kuat dalam dirinya. Semasa Korea Utara melakukan invasi ke wilayah Korea Selatan pada 25 Juni 1950, Kim memimpin sebuah resimen Angkatan Darat Korea untuk maju bertempur menghadang serangan tentara Korea Utara yang didukung penuh oleh militer China dan Uni Soviet. Tak terhitung berapa banyak korban yang dia saksikan harus meregang nyawa diterjang mortir atau tertembus timah panas. Naluri kemanusiaannya terusik. Melepaskan senjata, dan diam-diam melepaskan diri dari pasukan, kemudian menyusup ke jantung pertahanan lawan, dan berhasil menemui panglima komando perang Korea Utara. Dia berhasil meyakinkan, perang yang terjadi saat itu tidak semestinya terjadi seandainya tidak ada hasutan pihak asing. Kita bersaudara..! Begitulah seru Kim. Luar biasa, keberhasilan diplomasinya sempat menghentikan letusan api peperangan. Bahkan harapan untuk disenggarakannya kembali perjanjian damai di antara mereka kian memuncak. Mimpi terwujudnya sebuah Korea yang bersatu kembali terbersit dalam hati mereka. Namun sayang, di saat bersamaan nun jauh di tengah lautan, pasukan tempur USA yang terlanjur menerima permintaan pemimpin Korea untuk membantu mereka, sedang bergegas menuju medan perang.
Republic of Korea (ROK) soldiers move in single file toward Korea's east-central front near Lookout Mountain, east of the Pukhan River, on June 28, 1953 during the Korean War (photo: AP)
Republic of Korea (ROK) soldiers move in single file toward Korea’s east-central front near Lookout Mountain, east of the Pukhan River, on June 28, 1953 during the Korean War (photo: AP)
Melihat gelagat yang mengancam, akhirnya pesan damai yang ditawarkan Kim pun diabaikan. Korea Utara kembali melakukan serangan membabi buta. Wilayah kekuasaan Korea Selatan saat itu hanya tinggal menyisakan secuil wilayah di Selatan. Impian Korea Utara untuk menguasai seluruh wilayah di semenanjung Korea hampir terwujud. Sayang, USA telah lebih dulu datang dan langsung melakukan penyerangan langsung dari ketiga matra. Liciknya, melihat besarnya kekuatan Korea Utara dalam pertempuran tersebut, USA berhasil mendesak PBB untuk segera mengirimkan pasukannya.
Alih-alih menjaga perdamaian, pasukan PBB ini malah terlibat perang membela Korea Selatan dari serangan tiga serangkai Korea Utara, China dan Uni Soviet. Tentara sekutu berhasil memukul mundur pasukan Korea Utara hingga memasuki wilayah Khaseong. Di wilayah ini pula, tepatnya di garis LU 38 derajat, kekuatan kedua belah pihak mengalami titik kesetimbangannya. Baik Korea Utara maupun Korea Selatan, tidak mampu lagi bergerak untuk memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga akhirnya gencatan senjata pun disepakati oleh kedua belah pihak, bahkan hingga ke hari ini.
The ceasefire of 1953 called for all foreign troops to be withdrawn from the Korean peninsula. The Chinese withdrew, as did the Canadians, British and most other UN forces. But the Americans, at the behest of the South Korean government, stayed. (photo: Hulton Archive / GETTY IMAGES)
The ceasefire of 1953 called for all foreign troops to be withdrawn from the Korean peninsula. The Chinese withdrew, as did the Canadians, British and most other UN forces. But the Americans, at the behest of the South Korean government, stayed. (photo: Hulton Archive / GETTY IMAGES)
Tidak adanya perjanjian damai yang menyepakati dan mengatur batas-batas wilayah kedua Korea, telah menyebabkan kondisi damai yang ada saat ini menjadi sangat rentan dari kemungkinan kembali terjadinya perang di antara mereka. Hal yang paling menyakitkan adalah justru ketika belakangan terkuak sebuah perjanjian rahasia antara USA dan USSR, yang telah mengatur batas wilayah di garis LU 38 derajat, sebagai batas yang telah mereka sepakati sejak lama, bahkan di saat kedua Korea belum mendapatkan kemerdekaannya.
Hadirnya Uni Soviet yang telah membantu melawan Jepang dalam perang Pasific, membuat USA terpanggil untuk memberikan hadiah kepada seteru abadinya itu. Di saat USA membentuk wilayah penyangga di Selatan, maka USSR dibiarkan membangun wilayah penyangganya di Utara. Garis LU 38 derajat, adalah batas demarkasi yang mereka sepakati berdua. Hal ini pulalah yang kemudian memicu pemberontakan para kaum nasionalis Korea Selatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman USA. Namun sayang, pemberontakan yang dilakukan, terlalu mudah untuk dijinakkan.
Sebagai pemilik ideologi kapitalis, USA berhasil mencekoki para elit kaum nasionalis dengan berbagai kemewahan yang selama ini hanya dimiliki bangsa Jepang. USA berhasil meyakinkan rakyat Korea Selatan bahwa tujuan dari sebuah aliansi adalah kesejahteraan, bukan kekuatan. Angin globalisasi dihembuskan, rakyat Korea Selatan dihalalkan untuk mengagumi keberhasilan ekonomi negara-negara sekutu USA, dan membawanya pulang ke tanah air untuk dijadikan sebuah pajangan yang kelak akan dipertontonkan pada saudaranya di Utara.
Ketiadaan perjanjian damai, telah menyebabkan lahirnya perbedaan cara pandang di antara dua Korea. Bagi Korea Utara, menganggap bahwa kondisi damai yang ada hanya bersifat sementara, sejatinya perang masih sedang berlangsung, sehingga kebutuhan militer masih menjadi prioritas utama. Sedangkan Korea Selatan terlihat mulai melupakan perang, dan lebih fokus untuk membangun ekonominya. Fakta di lapangan menunjukan dua sisi perbedaan yang amat mencolok. Dari segi ekonomi, Korea Selatan jelas sudah jauh meninggalkan saudaranya di Utara. Tapi dari segi militer dan penguasaan teknologi militer, Korea Utara, masih lebih menjanjikan untuk memenangi pertempuran kapanpun dan di manapun.
Hal ini diakui secara jujur dan tulus oleh Kim, yang pasca Revolusi April 1960, dia keluar dari dinas kemiliteran, dan mengabdikan diri pada misi-misi damai yang diemban oleh Kemenlu Korea Selatan. Pernah bertugas di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Australia. Kecintaannya yang besar terhadap Taekwondo, telah menjadikannya sebagai salah satu atase kebudayaan atau diplomat Korea Selatan yang paling disegani dunia. Dia berhasil mempopulerkan Taekwondo ke seluruh dunia, dan memiliki networking yang luas dengan berbagai kalangan terkemuka.
Taekwondo, telah mempertemukan beliau dengan Indonesia, keluarga besar Tubagus Zuhri, dan hari ini dengan saya. Hahaha..! Ketika saya akan melakukan tendangan memutar, saya melihat bahasa tubuhnya ingin melakukan serangan, akhirnya dengan segera saya mengubah gerakan, dan membuat tendangan lurus menyamping. Gagal diantisipasi, akhirnya kaki saya mendarat mulus di bagian tengah body protector yang terpasang di tubuhnya. Seketika ruangan pun menjadi riuh dengan tepuk tangan yang penuh keriangan. Senang dan bangga bisa berlatih Taekwondo dengan salah seorang mantan Ketua Dewan Guru Taekwondo Dunia. Terima kasih Kim..!
“You are the winner..!” bisiknya lirih. Hehehe..! Tentu saja ucapannya ini bukan untuk memuji saya yang barusan telah sukses memperdayainya dengan tendangan lurus menyamping. Ucapan ini ditujukan untuk segenap bangsa Indonesia, yang selalu bisa melepaskan diri dari cengkeraman kekuatan asing. Kita pernah dikuasai Portugal, Belanda dan Jepang. Kita juga pernah disusupi Inggris, USA, USSR dan China. Tapi hingga kini, dari Sabang sampai Merauke, kita masih bersama-sama dan tetap bangga untuk berkata, Kita adalah Indonesia, Kita bangsa Indonesia..! Meski di luar, kita perlu tahu bahwa libido kekuasaan sang adikuasa tidak pernah surut.
Cita-cita terbesar mereka yang sesungguhnya bukanlah untuk menguasai negara-negara kecil seperti Singapore, Malaysia, New Zealand, Kore Selatan, Philipine, Thailand ataupun Taiwan. Dari dulu hingga sekarang, USA masih berambisi untuk membangun rantai api kekuatan yang terbentang dari Jepang, Indonesia, Australia dan Honolulu. Mereka sangat yakin, dengan bermodalkan kekuatan ini, USA akan menggapai segala puncak kekuasaannya di dunia. Take all benefits, and run..! Pesannya singkat dan padat.
Di atas meja telah tersedia beberapa botol wine dari Korea dan teh ginseng hangat dalam poci. Senyumnya tulus mengembang. Sembari menepuk bahu, dia menyodorkan secawan teh ginseng kepada saya. Minuman yang sangat sarat dengan makna. Teh merupakan lambang ketenangan dan kedamaian. Sedangkan ginseng melambangkan kekuatan. Artinya, dengan minuman itu, dia menyampaikan pesan bahwa ketenangan dan kedamaian adalah tujuan awal dan akhir dari sebuah kehidupan, adapun kekuatan akan diperlukan untuk meraih kemenangan, agar segarnya teh dan hangatnya ginseng bisa terus dinikmati. Sebuah pesan damai yang indah, yang perlu terus dijaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya mengangguk dan membungkuk, sebagai tanda telah memahami pesan yang dimaksud.
Jam telah menunjukan pukul tiga pagi, ketika saya harus berpamitan pulang. Bulan di balik awan turut lancang memandang, ketika saya menyusuri jalanan Kuala Lumpur yang lengang. Pikiran saya terus menerawang, merenungi kembali berbagai peristiwa dan fenomena yang datang tak diundang. Ada peristiwa penyadapan yang melibatkan USA, Australia, Malaysia, Singapore, Korea Selatan dan Jepang. Ada penguasaan Ukraina oleh Barat, dan ada juga pembelotan Crimea oleh Russia.
Kota Kuala Lumpur
Kota Kuala Lumpur
Terakhir adalah kembalinya dua raksasa yang paling ditakuti dunia. Russia dan China kembali memperkuat poros Moskwa-Beijing. Bagi Korea Selatan, hal ini merupakan pertanda nyata, bahwa perang terbuka akan kembali mengemuka. Namun aliran peristiwa yang ada, dinilai masih belum cukup untuk memenuhi prasyarat perang yang sebenarnya. Masing-masing kubu masih berusaha melakukan tebar pesona untuk memikat bangsa idamannya. Berbagai kemewahan sedang ditawarkan, agar impian kian pasti dalam genggaman.
Sikap Indonesia sedang menjadi panutan sekaligus juga tontonan. Setiap keputusan yang diambil akan menentukan rambatan api dalam sumbu mesiu itu, apakah akan semakin berkobar atau justru sebaliknya akan padam. Sampai disini, saya mulai menemukan keterhubungan di antara pernyataan menggelitik yang pernah disampaikan oleh sahabat-sahabat dari Korea, mulai dari sebutan otak dagang hingga yang terakhir, take it all and run..! Hehehe..!
Mungkinkah mereka ingin mengatakan bahwa keputusan untuk berperang yang lebih besar selanjutya ada di pundak bangsa Indonesia? Saya yakin kita semua tidak yakin, mengingat sudah terlalu lama kita tidak pernah menjadi pemeran utama dalam episode sandiwara dunia. Tapi ingat, menjadi aktor besar, bagi Indonesia bukan sekedar ilusi atau pun ambisi, secara nyata kita telah memiliki potensi. Selamat berjuang, Bung..! Salam Indonesia Besar..! Mari tetap berbangga untuk berucap, WE ARE INDONESIA(N)..! Salam..! (by:yayan@indocuisine / Kuala Lumpur, 24 May 2014).

Industri Roket dan Rudal Indonesia Prancis

RBS 15 (photo: Roxel)
RBS 15 (photo: Roxel)
24/05/2014. Satu lagi kabar baik bagi Industri Pertahanan dalam negeri. ARC mendapat kabar, sudah ditandatanganinya MoU kerja sama pembangunan pabrik propelan antara PT.DAHANA dengan Roxel serta Eurenco dari Prancis. Pengumuman kerja sama itu sendiri akan diumumkan oleh Kementerian Pertahanan dalam waktu dekat.
Dalam kerjasama ini, semua pihak sepakat membangun pabrik propelan di kawasan Subang Jawa Barat. Pabrik seluas 50 hektar ini, nantinya dibangun di area PT. Dahana dan akan memakan waktu pembangunan selama 4 tahun. Diharapkan, ground breaking pertama pabrik propelan nasional akan berlangsung sebelum HUT TNI 5 oktober mendatang. Produk yang dihasilkan nantinya akan diserap oleh industri pertahanan, terutama bahan baku untuk membuat peluru, roket dan peluru kendali.
Rudal Anti-Kapal Permukaan Sea Skua (photo: Roxel)
Rudal Anti-Kapal Permukaan SeaSkua (photo: Roxel)
Roxel sendiri merupakan penghasil propelan ternama asal Prancis. Hampir semua Roket dan Rudal buatan eropa barat menggunakan propelan buatan Roxel. Roxel juga dipercaya sebagai pembuat “boost dan sustain motors” berbagai roket: Exocet, Mistral, Rapier, Aster, VL Mica, VL Seawolf, Starstreak, Marte, Sea Skua, Otomat, RBS-15 dan banyak lagi.
GMLRS rocket firing from HIMARS (photo: Roxel)
GMLRS rocket firing from HIMARS (photo: Roxel)
Roxel juga pembuat dari booster peluru yang diluncurkan dari kapal selam Stromshadow, air to air Asraam, Magic 2, Anti-Tank Milan, PARS 3 dan berbagai jenis misil dan roket lainnya.
Kabarnya Roxel juga akan memasok propelan Munisi Kaliber Khusus untuk PT.Pindad
Aster 15 Surface to Air
Aster 15 Surface to Air
Sementara Eurenco merupakan perusahaan yang mengembangkan, memproduksi dan menyediakan aneka ragam bahan energetik untuk pertahanan dan pasar komersial. Termasuk untuk bahan isian propelan dan hulu ledak meriam, hingga rudal anti tank.
Upaya kemandirian di bidang propelan ini sendiri merupakan salah satu program utama KKIP. Industri propelan merupakan salah satu industri strategis menuju kemandirian di bidang Roket serta Peluru Kendali. Sehingga cita cita Roket serta Rudal nasional kini semakin mendekati kenyataan. (sumber: ARC.web.id)

Jaga Perbatasan dan Terus Perkuat Alutsista

Tanning Datuk, Kalimantan Barat (photo: satuharapan.com)
Tanning Datuk, Kalimantan Barat (photo: satuharapan.com)
Semarang. Sengketa lahan antara Indonesia-Malaysia untuk wilayah Tanjung Datuk, Kecamatan Paloh, Kalimantan Barat, kini dalam status quo. Tapi Malaysia, baru-baru ini, mengusiknya dengan mencoba membangun mercusuar di wilayah sengketa itu, bahkan proyek tersebut sampai melanggar batas wilayah RI.
“Kurang lebih ada sekitar satu mil — sesuai perhitungan TNI — masuk ke wilayah NKRI,” ungkap Panglima TNI Jenderal Moeldoko, di sela-sela kunjungan kerja di Markas Kodam IV/Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (23/5).
Namun, kini TNI memastikan tidak ada lagi aktivitas pembangunan tiang pancang suar oleh Malaysia di Tanjung Datuk. TNI telah mengambil sikap tegas dengan menghentikan ulah lancung negeri jiran itu dan ‘mengusir’ seluruh pekerjanya.
“TNI telah mengambil langkah-langkah tegas untuk mempertahankan kedaulatan negara,” kata Moeldoko.
Langkah-langkah politik, menurut Jenderal Moeldoko, akan dilakukan pemerintah Indonesia dengan melayangkan protes atas sikap yang ditunjukkan negeri jiran itu.
Astros 2
Astros 2
Ujicoba Astros II
Bertempat di São Paulo Brasil, Tim dari Kementerian Pertahanan berkunjung ke Avibras, Sao Paulo yang memproduksi Astros II, Kamis (22/5). Tim dipimpin Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemenhan Laksda Rachmad Lubis. Rombongan diterima Presiden Avibras Sami Youssef Hassuani, Direktur Pengembangan Bisnis Internasional Leandro Villar, dan Manajer Pengembangan Bisnis Hans Kristensen.
Sami Youssef Hassuani mengatakan pemesanan atau pembelian Astros II bukan cuma kerja sama bisnis.
“Ini lebih dari sekadar kerja sama bisnis, tetapi juga kerja sama telnologi, dan kerja sama pertahanan antara Brasil dan Indonesia karena meski kami perusahaan swasta, angkatan bersenjata Brasil mendukung kami,” kata Hassuani, seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia Usman Kansong dari Sao Paulo, Brasil.
Dalam rombongan Kemenhan, turut serta staf Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, Bappenas, dan wartawan.
Astros 2
Astros 2
image
Astros 2 TNI (photo: defense-studies.blogspot.com)
Astros 2 TNI (photo: defense-studies.blogspot.com)
image
“Ini adalah bentuk keterbukaan informasi agar rakyat tahu untuk apa uang negara digunakan, juga dalam rangka good governance dan clean government,” jelas Laksda Lubis kepada pihak Avibras.
Rombongan Kemenhan berkesempatan melihat langsung tahap-tahap produksi Astros II. Pekan depan akan dilakukan uji coba Astros II dan akan disaksikan Wamenhan Sjafrie Syamsoeddin.(Republika.co.id dan Metro TV).

AASAM 2014, TNI AD Jagonya

Indonesian sniper team Private M. Mulyana and 2nd Sergeant M. Mansur shoot at Robotic Smart Targets from Marathon Targets during Match 203 for Sniper Panoramic. The match is fired from any supported position at stationary and moving targets between 150 and 1000m. Robotic Smart Targets from Marathon Targets were used for the first time at this year's Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM).
Indonesian sniper team Private M. Mulyana and 2nd Sergeant M. Mansur shoot at Robotic Smart Targets from Marathon Targets during Match 203 for Sniper Panoramic. The match is fired from any supported position at stationary and moving targets between 150 and 1000m. Robotic Smart Targets from Marathon Targets were used for the first time at this year’s Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM).
Tim petembak TNI AD kembali mengukir prestasi membanggakan sebagai juara umum pada kejuaraan menembak tingkat internasional, Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2014, dengan perolehan medali 32 emas, 15 medali perak dan 20 medali perunggu, di Australia pada tanggal 5 hingga 16 Mei 2014.
Sedangkan urutan ke 2 ditempati tim petembak tuan rumah Australia dengan perolehan medali 6 emas, 15 perak dan 20 perunggu. Adapun diurutan ketiga ditempatkan tim petembak dari tentara Brunai Darusallam dengan perolehan medali 5 emas, 4 perak dan 1 Perunggu.
 Team Shot: the shooters from Brunei are tough competition every year. All the best for 2014!

Team Shot: the shooters from Brunei are tough competition every year. All the best for 2014!
 Team Shot: the Royal Australian Air Force 23 Squadron firers have been impressing on the range this year. Good luck RAAFies!

Team Shot: the Royal Australian Air Force 23 Squadron firers have been impressing on the range this year. Good luck RAAFies!
 Scores: MATCH 47: LSW Individual Aggregate, International

Scores: MATCH 47: LSW Individual Aggregate, International
image
image
Gelar sebagai juara umum yang diraih TNI AD ini merupakan yang ke 7 kalinya diperoleh secara berturut-turut dari tahun 2008 hingga 2014. Pada pelaksanaan tahun 2014 kali ini diikuti oleh 16 tim petembak dari tentara Negara di kawasan Asia Pasifik yaitu Indonesia, Australia, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jepang, Fhilipina, Thailand, Timor Leste, Papua Nugini, Singapura, Brunai Darussalam, New Zealand, New Caledonia, Papua Nugini dan Tonga.
image
Philippines Army Shooting Team member Technical Sergeant Eric B. Guiniling, at the Mechanical Target Range (MTR), fires his 5.56mm M16 A2 assault rifle in the prone unsupported position with sling during Match 12. Match 12 is an advanced application of fire where firers engage their targets at ranges from 100m to 300m from all conventional positions both supported and unsupported.
Team Shot: British Army soldiers from the 2nd Battalion, Royal Gurkha Rifles, (l-r) Rifleman Deepak Gurung, Lance Corporal Suye Gurung, LCPL Bal Bakadur Gurung, Signaller Pardeep Gurung and Rifleman Niran Rai. Hope you've enjoyed the competition!
Team Shot: British Army soldiers from the 2nd Battalion, Royal Gurkha Rifles, (l-r) Rifleman Deepak Gurung, Lance Corporal Suye Gurung, LCPL Bal Bakadur Gurung, Signaller Pardeep Gurung and Rifleman Niran Rai. Hope you’ve enjoyed the competition!
Singapore's Corporal Muhamad Firdalis Bin Tarmid fires his SAR 21 in the keeling unsupported position at the 100m mound during Match Four. Match Four is designed for individuals to supply basic application of fire at 100m employing snap fire with position changes after a 100m run. The run is to induce a level of stress and fatigue on the competitors.
Singapore’s Corporal Muhamad Firdalis Bin Tarmid fires his SAR 21 in the keeling unsupported position at the 100m mound during Match Four. Match Four is designed for individuals to supply basic application of fire at 100m employing snap fire with position changes after a 100m run. The run is to induce a level of stress and fatigue on the competitors.
1st Battalion, Royal Australian Regiment, sniper team Corporal (CPL) Brodie Keating and Private (PTE) Luke Barnes win the 'Matty Lambert Memorial Trophy' for best ADF Sniper Pair at AASAM 2014. The pair also came third in the overall standings.
1st Battalion, Royal Australian Regiment, sniper team Corporal (CPL) Brodie Keating and Private (PTE) Luke Barnes win the ‘Matty Lambert Memorial Trophy’ for best ADF Sniper Pair at AASAM 2014. The pair also came third in the overall standings.
Kasad Jenderal TNI Budiman dalam acara menerima laporan kembali tim petembak bertempat di Mabesad, Kamis (22/5), menyampaikan ucapan selamat datang di tanah air dan ucapan terima kasih atas prestasi membanggakan, yang telah dipersembahkan kepada TNI Angkatan Darat, bangsa dan Negara.
Menurut Kasad, keberhasilan ini membuktikan kepada Angkatan Darat negara sahabat, bahwa TNI Angkatan Darat senantiasa membangun diri menjadi tentara modern yang profesional, tentara yang hanya fokus pada tugas pokoknya sebagai alat pertahanan yang tangguh dan patut dibanggakan rakyatnya.
Indonesian Army Shooting Team member Private Yudha Hany Cahyadin keeps occupied as he wait for his turn to shoot at this year's Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM).
Indonesian Army Shooting Team member Private Yudha Hany Cahyadin keeps occupied as he wait for his turn to shoot at this year’s Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM).
Indonesian Army Shooting Team member Private Yudha Hany Cahyadin at this year's Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM).
Indonesian Army Shooting Team member Private Yudha Hany Cahyadin at this year’s Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM).
Indonesian Army Shooting Team member Lance Corporal (LCPL) Mansur keep his team occupied with a bit of ball skills, as they wait for their detail to shoot at this year's Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM).
Indonesian Army Shooting Team member Lance Corporal (LCPL) Mansur keep his team occupied with a bit of ball skills, as they wait for their detail to shoot at this year’s Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM).
image
 l-r. US Army's sniper team Sergeant Jason Fairchild and Staff Sergeant Mitchell Shaw, competing in Match 201, the Sniper Snap. The match tests the sniper team in rapid target acquisition. Targets appear from 200 to 1,000m. The match is only one of seven matches over five days of competition for the best international sniper team which is part of this year's Australian Army Skill at Arms Meeting

l-r. US Army’s sniper team Sergeant Jason Fairchild and Staff Sergeant Mitchell Shaw, competing in Match 201, the Sniper Snap. The match tests the sniper team in rapid target acquisition. Targets appear from 200 to 1,000m. The match is only one of seven matches over five days of competition for the best international sniper team which is part of this year’s Australian Army Skill at Arms Meeting
image
image
Lomba tembak Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) merupakan ajang lomba tembak tahunan yang diselenggarakan oleh Angkatan Darat Australia sejak tahun 1984 dan untuk pertama kalinya dibuka untuk kontingen petembak Internasional pada tahun 1988.
 The Japanese Cheer Squad - these competitors had a day off from shooting today so showed their support to their team members during the machine gun pairs match. ???????

The Japanese Cheer Squad – these competitors had a day off from shooting today so showed their support to their team members during the machine gun pairs match. ???????
 Team Shot: The Chinese shooting team have proven tough competition in their first year competing at AASAM! ???? (Good luck)!

Team Shot: The Chinese shooting team have proven tough competition in their first year competing at AASAM! ???? (Good luck)!
 Team Shot: the British Army Shooting Team at AASAM. Thanks for the brilliant bagpipe display from Pte Fraser Hall - awesome stuff! Photo by Sergeant Brian Hartigan

Team Shot: the British Army Shooting Team at AASAM. Thanks for the brilliant bagpipe display from Pte Fraser Hall – awesome stuff!
Photo by Sergeant Brian Hartigan
 Portrait: Private Melissa Elias, 8th Signals Regiment. Photo by Sergeant Brian Hartigan

Portrait: Private Melissa Elias, 8th Signals Regiment. Photo by Sergeant Brian Hartigan
Adapun materi yang diperlombakan adalah materi perorangan maupun tim pada nomor senapan, pistol, senapan otomatis (SO) dan gabungan senapan dan SO. Senjata yang digunakan prajurit TNI AD pada kejuaraan AASAM adalah produk dalam negeri yaitu produk PT Pindad (Persero) antara lain senapan serbu SS2-HB (Heavy Barrel), senapan Mesin SM-2 dan SM-3 serta pistol G2 versi Elite. (tniad.mil.id / Facebook Aasam 2014 / Sergeant Brian Hartigan).

Pesawat Tempur Sukhoi Su-30 Flanker

Pemerintah Republik Indonesia baru saja menerima kedatangan 2 unit jet tempur Sukhoi Su-30 dari 6 pesawat sejenis yang sudah dipesan. Pesawat ini adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996, dan masuk dalam jenis pesawat tempur multi-peran, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Model Sukhoi SU-30 bisa dibandingkan dengan F/A-18E/F Super Hornet and F-15 Eagle, buatan Amerika Serikat.

Sukhoi Su-30 adalah pengembangan dari Su-27UB,
dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KNAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan dari grup Sukhoi. KNAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada Tiongkok. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK buatan Irkut. Antara lain Su-30MKI, yang merupakan pesawat yang dikembangkan khusus untuk Angkatan Udara India, serta MKM untuk Malaysia dan MKA untuk Aljazair.

Sukhoi Su-30 hanya bisa dinaiki oleh dua kru. Dengan panjang 21.935 m, lebar sayap: 14.7 m, tinggi: 6.36 m, luas sayap: 62.0 m², pesawat ini cukup handal untuk terbang jarak jauh. Bobot kosong: 17,700 kg dan bobot terisi: 24,900 kg. Pesawat ini bobot maksimum lepas landas: 34,500 kg. Menggunakan mesin: 2× AL-31FL low-bypass turbofan, pesawat ini laju maksimumnya mencapai Mach 2.0 (2,120 km/h, 1,320 mph) dengan jarak jangkau: 3,000 km at altitude. 

Spesifikasi Jet Tempur Sukhoi Su-30 Flanker-C :

  • Kru : 2
  • Panjang : 21,935 m
  • Lebar sayap : 14,7 m
  • Tinggi : 6,36 m
  • Luas sayap : 62,0 m²
  • Bobot kosong : 17.700 kg
  • Bobot terisi : 24.900 kg
  • Bobot maksimum lepas landas : 34.500 kg
  • Mesin : 2unit AL-31FL low-bypass turbofans
    • Dorongan kering : 7.600 kgf masing-masing
    • Dorongan dengan pembakar lanjut : 12.500 kgf masing-masing
Kinerja
  • Kecepatan maksimum : Mach 2.0 (2.120 km/jam, 1,320 mph)
  • Jarak jangkau : 3.000 km pada ketinggian maksimal penerbangan
  • Ketinggian maksimum penerbangan : 17.300 m
  • Laju panjat : 230 m/detik
  • Beban sayap : 401 kg/m²
  • Dorongan/berat : 1.0
Persenjataan
  • Cannon : 1 unit GSh-30-1 kaliber 30 mm, 150 putaran
  • Rudal Udara-ke-Udara : 6 unit R-27ER1 (AA-10C), 2 unit R-27ET1 (AA-10D), 6 unit R-73E (AA-11), 6 unit R-77 RVV-AE(AA-12)
  • Rudal Udara-ke-Permukaan : 6 unit Kh-31P/Kh-31A rudal anti radar, 6 unit Kh-29T/L rudal berpandu laser, 2 unit Kh-59ME
  • Bom : 6 unit KAB 500KR, 3 unit KAB-1500KR, 8 unit FAB-500T, 28 unit OFAB-250-270
www.republika.co.idwikipedia.org

Alutsista Andalan Buatan Anak Negeri

Ini kabar baik bagi industri pertahanan nasional. Tentara Nasional Indonesia (TNI)  Angkatan Darat (AD) baru saja meluncurkan Kapal Motor Cepat (KMC). Kapal yang diberi nama "Komando" itu asli buatan dalam negeri.

Peluncuran yang digelar di Pantai ABC Ancol, Jakarta, Selasa 29 April 2014, ditandai dengan demonstrasi, manuver dan uji tembak KMC 'Komando'. Disaksikan langsung Kepala Staf AD (KSAD) Jenderal Boediman.

Kapal ini merupakan hasil karya anak negeri. Dari tangan ahli yang terdiri dari para perwira Direktorat Pembekalan dan Angkutan (Ditbekang) TNI-AD dengan melibatkan tenaga ahli dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan tenaga pelaksana pembangunan PT Tesco Indomaritim.

"Kami sudah beli 10 unit. Per unit seharga Rp 12 miliar sudah termasuk biaya riset dan pembangunannya," kata Jenderal Budiman.

Dari sepuluh unit KMC Komando itu, bulan ini baru dua unit yang telah selesai diproduksi. Selebihnya, akan selesai pada akhir bulan depan. Kata Budiman, harga produksi kapal motor ini jauh lebih murah ketimbang membeli kapal sejenis dari luar negeri.

Kapal ini akan didistribusikan ke sembilan Komando Daerah Militer, yakni Kodam Iskandar Muda, Kodam Bukit Barisan, Kodam Sriwijaya, Kodam Mulawarman, Kodam Wirabuana, Kodam Udayana, Kodam Tanjungpura, Kodam Patimura, dan Kodam Cendrawasih.

Daerah operasi kapal ini meliputi rawa, laut, sungai, dan pantai. Kapal ini juga bisa digunakan untuk pendaratan pasukan di pantai dan mampu berlayar terus menerus sejauh 250 NM (mil laut).

KMC berkapasitas 31 penumpang dan tiga ABK. Kecepatan maksimum kapal ini mencapai 35 knot. Tapi, untuk pengembangan berikutnya, kecepatan akan ditambah.

"Tahun 2015 nanti, kecepatannya akan ditambah menjadi 45 knot. Harus lebih cepat dari sekarang, karena pertempuran ke depan memerlukan kecepatan dan akurasi. KMC Komando terus akan kami kembangkan," kata Jenderal Budiman.

Untuk persenjataan, kapal ini dilengkapi dengan sistem senjata mesin berat (SMB) dengan jenis peluru 17,5 milimeter yang mampu menembak hingga 6 kilometer dengan jarak efektif tembakan 2 kilometer. "Dengan begitu, posisi penembak lebih aman," kata dia.

Bukan cuma itu, kapal ini juga memiliki dengan sistem tracking and locking target. Sistem tersebut mengatur penggunaan senjata secara otomatis yang dikendalikan oleh seorang penembak dari dalam ruang kemudi.

  

Minim Alat 

Wilayah Indonesia begitu luas. Sarana penunjang sudah menjadi keharusan. Itulah yang diinginkan KSAD Jenderal Budiman.

"Jujur, kadang-kadang kami sedih melihat prajurit yang bertugas di wilayah pesisir dan terpencil. Mereka mengalami keterbatasan transportasi," kata Budiman.

Meski terkadang mendapatkan pinjaman kapal pengangkut pasukan dari satuan di atasnya, seperti Komando Militer wilayah setempat, namun kendala teknis sering tak teratasi.

Tak jarang, kapal yang dipinjamkan itu justru tidak dapat digunakan karena medan perairan yang dilalui terlalu dangkal. Sedangkan kapal yang ada rata-rata untuk perairan dalam.

Dia khawatir, ketidakmampuan TNI dalam menunjang sarana operasi anggotanya, dimanfaatkan pihak lain yang justru akan merugikan kedaulatan bangsa. "Kami memikirkan tentara yang berada di wilayah kecil (Kepulauan) ini, jangan sampai dibiayai oleh pihak lain (asing)," kata dia.

Oleh karena itulah, kata Budiman, pihaknya melakukan kerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan PT Tesco Indomaritim, untuk mengembangkan teknologi KMC Komando. Kapal yang dapat digunakan di permukaan air dengan kedalaman hanya satu meter. 

Geliat produksi anak negeri

Kita patut berbangga. Anak bangsa sudah bisa memproduksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) sendiri. Sehingga, tidak terlalu bergantung pada negara lain.

Menurut Wakil Menteri Pertahanan, Letnan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, pertahanan Indonesia di level menengah memang menggunakan produk dalam negeri selama ini, yaitu hasil produksi PT Pindad.

"Kapal combatant dan kapal angkut buatan PT PAL juga sudah digunakan," kata Sjafrie di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu 5 Februari 2014.

Kata dia, saat ini PT Pinpad sudah memproduksi 250 panser Anoa dan puluhan ribu senjata api dan pistol yang sesuai standar TNI. 

Bahkan, kata dia, beberapa alutsista sudah diekspor ke sejumlah negara ASEAN. Beberapa negara ASEAN sudah mencapai proses nego terkait pembelian alutista buatan Indonesia. Misalnya, Brunei Darussalam dan Malaysia ingin membeli panser. Kedua negara itu, kata Sjafrie, juga tengah mengobservasi pesawat CN 25.

Sementara itu, Arab Saudi dan Korea Selatan sudah membeli pesawat jenis Boeing 235. "Ini cukup membanggakan untuk pesawat 235 dan 295. Sayap dan radar pesawat itu buatan Bandung," ujar Sjafrie.

Sjafrie mengatakan, industri pertahanan Indonesia memang sudah mampu memenuhi tingkat menengah. Namun, saat ini, Indonesia masih harus mengimpor alutsista tingkat tinggi, seperti pesawat tempur, kapal tempur, dan kapal selam.

Meski begitu, Sjafrie yakin, dalam 10 tahun mendatang, Indonesia sudah mampu membuat alutsista tingkat tinggi. "Dalam 10 tahun lagi bisa membuat kapal tempur sendiri," ujar dia.

Produk Unggulan

Kebangkitan industri pertahanan dalam negeri bukan pepesan kosong. Buktinya, sejumlah negara mulai tertarik menggunakan alutsista buatan Indonesia. Sebut saja Irak.

Persenjataan buatan Indonesia dinilai tepat untuk keperluan Irak. Selain harga bersaing, kualitas juga boleh diadu. Senapan Serbu 2 (SS2) produksi Pindad misalnya, telah sukses mengantar TNI beberapa kali juara lomba menembak tingkat Asia-Pasifik.

Pada lomba tembak internasional di Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2012, Indonesia juara. Para jago tembak dari TNI Angkatan Darat mengalahkan tuan rumah Australia, dan juga negara besar seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Perancis, Selandia Baru.

Selain senapan serbu, Baghdad juga terpincut panser Anoa. Kendaraan lapis baja itu  dinilai cocok untuk perkotaan.

"Letak geografis Irak menjadi alasan pihak pemerintah Irak jatuh hati pada SS2 dan Anoa," ujar Direktur Utama PT Pindad Adik A. Soedarsono.

Dua negara tetangga, Brunei dan Malaysia, pun jatuh hati pada panser Anoa buatan Indonesia. 

Berikut produk unggulan dalam negeri:

CN 235 Maritime Patrol 

Spesifikasi
Kru : 2 pilot
Kapasitas : 45 penumpang
Panjang : 21,40 m
Bentang sayap : 25,81 m
Tinggi : 8,18 m
Area sayap : 59,1 m2
Berat kosong : 9800 kg
Berat isi : 15.100 kg
Maksimum berat : 15,100 kg
Tenaga penggerak : 2xGE CT79  1,395 kW (1850 bhp)
Kecepatan max : 509 km/jam
Jarak : 796 km
Daya menanjak : 542 m/menit

Senapan Serbu SS1 dan SS2
Spesifikasi SS1
Berat : 4,01 kg
Panjang : 997 mm
Peluru : 5,56 x 45 mm
Mekanisme : operasi gas, bolt berputar
Rata tembakan : 700 butir / menit
Kecepatan peluru : 710 m/s
Jarak efektif : 450 m
Amunisi : magazin bos 30 butir
Alat bidik : besi dan teleskop

Spesifikasi SS2
Berat kosong : 3,2 kg
Panjang : 930 mm
Panjang laras : 460 mm
Peluru : 5.56 x 45 mm
Mekanisme : piston gas, bolt berputar
Rate tembakan : 700 butir / menit
Kecepatan peluru : 710 m/s
Jarak efektif : 450 m
Amunisi : magazin bos 30 butir
Alat bidik : besi
Panser Anoa
Spesifikasi
Berat : 11 ton, 14 ton (combat)
Panjang : 6 m
Lebar : 2,5 m
Tinggi : 2,5 m/2,9 m (varian FSV)
Awak : 3 plus 10 penumpang
Tempur : lapis baja Monpcoque
Senjata utama : Senapan mesin 12,7 mm, granat CIS 40 AGL
Senjata pelengkap : 2x3 66 mm peluncur granat
Jenis mesin : Renault MIDR 062045 diesel turbo 6 silinder
Daya kuda/ton : 22,85 HP/ton
Transmisi : otomatis, ZF S6HP602
Suspensi : Independen
Ground clereance : 40 cm
Kapasitas tangki : 200 liter
Daya jelajah : 600 km
Kecepatan : 90 km/jam


Sumber : Viva
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner