Select Language

Senin, 27 April 2015

Indonesia – AS Gelar Latihan Militer di Natuna

Pulau buatan yang dibangun Tiongkok di Laut Cina Selatan. businessweek.com
Pulau buatan yang dibangun Tiongkok di Laut Cina Selatan. businessweek.com
Jakarta – Indonesia diberitakan akan menggelar latihan militer reguler dengan Amerika Serikat di dekat daerah yang jarang penduduknya di Kepulauan Natuna, daerah yang berada dalam kawasan Laut Cina Selatan yang diklaim Cina dan beberapa negara lainnya.
Sebelumnya, kedua negara telah mengadakan latihan militer bersama selama akhir pekan di Batam, sekitar 300 mil (480 km) dari Natuna.
“Itu (latihan) adalah latihan gabungan kedua kami dengan Amerika Serikat di daerah itu dan kami berencana melakukannya satu tahun ke depan lagi. Kami ingin membuat latihan rutin di daerah itu,” kata Manahan Simorangkir, juru bicara Angkatan Laut Indonesia, Senin, 13 April 2015.
Latihan militer tersebut melibatkan penggunaan pesawat pengawasan dan patroli, seperti P-3 Orion yang dapat mendeteksi kapal di permukaan dan kapal selam. “Latihan ini tidak bisa diselenggarakan langsung di Natuna karena kurangnya fasilitas untuk menampung semua pesawat,” kata Manahan menggambarkan situasi latihan pertama mereka.
Pekan lalu, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengatakan ia akan mengunjungi kepulauan Natuna pada Mei nanti. Di Kepulauan Natuna berserak 157 pulau. Dari jumlah itu, sebagian besar pulau di kepulauan itu yang berada di lepas pantai barat laut Kalimantan tidak berpenghuni. Di sana Kementerian akan menyelesaikan rencana pengembangan pangkalan militer yang kecil.
“Ada bandara di Natuna tetapi tidak memiliki banyak angkatan bersenjata, hanya beberapa marinir,” kata Menteri Pertahanan. “Kami akan menambah pasukan di sana mungkin udara, angkatan laut dan darat.”
Para pejabat Indonesia mengatakan latihan militer bersama dengan Amerika Serikat dan militer yang direncanakan membangun pangkalan di Natuna tidak dalam menanggapi ancaman tertentu.
“Sangat penting untuk diingat, Indonesia tidak terlibat dalam sengketa di Laut China Selatan,” kata Simorangkir. “Kami tidak ingin terlibat kejadian di Laut Cina Selatan dan berkomitmen untuk selalu mengedepankan pendekatan diplomatik.”
Meskipun Indonesia bukan salah satu negara yang mengklaim daerah Laut Cina Selatan, militer Indonesia telah menuduh Cina sengaja memasukkan bagian dari Kepulauan Natuna dalam “Nine-Dash Line,” batas tidak jelas yang digunakan pada peta Cina untuk mengklaim sekitar 90 persen dari laut di daerah tersebut .
Presiden Joko Widodo bulan lalu mengatakan bahwa klaim utama Cina untuk sebagian besar laut yang disengketakan tidak memiliki dasar hukum dalam hukum internasional, tetapi Jakarta ingin tetap menjadi “penengah” di salah satu sengketa teritorial yang paling tajam di Asia.(TEMPO.CO)

0 komentar:

Poskan Komentar

hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner