Select Language

Selasa, 13 Mei 2014

Ketegangan Tiongkok-Vietnam di Laut China Selatan Dominasi Pertemuan ASEAN

MENAHAN DIRI - Delegasi Indonesia dipimpin Presiden SBY dalam East ASEAN Growth Area BIMP-EAGA Summit di Nay Pyi Taw Myanmar, 11 Mei 2014. Imbauan banyak kalangan kepada pihak yang bertikai untuk menahan diri. (Foto: Twitter Presiden SBY)

Penulis: Galang Taufani
Nay Pyi Taw, JMOL ** Ketegangan menyoal kemaritiman mendominasi pertemuan para pemimpin Asia Tenggara, Minggu (10/5), di Myanmar. Dalam pertemuan ini, Vietnam meminta seluruh mitranya untuk memberi dukungan dalam sengketa wilayah dengan Tiongkok.
Ketegangan meningkat pekan lalu setelah kontroversi keputusan Tiongkok memindahkan rig pengeboran minyak ke perairan yang juga diklaim oleh Hanoi.
Wakil Menteri Luar NegeriVietnam, Pham Quang Vinh, menyerukan, agar Tiongkok menghilangkan rig tersebut.
“Bagi kami, Vietnam, kami secara konsisten dan gigih menghubungi pihak Tiongkok di semua tigkatan untuk menyelesaikan masalah ini dan meminta mereka untuk menarik kapal dan rig mereka,” katanya seperti dilansir VOA News.
Dalam pernyataan minggu akhir ini, para pemimpin ASEAN menyatakan keprihatinan dan menyerukan untuk menahan diri pada semua pihak yang terlibat dalam sengketa maritim. ASEAN, yang ternyata tidak mau mengambil risiko menentang Tiongkok, juga mengatakan puas dengan pembicaraan tentang masalah ini.
Konfrontasi atas pulau-pulau Paracel telah menimbulkan kekhawatiran dan ketegangan antara Tiongkok dan Vietnam.
Ratusan warga Vietnam berunjuk rasa di kota terbesar negara itu pada hari Minggu, untuk mengecam Tiongkok.
Berbicara di depan pemimpin ASEAN, Perdana Menteri Vietnam mengatakan, pihaknya telah bertindak dengan ‘menahan diri’ dan menggunakan segala cara untuk meminta Tiongkok menghapus rig.
“Tetapi, sampai sekarang, Tiongkok tidak hanya tidak menanggapi permintaan Vietnam yang sah, justru memfitnah dan menyalahkan Vietnam sambil meningkatkan pelanggaran mereka menjadi lebih berbahaya dan serius,” jelasnya.
Dung juga mendesak ASEAN dan negara-negara lain untuk mendukung persyaratan legal dan sah dari Vietnam.
China menuduh Vietnam sengaja menabrakkan kapal-kapal di Laut China Selatan, setelah Vietnam menegaskan bahwa kapal-kapal Tiongkok menggunakan meriam air dan menabrak delapan kapal tersebut pada akhir pekan dekat rig minyak.
Presiden Mynmar, Thein Sein, maupun pernyataan akhir KTT pada hari Minggu menyentuh pada sengketa Tiongkok-Vietnam.
Tidak Ada Masalah
Sementera itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok, dalam sebuah pernyataan Sabtu malam, mengatakan, tidak ada masalah antara Tiongkok dan ASEAN. Tiongkok menilai isu ini menabur perselisihan.
“Pihak Tiongkok selalu menentang upaya negara-negara tertentu menggunakan isu Laut China Selatan untuk merusak persahabatan keseluruhan dan kerja sama antara China dan ASEAN,” ujar Tiongkok.
Tiongkok siap bekerja sama dengan ASEAN untuk terus melaksanakan Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea, sebuah pernyataan yang disetujui pada 2002, mencoba untuk mengelola ketegangan.
Tiongkok telah memulai pembicaraan resmi dengan ASEAN, membentuk perilaku aturan maritim untuk Laut China Selatan, tetapi berpendapat bahwa sengketa teritorial harus dibahas secara bilateral.

0 komentar:

Posting Komentar

hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner