Select Language

Minggu, 31 Mei 2015

Vietnam juga reklamasi di wilayah sengketa Laut China Selatan

Foto udara menunjukkan Pulau Pagasa (Harapan), yang merupakan salah satu pulau di gugusan pulau Spratly yang menjadi perselisihan sejumlah negara di sekitar Laut China Selatan, di lepas pantai barat Filipina, Rabu (20/7). Lima politisi Filipina berencana melakukan perjalanan ke daerah sengketa di Laut China Selatan itu, menegaskan klaim negara tersebut atas daerah yang kaya minyak dan gas itu. Langkah ini diperkirakan akan mengundang protes dari pihak lain yang mengklaim pulau tersebut. Saat ini China, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, dan Filipina mengklaim wilayah di Laut China Selatan itu. (REUTERS/Rolex Dela Pena)
Foto udara menunjukkan Pulau Pagasa (Harapan), yang merupakan salah satu pulau di gugusan pulau Spratly yang menjadi perselisihan sejumlah negara di sekitar Laut China Selatan, di lepas pantai barat Filipina, Rabu (20/7). Lima politisi Filipina berencana melakukan perjalanan ke daerah sengketa di Laut China Selatan itu, menegaskan klaim negara tersebut atas daerah yang kaya minyak dan gas itu. Langkah ini diperkirakan akan mengundang protes dari pihak lain yang mengklaim pulau tersebut. Saat ini China, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, dan Filipina mengklaim wilayah di Laut China Selatan itu. (REUTERS/Rolex Dela Pena)

… Vietnam mempunyai hak legal dan bukti sejarah yang cukup untuk mengklaim kepemilikan atas sebagian Kepulauan Spratly
Washington – Diam-diam Vietnam juga menjalankan dua proyek reklamasi besar di wilayah sengketa Laut China Selatan–meski skala dan kecepatannya masih belum menandingi pekerjaan sama yang dilakukan China.
Ini informasi terkini dari foto satelit sebagaimana dinyatakan Center for Strategic and International Studies (CSIS), di Washington, Kamis.
Foto-foto itu menunjukkan ada perluasan pulau di wilayah West London Reef, Kepulauan Spratly, dengan beberapa bangunan di atasnya.
Mira Rapp-Hooper dari CSIS mengatakan bahwa proyek yang dijalankan dijalankan Vietnam itu mencakup pembangunan instalasi militer dan diduga telah dimulai sebelum China melakukan reklamasi di Kepulauan Spratly pada tahun lalu.
Foto-foto yang diproduksi oleh perusahaan DigitalGlobe itu diambil antara 2010 sampai 30 April tahun ini.
“Dalam satu tempat, Vietnam telah membangun pulau besar baru yang sebelumnya masih berada di bawah permukaan air. Sementara di tempat kedua, mereka menggunakan teknik reklamasi untuk memperluas pulau yang sudah ada,” kata Rapp-Hooper.
Pemerintah Vietnam tidak menanggapi temuan baru CSIS itu dan menyatakan Vietnam mempunyai hak legal dan bukti sejarah yang cukup untuk mengklaim kepemilikan atas sebagian Kepulauan Spratly.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, mengatakan, Vietnam, Filipina, dan sejumla negara lain telah menjalankan proyek reklamasi di atas wilayah laut yang dimiliki China.
“Kami sangat prihatin dan dengan tegas menentang aktivitas ilegal ini. Kami meminta negara-negara terkait untuk menghentikan aktivitas yang mencederai kedaulatan dan hak China itu,” kata Hua kepada sejumlah wartawan.
Sebelumnya, proyek reklamasi besar-besaran China di atas wilayah sengketa telah memicu reaksi keras dari sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara dan juga Amerika Serikat. Pembangunan pulau baru–yang diduga bertujuan militer–tersebut dinilai mengancam kebebasan berlayar di area lalu-lintas perdagangan bernilai lima trilyun dolar AS setiap tahun.
Sebagaimana diketahui Beijing mengklaim 90 persen wilayah Laut China Selatan yang diduga mempunyai kandungan energi besar. Negara tersebut kini tengah bersengketa dengan Vietnam, Filipina, Brunei, dan Malaysia.
“Foto-foto ini memang menunjukkan bahwa tuduhan China benar. Namun di sisi lain, proyek sama yang dijalankan Tiongkok di wilayah sengketa jauh lebih besar dari Vietnam,” kata Rapp-Hooper.
Menurut ketarangan Rapp-Hooper, Vietnam telah mereklamasi sekitar 65.000 meter persegi tanah di West London Reef dan 21.000 meter persegi di San Cay.
Angka tersebut jauh lebih kecil dari reklamasi yang dilakukan China, yaitu 900.000 meter persegi di kawasan Fiery Cross yang juga berada di area Kepulauan Spratly.
Lebih dari itu, Rapp-Hooper mengatakan bahwa sejak Maret 2014, China telah mereklamasi di tujuh tempat yang tersebar di Kepulauan Spratly. (ANTARA News)

0 komentar:

Poskan Komentar

hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner