Select Language

Jumat, 31 Mei 2013

Alutsista Produksi Indonesia

Bertempat di Pelabuhan  Macobar Batuampar, Batam, Propinsi Kepulauan Riau, disaksikan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, KASAL Laksdya TNI Marsetio beserta para petinggi TNI/Polri dan pejabat pemerintah Propinsi Kepri, Jumat (25/1), Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Purnomo Yusgiantoro meresmikan beroperasinya Kapal Cepat Rudal (KCR)-40 Beladau 643. 
KCR-40, 643 yang diproduksi PT Palindo Marine Shipyard, yang beralamat di Sei Lokop, Kecamatan Sagulung, Batam ini, merupakan generasi ketiga, setelah sebelumnya, perusahaan yang sama berhasil memproduksi dua unit KCR-40. Pertama KCR-40 dengan nama KRI Clurit-641 diresmikan pada April 2011, lalu kedua KCR-40 dengan nama KRI Kujang dengan nomor lambung 642 yang diresmikan  pada Februari 2012. Kedua kapal, saat ini telah resmi memperkuat armada TNI AL.

KCR-40 yang seratus persen merupakan produksi atau buatan anak negeri ini, dirancang mampu membawa rudal anti kapal C-705 buatan Cina. Rudal-rudal ini nantinya akan ditempatkan di bagian buritan dalam posisi melintang. Di bagian haluan nantinya akan terpasang meriam CIWS (closed in weapon system) kaliber 30mm. Sementara di bagian anjungan belakang terpasang 2 buah meriam 20mm.

Sebagai warga negara Indonesia, jelas kita merasa terharu dan bangga dengan karya dan prestasi yang ditunjukkan oleh anak negeri. Cita-cita dan keinginan segenap warga negara Indonesia, agar Indonesia mampu menjadi negara yang tidak memiliki ketergantungan terhadap  alat utama sistem persenjataan (Alutsista), negara lain, semakin mendekati kenyataan.

Sejak lima tahun terakhir, berbagai karya anak bangsa dalam pengadaan alutsista mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Karya tersebut tidak hanya dihasilkan PT Palindo Marine Shipyard, tetapi juga dihasilkan oleh sejumlah perusahaan kebanggan Indonesia lainnya, mulai dari PT Pindad yang memproduksi senjata jenis Senapan Serbu. Mulai dari SS1, SS4, SS5 dan SS13, yang saat ini telah mendapat pengakuan dari militer internasional. PT Pindad juga berhasil menciptakan kendaraan tempur panser Anoa dan Tank Amfibi yang keberadaanya juga mendapat acungan jempol militer internasional.

PT Dirgantara Indonesia, juga berhasil menciptakan pesawat tempur T-50 Golden Eagle dan pesawat CN-235 serta pesawat mata-mata tanpa awak. PT PAL juga tidak ketinggalan, dengan menciptakan sejumlah KCR yang memiliki spesifikasi yang membanggakan. Masih banyak lagi alutsista lainnya produksi anak bangsa Indonesia yang tidak lama lagi, akan membawa Indonesia kembali sebagai "macan" militernya asia.

Pernyataan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro yang memberikan prioritas terhadap penguatan atau pengadaan Alutsita militer Indonesia, jelas merupakan suatu hal yang pantas diapresiasi. Angaran sebesar Rp81 triliun yang disediakan oleh pemerintah sepanjang tahun 2013 untuk pengadaan Alutsista, merupakan bukti konkrit keseriusan pemerintah dan petinggi negara ini, dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan militer asia dan dunia.

Menyikapi hal ini, sebagai warga negara Indonesia, sekali lagi apresiasi dan acungan jempol layak dan pantas kita berikan kepada mereka yang telah berhasil memberikan karya terbaiknya kepada bangsa dan negara. Sebagai negara besar yang memiliki sumber daya alam berlimpah dan sumber daya manusia yang berkualitas, kita tidak ingin lagi harga diri dan martabat bangsa kita direndahkan oleh negara asing. Dengan penguatan militer beserta Alutsista yang diproduksi oleh anak negeri sendiri, kita semua meyakini, bahwa beberapa tahun kedepan, Indonesia akan menjadi kekuatan militer dunia. Negara dan warga negara kita, akan mendapatkan prilaku yang istimewa dari dunia internasional, semoga. (aldi)

0 komentar:

Posting Komentar

hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner