Select Language

Rabu, 03 Juni 2015

Wantimpres Soroti Dukungan Anggaran untuk LAPAN

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menerima cinderamata dari anggota Wantimpres Bidang Pertahanan dan Keamanan M. Yusuf Kartanegara.
Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menerima kunjungan dari anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bidang Pertahanan dan Keamanan yang dipimpin oleh M. Yusuf Kartanegara beserta jajarannya pada Jumat (8/5), di Balai Pengamatan Dirgantara (BPD) LAPAN Watukosek, Pasuruan, Jawa Timur. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memperoleh informasi lengkap mengenai tugas, fungsi dan kompetensi utama LAPAN.
Thomas menjelaskan empat kompetensi utama LAPAN sesuai dengan amanat dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Keempat kompetensi tersebut ialah kompetensi bidang sains antariksa dan atmosfer, penginderaan jauh, teknologi penerbangan dan antariksa serta kajian kebijakan penerbangan dan antariksa.
Penandatanganan Garis Besar Naskah Kerja Sama Aeronautika dan Antariksa 2015-2020 antara LAPAN dan CNSA di hadapan Presiden RI dan RRT
Setelah mendengar penjelasan Thomas, berbagai pertanyaan mengemuka dari Yusuf dan jajarannya terkait rencana strategis LAPAN hingga lima tahun mendatang. Yusuf beranggapan bahwa bidang yang ditangani LAPAN sangat luas dan berkaitan dengan industri strategis yang penting bagi kemajuan bangsa Indonesia.
“Dalam menjalankan tugasnya, kami ingin tahu kendala apa saja yang dihadapi LAPAN? Apakah mengalami kesulitan koordinasi dengan instansi lain? Pengembangan apa saja di masa mendatang dan apa saja yang dibutuhkan untuk pengembangan tersebut?” tanya Yusuf.
Menjawab pertanyaan tersebut, Thomas memberikan gambaran posisi lembaga keantariksaan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) China National Space Agency (CNSA) yang setara dengan posisi wakil presiden sehingga kebijakan keantariksaan RRT langsung bersumber dari presiden. Thomas menambahkan, Kepala LAPAN bertanggungjawab langsung kepada Presiden.
Namun, dalam pelaksanaan kegiatannya LAPAN berkoordinasi dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Koordinasi dengan instansi lain, Thomas menjawab, tidak ada kendala yang berarti.
Thomas menilai positif penggabungan pendidikan tinggi dalam Kemenristekdikti. Ia berujar, kerja sama LAPAN dengan institusi pendidikan tinggi akan semakin mudah dilakukan.
“Contohnya kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) akan jauh lebih mudah, terutama untuk pembangunan observatorium nasional di Nusa Tenggara Timur (NTT),” kata Thomas.
Menurut Thomas, dalam rencana strategis 2015-2019 LAPAN menargetkan untuk bisa membangun observatorium nasional di Nusa Tenggara Timur, mewujudkan konsorsium satelit nasional serta pengembangan teknologi roket. Meskipun persoalan anggaran masih menjadi kendala utama LAPAN hingga saat ini, namun LAPAN berharap bisa mencapai target tersebut.
Mengacu kepada lembaga keantariksaan India Indian Space Research Organization (ISRO), kata Thomas, anggaran ISRO untuk bidang keantariksaan tidak terbatas. Yusuf juga menyoroti hal lain terkait dengan LAPAN seperti sumber daya manusia (SDM), hasil litbang LAPAN terutama UAV/ drone, dan aspek bisnis dan ekonomi LAPAN.
Dari segi SDM, Thomas memaparkan, perlu peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kemudian terkait dengan UAV, LAPAN sudah memiliki program pengembangan UAV untuk keperluan kemaritiman.
“Saat Presiden mengutarakan visi kemaritiman, ada penekanan fungsi LAPAN Surveillance UAV (LSU) dan LAPAN Surveillance Aircraft (LSA) untuk keperluan maritim. Pengembangan dalam waktu dekat yaitu sistem pemantuan maritim terintegrasi memakai LSU dan LSA,” ujar Thomas.

Uji Coba LSU 05
Pada tanggal 24 Oktober 2014 LSU 05 karya LAPAN melakukan uji coba pemotretan puncak Gunung Merapi. Berikut adalah hasil photo yang berhasil diambil team Pustekbang menggunakan LSU 05 memotret puncak Gunung Merapi dari atas.
Thomas juga menjelaskan mengenai Badan Layanan Umum (BLU) LAPAN dan tugas yang diembannya. Pada dasarnya, LAPAN melayani instansi lain secara gratis, terutama penyediaan data citra penginderaan jauh satelit dengan lisensi pemerintah. Namun, untuk data citra resolusi tinggi dan sangat tinggi, LAPAN harus melakukan pengadaan untuk citra tersebut.
“Ada juga yang tidak bisa diperoleh LAPAN secara gratis, misal citra resolusi tinggi dan sangat tinggi yang dibutuhkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang serta Badan Informasi Geospasial (BIG) bahkan hingga resolusi 60 cm, harus pengadaan terlebih dahulu,” kata Thomas.
Mengakhiri kunjungannya, Yusuf mengatakan bahwa terdapat hal-hal penting tentang LAPAN yang perlu disampaikan kepada Presiden terutama dukungan anggaran untuk pengembangan tugas, fungsi dan kompetensi LAPAN. Yusuf dan jajarannya sempat meninjau gedung pengamatan matahari milik LAPAN dan langsung bertolak menuju PT Pindad di Malang.

Roadmap Deputi Teknologi Dirgantara LAPAN
Tahun 2015
  • Membangun pusat unggulan UAV
  • Melanjutkan pengembangan produk pesawat terbang dalam negeri sesuai dengan kebutuhan nasional.
  • Turut serta mendukung secara aktif pengembangan industri pertahanan.
  • Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya Lapan.
  • Meningkatkan fasilitas dan produktivitas litbang.
  • Menjalin kerjasama dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya teknologi satelit
  • Menjalin kerjasama dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya teknologi penerbangan.
  • Menjalin kerjasama untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya teknologi roket, pesawat tempur, rudal, dan propelan.
  • Meningkatkan kemandirian dalam penguasaan teknologi sensitif dengan melibatkan seluruh potensi nasional.
  • Mengupayakan implementasi sertifikasi desain teknologi penerbangan.
  • Mengusulkan regulasi operasionalisasi pesawat tanpa awak dan roket.
  • Melakukan koordinasi dengan Kementrian Perindustrian untuk mendorong pertumbuhan industri dalam negeri terkait teknologi penerbangan dan antariksa.
  • Melakukan koordinasi dengan Pemda dalam penyediaan lahan pengujian roket.
  • Melakukan koordinasi dengan TNI-AU dalam pemanfaatan fasilitas bandara TNI sebagai bandara riset 2015.
Tahun 2016
  • Memanfaatkan teknologi UAV untuk melengkapi data satelit penginderaan jauh.
  • Membangun pusat unggulan roket.
  • Membangun konsorsium satelit nasional.
  • Mendorong industri dalam negeri dalam memenuhi komponen untuk pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa yang dibutuhkan.
Tahun 2017
  • Mengembangkan inovasi teknik pengujian roket.
  • Membangun bandara riset dan bandar antariksa di kawasan strategis nasional (KSN).
  • Meningkatkan kemampuan satelit penginderaan jauh operasional.
  • Membangun satelit operasional melalui konsorsium satelit nasional dengan memanfaatkan mitra-mitra internasional.
  • Mengembangkan inovasi teknik pengujian roket.
Sumber : LAPAN

0 komentar:

Poskan Komentar

hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner