Select Language

Jumat, 08 Agustus 2014

Gak Punya Jembatan? Leopard bisa berenang

Adu debat sesi ketiga antara Capres semalam memang menghadirkan satu pertanyaan menggelitik terkait dengan tank Leopard 2. Salah satu Capres mengatakan bahwa Leopard tidak cocok, karena jembatan (di pulau Jawa, relevan dengan situasi penempatan Leopard 2 saat ini) tidak sanggup menahan bobot Leopard 2. Meme pun segera bertebaran di internet, bagaimana caranya tank
seberat 60ton lebih tersebut bisa berenang?


Di luar fakta bahwa Leopard 2 sudah ditransportasikan dari Bandung ke Surabaya tanpa kendala berarti (termasuk melintasi jalan dan jembatan Pantura), nyatanya para desainer tank kebanggaan, Jerman ini sudah memikirkan bagaimana tank harus bermanuver (dalam keadaan terpaksa) melintasi sungai tanpa jembatan. Maklum saja, rel kereta dan jembatan sudah pasti jadi sasaran pertama serangan udara untuk menghancurkan noda dan kapabilitas transportasi. Di luar hangatnya persaingan antar Capres, ARC hanya ingin menghadirkan fakta Sejati di balik argumen dan opini yang ada.


Dalam triumvirat desain tank, mobilitas dan proteksi adalah dua hal yang bertolak belakang. Semakin tebal perlindungan tank, tentu bobotnya makin berat yang berdampak pada makin turunnya mobilitas. Dibandingkan tank amfibi atau kendaraan intai dengan kulit alumunium yang lebih ringan, MBT jelas bukan tandingan kalau soal diajak lintas genangan. Namun bukan berarti MBT mati kutu saat harus melintas rintangan berupa sungai yang cukup dalam. MBT memang tidak bisa mengambang, tapi bisa menyelam. Tak terbayangkan bukan, monster lapis baja seberat 50-60 ton masuk kedalam sungai, dan tiba-tiba sudah muncul diseberang? Pada kenyataannya, hampir semua pabrikan tank merancang agar MBT lansirannya mampu menyelam pada kedalaman tertentu.

Maklum saja, yang namanya rintangan berupa lintasan air adalah hal jamak yang ditemukan diseluruh bentang benua, khususnya Eropa, yang merupakan benua asal MBT Leopard 2. Berdasar estimasi, rata-rata di daratan Eropa terdapat bentang air berupa sungai atau kanal selebar 6 meter setiap 20km, kemudian selebar 100 meter setiap 35-60km, 100-300 meter setiap 100-150km, dan selebar 300 meter setiap 250-300km. Untuk permukaan air yang tak terlalu dalam seperti genangan atau kanal kecil, MBT seperti Leo 1 dan 2 didesain dengan kemampuan dasar water-wading atau melintasi genangan sampai kedalaman 1-1,4 meter, namun untuk sungai dalam, MBT harus mengandalkan varian AVLB atau jembatan ponton.


Namun kedua opsi penyeberangan diatas tetap punya batasan. Kalau harus mengandalkan jembatan gunting, rentangnya terbatas sementara lebar sungai bisa mencapai 50, bahkan 300 meter. Jembatan ponton pun relatif lama dalam menyeberangkan tank. Oleh karena itu, MBT didesain agar bisa menyelam dan melanjutkan perjalanan secara mandiri, dengan batasan-batasan tertentu. Operasi lintas badan air (water-fording) tergolong operasi yang amat riskan dan berbahaya, karena pengemudi benar-benar buta dengan keadaan sekitar saat ada di dalam air.

Dasar sungai pun biasanya penuh sedimentasi lumpur yang bisa membuat transmisi selip dan rantai terpeleset sehingga tank keluar dari jalur. Belum lagi kesiapan mesin yang harus dalam keadaan prima agar tidak overheat dan lalu berhenti saat tank sedang berada di dasar sungai. Setelah keluar pun, tank juga harus langsung siap tempur, mengingat dalam operasi sebenarnya, para awaknya harus siap untuk segala kemungkinan. Pemilihan titik penyeberangan harus dicermati oleh pasukan pengintai, bebas dari kehadiran pasukan musuh, jangkauan artileri lawan, ataupun hambatan di permukaan air seperti es yang membeku atau ranting dan batang kayu. Operasi penyeberangan harus dilakukan dalam keadaan teratur dan tak terburu-buru, karena kerusakan pada snorkel berarti kematian pelan bagi krunya. Membuka hatch di kedalaman 4 meter sama sekali tak bisa dilakukan, dan dalam keadaan darurat, awak MBT yang tenggelam hanya bisa berdoa dan berharap pada kru kendaraan recovery yang bisa makan waktu berjam-jam.


Krauss-Maffei sebagai perancang Leopard 1 dan Leopard 2 sudah menyiapkan sejumlah alat yang memampukan MBT andalan Jerman ini untuk berenang. Berbeda dengan Uni Soviet yang menggariskan bahwa komandan harus tiba diseberang lebih dulu dan mengarahkan tanknya yang sedang menyelam via radio, doktrin Jerman menggariskan bahwa dalam keadaan apapun, komandan harus tetap tinggal bersama dengan tank dan awaknya. Teknik water-fording pada Leopard 1 dan 2 secara garis besar sama, dimana komandan mengarahkan gerak tank dengan snorkel khusus berbentuk menara yang mencuat diatas permukaan air.


Syarat pertama agar Leo 1 dan 2 mampu menyeberang adalah kedalaman air, yang tak boleh melebihi 4 meter agar tak membahayakan mesin. Seluruh lubang bukaan pada tank-lubang meriam, mulut laras senapan mesin koaksial dan senapan mesin diatas kubah, lensa optik, lubang knalpot, lubang tempat memasukkan munisi, hatch, harus dipastikan dalam keadaan tertutup sempurna, dan bila diperlukan dilapis dengan gemuk khusus yang mampu menahan air untuk tidak masuk. Sil-sil karet harus dipastikan agar tidak robek ataupun berlubang. Snorkel kemudian dipasang pada hatch komandan, dimana snorkel ini terbagi dalam tiga segmen teleskopik yang bisa dipanjangkan atau dipendekkan, disesuaikan dengan kedalaman air. Didalam snorkel ini juga terdapat tangga, sehingga komandan dapat memanjat keluar dan melihat keadaan sekaligus mengarahkan tank saat berjalan didalam air. Snorkel desain Jerman ini memiliki keunggulan, karena memungkinkan awaknya menyelamatkan diri dalam keadaan darurat, mengingat diameternya yang bisa dilalui manusia. Pengemudi juga mengecek deviasi dari jalannya tank, dengan mengemudi dalam keadaan lurus, dan melihat simpangan yang dihasilkan. Seperti ban mobil, track pada tank pun memerlukan spooring
Setelah persiapan penyeberangan siap-pengecekan selesai, kubah dan laras dikunci kearah belakang seperti dalam konfigurasi pengangkutan trailer sehingga tak menimbulkan hambatan dan tekanan tidak merusak seal di mulut laras, tank dijalankan dengan sangat pelan agar tak menimbulkan gelombang berlebih saat mulai memasuki air. Udara yang diperlukan oleh mesin kini dipasok melalui snorkel, karena katup di knalpot sudah ditutup melalui sistem hidrolik, dan sistem pendingin dibanjiri oleh air agar mesin tidak lekas overheat. Leopard memiliki bilge pumps yang
bekerja dengan memompa air yang masuk ke kompartemen awak dan mesin. Komandan yang memunculkan tubuhnya diatas snorkel berbicara dengan menggunakan interkom, memberi perintah bagi pengemudi yang tak bisa melihat apapun didalam air. Leopard dijalankan dalam gigi maju terendah, bergerak terus sampai akhirnya muncul di permukaan seberang. Setelah tiba diseberang, persiapan pasca penyeberangan pun dilakukan, dengan melepas semua sumbat-sumbat yang ada.
Namun dalam keadaan darurat, misalkan MBT harus dipersiapkan untuk bertempur, snorkel dapat dilepaskan secara cepat dengan bahan peledak kecil yang sudah terpasang. Sumbat pada mulut laras tank tak perlu dilepas, karena akan luruh begitu saja saat munisi 120mm melesat meninggalkan laras.

Pada dasarnya, operasi water-fording merupakan operasi yang sangat riskan bagi tank dan awaknya, dan biasanya dilakukan sebagai cara terakhir pada saat sudah tak ada alternatif penyeberangan. Oleh karena itu, lokasi jembatan selalu menjadi titik yang harus direbut secara cepat bagi pasukan yang melakukan invasi, karena lebih mudah melintasi sebuah jembatan dibandingkan harus menyiapkan operasi water fording yang menempatkan satu skuadron tank dalam keadaan tak berdaya. Sementara bagian yang bertahan harus mempertahankannya mati-matian, atau bila sudah tidak ada cara lagi, menghancurkannya sebelum tank musuh dapat melintas.

Latgab TNI 2014 dan Rudal Exocet

Dalam Latihan Gabungan beberapa waktu lalu, pihak TNI tampaknya berupaya tampil maksimal. Setiap alutsista yang dimiliki diuji habis seluruh sistem persenjataannya. Dari TNI-AL, paling tidak hal ini terlihat dari jumlah munisi peluru kendali yang dimuntahkan. Sepanjang sejarah, baru kali ini TNI-AL menembakan sekaligus 4 Peluru Kendali anti kapal yang harganya tentu tidak murah. Simak saja foto-foto yang didapat redaksi ARC dari Dinas Penerangan Angkatan Laut. Dalam foto terlihat 2 buah kapal perang kelas Sigma menembakan Exocet MM 40 Block 2. Sementara kapal perang kelas Ahmad Yani menembakan 2 buah Rudal C-802. Semua rudal sukses meluncur dan menenggelamkan kapal sasaran, yakni KRI Karang Banteng.
TNI-AL sendiri merupakan pengguna setia rudal keluarga Exocet. Dimasa lalu, hampir seluruh KRI berudal dipersenjatai Exocet MM-38. Seiring waktu, TNI-AL pun memodernisasi persenjataan rudalnya dengan Exocet tipe terbaru, selain pengadaan tipe rudal lain. Sejak kedatangan kapal perang kelas Sigma, TNI-AL mengadopsi Exocet MM40 block 2. Rudal ini dinilai lebih baik dan berjangkauan lebih jauh dibanding pada Exocet MM-38.
Saat tengah mendiskusikan aksi Rudal ini, ARC malah mendapat informasi langsung, bahwa TNI-AL telah membeli Exocet MM40 Block 3. Bahkan menurut agen penjualnya, Rudal itu telah tiba pada akhir 2013 lalu. Menurut sang agen, Indonesia sudah 2 kali membeli Exocet MM40, yang pertama pada tahun 2008 senilai 60 juta euro, termasuk rudal mistral dan test bench mistral. Lalu yang kedua, pada tahun 2011 pembelian Exocet MM40 Blok 2 senilai 70 juta Euro, termasuk rudal mistral dan test bench MM40. Namun pada kontrak kedua ini terjadi amandemen. Saat itu MBDA menawarkan pesanan Exocet MM40 Block 2 diupgrade ke Block 3 secara gratis, namun tentunya jumlah pembeliannya berkurang. Selain karena harganya lebih mahal, juga lantaran adanya modifikasi dan adaptasi 4 KRI pengusung rudal dari Block 2 ke Block 3.
Secara fisik, tidak ada perbedaan peluncur dari kedua jenis Exocet itu. Exocet MM40 Block 3 tetap bisa menggunakan Launcher ITL-70A yang biasa digunakan Exocet MM40 Block 2, tanpa upgrade apapun. Bahkan sejatinya, tanpa upgrade apapun, Rudal Exocet MM40 Blok 3 bisa langsung digunakan. Namun, penggunaannya tidak akan optimal. Maksudnya, kelebihan Exocet MM40 Block 3 yang mampu menjangkau sasaran 180 km serta menggempur sasaran darat tidak bisa dilakukan.
Namun demikian, memang Exocet MM40 Block 3 milik TNI-AL ini belum diuji coba pada Latgab lalu. Tetapi bolehlah kita berharap agar seluruh Exocet yang akan dimiliki nantinya berasal dari varian Block 3.

Blusukan Meninjau LST, CN-295 dan Tank AMX-13 Retrofit

Menjelang akhir-akhir masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Kementrian Pertahanan mengebut sejumlah proyek pengadaan alutsista, terutama dari Industri Dalam Negeri. Sebelum bertolak ke Jerman, Wamenhan Sjafrie Sjamsoedin blusukan ke sejumlah Industri pertahanan. Dalam sehari, mantan Pangdam Jaya itu memantau proses produksi alutsista di PT.DI, Pindad dan Lampung. Dan tampak dalam foto di bawah ini adalah Kapal Angkut Tank produksi Daya Radar Utama yang hampir rampung.
(all photo: Kementrian Pertahanan)

Tampak memang LST yang dibangun khusus untuk mengangkut MBT Leopard II ini berukuran sangat besar. Dalam spesifikasinya, direncanakan LST ini mampu mengangkut 10 MBT sekaligus. Namun demikian, pengerjaan LST yang dilakukan secara paralel dengan Dok Kodja Bahari ini mengalami keterlambatan. Saat ini proses pengerjaan sudah 88%. Mesin dan kabel-kabel sudah terpasang. Yang perlu dilakukan saat ini memasang piringan putar, pintu rampa, serta propeller.  Sementara direncanakan LST itu akan dipasang senjata 2x40mm di haluan serta 12,7mm di buritan.
Sebelum ke PT.DRU, Wamenhan juga sempat mengunjungi PT.DI dan PT.Pindad di Bandung Jawa Barat. Di PT.DI, wamenhan meninjau final assembly dari CN-295 ke-8 pesanan Pemerintah. Bodi utuh, sayap serta sirip CN-295 ke-8 ini aslinya dibawa langsung dari Spanyol. Namun perakitan, wiring, pemasangan mesin hingga test terbang semua dilakukan di Bandung. Ini adalah bagian dari Transfer Teknologi yang dijanjikan pihak Airbus kepada Indonesia.
Di Pindad, Wamenhan meninjau proses retrofit Tank AMX-13. Saat ini sedang dilakukan retrofit 4 unit Tank buatan Prancis tersebut. Selain versi Kanon, Retrofit juga menyentuh AMX-13 versi Angkut Pasukan dan Komando. Direncanakan pada 5 Oktober nanti 9 unit Tank AMX-13 Retrofit Pindad itu akan ikut berparade.

Akhirnya 3 Unit F-16 Block 52ID Terbang Menuju Indonesia

Setelah tertunda selama beberapa hari karena adanya masalah pada Tanker KC-10 yang menyertainya, akhirnya 3 unit F-16 C/D Block 52ID TNI AU sudah tiba di Andersen AFB - Guam pada tanggal 23 Juli 2014 pukul 12.00 WIB. Dan selanjutnya ketiga unit F-16 Block 52ID yang tergabung dalam “Viper Flight” ini akan meneruskan perjalanan dari Guam menuju Madiun, Indonesia. Dijadwalkan ketiga unit F-16 ini akan tiba di Madiun pada tanggal 24 Juli 2014 pukul 11.16 WIB.

Perjalanan menuju Andersen AFB – Guam ini ditempuh dengan waktu perjalanan 9 jam 46 menit dari Eielson AFB – Alaska, dimana “Viper Flight” ini berangkat pada tanggal 22 Juli 2014 pukul 02.00 WIB. Selama perjalanan dari Eielson AFB – Alaska menuju Andersen AFB – Guam, “Viper Flight” melakukan sebanyak 9 kali air to air refueling dengan bantuan pesawat tanker KC-10 dari Travis AFB.

Ketiga F-16 C/D Block 52ID yang tergabung dalam “Viper Flight” ini terdiri dari 1 unit F-16 C (kursi tunggal) dengan tail number TS-1625 yang diawaki oleh penerbang dari USAF Col. Howard Purcel. Pesawat TS-1625 ini juga bertindak sebagai Flight Leader. Dua pesawat lain adalah F-16 D (kursi ganda) dengan tail number TS-1620 yang diawaki Maj Collin Coatney (USAF)/Ltk. Firman Dwi Cahyono (TNI AU) dan pesawat dengan tail number TS-1623 yang diawaki oleh Ltc. Erich Houston (USAF)/May. Anjar Legowo (TNI AU).

F-16 Block 52ID TNI AU sedang melakukan air to air refueling dengan KC-10F-16 Block 52ID TNI AU sedang melakukan air to air refueling dengan KC-10

Sebelumnya proses kedatangan pesawat F-16 Hibah dari Amerika ini tertunda beberapa hari karena adanya masalah pada pesawat tanker KC-10 yang menjadi penyuplai bahan bakar melalui proses air to air refueling bagi “Viper Flight” ini. Penundaan ini terjadi setelah Viper Flight sampai di Alaska dari Utah. Perjalanan dari Alaska menuju Guam yang dijadwalkan sebelumnya dilaksanakan pada tanggal 19 Juli 2014 terpaksa di tunda karena permasalahan pada pesawat tanker KC-10.

Setelah ketiga unit ini tiba di Madiun, direncakanan 6 instruktur penerbang F-16 TNI AU akan mulai melanjutkan latihan terbang konversi F-16 C/D Block 52ID di Lanud Iswahyudi Madiun. Pelaksanaan terbang konversi ini dilaksanakan setelah Idul Fitri, tepatnya pada Agustus 2014 nanti. Latihan terbang konversi F-16 C/D Block 52ID ini akan di supervise oleh 4 instruktur penerbang dari US Air Force Mobile Training Team.

F-16 Block 52ID dengan Tail Number TS-1625 TNI AUF-16 Block 52ID dengan Tail Number TS-1625 TNI AU

Pesawat tempur F-16 C/D Block 52ID ini juga direncakanan akan menjalani modifikasi pemasangan drag chute (rem payung) karena pesawat F-16 C/D Block 52ID ini tidak dilengkapi peralatan drag chute. Modifikasi ini akan dilaksanakan pada kuartal pertama 2015 nanti yang dilakukan oleh teknisi TNI AU dibantu personil Lockheed Martin.

TNI Angkatan Udara merencanakan armada baru 24 unit F-16 C/D Block 52ID ini akan melengkapi Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru. Diharapkan pada saat pesawat tempur masa depan IFX sudah siap dioperasikan maka berbagai prosedur, taktik, pengalaman dan ilmu pengetahuan yang didapat dari pengoperasian pesawat F-16 C/D Block 52ID bisa diterapkan untuk menyamai dan bahkan mengungguli kekuatan udara calon lawan dan pesaing negara kita. Pesawat-pesawat canggih ini akan menambah kekuatan tempur TNI Angkatan Udara sebagai tulang punggung Air Power (Kekuatan Dirgantara) Negara kita demi menjaga Keamanan Nasional Indonesia.

Sumber Referensi :

http://tni-au.mil.id/berita/flight-f-16-cd-tni-au-tiba-di-guam-menuju-tanah-air

Akhirnya Project Pesawat Tempur KFX/IFX Menggunakan Design Dual Engine

Setelah mengalami penundaaan dan perdebatan panjang, project Joint Development Pesawat Tempur KFX/IFX generasi 4.5 antara Indonesia dan Korea Selatan diputuskan menggunakan design Dual Engine. Design dual engine untuk project KFX/IFX ini ada dua yaitu C-103 dan C-203. Keputusan ini sudah diambil oleh Joint Chiefs of Staff Korea pada Jumat, 18 Juli 2014 lalu waktu setempat. Design dual engine ini sendiri adalah hasil phase Technical Development yang melibatkan Indonesia dan Korea Selatan pada akhir 2012 yang lalu. 


Dengan ditetapkannya keputusan design dual engine ini, maka praktis design C-501 single engine (satu mesin) yang diusulkan oleh KAI (Korea Aerospace Industries) sudah di coret. Selanjutnya design KFX/IFX hanya ada 2 design yang keduanya adalah dual engine yaitu C-103 (design conventional) dan C-2013 (design delta). Pilihan dual engine ini sudah sesuai dengan rekomendasi Angkatan Udara Korea Selatan, ADD Korea (Agency for Defense Development) dan pihak Indonesia.

Design KFX/IFX C-103 Conventional Wing Dual EngineDesign KFX/IFX C-103 Conventional Wing Dual Engine

Pilihan dual design ini diambil ditengah memanasnya perdebatan mengenai pilihan jumlah mesin yang dibutuhkan untuk project KFX/IFX. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum keputusan ini diambil, terjadi perdebatan yang panjang mengenai design KFX/IFX ini. Angkatan Udara Korea Selatan bersama ADD (Agency for Defense Development) Korea serta Indonesia berada pada pihak yang menginginkan design dual engine. Sedangkan di pihak lain, KAI (Korea Aerospace Industries) dan KIDA (Lembaga pemerintah) menginginkan design single engine untuk KFX/IFX.
Baik KAI dan KIDA beralasan bahwa design KFX/IFX dengan dual engine tidak realistis karena membutuhkan biaya yang sangat besar dan technology yang dikuasai belum mencukupi. Namun Angkatan Udara Korea yang di backup oleh ADD menepis kekawatiran mengenai besarnya biaya pengembangan dan kesulitan teknologi dalam mengembangkan KFX/IFX dual engine ini. Mereka beralasan bahwa selain AU Korea, AU Indonesia juga akan ikut membeli pesawat ini nantinya sehingga harga produksi pesawat ini akan berkurang. Selain itu, AU Korea dan ADD juga menegaskan bahwa design dual engine memberikan ruang yang lebih banyak untuk pengembangan kedepannya untuk memastikan bahwa kekuatan udara Korea tidak akan tertinggal dari Negara tetangganya.

Petinggi ADD dalam project KFX/IFX, Lee Dae-yeol, berpendapat bawah pesawat tempur dengan konsep baru seperti KFX/IFX dual engine ini memiliki kelayakan secara ekonomi dalam hal life cycle cost. Selain itu ADD juga sudah menguasai 90% teknologi yang dibutuhkan untuk project KFX/IFX ini. Disebutkan bahwa dari 432 core technology yang di butuhkan, hanya 48 core technology yang belum dikuasi seperti mesin dan system avionic. ADD berharap bahwa kekurangan technology ini akan diambil dari offset yang ditawarkan oleh Lockheed Martin sebagai bagian dari suksesnya Lokheed Martin dalam tender FX-III Korea dimana 40 unit F-35 buatan Lokheed Martin yang dipilih oleh Korea Selatan. Selain Lockheed Martin, ADD juga masih mengharapkan adanya perusahaan asing lain yang bersedia membantu project ini.

Sebelum mengambil keputusan, tim Joint Chief of Staff (JSC) Korea sudah melakukan review mengenai perkiraan biaya, requirements dan schedule pengembangan KFX/IFX ini selama 8 bulan terakhir. Sebagai hasilnya JSC memutuskan memilih design dual engine sebagai pilihan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan masa depan pertahanan udara kedua Negara dan bisa mengimbangi kemampuan kekuatan udara Negara tetangga. Sebagaimana kita ketahui bahwa Korea Selatan berbatasan dengan Jepang, Korea Utara dan China yang merupakan ancaman potensial Korea Selatan.

Tender Pemilihan Mesin Dilakukan pada Agustus 2014

Namun operasional KFX/IFX yang direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2023 nanti, ditunda selama dua tahun menjadi tahun 2025. Lembaga Pemerintah Korea Selatan DAPA (The Defense Acquisition Program Administrator) akan melaksanakan tender bulan Agustus 2014 untuk memilih mesin yang akan digunakan di project KFX/IFX ini. Adapun mesin yang akan ikut dalam tender ini ada dua yaitu GE F414 (mesin Super Hornet dan Gripen E/F) dan Eurojet EJ200 (mesin EF Typhoon). 

Prediksi saya pemenang tender ini akan menentukan design yang akan di pilih. Jika mesin GE F414 yang terpilih kemungkinan besar design yang akan di pilih adalah design C-103 (conventional). Sedangkan jika mesin Eurojet EJ200 yang menang, maka design yang di pilih adalah design C-203 (delta wing). Namun dengan tawaran dari Lockheed Martin yang menggiurkan untuk membantu project KFX/IFX ini, maka saya prediksi bahwa kemungkinan besar mesin yang di pilih adalah design C-103 (conventional) dengan mesin GE F414 dari Amerika. Apalagi Lockheed Martin juga sudah sukses meneken kontrak pembelian puluhan F-35A untuk Korea Selatan.

Design KFX/IFX C-203 Delta Wing Dual EngineDesign KFX/IFX C-203 Delta Wing Dual Engine

Namun sebelum keputusan akhir diambil, tampaknya berbagai kemungkinan masih bisa saja terjadi. Hal ini mengingat EADS sebagai produsen EF Typhoon masih terus berjuang menawarkan Tyhpoon untuk Angkatan Udara Korea. Dan EADS juga melakukan pendekatan dengan PT DI untuk menawarkan Typhoon sebagai pengganti F-5 TNI AU dan menjanjikan transfer teknologi kedalam project KFX/IFX. Namun sepertinya peluang EDAS untuk “terlibat” dalam project KFX/IFX ini cukup kecil.

Dual Engine Mana yang Terpilih : C-103 atau C-203

Dengan dipastikannya bahwa design KFX/IFX menggunakan dual engine, maka praktis hanya design C-103 dan C-203 saja yang tersisa. Selanjutnya akan ditentukan pilihan design C-103 ataukan C-203 yang akan di pakai. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya diatas, bahwa Design C-103 adalah design conventional yang banyak dianut oleh pesawat buatan Amerika seperti F-16, F-15, F-18 F-22 dan F-35, sedangkan design C-203 adalah design pesawat delta wing yang banyak digunakan di pesawat buatan Eropa seperti Rafale, EF Typhoon, dan Gripen. 

Bercermin dari menangnya Lockheed Martin dengan 40 unit F-35A nya dalam tender FX-III Korea Selatan, maka besar kemungkinan design C-103 lah yang akan dipilih menjadi design KFX/IFX. Hal ini karena design ini adalah design yang cukup biasa digunakan oleh perusahaan Amerika tersebut dan factor adanya kewajiban Lockheed Martin untuk membantu project KFX/IFX ini sebagai bagian offset menangnya 40 unit F-35 buatan Lockheed Martin dalam tender FX-III Korea beberapa waktu yang lalu.

Prediksi Phase EMD (Engineering and Manufacturing Development) Dimulai September 2014?

Lalu kapan project KFX/IFX yang sudah terunda selama 1.5 tahun terakhir ini dilanjutkan lagi? Seperti sudah diberitakan akhir tahun 2012 lalu bahwa project KFX/IFX ini ditunda selama 1.5 setengah tahun. Phase yang ditunda adalah phase ketiga yaitu EMD (Engineering and Manufacturing Development). Seperti yang sudah saya tulis di blog ini pada awal tahun 2013 yang lalu, saya prediksi bahwa project KFX/IFX ini akan dilanjutkan kembali pada bulan September 2014 ini. Tapi ini masih prediski saya saja ya. Namun saya kira, project ini pasti akan dilanjutkan kembali pada tahun 2014 ini.

Mari kita doakan saja supaya proses dimulainya tahap ketiga yaitu tahap EMD (Engineering and Manufacturing Development) project KFX/IFX antara Indonesia dan Korea Selatan ini bisa berjalan dengan lancer. Dan kita doakan juga bahwa project KFX/IFX ini akan membawa dampak positif bagi Indonesia kedepannya. Sekaian dari saya, salam admin AnalisisMiliter.com

Sumber Referensi :

http://www.defensenews.com/article/20140719/DEFREG03/307190020/S-Korea-Opts-Twin-Engine-Fighter-Development

Kedatangan 3 Unit F-16 C/D Block 52ID Tertunda 2 Hari

Proses pengiriman 3 unit F-16 C/D Block 52ID tahap pertama dari Amerika ke Indonesia tertunda selama 2 hari. Penundaan ini terjadi ketika 3 unit F-16 C/D Block 52ID dengan sandi “Viper Flight” ini akan melakukan perjalanan dari Eielson AFB – Alaska menuju Andersen AFB – Guam. Penundaan ini terjadi karena pesawat tanker KC-10 dari Travis AFB yang mendampingi Viper Flight dan memberikan layanan air to air refueling mengalami sedikit masalah teknis sehingga harus menjalani perbaikan.


Pada tanggal 15 Juli 2014 lalu, penerbangan 3 unit F-16 C/D Block 52ID dengan call sign “Viper Flight” ini sudah tiba di Eielson EFB, Alaska setelah menempuh perjalanan 4.5 Jam dari Hill AFB, Utah. Selama penerbangan dari Hill AFB - Utah ke Eielson AFB – Alaska, Viper Flight telah melakukan air to air refueling sebanyak 3 kali dengan bantuan pesawat tanker KC-10 dari Travis AFB.

F-16 Block 52ID TNI AU sedang melakukan air to air refueling dengan KC-10F-16 Block 52ID TNI AU sedang melakukan air to air refueling dengan KC-10

Ketiga unit F-16 C/D Block 52ID dalam Viper Flight ini terdiri dari 1 F-16 C Block 52ID (kursi tunggal) dan 2 unit F-16 D Block 52ID (kursi ganda). Pesawat F-16 C Block 52ID (kursi tunggal) dengan tail number TS-1625 diawaki oleh Col. Howard Purcel (USAF). Sedangkan pesawat kursi ganda dengan tail number TS-1620 diawaki oleh Maj. Collin Coatney (USAF) dan Ltk. Firman Dwi Cahyono (TNI AU), dan pesawat dengan tail number TS-1623 diawaki oleh Ltc Erick Houston (USAF) dan May. Anjor Legowo (TNI AU).

F-16 Block 52ID dengan Tail Number TS-1625 TNI AUF-16 Block 52ID dengan Tail Number TS-1625 TNI AU


Penerbangan yang tertunda ini rencananya akan dilanjutkan kembali pada tanggal 19 Juli 2014 waktu setempat dengan rute penerbangan Eielson AFB – Alaska menuju Andersen AFB – Guam yang akan berlangsung selama 9 Jam 40 menit. Setelah tiba di Andersen AFB – Guam, perjalanan akan dilanjutkan kembali pada tanggal 22 Juli 2014 dengan rute penerbangan Anderson AFB – Guam langsung menuju Lanud Iswahyudi, Madiun. Perjalanan dari Guam menuju Madiun direncakanan memakan waktu tempuh 5 Jam 16 Menit. Ketiga pesawat ini direncakanan akan mendarat di lanud Iswahyudi, Madiun pada tanggal 22 Juli 2014 dan akan langsung diparkir di hangar Skuadron 3 TNI AU untuk dilakukan inspeksi.


Setelah ketiga unit ini tiba di Madiun, direncakanan 6 instruktur penerbang F-16 TNI AU akan mulai melanjutkan latihan terbang konversi F-16 C/D Block 52ID di Lanud Iswahyudi Madiun. Pelaksanaan terbang konversi ini dilaksanakan setelah Idul Fitri, tepatnya pada Agustus 2014 nanti. Latihan terbang konversi F-16 C/D Block 52ID ini akan di supervise oleh 4 instruktur penerbang dari US Air Force Mobile Training Team.


Pesawat tempur F-16 C/D Block 52ID ini juga direncakanan akan menjalani modifikasi pemasangan drag chute (rem payung) karena pesawat F-16 C/D Block 52ID ini tidak dilengkapi peralatan drag chute. Modifikasi ini akan dilaksanakan pada kuartal pertama 2015 nanti yang dilakukan oleh teknisi TNI AU dibantu personil Lockheed Martin.

TNI Angkatan Udara merencanakan armada baru 24 unit F-16 C/D Block 52ID ini akan melengkapi Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi Madiun dan Skadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin Pekanbaru. Diharapkan pada saat pesawat tempur masa depan IFX sudah siap dioperasikan maka berbagai prosedur, taktik, pengalaman dan ilmu pengetahuan yang didapat dari pengoperasian pesawat F-16 C/D Block 52ID bisa diterapkan untuk menyamai dan bahkan mengungguli kekuatan udara calon lawan dan pesaing negara kita. Pesawat-pesawat canggih ini akan menambah kekuatan tempur TNI Angkatan Udara sebagai tulang punggung Air Power (Kekuatan Dirgantara) Negara kita demi menjaga Keamanan Nasional Indonesia.

Sumber Referensi :

http://tni-au.mil.id/berita/penerbangan-f-16-cd-tni-au-ke-guam-tertunda

Modernisasi Militer dan Pemerintah Baru Indonesia 2015-2019

Modernisasi Militer Indonesia sejak tahun 2009 sampai dengan 2014 ini sudah membawa penambahan kekuatan militer yang cukup significant. Modernisasi militer periode 2009-2014 ini disebut dengan Minimum Essential Force (MEF) Renstra I (2009-2014). MEF ini direncakanan akan dilaksanakan dalam 3 tahapan yaitu Renstra I (2009-2014), Renstra II (2015-2019) dan Renstra III (2020-2024). Namun sebentar lagi, Indonesia akan memiliki pemerintahan yang baru pada akhir 2014 ini. Adanya pergantian pemerintahan yang baru ini tentunya menimbulkan beberapa pertanyaan apakah program modernisasi militer Indonesia ini akan dilanjutkan atau tidak oleh pemerintah baru yang akan datang?


Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa MEF ini adalah program modernisasi yang dijalankan oleh Pemerintah Indonesia periode 2009-2014 ini. Dan di Indonesia sering sekali pergantian pemerintah membuat beberapa program pemerintah sebelumnya tidak dilanjutkan atau digantikan oleh kebijakan baru yang dibuat pemerintahan yang baru. Program modernisasi militer MEF (minimum essential force) dengan segala kekurangan dan kelebihannya, sudah membawa perubahan yang cukup berarti bagi Indonesia. Kekuatan Militer Indonesia yang pada tahun 1999 sampai 2005 sangat memprihatinkan, berangsur-angsur sudah mulai menunjukkan perbaikan yang significant berkat adanya program MEF ini.



Akankah Pemerintah Baru Indonesia Melanjutkan Program MEF II?


Dengan adanya pergantian pemerintahan baru Indonesia, membuat nasib kelanjutan MEF Renstra II (2015-2019) menjadi tergantung kepada arah kebijakan pemerintah baru nanti. Namun sebagaimana dampak program MEF Renstra I yang lalu cukup membawa perbaikan yang berarti bagi kekuatan militer Indonesia, maka saya perkirakan pemerintahan baru nanti pun agaknya akan tetap melanjutkannya. Namun mungkin saja terjadi modifikasi ataupun sedikit perubahan dalam rencana di MEF Renstra II nantinya.


Mungkin juga Program MEF ini akan diganti dengan program lainnya, namun kita tetap berharap sekali bahwa apapun nama Programnya nanti, intinya kita berharap bahwa modernisasi militer Indonesia tetap harus berjalan. Hal ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik beberapa tahun terakhir ditambah adanya kemungkinan ancaman konflik yang akan dihadapi Indonesia di sekitar Laut China Selatan.


Sekarang mari kita melihat kembali kebelakang, apa yang telah di capai dalam program MEF Renstra I (2009-2014) yang lalu serta melihat apa kira-kira yang akan di capai di MEF renstra II (2015-2019) nanti. Hal ini kita perlu lihat kembali untuk mengingatkan kita semua bahwa modernisasi militer Indonesia saat ini adalah suatu hal yang harus di lakukan pemerintah Indonesia kedepannya.



Alutsista untuk Angkatan Udara di MEF I (2009-2014)


Dalam periode 2009-2014 ini, program MEF Renstra I sudah membawa banyak sekali penambahan kekuatan alutsista Indonesia. Selain peningkatan kesejahteraan prajurit, juga terjadi penambahan alutsista yang significan serta penambahan sarana pendukungnya. Diantara alutsista yang sudah di datangkan di MEF Renstra I (2009-2014) untuk Angkatan Udara dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Pencapaian MEF Renstra I TNI AU
Pencapaian MEF Renstra I TNI AU


Dari data diatas dapat kita lihat alutsista-alutsista yang sudah dibeli di periode MEF renstra I (2009-2014). Selain data diatas, memang masih ada beberapa yang lain yang mungkin saya lupa untuk memasukkannya. Namun data diatas adalah gambaran besar alutsista untuk TNI AU yang sudah di beli dalam periode tersebut.


Untuk pesawat tempur di MEF I ini, TNI AU mendapatkan 6 unit Su-30 MK2 (melengkapi 10 unit Su-27/30 yang sudah ada sebelumnya), 16 EMB-314 Super Tucano dari Brazil (masih 4 unit yang sampai di Indonesia), 16 unit T-50i Golden Eagle dari Korea Selatan (sudah datang semua), 18 unit pesawat latih G-120 TP Grob dari Jerman, 24 unit F-16 setara Block 52 (beberapa unit sedang dalam proses pengiriman), dan aka nada upgrade 10 unit F-16 Block 15 OCU TNI AU.


Untuk persenjataan rudal pesawat tempur juga sudah dibeli berbagai rudal untuk armada Flanker dan F-16 Indonesia. Diantaranya adalah Rudal BVR R-77 RVV-EA, KH-31P, AGM-65 Maverick, dan lain-lain. Juga ada informasi bahwa Indonesia juga akan membeli puluhan rudal BVR Aim-120, Aim-9x dan JDAM, namun belum ada konfirmasi apakah ini menggunakan anggaran MEF I atau di MEF II nanti.


Selain itu, TNI AU juga mendapatkan 18 unit pesawat angkut diantaranya adalah 9 unit C-295 dari Spanyol (sudah 6 unit yang datang), dan 9 unit C-130 H Hercules bekas AU Australia. Dari 9 unit C-130 H dari Australia ini, 4 unit diataranya adalah hibah dari pemerintah Australia dan 5 unit lagi dibeli oleh Indonesia. Dari 9 unit C-130 H ini, beberapa unit sudah datang ke Indonesia dan sisanya akan di kirim tahun ini dan tahun kedepan. 



Alutsista untuk Angkatan Laut di MEF I (2009-2014)


Pengadaan alutsista untuk Angkatan Laut yang sudah di lakukan di MEF Renstra I (2009-2014) diantaranya dapat dilihat pada gambar berikut :
Pencapaian MEF Renstra I TNI AL
Pencapaian MEF Renstra I TNI AL


Pengadaan alutsista untuk TNI AL yang paling besar di MEF I (2009-2014) bisa di bilang adalah pengadaan 3 unit Kapal Selam DSME-209 dari Korea Selatan. Pengadaan ini menelan dana paling tidak $1.1 Miliar, belum lagi ditambah dana untuk mempersiapkan infrastruktur pembangunan Kapal Selam di Indonesia. Hal ini karena di rencanakan 1 dari 3 unit Kapal Selam tersebut akan di bangun di Indonesia, dan 2 unit lainnya di Korea Selatan. Namun ketiga unit Kapal Selam DSME-209 ini baru akan datang di tahun 2016-2018 mendatang. Itu artinya kontraknya memang ditandatangani di MEF II, tapi kedatangan Kapal Selam itu akan di MEF II (2015-2019). Hal ini dikarenakan pembuatan Kapal Selam yang tentunya membutuhkan waktu yang sangat panjang.


Untuk kapal perang, TNI AL akan mendapatkan 2 unit Perusak Kawal Rudal (PKR) Sigma-10514 dari Belanda dan 3 unit Kapal Perang MLRF Nahkoda Ragam Class dari Inggris. Untuk 2 unit PKR ini dibagi dalam 2 tahapan kontrak dan diperkirakan PKR pertama sudah akan datang di tahun 2016 nanti. Sedangkan untuk MLRF Nahkoda Ragam Class, ketiga unitnya diperkirakan akan mulai datang di tahun 2014 sampai 2015 ini. Ketiga unit Nahkoda Ragam Class ini yang sebelumnya adalah Kapal Perang Brunei yang batal di akuisisi akan diberi nama KRI Jhon Lie, KRI Usman Harun dan KRI Bung Tomo.


Selain itu, TNI AL juga akan menerima beberapa unit KCR-40 dan KCR-60 buatan dalam negeri yang dilengkapi dengan rudal yang cukup canggih. Juga TNI AL akan mendapatkan beberapa unit Landing Ship Tnak (LST) yang bisa digunakan untuk transpotasi bagi armada MBT Leopard Indonesia.


TNI AL juga mendapatkan 3 unit CN-235 MPA produksi Indonesia yang akan menjadi pesawat patrol maritime. Selain itu TNI AL juga akan mendapatkan 11 unit Heli Anti Kapal Selam dari Prancis yaitu AS-565 MB Phanter. Juga diberitakan TNI AL mendapatkan rudal anti kapal generasi terbaru yaitu Exocet MM-40 Block 3 yang kemungkinan akan dipakai di armada kapal perang terbaru TNI AL. Bahkan diberitakan juga TNI AL juga akan mendapatkan rudal pertahanan udara jenis VLS MICA dari Prancis, namun belum bisa saya pastikan apakah ini masuk dalam program MEF I atau di MEF selanjutnya.


Koorps Marinir TNI AL juga mendapatkan 37 unit BMP-3F dari Rusia yang ditandatangani di tahun 2011 yang lalu dengan nilai kontrak $114 Juta. Ini adalah pengadaan tahap kedua, dimana sebelumnya juga sudah ada pengadaan 17 unit BMP-3F di tahun 2009. Dengan pengadaan tahap kedua ini, Marinir TNI AL sudah memiliki 54 unit BMP-3F. Beberapa waktu lalu 37 unit BMP-3F ini sudah hadir di Indonesia. 


Selain pengadaan alutsista yang sudah saya jelaskan diatas, masih ada beberapa pengadaan alutsista lainnya yang mungkin saya lupa mencantumkannya. Namun ini adalah gambaran besar pengadaan alutsista untuk TNI AL di MEF I (2009-2014).



Alutsista untuk Angkatan Darat di MEF I (2009-2014)


Pengadaan alutsista untuk Angkatan Darat yang sudah di lakukan di MEF Renstra I (2009-2014) diantaranya dapat dilihat pada gambar berikut :
Pencapaian MEF Renstra I TNI AD
Pencapaian MEF Renstra I TNI AD


Tidak mau kalah dari Alutsista AU dan AL, untuk AD pengadaan alutsista di MEF I (2009-2014) pun cukup garang. Diantaranya adalah 8 unit Helikopter serang Apache dari Amerika Serikat. Selain Apache, TNI AD juga akan menerima Heli Serang Fennec dari Prancis. Untuk Heli Serbu, TNI AD juga akan menerima cukup banyak Helikopter Bell-412EP yang di rakit di PT DI.


Selain Helikopter, TNI AD juga akan menerima sekitar 103 unit MBT Leopard dari Jerman dimana 40 diantaranya adalah Leopard 2A4 dan 63 unit Leopard 2RI serta 10 unit Buffel (support tank). Selain itu juga dalam dalam satu paket pembelian adalah puluhan unit IFV Marder 1A3 yang juga dari Jerman. 2 unit MBT Leopard 2A4 dan 2 unit IFV Marder-1A3 sudah tiba di Indonesia beberapa bulan lalu. Sedangkan sisanya mulai datang tahun ini. TNI AD juga sudah menerima 22 unit IFV Tarantula (Black Fox) dari Korea Selatan beberapa bulan lalu. Dan Proses retrofit AMX-13 TNI AD saat ini sedang berlangsung.


TNI AD juga akan menerima 36 unit Multiple Launch Rocket System (MLRS) Astross II Mk-6 dari Brazil yang di beli tahun 2012 lalu dengan nilai kontrak $405 juta. Beberapa minggu lalu sudah tersiar kabar bahwa pesanan TNI AD sudah dalam tahap uji coba dan kemungkinan dalam waktu dekat akan tiba di Indonesia. Selain itu, TNI AD juga akan menerima 37 unit Howitzer Caesar 155mm dari Prancis dan kemugkinan juga akan datang mulai tahun ini. TNI AD juga diberitakan akan merima banyak rudal anti Tank jenis Javelin I dari Inggris.


Selain pengadaan alutsista diatas, mungkin masih ada beberapa pengadaan alutsista yang lupa untuk saya cantumkan dalam list diatas.



Prediksi Pengadaan Alutsista di MEF II (2015-2019)


Setelah selesai MEF I (2009-2014) dan proses modernisasi militer Indonesia tetap dilanjutkan pemerintah selanjutnya, maka saya memprediksi di MEF II ini juga akan banyak sekali alutsista yang akan di beli Indonesia. Diantaranya yang saya perkirakan akan di beli adalah sebagai berikut :
Prediksi Pembelian Alutsista MEF Renstra II (2015-2019)
Prediksi Pembelian Alutsista MEF Renstra II (2015-2019)


Sebelum saya menjelaskan kenapa saya memprediski itu, mohon di pahami bahwa apa yang saya tuliskan dalam prediksi ini hanyalah prediksi yang belum tentu akan dibeli di masa datang. Jadi apapun yang saya prediksi di sini, bukanlah sebuah kebenaran absolute.


Program pengadaan yang paling mungkin terjadi di MEF Renstra II (2015-2019) adalah penggantian F-5 E/F TNI AU. Hal ini karena sudah sejak beberapa tahun lalu sudah ada beritanya, bahkan beberapa penawaran sudah masuk dan kemungkinan di awal 2015 MEF Renstra II ini akan diumumkan pemenang tendernya. Selain itu, saya juga memprediksi akan ada penambahan 1 skuadron pesawat tempur baru di TNI AU. Hal ini saya prediksi karena banyak berita yang menyebutkan bahwa TNI AU direncanakan akan memiliki 10 skuadron pesawat tempur nantinya. Saat ini TNI AU hanya memiliki 8 Skuadron pesawat tempur yaitu 1 Skuadron Su-27/30, 2 Skuadron F-16, 2 Skuadron Hawk-109/209, 1 Skuadron T-50i, 1 Skuadron EMB-314 Super Tucano dan 1 Skuadron F-5 E/F. Itu artinya ada 2 skuadron yang harus dipenuhi agar mencapai 10 skuadron seperti yang di beritakan. Prediksi saya di MEF II (2015-2019) hanya akan bertambah 1 skuadron dan di MEF III (2020-2024) bertambah 1 skuadron lagi. Hal ini mengingat di MEF I (2009-2014) juga hanya ada penambahan 1 skuadron tempur baru yaitu Skuadron 16 Pekanbaru yang akan di isi oleh 16 unit F-16 Block 52ID mulai 2014 ini.


Selain pesawat tempur, TNI AU juga saya prediksi akan mengakuisisi armada pesawat AEW&C (Airbone Early Warning and Control), pesawat tanker untuk keperluan air refueling, penambahan C-295 menjadi 1 skuadron (16 unit) dan penambahan pesawat angkut berat seperti C-130 Hercules atau A-400M. TNI AU juga saya prediksi mulai akan mempertimbangkan membeli Medium SAM (Surface to Air Missile) untuk pertahanan udara.


Angkatan Laut Indonesia juga saya prediksi akan menambah pesanan Kapal Perang mumpuni seperti Perusak Kawal Rudal (PKR) dan menmbah Kapal cepat Rudal seperti KCR-40 dan KCR-60. Selain itu juga akan ada penambahan lainnya, namun saya kurang bisa memprediksinya. Kita tunggu saja lah.


Untuk angkatan darat, saya prediksi akan ada pengadaan rudal pertahanan titik sekelas Pantzir S-1 yang akan digunakan untuk menjaga object vital militer Indonesia dari ancaman musuh. Selebihnya mungkin aka nada penambahan armada medium Tank seperti kerjasama Indonesia dan Turki. Kita tunggu saja. 



Sumber Referensi :

http://internasional.kompas.com/read/2012/02/15/15172983/Indonesia.Beli.9.Pesawat.Angkut.C-295.dari.Airbus
http://arc.web.id/berita/565-roll-out-c-130h-hibah-dari-australia.html
http://www.itoday.co.id/politik/menhan-hibah-pesawat-c-130-hercules-australia-untungkan-indonesia
http://arc.web.id/berita/47-tni-au/445-f-16ab-tni-au-akan-diupgrade-bae-system.html
http://arc.web.id/artikel/57-hankam/448-prediksi-alutsista-di-tahun-2013.html
http://www.tempo.co/read/news/2012/05/11/078403230/Indonesia-Beli-37-Unit-Tank-BMP-3F-Buatan-Rusia
http://news.detik.com/read/2011/12/22/092659/1797190/10/deal-ri-beli-3-kapal-selam-dari-korea-selatan?nd992203605
http://arc.web.id/artikel/57-hankam/447-kaleidoskop-alutsista-sepanjang-2012.html
http://news.okezone.com/read/2012/06/05/337/642051/indonesia-beli-kapal-rudal-dari-belanda-seharga-rp1-98-t
http://www.angkasa.co.id/index.php/notam/notice-to-airmen/233-beli-astros-ii-indonesia-bukan-yang-pertama-di-asia-tenggara
http://www.globalpost.com/dispatch/news/regions/asia-pacific/indonesia/130826/indonesia-buy-eight-new-apache-helicopters-the-u
http://www.newdaily.co.kr/news/article.html?no=61574
http://indonesiandefense.blogspot.com/2010/12/menhan-indonesia-akan-beli-24-unit-bell.html
http://www.tempo.co/read/news/2013/09/07/078511153/TNI-Siapkan-Kapal-Khusus-untuk-Angkut-Leopard

Kondisi Anak-anak Palestina sebagai Cermin Agresi Israel di Gaza

GAZA2814MAHDI-NEWS.COM | Bom, ledakan, serangan udara, pesawat tempur, tank, cedera, kematian, kekejaman, evakuasi, dan serangan darat adalah kata-kata yang akrab ditelinga anak-anak Gaza yang sejak awal serangan brutal Israel ke daerah kantong terkepung. Dunia gagal melindungi anak-anak di Gaza.
Ramadan dan Idul Fitri sudah selesai namun anak-anak tidak diberi hak dasar mereka. Banyak dari mereka telah kehilangan orang yang dicintai atau mencari mainan mereka di reruntuhan yang dulunya rumah mereka.
Lebih dari seribu anak-anak terluka dan ratusan tewas dengan darah mengalir selama agresi Israel.
Umumnya anak yang menguburkan orang tua mereka, tetapi di Gaza, orang tua yang menguburkan anak-anak mereka.
Seorang anak 7 tahun di Gaza telah menyaksikan agresi Israel di masa hidupnya. Agresi ini pasti akan menimbulkan trauma bagi dia disisa hidupnya, sementara masyarakat internasional tetap diam membisu

1.600 Tentara Israel Terluka Selama Perang di Gaza

tentara-israel7814MAHDI-NEWS.COM | – Laporan media Israel mengatakan puluhan tentara Israel tewas dan lebih dari 1.600 terluka akibat balasan atas serangan Tel Aviv di Jalur Gaza yang terkepung.
Para pejabat Israel mengatakan sedikitnya 1.620 tentara terluka dalam bentrokan dengan para pejuang perlawanan Palestina selama beberapa minggu terakhir.
Media Israel menyebutkan jumlah warga sipil yang terluka selama serangan lebih 680 orang selama para pejuang Palestina menembakkan rentetan roketnya ke Israel sebagai pembalasan atas serangan mematikan ke daerah kantong Palestina yang diblokade.
Militer Israel juga mengatakan kehilangan hampir 64 tentaranya selama bentrokan dengan pejuang Palestina, namun Hamas mengatakan 150 tentara Israel tewas, ini menjadi kerugian terberat bagi militer Israel dalam beberapa tahun.
Israel sejauh ini menutup mata publik terkait jumlah korban yang pasti.
Banyaknya tentara Israel yang tewas selama serangan berlangsung di Gaza telah menumbuhkan penentangan masyarakat Israel.
Ribuan warga Israel mengadakan unjuk rasa menentang perang Tel Aviv di Gaza dalam beberapa hari terakhir. Demonstran dari sayap kiri dan anti-perang mengecam keras pemerintah karena menyeret Israel ke dalam perang dan tindakan militer yang berulang.
Sebuah survei terbaru dari lembaga Israel, Panel Politik, mengungkapkan bahwa 66 persen masyarakat Israel percaya perang tidak mencapai tujuannya. Ini terlihat karena pasukan Israel telah mundur dari Gaza, sementara mereka mengklaim telah mencapai tujuan utamanya.
Agresi militer Israel juga telah merengut nyawa lebih dari 1.875 warga Palestina, kebanyakan warga sipil, dan melukai lebih dari 9.600 orang di Gaza sejak 8 Juli.
Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengatakan telah meluncurkan penyelidikan internasional atas pelanggaran Israel terhadap hak asasi manusia dalam perang selama sebulan terhadap wilayah Palestina.

Netanyahu menyebut serangan Israel di Gaza ‘dibenarkan’

Netanyahu7814MAHDI-NEWS.COM | – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah membela diri atas sebulan agresinya ke Jalur Gaza yang terkepung.
Pada konferensi pers di Timur al-Quds (Yerusalem) pada hari Rabu (6/8/14), Bibi menyebut pemboman dan penembakan Israel terhadap Palestina “dibenarkan,” disamping menghancurkan daerah berpenduduk padat.
“Saya pikir [serangan] itu dibenarkan, saya pikir itu proporsional,” kata Bibi.
Selai itu Bibi juga mengucapkan terima kasih kepada Amerika Serikat yang mendukung rezimnya selama serangan tersebut, mengacu pada bantuan $ 225 juta untuk sistem rudal Iron Dome Israel.
Sekitar 1.900 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, telah tewas dan lebih dari 9.500 lainnya terluka akibat serangan besar-besaran rezim Israel sejak 8 Juli.
Pesawat tempur Israel menggempur sejumlah lokasi di Jalur Gaza, menghancurkan rumah-rumah dan mengubur keluarga di bawah reruntuhan. Pasukan Israel juga mulai serangan daratnya terhadap tanah Palestina miskin pada 17 Juli.
Gencatan senjata kemanusiaan selama tiga hari mulai berlaku pada Selasa 08:00 (0500 GMT) dan pasukan Israel mundur dari Jalur Gaza.
Hampir 400.000 anak-anak Palestina membutuhkan segera bantuan psikologis karena dampak perang yang tragis, menurut Dana Anak-anak PBB (UNICEF).
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner