Konflik berkepanjangan di Suriah telah menghancurkan negara itu dan menciptakan krisis baru, di mana setiap bulannya, 120 ribu warga Suriah terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka dan mencari tempat pengungsian.
Lonjakan jumlah pengungsi Suriah juga menciptakan kekacauan di negara-negara Timur Tengah, yang menampung mereka. Kondisi tragis pengungsi memaksa PBB untuk memikirkan solusi terhadap masalah tersebut.
Menurut UNHCR, lebih dari tiga juta pengungsi Suriah tersebar di sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Lebanon, Irak, Yordania, Mesir, dan Turki. Para pengungsi juga ada yang memilih melarikan diri ke Eropa atau Afrika dan mereka tidak terdata di PBB.
Sebelumnya, PBB menyatakan keprihatinan atas minimnya fasilitas kesehatan untuk pengungsi Suriah dan mengatakan bahwa akses ke fasilitas pengobatan dan pelayanan kesehatan semakin sulit dengan meningkatnya jumlah pengungsi.
Pada Januari lalu, Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi, Antonio Guterres mengatakan, Suriah telah menjadi bencana kemanusiaan yang memalukan dengan penderitaan dan arus pengungsian yang tak tertandingi dalam sejarah. Mereka sangat memerlukan dukungan internasional besar-besaran untuk membantu menangani krisis.
Laporan terbaru UNHCR menyebutkan bahwa jumlah pengungsi Suriah yang berada di bawah naungan PBB hampir mencapai 1,5 juta orang, di mana satu juta dari mereka membutuhkan pelayanan medis dan pengobatan akibat kondisi buruk yang berhubungan dengan perang.
Laporan tersebut mengkaji kondisi pengungsi Suriah yang tersebar di kamp-kamp pengungsian di Irak, Turki, dan Lebanon. UNHCR menegaskan bahwa kondisi orang-orang yang mengindap penyakit khusus seperti diabetes, jauh lebih tragis.
PBB selama beberapa bulan lalu telah memperingatkan tentang minimnya bantuan yang disalurkan kepada para korban perang Suriah dan dampak-dampak kemanusiaannya.
Bulan lalu, PBB menginformasikan keberadaan 2,5 juta warga yang kelaparan di Suriah dan menyerukan pengalokasian 81 juta dolar dana darurat untuk disalurkan kepada mereka. Menurut keterangan para pejabat Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, kekurangan anggaran membuat badan ini gagal merangkul lebih banyak pengungsi dan terpaksa menghentikan program-programnya untuk memperluas operasi kemanusiaan di negara itu.
PBB juga mengkritik beberapa negara Arab di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi yang tidak menunaikan komitmen mereka menyangkut pengungsi Suriah. Sekjen PBB Ban Ki-moon berharap negara-negara tersebut mencairkan dana bantuannya untuk disalurkan kepada pengungsi.
Selama konferensi untuk membantu pengungsi Suriah di Kuwait beberapa waktu lalu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab – sebagai pendukung utama militan dan kelompok Takfiri di Suriah – berjanji akan memberikan ratusan juta dolar untuk membantu pengungsi. Akan tetapi, Riyadh dan Abu Dhabi tidak melaksanakan komitmennya dan mencabut kembali janji mereka kepada PBB.
Sementara di Eropa, Inggris dan Italia sama sekali tidak bersedia untuk membuka kamp-kamp pengungsian bagi pengungsi Suriah. Menurut sejumlah laporan, negara-negara Eropa membatasi akses lintas perbatasan untuk mencegah masuknya pengungsi Suriah ke benua itu.
Fenomena itu telah mendorong PBB untuk memperingatkan dampak-dampak pelanggaran komitmen tersebut terhadap pengungsi Suriah. (IRIB Indonesia/RM)
0 komentar:
Posting Komentar