Negara-negara maju dan berkembang saat ini mulai berlomba-lomba mengembangkan pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Pesawat jenis ini bisa dipakai untuk tujuan mata-mata maupun pertempuran terbuka. Lantas bagaimana nasib bisnis jet tempur yang dikemudikan manusia, seperti Typhoon buatan Eurofighter?.
Director Eurofighter GmbH Joe Parker menjelaskan, ada 2 pandangan tentang masa depan pesawat UAV dan jet tempur berawak. Padangan pertama menyebut pesawat tempur masa depan adalah jet tempur tanpa awak alias drone. Pendapat lain ialah kombinasi jet tempur berawak dan UAV bakal tetap eksis.
Ia memandang bisnis jet tempur berawak tetap akan ada sejalan dengan bisnis pesawat UAV. “Saya tidak percaya kalau jet tempur akan berakhir,” kata Parker saat berbincang di Jakarta, Rabu (15/4/2015). Pesawat UAV yang dilengkapi persenjataan, lanjut Parker, masih menuai perdebatan di hukum internasional. Apalagi setelah peristiwa pemboman 11 September 2001.
Saat ditugaskan untuk mengamati sasaran, pesawat UAV juga memiliki keterbatasan visual maupun manuver karena dikendalikan dari jarak jauh. Berbeda dengan jet tempur berawak yang bisa mengidentifikasi pesawat tak dikenal dan musuh untuk selanjutnya mampu bermanuver dan membuat kontak karena visualisasi yang jelas. Bila ada kontak, maka potensi untuk menembak jatuh yang menyebabkan kehilangan nyawa bisa dikurangi.
Meski demikian, Parker menilai teknologi UAV akan terus berkembang. Eurofighter memang tidak mengembangkan UAV, namun Airbus Group selaku induk Eurofighter telah mengembangkan berbagai jenis pesawat tersebut seperti Barracuda atau Eurohawk HALE UAS. Pesawat ini telah diproduksi dan dijual. “Yang mengembangkan bukan kami tapi Airbus,” ujarnya.(Detik.com)
Jakartagreater, Jakarta : Eurofighter menggelar Masterclass 2015 untuk mensosialisasikan keunggulan pesawat tempur yang mereka produksi. Acara ini digelar di Hotel Grand Hyatt, Jl. M. H. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa 14 April 2015 kemarin. Tim JKGR pun diundang dalam acara menarik ini.
Hadir dalam acara tersebut, Direktur Export Eurofighter Joe Parker, Capability Development Manager, Paul Smith, Head of Industrial Offset Eurofighter Martin Elbourne, dan Laurie Hilditch, Head of future capabilities Eurofighter. Dalam kesempatan pertemuan tersebut, Joe Parker mengatakan jika nantinya pemerintah Indonesia memilih Eurofighter, pihaknya akan membantu pengembangan teknologi pesawat tempur Indonesia.
“Kita akan membangun desain center termasuk pembangunan manufacture bersama. Kita akan siapkan Assembly line, peningkatkan kemampuan para insinyur pesawat Indonesia untuk merancang hingga memproduksi jet tempur secara mandiri,” cakap Joe.
Sementara itu, Head of Industrial Offset Eurofighter Martin Elbourne, untuk tahap awal pihaknya akan memboyong insinyur Indonesia dalam hal ini PT. DI untuk belajar di pabrikan pesawat tempur produksi empat negara yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol ini.
“Kita akan mengajarkan beberapa tahun disana sebelum mereka kembali dan mengaplikasikan teknologi mereka di Indonesia. Selain itu dengan fasilitas yang dibangun bersama PT DI bisa membantu project IFX melalui benefit ini. Intinya, Indonesia tidak akan rugi memilih Eurofighter,” tegasnya.
Ia pun menjelaskan, pemberian Transfer of Technology (ToT) yang diberikan pihaknya tidak main-main. Indonesia akan menjadi basis produksi pesawat tempur Eurofighter selain empat negara tersebut. Kesempatan ini menjadikan Indonesia sebagai tempat Assembly Line diluar Eropa.
“Lihat track record kami kepada Indonesia, NC-212, CN-235 adalah beberapa contoh gimana PT DI berhasil mengexportnya ke beberapa negara lain. Jadi ingat, ini bukan pertama kalinya kita memberikan ToT untuk Indonesia. Yang perlu diketahui, kita serius latih kembangkan pesawat tempur karena sekarang Indonesia belum punya,” tutup Martin.
Transfer of Technology dari Eurofighter Typhoon, bisa dikatakan sebuah kemajuan untuk TNI dan Bangsa Indonesia. Kemudahan pemeliharaan pesawat tempur, hingga penguasaan teknologi di depan mata Termasuk mempelajari teknologi mesin.
Selama ini kita kenal, beberapa negara NATO enggan berbagi Transfer of Technology (ToT) mesin jet tempur mereka, kepada negara Non-NATO. Dengan langkah ini, mesin jet tempur KFX/IFX Indonesia nanti, tidak harus sama dengan mesin jet tempur KFX/IFX Korea Selatan yang cenderung menggunakan mesin F-414-400 Amerika Serikat.
Dengan pembelian Eurofighter Typhoon oleh TNI AU, besar kemungkinan IFX Indonesia menggunakan mesin yang diusung typhoon.
Dalam presentasinya di Korea Selatan, PT DI menyatakan, KFX /IFX yang dibangun harus memiliki daya dorong yang besar. Hal ini untuk mengejar kemampuan IFX yang mengusung teknologi Gen 4,5 yang terus dikembangkan menjadi pesawat stealth Gen 5.
Typhoon memiliki kelebihan daya dorong dibanding Dassault Rafale. Mesin EJ-200 mampu mempertahankan dayanya dalam kecepatan tinggi, sehingga memberikan Typhoon akselerasi superior pasca 1.5 Mach. Dibandingkan Rafale, Meskipun mesin M88 Rafale dapat berfungsi baik dalam aliran udara terbatas pada high altitude, pesawat akan kehilangan tenaga yang membatasi Rafale pada kecepatan 1,8-1,9 Mach saja, sedangkan Typhoon tetap bertenaga melewati kecepatan 2 Mach.
Keunggulan mesin EJ200 Typhoon menjadi modal besar bagi Indonesia untuk mengembangkan pesawat tempur IFX yang canggih. Jika nantinya Typhoon dipilih, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan mandiri dalam teknologi Pesawat Tempur.
Eurofighter Typhoon produksi tahun 2014 mulai dilengkapi radar AESA (active electronically scanned array) yang merupakan lompatan teknologi dalam sensor baru pesawat tempur, karena sumber tenaga (transmitter) berasal dari banyak modul TR yang terdapat pada antenna. Efeknya pesawat tempur ini memiliki kemampuan pendeteksian yang tinggi, penargetan, pelacakan serta kemampuan perlindungan diri sendiri. Dengan demikian pesawat ini memiliki kemampuan full spectrum of air operations. (JKGR).
Indonesia ingin menggelar latihan militer reguler dengan Amerika Serikat dekat kepulauan Natuna yang jarang penduduknya, di dekat wilayah Laut Cina Selatan yang diklaim China. Meskipun Indonesia bukan penuntut di Laut Cina Selatan, militer menuduh China memasukkan bagian dari Natuna dalam apa yang disebut “Nine-Dash Line,” batas yang tidak jelas yang digunakan pada peta China untuk mengklaim sekitar 90 persen Laut China Selatan.
Amerika Serikat, yang menyampaikan kekhawatiran pada hari Jumat tentang reklamasi pesat China atas terumbu karang di daerah itu, mengadakan latihan militer bersama, selama akhir pekan dengan Indonesia di Batam, sekitar 300 mil (480 km) dari Natuna. “Itu adalah latihan gabungan kedua kami yang telah dilakukan dengan Amerika Serikat di daerah itu dan kami berencana melakukannya lagi tahun depan.
Kami ingin membuat latihan militer rutin di daerah itu, “kata juru bicara Angkatan Laut Indonesia Manahan Simorangkir. The termasuk penggunaan pesawat pengawas dan patroli maritim, seperti P-3 Orion, yang dapat mendeteksi kapal permukaan dan kapal selam.
Latihan ini tidak bisa dilakukan di Natuna karena kurangnya fasilitas untuk menampung semua pesawat, ujarnya.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa pada bulan Mei ia akan mengunjungi Natuna, wilayah berkumpulnya 157 pulau tak berpenghuni dari barat laut pantai Kalimantan. Kunjungan ini untuk menyelesaikan rencana upgrade pangkalan militer yang kecil. “Ada bandara di Natuna tetapi tidak memiliki pasukan yang memadai, hanya beberapa marinir,” kata Menteri Pertahanan. “Kami akan menambah pasukan di sana – mungkin udara, angkatan laut dan pasukan darat”.
Para pejabat Indonesia mengatakan latihan militer bersama dengan Amerika Serikat dan penguatan basis militer di Natuna tidak untuk merespon ancaman tertentu. “Penting untuk diingat Indonesia tidak terlibat dalam sengketa di Laut China Selatan,” kata Simorangkir . “Kami tidak ingin ada insiden di Laut Cina Selatan dan berkomitmen dengan pendekatan diplomatik yang selalu kami gunakan”.
Presiden Joko Widodo bulan lalu mengatakan bahwa klaim China untuk sebagian besar laut yang disengketakan tidak memiliki dasar dalam hukum internasional, tetapi Jakarta ingin tetap menjadi “penengah” di salah satu sengketa teritorial yang paling berduri Asia.(asiandefencenews.blogspot.com).
S-400 (NATO : SA-21 Growler)sistem rudal permukaan ke udara jarak jauh
China telah membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia, ungkap Anatoly Isaikin direktur jenderal eksportir senjata utama Rusia perusahaan Rosoboronexport kepada harian Kommersant dalam sebuah wawancara, menurut kantor berita Tass Rusia.
Isaykin menolak untuk mengungkapkan persyaratan kontrak tetapi menegaskan bahwa Cina telah menjadi pembeli pertama sistem pertahanan udara mutakhir. Isaykin mencatat bahwa pembelian ini semakin menekankan sifat strategis hubungan Rusia-Cina.
Kepala Rosoboronexport mengatakan bahwa industri pertahanan Rusia wajib untuk memasok sistem pertahanan udara S-400 ke Kementerian Pertahanan Rusia terlebih dahulu, meskipun fakta bahwa banyak negara asing yang tertarik untuk membeli sistem pertahanan ini.
Sistem yang mampu meluncurkan hingga 72 rudal dan menargetkan hingga 36 sasaran secara simultan, memasuki layanan pada tahun 2007 untuk menggantikan sistem S-300. S-400 Triumf dirancang untuk melindungi dari serangan udara strategis, rudal jelajah, rudal balistik jarak jauh dan menengah.
Biro desain Almaz bertanggung jawab untuk pengembangan S-400 Triumf. S-400 adalah sistem rudal permukaan ke udara jarak menengah dan jauh yang dirancang untuk mencegat berbagai sasaran di udara seperti pesawat siluman, rudal jelajah dan rudal balistik dengan jangkauan hingga 400 km.
S-400 merupakan upgrade dari sistem rudal S-300 dengan tiga fitur rudal yang berbeda diantaranya rudal 40N6 dengan jangkauan terjauh, 48N6 jangkauan jarak jauh dan rudal 9M96 jarak menengah. Selain China, sistem ini juga telah menarik minat dari sejumlah negara asing termasuk Arab Saudi, Belarus, dan Turki.
Rusia berencana untuk membeli hingga 200 peluncur (masing-masing dengan dua atau empat rudal) pada tahun 2015, Ini berarti menyebarkan sedikitnya 18 batalyon pada 2017 dan 56 batalyon pada tahun 2020 (atau diatur dalam 28 batalyon yang berisi dua batalyon masing-masing).
China berencana untuk menyebarkan batalyon S-400 pertamanya untuk menghadapi Taiwan. Satu batalyon dapat mencakup semua ruang udara Taiwan. Sementara batalyon kedua akan dikerahkan untuk menangani Jepang, Korea Selatan dan Vietnam.
Kol Lek Toto Miarto mengunjungi Entikong, Jumat (10/4/2015) dalam rangka pengembangan sarana dan prasarana alat komunikasi Satuan Komunikasi Elektronika (Satkomlek) Mabes TNI.
Empat anggota TNI dari Tim Pusdalops (Pusat Pengendalian dan Operasi) Mabes TNI dipimpin oleh Kolonel Lek Toto Miarto, mengunjungi perbatasan RI-Malaysia di Entikong, Kabupaten Sanggau dalam rangka pengembangan sarana dan prasana alat komunikasi Mabes TNI guna mendukung pertahanan di darat pada Jumat (10/4/2015).
Dalam kunjungan tersebut Tim Pusdalops yang didampingi oleh Mayor Inf Jajang dari Puskodalops Kodam XII/Tpr meninjau Koramil 1204-21/Entikong dalam rangka mencari tempat alternatif pengembangan sarana dan prasarana Alat komunikasi Satuan Komunikasi Elektronika (Satkomlek) Mabes TNI.
Selain itu tim melaksanakan koordinasi dengan Plt Kepala UP3LB Entikong, Agato Limat untuk memperoleh informasi mengenai rencana renovasi border RI-Malaysia Entikong. Hal ini dilakukan agar pengembangan satuan komunikasi dan elektronika Mabes TNI dapat terintegrasi dengan pengembangan pembangunan Border di Entikong.
Kolonel Lek Toto Miarto mengatakan, pengecekan Sarpras Alkom Satkomlek TNI di Entikong dan peninjauan border RI-Malaysia Entikong adalah untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisi dan keadaan lingkungan terkini di wilayah Kodam XII/Tpr, khususnya di wilayah perbatasan Entikong.
“Sehingga dapat memetakan dan mendesain rencana pengembangan sarana dan prasarana Alkom Mabes TNI yang tepat guna, untuk mendukung tugas pertahanan TNI di wilayah Kodam XII/Tpr,” ungkapnya.
Selain berkunjung ke Entikong, Kolonel Lek Toto Miarto melakukan koordinasi dengan Kapuskodalopsdam XII/Tpr, Letkol Inf Wahyu Marhaendro SSos, MHum dan dilanjutkan pengecekan jaringan WAN (Wide Area Network) Puskodalopsdam XII/Tpr dan peninjauan Rupuskodalopsdam XII/Tpr.
Lek Toto Miarto juga mengecek Sarpras Alkom di Denkomstrada Pontianak serta saling tukar informasi mengenai Sarpras Alkom TNI dengan Kahubdam XII/Tpr Kol Chb I Wayan Sueda.
Kegiatan peninjauan dan pengecekan tersebut diharapkan Tim Pusdalops Mabes TNI dapat memberikan gambaran dan masukan kepada Pimpinan TNI dalam pengembangan pertahanan darat di wilayah Kalbar guna menjaga kedaulatan NKRI dari setiap ancaman dan gangguan serta peredaran barang-barang ilegal yang dapat merugikan negara. (TRIBUNPONTIANAK)
JAKARTA – TNI menyiagakan sekira tiga kapal perang mereka di perairan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah sejak Februari lalu. Namun, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Fuad Basya membantah ketiga kapal perang TNI disiagakan untuk mengawal pelaksanaan eksekusi mati.
“Tiga KRI masih di situ (perairan Nusakambangan), itu kan sambil latihan,” jelas Fuad di Mako Brigif 2 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2015).
Dia menegaskan, prajurit TNI tidak pernah mengawal pelaksanaan eksekusi hukuman mati. Sebaliknya, TNI hanya mengawal kebijakan pemerintah.
“Kita tidak mengawal eksekusi, tapi kebijakannya yang kita kawal,” bebernya.
Dia pun berdalih, ketiga kapal perang TNI itu disiagakan untuk mengawal perairan Nusakambangan dari ancaman yang mampu menggagalkan pelaksanaan eksekusi.
Sebelumnya, Australia masih bersikeras untuk membebaskan dua warganya, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dari vonis pidana cabut nyawa. Saking ngototnya, bahkan pemerintahan negeri Kanguru itu sempat memberikan tekanan terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mencabut hukuman terhadap duo Bali Nine itu. (okezone.com)
Jakarta – Panglima TNI Jenderal Moeldoko akan memimpin gelar pasukan pengamanan Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Silang Monas, Jakarta Pusat, pagi ini.
Pernyataan itu disampaikan Puspen TNI dalam keterangannya, Rabu (15/4/2015). Apel dijadwalkan dilaksanakan pukul 06.00 WIB.
Moeldoko akan didampingi oleh Kepala Staf Angkatan TNI. Pangdam Jaya Mayjen TNI Agus Sutomo juga akan hadir dalam kegiatan itu.
Sebelumnya, Agus telah memastikan bahwa Jakarta aman untuk Peringatan KAA dari 19-24 April mendatang. Dansatpamwil-1 ini mengatakan, pihaknya telah melakukan gelar parsial dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait pengamanan para tamu negara dan rangkaian acara akbar ini.
Jumlah personel TNI yang disiagakan untuk Peringatan KAA ini, kata Agus, ada sebanyak 3.550 orang. Terdiri dari, Kodam Jaya sebanyak 2.200 personel, Kostrad 700 personel, Marinir 600 personel dan dari Paskhas TNI AU sebanyak 50 personel. Para personel ini akan ditempatkan di ring 2 dan 3. Untuk pengamanan ring 1 dilakukan oleh Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres).
Pengamanan dilakukan mulai dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur dan di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Selain itu juga di 18 tempat penginapan yang ada di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, serta di venue KAA di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan.
“Personel TNI juga disiagakan disepanjang rute perjalanan tamu kenegaraan,” ucap Agus. Pihaknya juga menaruh counter sniper atau penembak jitu di berbagai gedung tinggi di sekitar area pelaksanaan kegiatan. Alutsista seperti panser Anoa, serta penunjang pengamanan seperti alat detektor logam dan bom, dan berbagai peralatan canggih lainnya juga diandalkan.
Agus berharap semua pihak ikut mensukseskan perhelatan Peringatan KAA di Jakarta dan Bandung. Semua pihak harus bekerjasama agar nama baik Indonesia di mata dunia tetap terjaga. (detikNews)
Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko beserta para Perwira Tinggi di jajaran TNI AD, TNI AL dan TNI AU melakukan olahraga bersama dengan 1.600 Prajurit TNI, di Markas Brigif-2 Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2015). Tujuan kegiatan olahraga bersama ini adalah untuk membangun solidaritas yang semakin kuat antar prajurit TNI, baik TNI AD, TNI AL dan TNI AU.
Sebelum olahraga dimulai, Panglima TNI menyampaikan sambutan dan berpesan kepada seluruh Prajurit TNI yang hadir, bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Tentara Nasional Indonesia sudah cukup baik. Sedangkan untuk tingkat pelanggaran disiplin para Prajurit TNI telah menurun dengan tajam. “Kita harus bekerja dari waktu ke waktu yang semakin baik, masyarakat membutuhkan, bangsa serta negara membutuhkan kita semuanya”, ujarnya.
“Berbagai kegiatan positif telah kalian lakukan di tengah-tengah masyarakat tersebut membutuhkan kehadiran TNI, dan berbagai peristiwa telah kalian selesaikan dengan baik”, ujar Jenderal TNI Moeldoko.
Lebih lanjut Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, saya selaku Panglima TNI ingin bersama-sama dengan kalian untuk bergembira bersama, karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan kami, kesulitan kamu adalah kesulitan kami. Untuk itulah, pada pagi hari ini kita bersama-sama bersuka cita, dan kita bersama-sama berolahraga.
“Melalui kegiatan olahraga yang seperti ini apabila dikembangkan secara terus menerus akan dapat membangun Jiwa Korsa yang semakin kuat, dan pada akhirnya kebijakan Panglima TNI tentang interoperability akan bisa segera terwujud dengan cepat”, kata Jenderal TNI Moeldoko.
Usai menyampaikan pengarahannya, Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko bersama-sama dengan para Perwira TNI lainnya mengikuti senam aerobic, yang dicontohkan oleh instruktur aerobik dengan iringan lagu dangdut Goyang Dumang. Kegiatan olahraga bersama juga dimeriahkan dengan Senam Bersama, Tari Gemu Famire, Atraksi Terjun Payung atau Free Fall, Lomba Menembak, Lomba Baris Berbaris dan Fun Game.
Ikut dalam olahraga bersama tersebut, antara lain Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E., Wakasau Marsdya TNI Bagus Puruhito, S.E., M.M., Pangdam Jaya Mayjen TNI Agus Sutomo, Danjen Kopassus Mayjen TNI Doni Monardo, Dankomar Mayjen TNI (Mar) A. Faridz Washington, Dankorpaskhas Marsda TNI M.B Manurung, Asops Kasad Mayjen TNI Johny L. Tobing dan Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya. (Puspen TNI).
Authentikasi : Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Inf Bernardus Robert
Guna kepentingan diseminasi informasi bagi penguatan TNI, Counter Opini dan proteksi, Pusat Penerangan di jajaran TNI harus bisa membangun komunitas dengan media sekaligus menjadi wahana penguatan kapasitas sumber daya manusia penerangan TNI. Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko di depan peserta Rapat Koordinasi Teknis Penerangan (Rakornispen) TNI tahun 2015, bertempat di Aula Gatot Subroto Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Selasa (14/4/2015).
“Peran media di era globalisasi saat ini adalah suatu keniscayaan, sehingga apa yang ada di media akan mempengaruhi realitas subyektif interaksi antar organisasi atau interaksi sosial pelaku organisasi di masyarakat”, tambah Panglima TNI.
Lebih lanjut Jenderal TNI Moeldoko mengatakan, berangkat dari besarnya peran media dalam mempengaruhi peran publik, Pusat Penerangan TNI dan Penerangan Angkatan sangat perlu memikirkan strategi dan sistem diseminasi informasi dan proteksi organisasi secara akurat dan berkualitas terlebih dihadapkan kepada globalisasi media yang tak terelakkan lagi.
“Pendekatan profesional harus menjadi kata kunci dalam pengembangan kapasitas, kapabilitas dan kreatifitas personel penerangan termasuk kapasitas dan naluri intelejen yang harus dimiliki personel penerangan TNI, guna dapat membaca setiap kecenderungan yang berkembang. Untuk itulah saya sekarang ini memobilisasi penerangan TNI agar dapat digerakkan”, ujar Panglima TNI.
“Dengan kapasitas dan naluri intelijen, lembaga penerangan di jajaran TNI harus dapat memanfaatkan munculnya lembaga-lembaga Media Wacth, yang keras terhadap pers negatif sebagai jawaban terhadap maraknya penerbitan pers kuning, Massen Presse dan Geschaff Presse”, tegas Panglima TNI.
Dalam kesempatan tersebut Panglima TNI berharap, agar mulai saat ini masing-masing jajaran penerangan untuk melakukan perubahan di unit kerjanya, dan tunjukan kalian bisa berprestasi di tengah-tengah kekurangan yang kalian hadapi. Jadikan tantangan sebagai suatu kebutuhan kebutuhan. “Perwira penerangan jangan ragu-ragu untuk memuat berita TNI sebanyak-banyaknya di media. Tidak usah takut nanti dimarahi, dan kalau ada kekurangan-kekurangan itu nanti urusan saya yang menyelesaikan”, tegasnya.
Rakornispen TNI tahun 2015 yang berlangsung selama satu hari mengambil tema “Mewujudkan Interoperabilitas Jajaran Penerangan TNI Guna Mendukung Tugas Pokok”, diikuti 132 personel, terdiri dari 13 personel Mabes TNI, 50 personel TNI AD, 38 personel TNI AL, 16 personel TNI AU, 5 personel Peninjau dan 13 personel undangan, menghadirkan tiga narasumber yaitu Budiarto Shambazy (Wartawan Senior Kompas), Effendi Gazali (Pakar Komunikasi) dan Balques Manisang (News Anchor tvOne).
Turut hadir dalam acara tersebut, para Asisten Panglima TNI, Kapuspen TNI Mayjen TNI M. Fuad Basya, Kadispenad Brigjen TNI Wuryanto, Kadispenal Laksma TNI Manahan Simorangkir dan Kadispenau Marsma TNI Hadi Tjahjanto. (Puspen TNI).
Authentikasi : Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Inf Bernardus Robert
Jakarta – Pria bertopeng yang mengaku anggota ISIS itu sesumbar akan menyerbu Nusakambangan untuk membebaskan Abu Bakar Ba’asyir dan Aman Abdurrahman. Panglima TNI Jenderal Moeldoko malah menantang agar ancaman itu dibuktikan.
“Ya nggak apa-apa. Kita tunggu saja. Dia datang lebih bagus lagi. Daripada dia ngancem aja, datang aja. Kita habisin sekalian aja. Apa susahnya,” kata Moeldoko di Markas Marinir Cilandak, Jaksel, Selasa (14/4/2015).
Menurut Moeldoko, menghadapi ancaman ISIS tidak boleh gentar sedikitpun. Namun jenderal bintang empat ini menggarisbawahi, upaya preventif terhadap ISIS lebih diutamakan daripada penindakan.
“Menghadapi ISIS tidak boleh takut. Dia datang, kita sikat. Pos-pos kita bangun di sana. Tapi begini, untuk penyelesaian terhadap ISIS adalah lebih baik dilakukan secara preventif. Semua terlibat dengan baik, seluruh unsur supaya memberikan kontribusi agar ISIS tak boleh berkembang di Indonesia,” kata Moeldoko.
“Sekali lagi, tak boleh berkembang di Indonesia. Karena saya melihat dengan jelas negara-negara yang unstable-nya muncul, maka di situ dia berkembang. Dan Panglima Lebanon mengatakan ISIS itu seperti virus, kanker yang menyebarnya luar biasa. Dia mengancam, datang dan kita sikat,” ujar Moeldoko.
Sebuah video ancaman dikumandangkan ISIS di YouTube. Pria memakai penutup kepala dan membawa senapan menyebut akan membebaskan Abu Bakar Ba’asyir dan Aman Abdurrahman yang ditahan di Nusakambangan. Pria itu juga menyebut akan melawan pemerintah Indonesia.
Tayangan di YouTube itu memakai judul Salim News alias Abu Jandal. Pihak Mabes Polri yang dikonfirmasi mengaku sudah mengetahui soal tayangan ini. (detikNews)
Indonesia-AS gelar latihan militer kedua akhir pekan lalu.
Pesawat P-3 Orion AS
Indonesia menginginkan latihan militer rutin dengan Amerika Serikat (AS) dekat Natuna, wilayah di Laut China Selatan yang dekat dengan teritori yang diklaim China, ungkap kantor berita internasional.
Latihan militer gabungan AS-Indonesia telah digelar akhir pekan lalu di Batam, sekitar 480 kilometer dari Natuna. “Itu latihan kedua dengan AS,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Manahan Simorangkir.
Dikutip Reuters, Senin, 13 April 2015, Manahan mengatakan Indonesia ingin membuat latihan militer bersama AS, menjadi kegiatan rutin, dengan rencana latihan berikutnya pada 2016.
Saat ini China terlibat dalam konflik maritim dengan beberapa negara di Asia Tenggara, terkait dengan klaim mereka di Laut China Selatan, digambarkan dengan sembilan garis terputus (nine-dash line).
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pada Reuters pekan lalu, dia akan mengunjungi Natuna pada Mei, untuk menuntaskan rencana meningkatkan pangkalan militer.
“Telah ada bandara di Natuna, tapi tidak ada cukup pasukan, hanya beberapa marinir. Kami akan menambah pasukan di sana, mungkin dari angkatan udara, laut dan darat,” katanya.
Manahan mengatakan latihan militer dengan AS, serta penambahan kekuatan di Natuna tidak ditujukan untuk merespon ancaman tertentu. “Penting untuk diingat, Indonesia tidak terlibat sengketa apa pun di Laut China Selatan,” katanya.
“Kami tidak menginginkan adanya insiden di Laut China Selatan, dan berkomitmen pada pendekatan diplomatik yang selalu kami ambil,” ucap Manahan.
Latihan militer yang digelar TNI AL dengan AS, melibatkan penggunaan pesawat mata-mata seperti P-3 Orion, yang bisa mendeteksi kapal laut dan kapal selam. (VIVA.co.id)
Pulau buatan yang dibangun Tiongkok di Laut Cina Selatan. businessweek.com
Jakarta – Indonesia diberitakan akan menggelar latihan militer reguler dengan Amerika Serikat di dekat daerah yang jarang penduduknya di Kepulauan Natuna, daerah yang berada dalam kawasan Laut Cina Selatan yang diklaim Cina dan beberapa negara lainnya.
Sebelumnya, kedua negara telah mengadakan latihan militer bersama selama akhir pekan di Batam, sekitar 300 mil (480 km) dari Natuna.
“Itu (latihan) adalah latihan gabungan kedua kami dengan Amerika Serikat di daerah itu dan kami berencana melakukannya satu tahun ke depan lagi. Kami ingin membuat latihan rutin di daerah itu,” kata Manahan Simorangkir, juru bicara Angkatan Laut Indonesia, Senin, 13 April 2015.
Latihan militer tersebut melibatkan penggunaan pesawat pengawasan dan patroli, seperti P-3 Orion yang dapat mendeteksi kapal di permukaan dan kapal selam. “Latihan ini tidak bisa diselenggarakan langsung di Natuna karena kurangnya fasilitas untuk menampung semua pesawat,” kata Manahan menggambarkan situasi latihan pertama mereka.
Pekan lalu, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengatakan ia akan mengunjungi kepulauan Natuna pada Mei nanti. Di Kepulauan Natuna berserak 157 pulau. Dari jumlah itu, sebagian besar pulau di kepulauan itu yang berada di lepas pantai barat laut Kalimantan tidak berpenghuni. Di sana Kementerian akan menyelesaikan rencana pengembangan pangkalan militer yang kecil.
“Ada bandara di Natuna tetapi tidak memiliki banyak angkatan bersenjata, hanya beberapa marinir,” kata Menteri Pertahanan. “Kami akan menambah pasukan di sana mungkin udara, angkatan laut dan darat.”
Para pejabat Indonesia mengatakan latihan militer bersama dengan Amerika Serikat dan militer yang direncanakan membangun pangkalan di Natuna tidak dalam menanggapi ancaman tertentu.
“Sangat penting untuk diingat, Indonesia tidak terlibat dalam sengketa di Laut China Selatan,” kata Simorangkir. “Kami tidak ingin terlibat kejadian di Laut Cina Selatan dan berkomitmen untuk selalu mengedepankan pendekatan diplomatik.”
Meskipun Indonesia bukan salah satu negara yang mengklaim daerah Laut Cina Selatan, militer Indonesia telah menuduh Cina sengaja memasukkan bagian dari Kepulauan Natuna dalam “Nine-Dash Line,” batas tidak jelas yang digunakan pada peta Cina untuk mengklaim sekitar 90 persen dari laut di daerah tersebut .
Presiden Joko Widodo bulan lalu mengatakan bahwa klaim utama Cina untuk sebagian besar laut yang disengketakan tidak memiliki dasar hukum dalam hukum internasional, tetapi Jakarta ingin tetap menjadi “penengah” di salah satu sengketa teritorial yang paling tajam di Asia.(TEMPO.CO)
Jakarta – Penembak runduk. Istilah itu bisa ditelusuri sejak tahun 1770-an, di kalangan prajurit kolonial Inggris di India. Barang siapa mahir memburu burung snipe yang konon sulit ditembak, maka ia berhak mendapat julukan ‘sniper’.
Seiring berlalunya waktu, sniper mengalami pergeseran arti. Yakni, prajurit infanteri yang secara khusus terlatih untuk mempunyai kemampuan membunuh musuh secara tersembunyi dari jarak jauh dengan menggunakan senapan.
Indonesia baru kehilangan sniper legendaris yang diakui dunia, Tatang Koswara, yang meninggal dunia pada 3 Maret 2015. Namun, Bumi Pertiwi menghasilkan kebanggaan yang lain, senapan penembak runduk (SPR) yang diproduksi PT Pindad: SPR 2.
SPR ini bukan sembarang senjata. Pelurunya bisa menembus tank baja. Dan bahkan, ada peledak di balik munisi tersebut yang bisa menghancurkan kendaraan tempur dalam sekejap. Lebih hebat lagi, SPR 2 juga memiliki jangkauan tembak hingga 2 kilometer (km). Kemunculannya menggemparkan dunia sniper.
“Senjata yang mendunia, kalau kita fokus ke senjata, kita punya SS-1, SS-1 dan beberapa varian. Kita juga punya SPR-2 yang baru kita launching dan langsung dibeli oleh Kopassus,” kata Direktur PT Pindad Silmy Karim kepada Liputan6.com.
Mantan Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) itu menambahkan, senjata-senjata yang merupakan produk unggulan Pindad, kualitasnya sudah teruji. Siap digunakan di medan tempur. “Dan ternyata memang bisa diterima dan malah lebih unggul dari pada produk impor,” ujar dia.
Secara rinci, SPR 2 berkaliber 12,7 mm x 99 mm, panjang senapan 1.755 mm, berat keseluruhan 19,5 kg, panjang barel 1.055 mm, kapasitas peluru antara 5-10 butir. Rifling atau alur spiral berulir pada bagian dalam laras senjata api ini yakni 8 grooves, RH 381 mm (15”) twist. Kecepatan rata-rata lesatan peluru 900 meter per detik dan jangkauan 2 km.
Menurut Silmy, keistimewaan SPR 2 ini dibanding senapan dari negara adalah terletak pada jangkauan, ketepatan, dan silencer atau peredam suara hentakan dari tembakan.
Silencer yang dipasang bisa menurunkan hentakan suara tembakan sekitar 20-30 desibel. Senjata ini juga dilengkapi perangkat night vision dan teleskop dengan pembesaran ukuran 5-25 kali.
“Senjata kita ini ada peredam dari recoil-nya (hentakan), yang ini cukup membuat kesulitan bagi produsen lain dalam mendesain produk yang digunakan oleh sniper. Di samping itu, senjata sniper ini relatif sangat khusus. Dalam arti tidak massal di mana tingkat ketelitiannya harus maksimal,” ungkap dia.
Direktur Pindad ini mengakui manfaat ekonomis dari pembuatan SPR 2 ini sebenarnya tidak terlalu besar. Tapi ia menekankan, keberhasilan pembuatan senapan runduk tersebut membuktikan bahwa Indonesia mampu menciptakan alutsista yang inovatif dan mutakhir.
“Untuk membuat sniper ini, effort-nya (usahanya) banyak, tetapi secara ekonomis, manfaatnya tidak terlalu banyak. Tetapi kita dalam hal ini melakukan dalam konteks kemandirian. Dalam konteks kita mampu membuat senjata yang dapat digunakan oleh sniper,” kata Silmy.
Kepada Liputan6.com, teknisi Pindad Diding Sumardi menunjukkan wujud senapan SPR 2, aksesoris, dan berbagai pelurunya. Ada tiga jenis peluru yang bisa digunakan, yakni MU3 M yang dipakai untuk latihan menembak, MU 3 SAM yang bisa menembus kendaraan, dan MU 3 BLAM yang tidak hanya menembus kendaraan tapi juga bisa meledakkan target.
Atas kemampuannya yang luar biasa, Sniper SPR 2 mendapat pengakuan dari dunia internasional. Terbukti, senapan jitu ini masuk rekomendasi di situs alat utama sistem senjata (alutsista)Weaponsystems.net, bersanding dengan senjata canggih lainnya dari penjuru dunia, seperti senapan runduk Zastava M93 Black Arrow buatan Serbia.
Bahkan, tentara Singapura pernah melontarkan pujian untuk SPR 2. “Good!“, ujar seorang penembak kontingen Angkatan Darat Singapura, sambil terus memandangi dan melihat detail fitur senapan runduk anti material versi SPR-2, yang dipajang di stand PT Pindad di sela-sela kejuaraan tembak ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-21, di Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, dengan adanya SPR 2 ini, Indonesia bersanding dengan tiga negara lainnya yang mampu membuat senapan runduk serupa, yakni Amerika Serikat (AS) dan dua negara di Eropa.
Dunia militer Indonesia naik tingkat dari sebelumnya. Meski begitu, PT Pindah belum menjualnya kepada negara lain. Sejauh ini, baru Komando Pasukan Khusus (Koppasus) TNI AD yang sudah mengoperasikannya. Mengenai harga per unitnya, SPR 2 ini dibanderol sekitar Rp 200 juta per pucuknya.
Berawal dari Tank ‘Si Jablay’
Produk PT Pindad yang menghentakkan dunia internasional tidak hanya senapan SPR 2, tapi juga panser Anoa. Kendaraan taktis (rantis) ini telah diproduksi sebanyak ratusan unit dan tersebar di Indonesia maupun negara lain. Kepuasaan pelanggan membuat rantis, yang terdiri 5 varian yakni Armored Personnel Carrier, Ambulance, Logistic, Recovery dan Remote Control Weapon System, ini pun tidak pernah luput dari permintaan. Harganya berkisar Rp 25-30 miliar.
Armoured Personnel Carrier atau lebih dikenal dengan Anoa 6 x 6 APC yang khusus mengangkut tentara ini dilengkapi sejumlah peralatan seperti alat deret Winch dengan daya deret 6 ton, Pioneer Set atau tombol pengendali, alat pemadam kebakaran, alat penyejuk Udara, toolkit pengemudi, lampu dan peta, jaring kamuflase, hydraulic rear rampdoor system atau sistem pintu hidrolik, smoke grenade dischargers atau alat peluncur granat berkaliber 66 mm yang jumlahnya 3 di kanan dan 3 di kiri kendaraan.
Panser ini juga bisa dilengkapi beberapa fitur opsional seperti sistem komunikasi dan pergerakan AM, FM Radio dan Intercom Set, GPS, NVG, Add -on. Kemudian ada keramik lapis baja Armament; sistem remote control RCWS-Cal 7,62/12,7 mm (remote control weapon system), dan senjata di bagian belakang senapan mesin ringan 7,62 mm. Anot 6 x 6 APC ini berjalan naik hingga 45 derajat dan turun 10 derajat, serta memutar 360 derajat.
Anoa lain yang tak kalah canggih adalah Recovery dan Remote Control Weapon System (RCWS). Spesifikasinya serupa dengan Anoa APC. Hanya fungsinya berbeda. RCWS memiliki keunggulan dengan sistem remote control, sehingga tentara tidak perlu naik ke atap untuk menembakkan senjata.
Untuk Anoa Ambulance memiliki fungsi khusus mengangkut korban yang muatannya lebih banyak dan dilengkapi anti-peluru. Sedangkan Anoa Logistic untuk mengangkut berbagai macam barang, seperti peluru, makanan dan tenda. Anoa Recovery untuk memperbaiki persenjataan yang rusak, termasuk sebagai mobil derek.
Direktur Utama Pindad Silmy Karim mengatakan kendaraan tersebut kini masih dalam tahap sertifikasi.
Awal dibuatnya Anoa tidak lepas dari operasi militer yang dilakukan di Aceh pada tahun 2003. Saat itu, TNI Angkatan Darat (AD) meminta kendaraan lapis baja untuk transportasi pasukannya. Pindad pun merespons dan mengembangkan kendaraan angkut personal ringan atau APRV-1V yang berbasis chasis truk komersial pada tahun 2004. Sayangnya proyek 40 unit yang dipesan TNI AD ini terpaksa dibatalkan karena bencana tsunami pada akhir Desember 2014.
Tidak berputus asa, dengan dibantu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, PT Pindad terus menyempurnakan APR-1V varian 4X4 tersebut. Akhirnya mereka berhasil mengembangkan panser sesuai tantangan Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, Panglima TNI saat itu, bernama APS1-V1 atau yang dijuluki “Si Jablay” oleh PT Pindad.
Pengembangan berbagai varian pun terus dilakukan, hingga akhirnya di penghujung tahun 2007 terjadi momen kebangkitan PT Pindad, seperti yang dilontarkan Jusuf Kalla, Wakil Presiden saat itu. Pemerintah Indonesia memesan 150 panser ke PT Pindad dengan nilai kontrak Rp 1,1 triliun. Ratusan panser itu kemudian digunakan oleh TNI AD. Kejadian ini menjadi momen bersejarah karena menjadi order terbesar sejak Pindad berdiri pada tanggal 29 April 1983. Seperti yang disampaikan Direktur Teknologi dan Pengembangan, Ade Bagdja seperti tertulis di buku “Pijakan untuk Kemandirian Alutsista” 30 Tahun PT Pindad.
“Yang harus diketahui oleh generasi mendatang adalah perjuangan kita untuk membayar itu. Demi bangsa dan negara, kita mesti bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Pada tahun itu (2008), kami hanya mendapat libur 1,5 hari. Sehari Idul Fitri, setengah hari Idul Adha. Bahkan, saya dan ada beberapa yang lain sempat dibekali koper oleh istri karena hanya pulang ke rumah untuk mandi dan makan saja,” ungkap pria berkaca mata itu.
Kerja keras dan perjuangan pengembangan Panser Anoa pun berbuah hasil. Saat ini. ada ratusan unit yang diproduksi PT Pindad. Pengembangan kendaraan ini pun dikembangkan salah satu perusahaan yang tergabung dalam BUMN Industri strategis ini.
Direktur Operasi Produk Hankam PT Pindad, Tri Hardjono mengungkapkan, pihaknya sudah menyiapkan beberapa varian terbaru. Seperti panser Anoa menggunakan senjata kanon 20 mm, versi amphibious hingga menggunakan meriam canon 90 mm. Dalam pengembangan ini, PT Pindad tidak sendiri. Selain menggandeng mitra dari luar negeri, sejumlah perusahaan Tanah Air baik negeri maupun swasta turut membantu mengembangkannya.
“Ini sudah menggunakan system automatic, yang mahal di sistem senjata adalah sistem penembakannya. Nah ini yang harus kita kuasai dan Pindad untuk sementara belum masuk di elektronik dan optiknya. Ini akan didukung oleh instansi lain seperti BPPT, PT Inti, PT Len, dan lain-lain,” imbuh Tri.
TNI menerima 24 unit Panser Anoa 6×6 buatan PT Pindad yang dipesan sejak tahun 2013 lalu (Liputan6.com/Johan Tallo)
Kini Panser Anoa buatan PT Pindad telah mendapat pengakuan dunia internasional. Sewaktu di Lebanon pada Oktober 2014 lalu, Panser Anoa yang dibawa TNI dinyatakan layak bertugas oleh (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) dalam misi perdamaian. Lapisan baja dan rangka Anoa dinyatakan memiliki tingkat Stanag 3, yang bisa menahan peluru kinetis hingga 7,62×51 mm Armor Piercing standar NATO dari jarak 30 meter dengan kecepatan 930 m/s. Anoa juga bisa menahan ledakan ranjau hingga massa 8 kg di bagian roda gardan dan di tengah-tengah badan.
Mimpi Pindad Jadi Produsen Senjata Besar 2023
Sepak terjang PT Pindad tak hanya berhenti di sini. Direktur PT Pindad Silmy Karim menargetkan perusahaannya akan menjadi produsen senjata besar dunia pada tahun 2023 mendatang. Ia berharap target itu bisa tercapai lebih cepat.
“Kalau bisa tidak sampai 2023, saya menargetkan untuk tahun depan sudah kelihatan full range(berbagai jenis senjata) produk pindad. Dan ini boleh dibilang kalau kita mandiri, kita memang sudah mandiri kok,” ujar Silmy.
Dijelaskan dia, PT Pindad baru bisa dikatakan sebagai produsen senjata besar dunia jika telah memproduksi berbagai senjata dan amunisi. Misalnya, ada peluru kaliber besar dan kecil serta peluru kendali (rudal) dan jet tempur mutakhir. Namun persero tersebut tentu butuh dukungan dana dari pemerintah yang lebih besar.
“Anggaran pertahanan Amerika Serikat adalah 30 persen dari US$ 700 ribu per tahun. (Anggaran di) Indonesia baru untuk total industri dalam negerinya paling 5 persen. Sudah kecil, besarannya kecil pula persentasinya,” papar Silmy. “Tapi kita nggak apa-apa dalam arti kan kita punya cita-cita didorong ataupun tidak didorong, kita harus maju. Kalau kita mau cepat maju ya harus didorong, harus cepat dibantu.”
Sejauh ini, langkah PT Pindad untuk ‘go internasional’ sudah dekat dengan banjir pesanan dari luar negeri, termasuk dari Thailand, Filipina, Timor-Timur, Singapura, dan Malaysia. Menurut Silmy, penjualan terbesar di PT Pindad adalah amunisi atau peluru. PT Pindah hingga kini telah menghasilkan hampir seluruh range ukuran kaliber.
“Sekarang kita mendalami amunisi berkaliber besar 105, 90, 76, 155, 30, 40. Untuk medium sedang, tahun ini kita rencananya untuk amunisi medium sedang dan medium besar,” kata Silmy.
Seorang pengunjung melihat senjata laras panjang buatan Pindad di Indo Defence 2014, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/11/2014)(Liputan6.com/Herman Zakharia)
Dalam mengembangkan amunisi ini, PT Pindad akan bekerja sama dengan perusahaan pembuat senjata dari negara lain dengan proses alih-teknologi dan juga menjaring market internasional. Setelah mendapat ilmu dari pihak luar, PT Pindad kemudian akan mengembangkannya menjadi lebih canggih. Selain amunisi, PT Pindad juga tengah mengembangkan panser amfibi yang bisa bermanuver di air dan danau. Namun kendaraan taktis tersebut baru bisa tahan di laut dengan ombak pada level tertentu.
“Nanti pengembangannya kita bisa sendiri seperti halnya pada waktu kita berkerjasama dengan pihak luar. Itu kan dengan (pembuatan senapan) SS 1 awalnya, tetapi pada akhirnya kita bisa membuat SS2. Nah pola ini kan sudah proven, nah ini kita pakai. Tidak ada salahnya kan untuk kendaraan kita bisa kerjasama dengan luar negeri untuk yang roda rantai,” papar Silmy.
Untuk mewujudkan semua ini, selaku orang nomor 1 di Pindad saat ini, Silmy mengajak dan mengimbau jajarannya untuk lebih bersemangat untuk membuktikan kepada dunia bahwa produk lebih unggul dibanding negara lain. Selain itu, ia juga selalu memberikan kewenangan kepada bawahan yang muda dan enerjik yang bisa terus memperbaharui teknologi dan mengejar pasar penjualan senjata.
“Saya bilang sama teman-teman di sini kita jangan jago kandang gitu. Kita harus bisa menang di luar. Saya dorong itu dan saya pilih penanggungjawabnya yang memang enerjik dan masih muda. Bahkan saya bilang ke mereka, kenapa kamu nggak ke luar negeri gitu untuk mencari pasar. Dan itu adalah salah satu cara untuk memperkenalkan (produk Pindad),” jelas Silmy.
“Menurut saya, kita masih belum memperkenalkan produk-produk unggul kita keluar. Tapi kalau masalah harga, kualitas kita tidak kalah. Yang masih belum kita lakukan pembenahan adalah di layanan purnajual ini yang lagi saya tata.”
Silmy menjelaskan, karakteristik di industri senjata sangat berbeda dengan industri biasa. “Karena industri defence (pertahanan itu tidak seperti industri pada umumnya. Kedekatan network itu adalah salah satu kunci untuk melakukan ekspor,” imbuh dia.
Meski demikian, upaya keras PT Pindad untuk menjadi produsen senjata internasional dirintangi hambatan. Menurut Silmy, PT Pindad yang berada di bawah naungan Kementerian BUMN sulit untuk berkembang lantaran keputusan dan kebijakan harus diputuskan melalui sejumlah proses yang disepakati bersama. “Saya daripada harus menunggu atau kendali di kita lebih baik saya bikin (kebijakan) sendiri. Kalau sudah jadi saya baru melapor, tolong di-support (dukung) produk ini untuk dibeli.”
Kendala lainnya adalah ketika yang melakukan riset adalah pihak lain, bukan Pindad. Silmy lebih memilih untuk melakukan riset secara mandiri dan bekerja sama dengan mitra asing. “Bukannya saya inginnya cepat-cepat, tapi karena kita sudah tidak ada waktu lagi untuk kita tidak berlari. Itu yang saya bilang ke teman-teman agar melakukan aktivitas yang lebih baik,” tandas Silmy.
Indonesia Makin Disegani
Wakil Komandan Satuan (Wadansat) 81 Penanggulangan Teror Kopassus Letkol Infanteri Murbianto yang ditemui Liputan6.com pada ajang Danjen Kopassus Cup 2015 mengungkapkan, perkembangan persenjataan di PT Pindad cukup membanggakan. Menurut dia, PT Pindad berhasil menunjukkan senjata produksi dalam negeri memiliki kualitas Internasional.
“Untuk saat ini akurasi dan daya tahan itu cukup bagus, kalau berat relatif ada juga memang yang beratkan tapi mungkin tapi kalau dibanding M-16 lebih berat SS-1. Tapi kalau akurasi terutama di jarak 100 -200 itu cukup bagus,” ungkap Murbianto di markasnya, Cijantung, Jakarta Timur.
Hal senada disampaikan Mayor Infanteri Faizal Izudin, Ketua tim kontingen TNI dalam ajang kompetisi nembak Internasional, ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) ke-24 yang digelar di Vietnam pada tahun 2014 silam. Kata dia, menggunakan senjata produk dalam negeri dari PT Pindad membuat TNI disegani negara lain.
“Memang pada saat pelaksanaan AARM kemarin khususnya pada cabang Senapan maupun Carabine kita menggunakan produk dari Pindad. Ada SS1 maupun SS2 V2. Senjata ini kualitasnya tidak kalah dengan senjata-senjata lain seperti M-16 karena terbukti hasil penembakannya, kami masih bisa merebut juara umum,” ucap Pria yang bertugas di Komando Pasukan Khusus atau Kopassus ini.
Faizal menilai kemampuan individu dan skill TNI yang baik harus juga harus selalu bersinergi dengan persenjataan yang mendukung. Terbukti, apa yang telah diperjuangkan TNI dan PT Pindad mendapat apresiasi yang luar biasa. “Dengan nilai-nilai yang kita dapatkan selama latihan maupun pertandingan khususnya, otomatis secara tidak langsung membuat penembak negara lain melihat senjata kita,” tuturnya.
Dia berharap PT Pindad terus berinovasi, berkreasi dan tidak menutup komunikasi dengan para petembak di lapangan demi memperbaiki dan mengembangkan kualitas senjata. Terlebih, menurutnya, perkembangan persenjataan negara lain semakin di-upgrade kualitasnya.
“Sudah otomatis, sebagai anak bangsa kita cukup bangga senjata yang dibuat sendiri kualitasnya tidak kalah produk-produk yang kelas dunia. Kita makin bangga bukan hanya mampu menyaingi bahkan mampu mengungguli karena nilai-nilai kita dapatkan juga bisa bersaing, namun kita tidak harus berpuas diri dan selalu mengevaluasi agar ke depan makin baik lagi,” harap Faizal.
Selain Faizal, Murbianto juga berharap sejumlah kekurangan kualitas senjata yang ditemukan di lapangan diharapkan bisa menjadi pelajaran untuk teknisi PT Pindad dalam membuat lebih baik untuk ke depan. Pihaknya pun siap membantu PT Pindad menyempurnakan senjata-senjata tersebut.
“Mungkin masalah standarisasinya perlu diperhatikan lagi, jadi setiap senjata yang dibuat kalau bisa sama semua. Kadang-kadang kami temukan senjata ini bagus namun dengan tipe yang sama tapi berbeda kualitasnya. Kita harapkan standarisasi Pindad lebih diketatkan lagi dan betul-betul memiliki kualitas sama dan bagus,” tandas Murbianto. ( Liputan6.com )