Select Language

Sabtu, 24 November 2012

perbandingan alutsista indonesia dengan malaysia


Hubungan negeri serumpun antara Indonesia dengan Malaysia kian memanas. Hal itu tersulut oleh ulah Malaysia yang menangkap 3 petugas DKP Kepri di Tanjung Berakit wilayah resmi Indonesia.
Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso akhir pekan lalu di Jambi, menegaskan siap  menjaga kedaulatan negara, integritas, dan keutuhan wilayah NKRI serta menjaga keselamatan bangsa.
Beberapa hari kemudian, PM Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak mengaku tidak takut dan memperingatkan Indonesia agar aksi demonstrasi terhadap Malaysia akan menimbulkan kemarahan dan reaksi negatif dari rakyat Malaysia.
Situasi kian memanas. Di dunia maya beredar kesiapan perang Malaysia dengan Indonesia seperti misalnya yang ditampilkan di situs http://www.topix.com/forum/world/malaysia.
Bahkan ajakan perang itu beredar di kalangan pengguna Blackberry Massenger di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, yang berbatasan laut dengan Malaysia.
Nah, bagaimana sebenarnya kekuatan tempur termasuk alat utama sistem persenjataan (alutsista) serta personel tentara kedua negara.
Tribunnews.com merujuk pada buku berjudul “Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal” karya pengamat militer Universitas Indonesia, Connie Rakahundi Bakrie.
Buku ini diluncurkan istri Mantan Pangkostrad Letjen TNI (Purn) Djaja Suparman pada 2007 lalu di gedung DPR RI, memuat antara lain perbandingan alutsista TNI dengan negara dunia dan utamanya di Asia Tenggara.
Perbandingan Persenjataan:
- Alutsista jenis tank, Indonesia hanya memiliki 350 unit kalah dari Singapura 450 unit meski luas wilayah Indonesia hampir 3.000 kali lebih besar dari Singapura.
Di Asia Tenggara, jumlah tank yang dimiliki TNI AD hanya berada di posisi keempat setelah Vietnam 1.935 unit, Thailand 848 unit, Singapura 450 unit, dan Indonesia 350 unit.
Untuk Malaysia tidak disebutkan jumlah kepemilikan tank- nya namun yang jelas di bawah Indonesia. Untuk kemampuan dukung tank terhadap personel AD-nya, Singapura masih teratas sedangkan Indonesia di posisi keenam.
- Untuk kekuataan artileri yang dimiliki TNI AD jauh lebih banyak dari Singapura dengan jumlah mencapai 1.060 unit artileri yang digolongkan menjadi dua kategori jenis T dan Mortir.  Keunggulan artileri Singapura adalah karena terdiri dari berbagai ragam artileri.
Di Asia Pasifik, dengan jumlah artileri sebanyak itu Indonesia hanya di posisi ke-13. Di negara Asia Tenggara, Indonesia di urutan ketiga setelah Vietnam (3.040 artileri) dan Thailand 2.473 artileri.
Dengan demikian kemampuan dan jumlah artileri yang dimiliki Malaysia berada di bawah ketiga negara ini.
- Di Asia Tenggara hanya ada tiga negara yang memiliki kapal selam yaitu Indonesia (2 unit SSK), Singapura (3 unit SSK), dan Vietnam (2 unit SSI). Malaysia tidak disebutkan memiliki kapal selam.
SSK adalah kapal yang dimiliki Indonesia dan Singapura yang dapat dikategorikan tactical submarine berjenis SSK (patrol submarine) dilengkapi anti submarine warfare (ASW). Sementara SSI adalah kapal selam tenaga diesel.
- Untuk kapal perang jenis PSC, di Asia Tenggara Indonesia teratas dengan jumlah PSC 29 unit disusul Thailand, Vietnam dengan 11 PSC, Malaysia 11 unit PSC, dan Singapura 6 unit PSC.
Namun untuk kapal perang jenis PCC, Malaysia berad di peringkat atas dengan 185 unit disusul Thailand 110 unit sementara Indonesia hanya 23 unit yang terdiri dari 11 buah bertipe kapal patroli biasa dilengkapi senjata kaliber 20 mm, 4 unit lainnya diklasifikasikan dalam kapal patroli cepat dilengkapi SSM, 4 unit kapal patroli dilengkapi torpedo anti-submarine, dan sisanya 4 unit kapal patroli biasa.
- Secara umum untuk total pesawat tempur TNI-AU berjumlah 247 unit, RSAF (Angkatan Udara) Singapura 153 unit. Meski lebih banyak namun 53 persen pesawat tempur TNI-AU itu dikategorikan fighter dibandingkan milik Singapura. Di Asia Tenggara, Indonesia terbanyak dimana posisi kedua Vietnam 204 unit pesawat fighter dan Thailand (posisi keempat) 87 unit pesawat.
Malaysia tidak disebutkan namun yang jelas di bawah dari keempat negara yang disebutkan di atas. Jenis pesawat fighter TNI-AU terdiri atas F-5, F-16, Sukhoi, Su-30, dan 2 unit Su-27, F-5, dan berbagai jenis lainnya.

- Untuk helikopter 
yang dimiliki TNI-AU hanya 38 unit terdiri atas dua jenis Assault dan Transport (tipe NAS-332L Super Puma serta NAS-330 Puma). Di Asia Tenggara, jumlah terbanyak helikopter dimiliki Singapura 110 unit, lalu AU Filipina 80 unit. Indonesia berada di peringkat ketujuh dari 10 negara Asia Tenggara. Malaysia tidak disebutkan apakah dibawah Indonesia atau diatasnya

TNI Tempatkan Batalion Tank Leopard di Perbatasan RI-Malaysia




KALIMANTAN TIMUR - TNI akan menempatkan satu batalion tank di perbatasan antara Kalimantan Timur di Indonesia dan Sabah di Malaysia. TNI juga akan menempatkan skuardron helikopter tempur untuk memperkuat pengamanan di perbatasan RI-Malaysia.

Batalion tank Leopard, skuardron helikopter tempur dan rudal penghancur tank, akan melengkapi penjagaan kedaulatan bangsa Indonesia di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Timur. Dalam kunjungannya di perbatasan Kalimantan Timur Indonesia dan Sabah Malaysia, Panglima Daerah Militer VI Mulawarman mengatakan, batalion Mulawarman akan menjaga perbatasan dengan diperkuat sebanyak 44 tank Leopard.

Pengadaan tank di perbatasan tersebut sudah harus dituntaskan Oktober 2013 mendatang. Personel penjaga perbatasan RI-Malaysia itu akan dilengkapi tiga batalion gabungan infanteri dan artileri, yang memiliki persenjataan anti-tank.

Tim Ekspedisi Belum Temukan Patok Bergeser 

Danjen Kopassus Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya mengatakan Tim Ekspedisi Khatulistiwa yang melakukan perjalanan dari Pulau Sebatik menuju Kecamatan Sei Menggaris, Nunukan, belum menemukan adanya patok-patok perbatasan RI-Malaysia yang bergeser dari posisi semula.

"Selama perjalanan penjelajahan Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 ini, belum ada patok perbatasan yang ditemukan bergeser atau hilang," kata Danjen Kopassus Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya yang juga Komandan Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012, di Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Rabu.

Danjen Kopassus mengatakan, Tim Ekspedisi Khatulistiwa yang melakukan perjalanan menjelajahi wilayah perbatasan selama ini belum melaporkan adanya temuan seperti itu.

"Mudah-mudahan para peserta Tim Ekspedisi segera melaporkan apabila menemukan adanya patok-patok yang bergeser atau hilang di perbatasan," katanya.

Sedangkan Wakil Komandan Sub Koordinator Wilayah 5 Nunukan Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Mayor Inf Achiruddin mengatakan, penjelajahan perbatasan Indonesia-Malaysia di wilayah utara Kabupaten Nunukan selama ini yang ditemukan hanya beberapa patok yang tertimbun tanah atau bergeser akibat longsor.
 

Pesawat Patroli TNI AL Halau Pesawat Malaysia di Ambalat


Puspenerbal saat ini tengah menunggu kedatangan 5 pesawat jenis CN 235-220 untuk memperkuat unsur patroli maritim (Foto: ALERT 5)

SURABAYA - Pesawat patroli TNI-AL mengusir satu pesawat Tentara Diraja Malaysia yang melanggar wilayah Indonesia dengan terbang di atas Karang Unarang, Perairan Ambalat, Kalimantan Timur.

Direktur Perencanaan Dan Pengembangan Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal), Kolonel Laut (P) Imam Musani, ketika dihubungi ANTARA di Surabaya Selasa (20/3) mengatakan, pesawat Malaysia yang melakukan pelanggaran itu berjenis CN-235 dengan nomor lambung M44-05.

"Peristiwa pengusiran terjadi sekitar pukul 10.32 WITA. Saat itu pesawat patroli TNI-AL jenis Casa NC-212-200 melihat pesawat Malaysia melintas masuk wilayah RI di atas Karang Unarang," katanya.

Pesawat Casa TNI-AL yang dipiloti Mayor Laut (P) Imam Safii dan sedang melakukan Operasi Tameng Hiu di wilayah Tarakan, Perairan Ambalat dan sekitarnya, langsung bergerak membayang-bayangi pesawat milik Malaysia dan selanjutnya melakukan pengusiran.

Kolonel Imam Musani menambahkan, peristiwa pelanggaran batas wilayah yang dilakukan pihak Tentara Diraja Malaysia tersebut, bukan terjadi kali ini saja.

Selain melanggar batas wilayah udara, kapal perang milik Tentara Diraja Malaysia juga beberapa kali memasuki wilayah perairan RI dan diusir kapal perang Indonesia yang sedang patroli.

"Ke depan, kami akan lebih mengintensifkan kegiatan operasi dengan menambah frekuensi kegiatan patroli udara," ujar Musani.

Menurut ia, Puspenerbal saat ini tengah menunggu kedatangan lima unit pesawat baru jenis CN-235-220 yang dipesan TNI-AL dari PT Dirgantara Indonesia untuk memperkuat armada udara yang ada saat ini.

Beberapa waktu sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno menegaskan bahwa masalah pengamanan di wilayah pulau terluar yang berbatasan dengan negara tetangga tetap menjadi prioritas dari TNI-AL.

Super Cobra Bakal Jaga Perbatasan RI-Malaysia

BALIKPAPAN - Perbatasan Indonesia-Malaysia akan dipagari dengan satu skuadron heli tempur Bell AH-1W Super Cobra, selain dijaga dengan tank-tank Leopard 2A6.

"Kami akan tempatkan di Berau dan Nunukan," kata Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) VI Mulawarman Mayjen TNI Subekti di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) Selasa (27/3).

Saat ini, ujarnya, Kodam VI Mulawarman sedang menyiapkan basis bagi skuadron heli tersebut. "Kami gunakan anggaran antara Rp17 miliar hingga Rp19 miliar untuk persiapan pangkalan skuadron heli tempur tersebut," lanjutnya.

Super Cobra adalah helikopter buatan Bell, Amerika Serikat, dan pengembangan dari Huey Cobra yang berjaya pada saat perang Vietnam. Persenjataannya senapan mesin gatling 20 mm, roket Hydra, rudal Sidewinder untuk pertempuran udara, dan rudal penghancur tank Hellfire.

"Super Cobra ini adalah pilihan utama. Namun demikian, kami punya pilihan lain yang lebih bersahabat dengan keuangan, yaitu heli serbaguna Agusta Westland," kata Panglima yang pernah menjadi Asisten Perencanaan (Asrena) Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) di Mabes TNI tersebut.

Melihat Industri Bom di Kedungkandang yang Bikin Kagum Staf Presiden SBY


Siapa sangka jika persenjataan enam pesawat Sukhoi milik Indonesia selama ini tidak dipasok dari Rusia, tapi dari sebuah industri bom skala kecil di Kota Malang. Adalah Ricky Hendrik Egam, orang di balik industri persenjataan made in Indonesia ini.
Yosi Arbianto
Dua bengkel teknik di Jalan Muharto, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, menjadi tempat produksi bom P-100. Jenis bom P-100 ini termasuk kategori drop bom atau bom yang dijatuhkan dari pesawat.
Dua bengkel itu disewa Ricky dari seorang pengusaha lokal sejak 2007. Dulu, bengkel itu untuk membuat knalpot motor dan reparasi mesin-mesin industri. Termasuk bengkel pembuatan beberapa suku cadang bus. Sebelum dijadikan lokasi produksi bom, masyarakat setempat mengenal bengkel itu sebagai bengkel knalpot berbendera Raja Knalpot. Kini, nyaris warga sekitar tidak tahu kalau bengkel tersebut membuat persenjataan pesawat tempur Sukhoi.
“Orang sini nyebutnya bengkel teknikal. Biasanya banyak yang ndandakno mesin, mbubut besi, gawe knalpot. Mosok saiki gawe bom nang kene,” tanya Nanang, warga Jalan Muharto heran.
Ricky menggunakan satu bengkel yang luasnya separo lapangan bola menjadi lokasi asembling dan finishing bom. Di sana banyak alat-alat teknik. Beberapa jenis mesin bubut, mesin bor, peralatan las, hingga alat-alat untuk pengecatan dan balancing (keseimbangan). Di bengkel ini, juga ada kantor dan penyimpanan casing bom yang sudah jadi.
Sedangkan satu bengkel lagi dengan letak berseberangan, menjadi lokasi pengecoran badan bom. Di bengkel yang ukurannya lebih kecil itu, Ricky membuat casing (selongsong) bom dari besi nodular. Juga membuat fin (penyeimbang/ekor) dari besi ST-37, suslug (cantelan) dari baja VCN 45, tabung isian, nose (bagian depan bom), dan juga pelontar.
Minggu (28/3) kemarin, empat belas anggota staf khusus kepresidenan datang berkunjung. Mereka melihat aktivitas pembuatan bom yang bisa compatible dipasang di dua jenis pesawat ini. Yakni pesawat Sukhoi 27/30 dan pesawat standar Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), seperti F-5. Staf khusus kepresidenan tertarik karena ada industri kecil yang bisa menopang kebutuhan alutsista (alat utama sistem persenjataan) dalam negeri.
“Terus terang saya baru tahu ini. Mestinya pemerintah memberikan perhatian. Sehingga nanti bisa dikembangkan untuk industri pertahanan,” ungkap Purwatmojo, ketua rombongan staf khusus kepresidenan bidang bantuan sosial dan bencana.

Ada dua jenis bom yang dipabrikasi di bengkel sederhana tersebut. Yakni bom latih P-100 berwarna biru dan bom P-100 L (life) berwarna hijau militer. Dimensi keduanya hampir sama. Bom memiliki panjang 1.100 milimeter, berat 100-125 kilogram, dan diameter 273 milimeter. Untuk panjang ekor (fin) lebih kurang 550 milimeter.
Bom yang berwarna biru hanya bisa mengeluarkan asap ketika dijatuhkan dan hidungnya menyentuh tanah. Asap berasal dari gas TiCl2 (titanium diclorida) yang dimasukkan dalam tabung di dalam badan bom. Gas di dalamnya keluar karena tabung pecah saat membentur tanah.
Bom latih berkaliber 100 kilogram ini telah digunakan sejak 2007 oleh pesawat tempur Sukhoi SU 27/30 di Skuadron 11 Ujung Pandang. Bekerjasama dengan Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbangau) sudah ratusan buah bom latih diluncurkan dari Sukhoi.
Untuk bom yang berwarna hijau militer, bisa meledak. Karena di dalamnya diisi dengan bahan peledak. Proses pengisian bahan peledak dilakukan di dua BUMNIS (Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis). Yakni, di PT Pindad untuk jenis bahan peledak militer dan PT Dahana, Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk jenis bahan peledak komersial.
“Kalau sudah diisi bahan peledak, bomnya langsung diangkut TNI AU sebagai pengguna bom buatan kami. Kami tidak punya izin untuk menyimpan bahan peledak,” kata Ricky, pria kelahiran Surabaya 50 tahun lalu ini.
Khusus untuk bom P-100 L yang bisa meledak, Ricky telah melakukan uji coba statis dan dinamis pada 29 Desember 2009 lalu. Lokasinya di AWR (air weapon range) Pandanwangi, Lumajang. Bom dipasang di pesawat Sukhoi dan dijatuhkan pada ketinggian 4.500 feet (sekitar 1.350 meter). Dislitbangau menilai trajectory (lintasan bom) P-100 L layak. Seperti halnya P-100 versi latih yang telah mendapatkan sertifikat kelaikan.
“Usai uji coba tersebut, kami mendapatkan perintah untuk membuat 24 buah P-100 L yang akan digunakan dalam fire power demo bulan depan di hadapan presiden,” kata sarjana pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini.
Atas hasil kepiawaiannya di bidang pembuatan industri kecil bom ini, Ricky juga pernah diundang dua kali oleh Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM). Malaysia bahkan ingin memesan 1.000 unit P-100 L dan P-100. Bom tersebut akan digunakan untuk latihan pengeboman 18 unit pesawat Sukhoi milik Malaysia.
Selama ini, Sukhoi milik Malaysia saat latihan menggunakan drop bom jenis OFAB-50 buatan Rusia. Bom jenis ini tidak ada yang jenis latih. Semuanya bisa meledak. Malaysia rupanya berhitung terhadap mahalnya biaya latihan bila terus-terusan menggunakan OFAB-100-120.
“Kalau dibandingkan dengan biaya membeli bom latih ini, satu banding lima harganya,” ungkap putra seorang purnawirawan angkatan laut ini.

Alutsista TNI AL Sudah Tua


Panglima Komando Armada Timur TNI AL Laksamana Madya TNI Among Margono mengatakan alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang digunakan TNI AL masih kalah dengan negara Malaysia dan Singapura. Padahal Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara yang terdiri dari ribuan pulau.
“Senjata yang kita miliki bila dibanding Singapura dan Malaysia jauh tertinggal. Apalagi dengan Australia senjata TNI AL tidak ada apa-apanya. Saat ini senjata yang kita miliki didominasi teknologi era tahun 80-an. Bahkan ada kapal perang LST buatan Amerika tahun 1942 yang masih beroperasi. Kalau ketemu dengan kapal AS, mereka akan hormat kepada kita. Karena kalah senior,” kata Among Margono. ketika menjadi pembicara dalam seminar “kajian Pertahanan dan Pengembangan Teknologi Tempur AL di ITS, Surabaya.
Ditambahkan Among, saking tuanya alutsista yang dimiliki, TNI seringkali kehabisan anggaran untuk melakukan perawatan. “Kita ini pandai merawat. Sampai-sampai kita mampu merawat kapal supaya tidak tenggelam. Padahal untuk merawat itu justru lebih mahal dari pada membeli yang baru,” katanya.
Kata Among, sebagian besar KRI yang dimiliki TNI AL merupakan teknologi tahun 1980 hingga 1990. Ada juga sebagian kecil KRI buatan tahun 1970 dan tahun 2000. Begitu juga untuk pesawat udara yang dimiliki TNI AL merupakan teknologi tahun 1970 hingga tahun 1990 dan hanya sebagian kecil saja yang berteknologi tahun 2000. Bahkan, untuk kendaraan tempur marinir sebagian besar masih berteknologi tahun 1960 hingga tahun 1970.
Padahal, Australia sebagian besar alutsistanya merupakan pruduk tahun 1990 hingga 2007. Bahkan Australia saat ini berencana melakukan pengadaan kapal perang jenis Air Warfare Destroyer klas Hobart dengan system tempur terbaru. Dalam sepuluh tahun terakhir, Australia juga bekerja sama dengan Amerika untuk mendatangkan 10 kapal selam.
Begitu juga Singapura, memiliki empat kapal selam siluman. Singapura juga memiliki kapal tempur terbaru yang dilengkapi dengan stealth technology yang mampu mengadapi ancaman multidimensi dari udara, permukaan laut dan bawah laut. Malaysia juga tak kalah, selain mendatangkan dua kapal selam berteknologi tinggi, Malaysia sejak tahun 1980-an telah meremajakan alutsistanya. Bahkan sejak tahun 1980 itu, Malaysia telah mendatangkan empat korvet kelas laksamana buatan Italia. Kapal inipun ternyata dilengkapi dengan rudal permukaan dan rudal anti pesawat tempur.
Selain itu, Malaysia saat ini juga melaksanakan program pembelian satu kapal selam diesel electrik kelas scorpene untuk melengkapi kapal selam KD Tuanku Abdul Rahman yang dimiliki. Malaysia juga sedang melakukan pengadaan 27 kapal patrol generasi baru kelas kedah serta beberapa pesawat patrol bahari. “Di satu sisi hubungan kita di Ambalat sedang memanas. Saat ini saja, kita selalu siagakan tujuh KRI di sana,” kata Among Margono.
Kalahnya persenjataan TNI AL, menurut dia bisa dimaklumi karena keterbatasan anggaran, dimana 60 persen anggaran masih untuk gaji personel dan hanya 40 persen anggaran untuk peralatan. “Idealnya dibalik, 60 persen untuk peralatan dan gaji personel 40 persen,” kata dia.
Meski begitu, TNI AL saat ini telah merumuskan untuk segera memiliki kekuatan pokok minimum alutsista. Syarat memiliki kekuatan minimum, menurut Among, TNI AL telah memiliki 151 KRI, 54 Pesawat Udara, 310 Kendaraan Tempur, tiga batalyon tempur marinir, satu yonif siaga kota, dan satu yonif tambahan.

Oktober 2012, 22 Tank Leopard Jaga Perbatasan Kaltim-Malaysia

BALIKPAPAN - Perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Kalimantan Timur, pada 5 Oktober 2012 nanti akan kedatangan satu kompi tank Leopard, sebanyak 22.

Selanjutnya, bila memungkinkan, tahun 2013, wilayah perbatasan Indonesia juga bakal dilengkapi tank buatan Jerman itu sebanyak 88 unit, atau 2 batalion.

“5 Oktober 2012 nanti, akan ada 22 tank Leopard yang bakal menjaga perbatasan Kaltim dengan Malaysia tepatnya di Kabupaten Bulungan, Kaltim,” kata Pangdam VI Mulawarman, Mayjen TNI Subekti usai kunjungan ke kantor DPRD Balikpapan, Senin malam (26/3/2012). 

Bukan hanya itu, TNI rencananya juga akan membentuk batalion Leopard diperbatasan Kaltim dan Kalbar pada 2013 nanti. “Kita pesan 100 tank, nanti sisanya kita alokasikan ke kaveleri di Bandung,” jelasnya.

Menurut Subekti keberadaan batalyon Leopard akan mampu meningkatkan kewibawaan Negara Indonesia dimata negara negara tetangga.  

Dengan keberadaan Batalion Leopard, maka dipastikan kondisi perbatasan Indonesia-Malaysia akan jauh lebih terjaga termasuk soal terjadinya pergeseran patok batas.

“Saya yakin, kalau perbatasan kita kuat, dengan menempatkan Leopard, meraka mau berbuat macam-macam akan berpikir lagi. Jadi tidak mudah lagi melecehkan kita dengan memindah-mindahkan patok batas,” tandas Subekti didampingi Aster Kodam Kolonel Andi Kaharuddin dan Dandim Balikpapan Letkol Mustofa.

Alat  tempur darat tersebut mampu menyaingi persenjataan tank tempur Malaysia yang berbobot hingga 57 ton. Tank Leopard juga memiliki kemampuan melintasi sungai yang dalam serta daerah persawahan atau rawa.

“Tank tempur Malaysia kalau dibandingkan tank lama TNI seperti raksasa dengan boneka unyil. Tank lama kita hanya 30 ton saja. Dengan adanya tank Leopard kita bisa lebih wibawa berat sekitar 62 ton kalau tank Malasia sekitar 57 ton,” ujar Pangdam.

Subekti mengatakan pembentukan batalyon Leopard juga dilakukan Kodam Tanjungpura yang membawahi wilayah Kalimantan Barat dan Tengah. Seperti halnya Kodam Mulawarman membawahi Kaltim dan Kalsel.

Tank-tank tersebut diperkirakan bernilai 280 juta Dolar AS. Satu tank Leopard diawaki empat personel, yaitu satu pengemudi, satu penembak, satu pengisi senjata, dan satu komandan.

“Dengan tiga personel juga sudah bisa jalan dengan salah satu dari mereka menjadi komandan,” sambung Panglima yang sebelumnya adalah Asisten Perencanaan (Asrena)Kasad 2011.

Pangdam menjelaskan, saat ini masih proses pembelian 100 Leopard dari Belanda  dengan persetujuan dari DPR RI.  “Kalau kita beli dari Belanda, tentu kita dapat harga murah dan usia tank tersebut baru 4 tahun serta memiliki kemampuan lebih,” ujarnya Tank Leopold 2A6 adalah tank tempur utama (main battle tank, MBT) Jerman. 

Tank ini berbobot 62,3 ton dengan dimensi panjang 7,7 meter, lebar 3,7 meter, dan tinggi hingga kubahnya 3 meter. Kecepatan maksimumnya 72 km per jam. Dengan menggunakan BBM yang dibawanya, Leopard 2A6 sangguh menempuh jelajah 550 km sebelum mengisi BBM lagi.

Kemampuan itu berasal dari mesin diesel MTU MB 873 Ka-501 12 silender berdaya 1,500 HP tenaga kuda pada putaran mesin 2.600 RPM.

Persenjataan utama tank berat ini adalah sebuah meriam Rheinmetall smoothbore L55 120 mm yang ditangan awak yang terlatih sanggup melepaskan 42 peluru per menit. Ia dilengkapi juga dengan dua senapan mesin MG3 kaliber 7,62. Tank juga dilengkapi dengan perlengkapan untuk melihat dan membidik dalam kegelapan (night vision)  yang lebih maju.

Selain itu kata Pangdam, perbatasan Kalimantan juga akan diperkuat oleh 1 skuadron (16) heli serang Cobra Bel 412 dari PT DI dan August 129 Mangusta asal Italia.  

“Tahun ini kita bangun hanggar dan pangkalan di Berau, Kaltim. Anggaran sekitar Rp17-19 miliar,”
ujarnya.

Perbatasan juga akan diperkuat lagi dengan pembentukan tiga battalion roket anti tank yang memiliki daya jangkau 300 km. 

Cara Membuat Tema Google Chrome Sendiri


Bagi anda pengguna Google Chrome mungkin bosan dengan tema bawaan Google Chrome, lalu anda mencoba mengganti Tema Chrome dengan yang lain, tapi masih belum puas mungkin anda bisa mencoba dengan membuat tema sendiri agar sesuai dengan keinginan anda
1. Sebelumnya anda instal terlebih dahulu Utilitiesnya disini agar lebih mudah mengakses Utiliti tersebut.
2. setelah di instal maka akan muncul logo seperti ini di kolom apps
lalu klik icon tersebut
3. maka anda akan masuk ke halaman seperti ini


disana anda dapat mengubah tampilan menggunakan gambar di tab image, jika hanya ingin mengubah warnanya saja pilih tab color, dan jika anda sudah selesai mengubah tampilan seperti yang anda inginkan pilih tab pack lalu pilih pack and instal theme untuk menggunakan tema yang sudah di buat.

Kamis, 08 November 2012

Pesawat Tanpa Awak Buatan RI Akan Dipersenjatai

Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) diuji coba di Base Operasional Pangkalan TNI Angkatan Udara, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis 11 Oktober 2012. Menurut Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, PUNA ini akan dikembangkan dan diproyeksikan untuk kepentingan militer.

"Ingat Kamikaze tentara Jepang yang menabrakkan pesawat pilot tunggalnya ke Pangkalan AS Pearl Harbour, Hawaii? Ke arah situ. PUNA ini juga akan kami persenjatai," kata Purnomo dalam jumpa persnya di Base Operasional.

Menurut Purnomo, berharap produksi PUNA ini diberikan kepada produsen dalam negeri, misalnya PT Dirgantara Indonesia. Sehingga, memajukan industri pertahanan dalam negeri. "Sesuai amanat UU Industri Pertahanan," kata dia.

Tak hanya itu, Purnomo juga berharap pengembangan PUNA ini mengacu beberapa sisi. Salah satunya dari sisi kepentingan pengguna, yakni TNI Angkatan Udara. Apalagi, memang Purnomo menginginkan PUNA diproyeksikan ke dalam Skuadron TNI AU. "Untuk sementara ini skuadron yang akan kita bangun memang untuk pengintaian atau pengamatan wilayah (surveillance)," ujarnya.

Tak hanya surveillance, PUNA ini juga diharapkan bisa dikembangkan untuk medan perang. Karena itu, pengembangan pesawat yang dinamai Wulung itu akan dikaji agar dipersenjatai dengan rudal. Dan, PUNA ini juga dapat dijadikan sebagai bombing, seperti Kamikaze pesawat pilot tunggal tentara Jepang yang menabrakan ke Pangkalan AS Pearl Harbour.

"Dia juga bisa menjadi target tembak tentara musuh. Seperti strategi yang dilakukan AS ketika perang Irak. Tentara-tentara Irak fokus menembaki pesawat tanpa awak AS yang masuk lebih dulu ke wilayah Irak, setelah habis, baru skuadron tempur tentara AS masuk," ujarnya.

"Jadi banyak manfaat yang bisa dilakukan oleh pesawat ini. Tapi saat ini untuk surveillance," kata dia.

"Empat Hercules Hibah Australia Bukan Sampah"

Pemerintah Australia menghibahkan empat pesawat C130 Hercules kepada Indonesia. Meski sejumlah pihak sempat meragukan kondisi pesawat-pesawat hibah ini, namun Wakil Ketua Komisi I DPR Ramadhan Pohan menepis keraguan itu.

“C130 Hercules milik Royal Australian Air Force dinonaktifkan sejak 2009 dalam kondisi ‘preservation maintanance.’ Artinya pesawat itu parkir namun tetap terawat. Jadi bukan teronggok seperti sampah,” kata Ramadhan, Senin 9 Juli 2012.

Politisi Demokrat itu menjelaskan, C130 Hercules hibah Australia itu meski sejak 2009 tidak digunakan, namun siap dioperasionalkan dengan sejumlah perbaikan. “Apalagi meski C130 Hercules RAAF dibeli pada era 1979 dan 1980, namun kualitas perawatan RAAF dikenal sangat baik,” ujar Ramadhan.

Hercules serial C130, lanjut Ramadhan, adalah pesawat buatan Amerika Serikat yang terkenal bandel, kuat, dan berbiaya perawatan murah. Ia pun menjamin, pesawat hibah Australia tersebut layak terbang karena spare parts-nya masih terus diproduksi sampai saat ini.

“Tidak semua pesawat tua itu merongrong. Kuncinya ada pada pabriknya. Pabrik Hercules ini masih ada untuk meneruskan produksi spare parts-nya,” ucap Ramadhan. Hal ini berbeda dengan pesawat Fokker yang pabriknya sudah tidak ada sehingga spare parts Fokker pun tidak bisa lagi diproduksi.

 “Jadi merawat Fokker 27 yang pabriknya sudah bangkrut tentu berbeda dengan merawat C130 Hercules yang pabriknya masih ada,” jelas Ramadhan.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pemerintah kini berkebijakan untuk tidak menggunakan Fokker lagi. Terakhir, pesawat Fokker 27 jatuh di Kompleks Perumahan Rajawali di sekitar Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, 21 Juni 2012.

“Kita tidak menerbangkan Fokker 27 lagi dan kita memerlukan sarana angkut yang lebih banyak. Program N295 telah berjalan dan akan menjadi pengganti dari F27, bahkan dengan kapasitas yang lebih besar. Di samping itu kita juga menghidupkan kembali pesawat C130 dengan spare part baru, termasuk pengadaan dari Australia,” kata Yudhoyono.

5 Alat Perang Modern yang Akan Perkuat TNI


Dalam rangka peningkatan keamanan dan penguatan alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI, Indonesia akan membeli delapan helikopter AH-64D Apache Longbow dari Amerika Serikat. Pembelian itu diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa di Washington.

Rencana peremajaan alutsista Indonesia memang sudah dilakukan oleh pemerintah sejak beberapa tahun terakhir, mulai dari pesawat tempur, kapal selam, tank dan juga helikopter.

1. Super Tucano

 Empat pesawat tempur taktis ringan Super Tucano EMB-314/A-29 baru saja sampai di Indonesia pada Sabtu (1/9) lalu di Halim Perdana Kusuma.

Pesawat asal Brasil ini bermesin single turboprop dan piawai dalam tempur ringan. Kecepatannya yang rendah membuat pesawat ini biasanya diperuntukan untuk mata-mata udara.

Super Tucano dilengkapi dengan 2 senapan mesin dan juga bisa dipasang bom sejenis MK-81 dan MK-82, peluncur roket jamak, dan bom berpemandu Laser.

Sejak diperkenalkan dan dipakai Brasil pada tahun 2004, Super Tucano EMB-314 terbukti berhasil melakukan misi penjagaan perbatasan di kawasan Amazon yang terkenal sangat rawan dengan aktivitas penyelundupan dan perdagangan narkotika.

2. Kapal selam


Tiga kapal selam Changbogo buatan Korea Selatan berhasil menarik perhatian pemerintah, kapal selam Changbogo yang relatif kecil dianggap tepat untuk bermanuver di laut Indonesia.

Changbogo didesain untuk menghancurkan kapal selam lawan, kapal permukaan, melindungi pangkalan dan misi pengintaian. Pada saat menyelam, kapal selam ini dapat turun hingga kedalaman 250 m. Dengan dilengkapi dengan 4 MTU mesin diesel, kapal selam ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum 21 knots (posisi menyelam) dan 11 knots (posisi permukaan).

Kapal selam ini juga dilengkapi 8 buah 533mm/21 inch torpedo di haluan dan dipersenjatai dengan total 14 torpedo atau 28 ranjau laut. Kapal selam ini juga mampu untuk beroperasi secara terus menerus selama 2 bulan dengan 40 orang kru.

kapal selam yang dibeli dari Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) akan tiba pada tahun 2015, selain itu Indonesia juga akan mendapatkan keuntungan karena satu dari tiga kapal selam akan dibuat di Indonesia.

3 . Heli AH-64D Apache Longbow


Helikopter buatan Boeing ini merupakan jenis penyerbu/tempur yang bisa diterbangkan dalam berbagai cuaca. Helikopter serbu ini dikendalikan oleh dua orang crew dan persenjataan utamanya terdiri dari sebuah senapan mesin M230 kaliber 30 mm.

Helikopter ini juga bisa membawa gabungan persenjataan lain seperti AGM-114 Hellfire dan pod roket Hydra 70 di empat hard point pada pangkal sayap. Apache merupakan helikopter penyerang utama bagi Angkatan Darat Amerika Serikat

Indonesia rencananya akan membeli delapan helikopter ini dari Amerika Serikat setelah ada pertemuan antara Menteri Luar Negeri RI dan AS Kamis (20/9) kemarin di Washington.

4. Main Battle Tank (MBT) Leopard


Indonesia dipastikan membeli Main Battle Tank (MBT) Leopard dari Jerman, sebanyak 15 unit pertama akan tiba pada bulan Oktober 2012. Recananya 100 unit MBT akan dipersiapkan untuk modernisasi Alutsista TNI.

Awalnya tank dapat memuat 4 orang ini akan didatangkan dari Belanda, namun muncul kontroversi karena seratus unit yang akan diboyong dari negeri kincir angin tersebut adalah tank bekas.

Tank yang jadi andalan pasukan tempur Jerman, Kanada, Yunani, Belanda, Portugis dan Spanyol ini dilapisi baja terbaru yang diklaim mampu menghentikan proyektil peluru dengan bobot mencapai 60 ton.

Kecepatan maksimal hingga 72 Km/jam, mampu mendaki hingga kemiringan 60 derajat dan memiliki daya jelajah 550 Km. Sementara untuk senjata, Leopard mengandalkan meriam Rheinmetall berkaliber 120 mm dan bisa membawa hingga 42 peluru kanon. Selain itu, tank ini dilengkapi dua senapan mesin 7,62 mm.

5. Kapal cepat rudal


Alutsista Terbaru TNI AL yang diluncurkan pada Jumat (31/8) lalu adalah buatan anak bangsa yaitu kapal cepat rudal (KCR) Trimaran yang kini diberi nama KRI Krewengan.

Kapal yang memiliki panjang 63 meter ini bisa menempuh kecepatan maksimal 35 knot atau didarat setara 65 Km/jam dan bisa dipersenjatai dengan berbagai tipe/sistem rudal, seperti rudal C705 buatan China, RBS15, Penguin atau Exocet, meriam 40รข€“57 mm serta senjata tembak cepat Close in Weapon System (CIWS).

Teknologi tinggi berbahan serat karbon vinylester diaplikasikan untuk membuat bodi yang juga berdesain siluman hingga sulit dideteksi radar. Selain itu juga dipersenjatai peluru kendali dengan jarak tembak hingga 120 kilometer.

Namun kapal ini masih akan menjalani serangkaian uji coba di laut serta pemasangan sistem deteksi dan persenjataan. Kapal pertama dari empat kapal bertipe serupa yang dipesan TNI AL ini ditargetkan bisa beroperasi penuh pada awal 2013.

Modernisasi Alutsista TNI - Departemen Pertahanan Akan Belanjakan 16,7 milyar dolar AS Hingga tahun 2015

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, yang didukung oleh kepemimpinan militer dan memperoleh dana anggaran sebesar 16,7 milyar dolar AS, akan terus maju dengan rencana tiga tahunnya untuk memperkuat dan melakukan modernisasi persenjataan militer Indonesia.

Modernisasi Alutsista TNI - Departemen Pertahanan Akan Belanjakan 16,7 milyar dolar AS Hingga tahun 2015


Indonesia berada dalam perjalanan untuk mempengaruhi percaturan dunia, demikian menurut seorang analis - suatu ambisi yang dapat ditelusuri sejak proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945 dari penjajahan Belanda. Dengan laju pertumbuhan saat ini, Indonesia dapat menjadi salah satu dari lima negara dengan ekonomi terkuat sebelum tahun 2040, demikian ramalan para pejabat.

Sebagai inti dari komunitas Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara [ASEAN] dan negara terbesar di komunitas Asia Tenggara, modernisasi pertahanan Indonesia berkemungkinan untuk menempatkan negara ini sebagai pembelanja militer utama di wilayah tersebut. Dan karena jalur reformasi Indonesia ke arah konsolidasi demokratis, para pengamat mengatakan bahwa kemunculan kekuatan militer negara ini tidak perlu dikhawatirkan akan mengalami destabilisasi.


Pergeseran dramatis kebijakan pertahanan Indonesia muncul setelah kekosongan 10 tahun pembelanjaan militer akibat kekurangan dana, setelah negara tersebut berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan usaha perkembangan. Peningkatan pada tahun 2012 menghadirkan 30 persen dari anggaran nasional negara ini. Angkatan Udara dan Laut Indonesia diharapkan menjadi penerima terbesar dari hasil peningkatan anggaran pertahanan ini.

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa pertumbuhan dalam anggaran pertahanan tersebut dimaksudkan sebagai usaha untuk "memperkuat posisi militer, demi menjamin keberhasilan misi untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayah Indonesia.”

Rencana pengembangan militer tersebut mencakup pembelian kapal penghancur berpeluru kendali, tank, sistem peluncuran roket majemuk, jet tempur, kapal selam dan persenjataan militer lainnya.

Senjata yang dikembangkan secara domestik dan dibeli di luar negeri ini akan didukung teknologi terbaru. Strategi modernisasi ini memiliki harga yang sangat mahal: 2,5 milyar dolar AS untuk 10 frigat ringan yang dikembangkan oleh produsen kapal negara PAL; 2 milyar dolar AS untuk empat kapal selam; dan 6 milyar dolar AS untuk tambahan pesawat jet tempur Sukhoi dan F16.

Anggaran ini juga dimaksudkan untuk meliputi kebutuhan non-senjata yang berhubungan dengan pertahanan nasional, termasuk aktivitas yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit dan pegawai negeri dalam angkatan bersenjata Indonesia.

Anggaran ini akan berfokus pada pembelian produk domestik, demikian kata Yugiantoro. Jika tidak terdapat ketersediaan materi yang diproduksi secara domestik, akan digunakan para produsen asing dengan syarat penggunaan metode produksi gabungan. Dan impor produk asing juga akan dipantau demi memastikan manfaatnya bagi Indonesia.

Komite Tingkat Tinggi [HLC] negara ini akan menyediakan pengawasan guna mengendalikan pemantauan dan laju perluasan sektor pertahanan sampai tahun 2014, demikian ungkap menteri pertahanan.

HLC yang diketuai oleh wakil menteri pertahanan, akan mencakupkan perwakilan dari beberapa divisi pemerintah, termasuk keuangan, perencanaan, audit, dan badan pemerintah khusus yang bertanggung jawab untuk melakukan pembelian barang serta jasa.

“Tujuan utama dari tim pengendali ini adalah mulai dari awal tahap perencanaan seperti halnya juga selama tahap penerapan, untuk memantau keuangan dan pembelian bagi sektor pertahanan ini,” demikian yang dikatakan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

Angkatan Udara menambahkan 17 skuadron

Pembangunan militer ini mencakup inventaris yang mengesankan. Untuk Angkatan Udara Indonesia: Awalnya berencana untuk mendatangkan 64 jet tempur Sukhoi (pasti terwujud 1 skuadron), Rencana hibah 34 jet tempur F16 dari AS, Rencana Hibah 12 jet tempur F5E dari Korea Selatan, 16 pesawat tempur Super Tucano, 16 pesawat tempur Yak 130/
 16 Jet tempur T50 Golden Eagle, pesawat tanpa awak, dan pesawat transportasi Hercules hibah dari Australia.

Angkatan Laut menambahkan 3 armada

Tiga armada akan ditambahkan ke Angkatan Laut Indonesia, yang memiliki armada Barat dengan markas besar di Tanjung Pinang, Natuna, dan Belawan. Armada Pusat akan memiliki markas besar di Surabaya, Makassar, dan Tarakan. Armada Timur akan bermarkas besar di Ambon, Merauke, dan Kupang. Kemudian, jumlah prajurit Angkatan Laut yang aktif akan ditingkatkan hingga 60.000, ditugaskan di berbagai markas. Para prajurit ini akan didukung oleh 350 tank BMP 4F; 17 tank amfibi; 320 kendaraan amfibi lapis baja; 800 misil QW3; 40 Grad RM; dan 75 Howitzer. Inventaris tambahan mencakup 32 frigat; 56 corvette; 82 kapal patroli cepat yang dipersenjatai misil; tiga kapal selam dari korea selatan; dan 48 kapal logistik serta transportasi.

Tambahan angkatan darat termasuk tank dan misil

Angkatan Darat, yang merupakan komponen darat angkatan bersenjata Indonesia, memiliki perkiraan jumlah pasukan sebanyak 180.000, Brigadir Kavaleri, cadangan strategis, dan unit-unit lain yang telah terlibat dalam operasi sejak perjuangan negara ini untuk meraih kemerdekaan.

Peningkatan anggaran ini memberikan inventaris yang berikut: tiga divisi komando strategies; 150 batalyon pasukan serbu; 200 tank perang utama yang akan disebar di Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat; 540 kendaraan lapis baja yang dibuat oleh Pindad untuk batalyon infanteri mekanik; 320 kendaraan dengan meriam; 890 meriam dan artileri howitzer; 720 misil NDL; 20 helikopter tempur MI35; 26 helikopter transportasi MI17; 1.300 misil anti-tank; 60 misil anti-pesawat baru; dan 700 misil strategis jenis Pindad-Lapan.

Perancis Obral Alutsista Dan ToT Ke Indonesia


Perancis datang ke Indonesia di saat yang tepat, akan tetapi sekaligus memberikan pilihan yang sulit. Negara pembuat Frigate La Fayette ini tiba tiba saja menawarkan transfer teknologi, untuk berbagai jenis mesin perang. Perancis seolah-olah tahu, Indonesia sedang “mumet” dengan urusan Transfer of Technology (ToT) yang beberapa kali “dikerjai” oleh negara yang diajak bekerjasama.


Dua tawaran yang disorong oleh Perancis adalah transfer teknologi untuk meriam kelas berat Caesar 155mm, jika Indonesia membeli dalam jumlah besar. Tawaran berikutnya yang menggiurkan adalah penjualan mesin pesawat tempur untuk Indonesian fighter jets experiment (IFX), jika Indonesia bersedia membeli pesawat Rafale.

IFX tampaknya harga mati yang dipatok oleh pemerintah untuk membuat lompatan teknologi di tanah air yang sudah lama terhenti. Pemerintah sangat percaya diri dengan pembangunan IFX, karena Indonesia cukup maju di teknologi dirgantara. 

Jika proyek IFX ingin berjalan mulus, TNI AU tampaknya harus berpaling dari rencana ke depan yang ingin membeli Sukhoi SU-35, ditukar dengan Rafale Perancis.

rafale1 Last Tango in Paris
Jet Tempur Rafale Perancis
Hingga kini belum ada negara asing yang membeli jet tempur Rafale, sehingga Perancis harus menambahkan opsi ToT, agar jet tempurnya dibeli orang. Pola pembelian alutsista plus ToT sudah dilakukan Indonesia untuk Panser Anoa dan Ranpur Sherpa. 
Persoalan lain bagi Indonesia sekaligus peluang bagi Perancis, adalah pembangunan 3 kapal selam Changbogo Indonesia, oleh Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan meminta uang 300 juta USD, jika Indonesia menginginkan transfer teknologi dari kapal selam tersebut.

Kalau klausal itu tidak dipenuhi, maka pengorbanan membeli tiga kapal selam kelas “anjing kampung” yang bergerak sangat lamban akan menjadi sia-sia. Untuk apa membeli kapal selam seperti itu, jika tidak disertai Transfer of Technologi.

Tapi apakah Indonesia yang uangnya pas-pasan mau merogoh kocek tambahan 300 juta USD, demi mendapatkan ToT kapal selam Changbogo ?. Godaannya adalah, dari pada menambah uang 300 juta USD, lebih baik dibelikan kapal selam Kilo Class Rusia.

Kemampuan tempur kapal selam Kilo Class, tidak perlu diperdebatkan lagi. Negara Barat saja menyebutnya sebagai lubang hitam (Black-Hole), bagi sistem pertahanan mereka.

Namun untuk mendapatkan Kilo Class, bukan perkara gampang, karena pengadaan alutsista harus disertai ToT, seperti yang diamanatkan Presiden SBY. Sementara kita semua tahu untuk urusan ToT, Rusia sangat “pelit”, terutama bagi negara non-sekutu lama mereka.

Di sinilah posisi Perancis menjadi penting. Perancis menawarkan penjualan kapal Selam sekaligus dengan ToT-nya kepada Indonesia.

“Kalau ingin membeli kapal selam yang bagus, jangan ke Korea yang “KW2″, beli langsung ke pembuatnya, seperti kami”, ujar salah seorang pejabat Perancis.

MalaysiaSub Last Tango in Paris
Scorpene Class Perancis, Milik Malaysia
Di tengah krisis Eropa saat ini, Perancis tidak terlalu perduli untuk membatasi transfer teknologi militer konvensional. 
Bahkan Perancis pun menawarkan penjualan rudal konvensional tercanggihnya Exocet MM40 Block III. Padahal sebelum krisis Eropa, untuk mendapatkan Exocet MM-40, Indonesia sangat kesulitan dan dihadapkan pada jalan yang berliku.
“Tuan….barang dagangan sudah digelar. Now…..make your Choice !”, mungkin begitulah yang disampaikan pejabat militer Perancis yang sudah tahu masalah yang dihadapi para Petinggi TNI dan Kemenhan.

Selain munculnya masalah dalam pembelian kapal selam Changbogo, pengadaan Light Frigate Sigma 10514 juga masih menyimpan persoalan.

Anggota Komisi 1 DPR, berniat menyoal pembelian Sigma 10514, karena tidak disertai dengan ToT yang diharapkan. Wakil Ketua Komisi 1 DPR, TB Hasanuddin, mempertanyakan mengapa Orrizonte Fincantieri Mosiaic Italia tidak jadi dibeli, padahal Italia bersedia melakukan ToT 25 %.

Di tengah persoalan itu, Perancis bisa menyambung ucapannya lagi. “Bagaimana tuan-tuan…?. Mau mencoba frigate La Fayette yang telah dilengkapi teknologi Stealth ?”, ujarnya sambil bersenandung lagu last tango in paris.

Tampaknya kecil kemungkinan bagi Indonesia membatalkan pembelian Sigma 10514 Belanda karena telah menandatangani kontrak. Kecuali mau membatalkan pembelian 3 korvet Nakhoda Ragam Class ex Brunei Darussalam, ditukar dengan Frigate La Fayette, berikut ToT-nya.

la fayette f 710 02 Last Tango in Paris
Frigate La Fayette Perancis
Pilihan yang sulit karena TNI AL harus mengejar kuantitas MEF (minimum essensial Force) 2014.
Tampaknya langkah Malaysia berpartner dengan Perancis untuk urusan kapal laut sudah tepat. Mereka memesan kapal Selam Scorpene Class ke Perancis. 

Dan kini Malaysia juga memesan 6 Light Frigat Gowind Class ke Perancis dengan imbalan ToT. Bahkan Gowind Class kedepannya akan dibangun di Malaysia.

Langkah yang diambil oleh Angkatan Laut Malaysia, terukur dan tepat sasaran.

Berbicara tentang ToT, kini Angkatan Darat terus melaju dengan pembangunan Rudal Nasional yang diharapkan memiliki jangkauan tembak di atas 100 km pada tahun 2014. Targetnya adalah peluru kendali dengan jarak tembak 300 – 500 Km. 

Begitu pula dengan TNI AU melaju dengan proyek IFX dan diharapkan 6 prototype IFX rampung pada tahun 2013.
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner