Select Language

Minggu, 13 April 2014

Cintailah Industri Strategis Indonesia

merah_putih_v16 copy
Alutsista kebanggaan buatan dalam negeri
JKGR (MI) : Percepatan Minimum Essential Force (MEF) yang dibangun Kemenhan tidak hanya fokus impor dari luar negeri, tapi juga dengan produsen-produsen dalam negeri. Keseriusan Kemenhan bisa dilihat dnegan penandatangan nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah industri alutsista dalam negeri yang dilakukan pada Maret 2012 silam.

“Jumlah kontraknya mencapai Rp 1,3 triliun,” ujar Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro saat itu.
Perusahaan yang dilakukan MoU adalah PT Dirgantara Indonesia, PT Palindo Marine, PT Pindad, PT Infra RCS Indonesia dan PT Sari Bahari. Selama ini kita telah mengetahui pengembangan BUMN Industri strategis seperti PT DI melalui kerjasama pembuatan alat militer bersama pihak produsen luar negeri seperti pesawat CN-295, CN-235, Helikopter Bell 412, Cougar EC-725, Fennec AS-555, dll.

Lalu ada PT Pindad dengan berbagai macam senjata ringan hingga ke kendaraan lapis baja roda biasa seperti Anoa, Komodo, Rantis 4×4 maupun roda rantai seperti rencana membuat MBT dan tank kelas ringan/sedang yang mampu menjadi andalan dalam kondisi geografis kita. Dalam MoU itu juga ada beberapa alutsista strategis seperti pembuatan Rocket FFAR, Radar/ECDIS, serta pembuatan peluru kendali.

Pembuatan FFAR atau Fin Folding Aerial Rocket ini buatan PT DI hasil Transfer of Technology (ToT) dari produsen asal Eropa, Lesca dengan bersandar lisensi dari Belgia. Ada dua tipe yang dikembangan PT DI yaitu RD 701 berbasis FFAR MK 4 dan RD 7010 berbasis MK 40. Saat ini untuk pengembangan sudah hampir 100%. Sedangkan hulu ledaknya sudah 100 persen buatan lokal dibantu Lapan dengan sistem Doublebase atau basis ganda, sehingga FFAR buatan dalam negeri bisa setara dengan produk-produk luar.
Rocket FFAR buatan dalam negeri - Hulu ledak 100% komponen lokal
Rocket FFAR buatan dalam negeri – Hulu ledak 100% komponen lokal


Spesifikasi
Diameter : 70 mm (2.75 inchi)
Panjang : 120 cm
Berat : 8.4 Kg
Jarak efektif : 3,400 m
Berat Warhead : 2.7 Kg

Untuk radar/ECDIS (Electronic Chart Display and Information System) atau sistem informasi navigasi laut sesuai dengan Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga sudah dibuat oleh PT Infra RCS Indonesia. Untuk ECDIS ini murni hasil anggaran pengembangan dari PT Infra. Selain itu PT Infra juga telah mengembangkan Electronic Support Measures (ESM) dan rencana pengembangan bersama WECDIS dengan TNI AL.
INFRA
INFRA
Selain Infra, ada juga dari BUMNIS yaitu PT. LEN Industri seperti Radar Processing dan Display Console untuk teknologi Modern radar dan Legacy radar. Selain Radar/ECDIS PT LEN juga mengembangkan atau memproduksi Combat Management System (CMS),Transoder TPO TLM-01 (untuk kapal selam), Len Cryptosys (Modem Enkripsi asli buatan dalam negeri), peralatan komunikasi radioportable (Manpack)/Base Station/Vehicle, dll.
Surveillance & Reconnaissance
Surveillance & Reconnaissance Device
image002
peralatan komunikasi radio portable (Manpack), Base Station, Vehicle
Sedangkan Peluru kendali, berdasarkan Rencana Strategis 2010-2014 Konsorsium Roket untuk TNI AD memerlukan RX-100 yangAlhamdulillah telah behasil yaitu R-Han 122 (a) tinggal uji tabel tembak, TNI AL RX-122 sama yaitu R-Han 122b dengan jarak dibawah 40 km-tinggal uji Tabel dan RX-320 pengembangan bersama litbang TNI AL dengan jarak 70 Km atau lebih.
sotong42
sotong 42
Sotong 42-tail
Sotong. Image: ryanmesin.wp



Ranjau Laut
Ranjau Laut
Smart Bomb - Dislitbang
Smart Bomb – Dislitbang
RX-320 - sejenis Exocet dengan jarak 180 km
RX-320 – sejenis Exocet dengan jarak 180 km

Untuk RX-320 ini direncanakan untuk mengganti Exocet dan telah dilengkapi Infrared Seeker Head. Dan terakhir untuk TNI AU ada RX-70 dengan jangkauan 7.9 km dan ini juga sudah dikembangkan untuk dicantel di pesawat tempur kita.
Diharapkan Alutsista ringan maupun kelas berat ini bisa mengisi tiga matra TNI agar terciptanya MEF pertama bisa diwujudkan. Untuk MEF kedua ada rencana pengembangan dalam negeri juga seperti Tank Medium, APC Amphibious, RX-320 sejenis Exocetdengan jarak 180 km, PSU kelas sedang, Kapal Selam bersama DSME, Kapal Perang PKR/Frigate bersama DSNS Belanda, dll.

Cintailah produk-produk dalam negeri…

Sumber : JKGR

AMX-13 Retrofit Pindad itu Mulai Berjalan


ARC (MI) : Setelah ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan, Pindad tak membuang waktu. Perusaan senjata asal Bandung ini segera menggelar uji coba tank AMX-13 hasil Retrofit mereka. Mulai hari ini, 1 april 2014, Tank ringan itu akan diujikan berjalan ke kawasan Sukabumi dan Cianjur untuk melihat olah gerak hasil retrofit. Selain olah gerak, nantinya juga akan dilakukan uji tembak dalam waktu dekat.


Proyek retrofit AMX-13 ini mulai berjalan sejak akhir  2011 lalu. Seharusnya di Tahun 2013 ini Pindad telah melakukan produksi Retrofit AMX. Namun dalam perjalanannya, sejuta rintangan menghambat. Dan akhirnya, pada awal 2014, sebuah prototype bisa diselesaikan. 
AMX-13 hasil retofit ini memiliki tampang yang sedikit berbeda dengan slinya. Untuk hull misalnya, terpaksa ditambah panjang sekitar 20cm untuk mengakomodir mesin anyar. Mesinnya sendiri memakai produk Navistar dari Amerika Serikat dengan daya sebesar 400HP. 


Sementara pada bagian persenjataan, terpasang meriam 105mm. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan tempur, akan dipasang pula Fire Control System yang kabarnya bikinan Belgia. Selain itu turut dipasang pula Laser Range Finder serta kamera Thermal.

 

 



Sumber : ARC

Tank Leopard Pilihan Tepat Untuk Memperkuat TNI



ARC (MI) : Pemerintah terus mengupayakan peningkatan kekuatan Alutsista TNI untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memodernisasi Alutsista TNI. Dalam rangka modernisasi Alutsista TNI khususnya TNI Angkatan Darat, pada tahun 2012 pemerintah dan DPR telah sepakat untuk membeli Main Battle Tank (MBT) Leopard produksi Jerman.


Proses pembelian MBT Leopard telah melalui proses yang cukup panjang dengan pendekatan proses bottom up dan top down. Proses bottom up dimulai dengan kajian oleh pengguna yaitu satuan-satuan Kavaleri TNI Angkatan Darat. Kajian tersebut meliputi analisis penggunaan MBT ditinjau dari aspek teknis, taktis dan operasional.

Dari aspek teknis, MBT Leopard memiliki keunggulan dalam desain teknologi yakni besaran kaliber meriam sebesar 120 milimeter, jarak capai, kemampuan penetrasi dan penghancurannya, stabilizer system, serta dan armor protection. MBT Leopard juga memiliki keunggulan yang sangat menentukan yaitu, kemampuan firing control system dan automatic target tracking system yang sangat akurat, serta auto ammo loader guna mempercepat daya tembaknya, thermal imaging sight, laser range finder, dan balistik komputer.

Dari aspek taktis, MBT Leopard telah memenuhi Ketentuan Standar Umum (KSU) Materiil TNI AD dihadapkan dengan fungsi Satuan Kavaleri sebagai unsur penggempur. Jika dilihat dari taktik pertempuran darat, tank Leopard adalah tank yang terunggul di kelasnya. Keunggulan MBT Leopard adalah pada kemampuan daya gerak, tembak, daya kejut dan daya hancurnya. Secara taktis, MBT Leopard dapat digunakan di daerah perkotaan maupun di perbukitan atau di daerah setengah tertutup. Meskipun beratnya mencapai 60 Ton, namun tekanan gandar yang ditumpukan ke permukaan hanya sekitar 8 kg/cm2. Hal ini dimungkinkan karena permukaan tumpu relatif luas.

Selain itu, Tank ini juga tidak selalu mengandalkan jembatan yang ada, karena setiap kompi dilengkapi dengan jembatan taktis yang bersifat portabel, yang dapat digelar saat Tank harus melewati sungai kecil yang tidak ada jembatan, atau kapasitas jembatannya tidak mampu menopang berat Tank (misalnya jembatan dengan konstruksi bambu/kayu)

 

Dari aspek operasional, antara lain MBT Leopard memiliki kemampuan mobilitas untuk melintasi medan dengan kecepatan maksimal 70 km/jam. Adanya ketersediaan dukungan logistik misalnya amunisi tidak ada masalah karena akan ada dukungan Transfer of Technologi (TOT) pembuatan munisi kal.120 mm antara Rhienmetal dengan PT. Pindad, disamping itu adanya munisi tipe baru yang dimiliki MBT Leopard yaitu DM-11(Dynamic Magnetic). Untuk suku cadang juga tersedia sampai dengan 20 tahun kedepan, dan ada jaminan sesuai dengan program TOT bersama PT. Pindad.

Selain tiga aspek diatas, aspek geografi Indonesia juga menjadi pertimbangan untuk menentukan pemilihan MBT Leopard yang beratnya 63 ton. Tank Leopard dapat bergerak dan bermanuver dengan leluasa di wilayah Indonesia dan untuk melewati jalan serta jembatan tidak menimbulkan kerusakan. Penempatan MBT di Indonesia tidak ada masalah, sebagai contoh negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Laos, dan lain-lain yang memiliki geografi relatif sama dengan Indonesia telah memiliki MBT.
Selain itu, aspek TOT juga menjadi pertimbangan dalam pembelian MBT Leopard. Rheimetal Jerman memberikan dukungan sepenuhnya berupa transfer teknologi baik berupa pemeliharaan, operasional dan pengadaan amunisinya bersama PT Pindad, Bandung. Transfer teknologi merupakan salah satu persyaratan pembelian Alutsista dari luar negeri untuk mewujudkan kemandirian industri pertahanan dalam negeri.
Sementara itu dalam proses top down, pengadaan MBT Leopard dilakukan melalui kajian dari aspek geopolitik, geostrategi, diplomasi dan kerja sama militer. Dalam aspek geopolitik dan geostrategi, Kementerian Pertahanan melakukan analisis keseimbangan kekuatan di kawasan, yang memperhitungkan empat komponen kuatan yaitu diplomasi, informasi, militer, ekonomi.

Ditinjau dari aspek akuntabilitas, Kementerian Pertahanan juga membentuk Tim Evaluasi Pengadaan yang bertugas mengevaluasi proses pengadaan suatu barang yang akan dibeli. Dalam tugasnya, Tim Evaluasi Pengadaan mengevaluasi apakah suatu proses pengadaan telah mematuhi peraturan yang berlaku. Selain itu, Tim ini juga bertugas memberikan pertimbangan-pertimbangan strategis kepada Menteri Pertahanan.

Setelah semua proses pengadaan selesai, tidak serta merta pembelian dapat dilakukan. Meskipun kontrak telah ditandatangani, namun tidak akan efektif sebelum mendapat persetujuan dari DPR. Artinya pengawasan itu berlapis, internal pemerintah, antar kementerian, dan pengawasan DPR.

Setiap pengadaan Alutsista juga diawasi oleh High Level Committee (HLC) yang dipimpin oleh Wamenhan. HLC bertugas untuk mengendalikan dan mengawasi mulai dari perencanaan pembiayaan sampai dengan kegiatan pengadaan Alutsista. Selain itu, dibentuk pula Tim Konsultasi Pencegahan Penyimpangan Pengadaan Barang dan Jasa yang terdiri dari Itjen Kemhan, Itjen Mabes TNI, Itjen Mabes Angkatan, BPKP dan LKPP.

Dengan demikian, pengadaan MBT Leopard sudah melalui proses yang panjang dan sangat ketat, sehingga kecil kemungkinan terjadinya penyelewengan dan kebocoran anggaran. Selain itu, pengadaan Alutsista TNI, termasuk MBT Leopard dilakukan tanpa perantara. Saat ini, pengadaan Alutsista TNI menggunakan model G to G atau G to B tidak melibatkan broker atau pihak ketiga. Kementerian Pertahanan juga telah mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memantau proses pengadaan MBT Leopard.

Sumber : ARC

Elang Khatulistiwa Tiba Di Home Base

http://lanud-supadio.mil.id/wp-content/uploads/2014/03/FOTO-17.jpg

Pontianak (MI) : Empat pesawat tempur Hawk 100/200 Skadron Udara 1 Lanud Supadio tiba di home base setelah melaksanakan Latihan Antar Satuan Jalak Sakti, Jum’at (28/3).   Diawali dengan pesawat Hawk 200 dengan tail number TT-0229 dengan pilot Mayor Pnb Agung Indrajaya disusul tiga pesawat lainnya yaitu TT-0221 dengan pilot Lettu Pnb Nobel dan  TT-0226 dengan pilot Lettu Pnb Rakhmanto Jati dan pesawat Hawk 100 TL-0112 dengan pilot Letkol Pnb Radar Suharsono dan Lettu Pnb Andi Sihotang.

Kedatangan Elang Khatulistiwa disambut  Kadispers Letkol Adm Dedy Hendra Effendi mewakili Danlanud Supadio dan para pejabat Lanud dan Skadron Udara1.  Dalam latihan tahunan ini Skadron Udara 1 mengerahkan empat pesawat dan 68 personel yang  dipimpin Komandan Skadron Udara 1 Letkol Pnb Radar Suharsono.

Untuk para ground crew dan peralatan pendukung latihan diangkut dengan menggunakan pesawat Hercules A-1327 dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma dengan pilot Mayor Pnb Tedi dengan 2 sortie penerbangan.

Sumber : Lanud-Supadio

TNI AU tunggu pesawat tempur generasi 4,5


Yogyakarta (MI) : Peremajaan dan modernisasi arsenal perang TNI AU terus dilakukan, di antaranya pesawat tempur pengganti F-5E/F Tiger II yang sekarang tergabung di Skuadron Udara 14, yang berasal dari generasi 4,5 atau 4,5++.

Di antara kontestan yang telah masuk ke dalam daftar pasti pengajuan adalah Sukhoi Su-35 Flanker E (Rusia), JAS-39 Gripen(Swedia), Dassault F1 Rafale (Prancis), dan Boeing-McDonnel Douglas F/A-18E/F Super Hornet (Amerika Serikat). Pengadaan arsenal baru TNI AU itu sesuai Perencanaan Strategis Pertahanan Indonesia Tahap III.

"Kami masih menunggu evaluasi dari Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI. Jika ditanya, kami menginginkan generasi 4,5," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, di Yogyakarta, Minggu.

F-5E/F Tiger II didatangkan langsung dari pabriknya di Amerika Serikat pada awal dasawarsa '80-an, dengan skema pembelianforeign military sales.

TNI AU saat itu adalah pengguna perdana Tiger II di ASEAN dengan kekuatan satu skuadron udara penuh (16 unit).

Angkatan Udara Kerajaan Thailand menjadi negara kedua, yang malah membeli lebih banyak lagi Tiger II itu, dan mengembangkan kemampuan pesawat tempur kelas interseptor itu.

TNI AU sebetulnya bukan tidak mengembangkan kemampuan dan usia pakai F-5EF Tiger II itu, karena sempat ada Program MACANyang diluncurkan pada akhir dasawarsa '90-an.

Selain Thailand, Angkatan Udara Iran secara sempurna bisa mengembangkan Tiger II mereka.

Dassault F1 Rafale merupakan pesawat terbang tempur bermesin ganda dengan rancangan unik di dunia, berkelas multi peran --Prancis menyebut ini sebagai omnirole capability-- termasuk reconnaissance dan surveillance hingga kemampuan meluncurkan bom nuklir.

Dikembangkan dalam hanya tiga varian (B,C, dan M), komonalitas dan kompatibilitas serta kemudahan perawatan plus pengoperasian menjadi nilai tambah pesawat tempur bersayap delta dengan sayap kanard di depan bawah kokpit.

Sistem avionika dan penginderaan serta persenjataannya memakai teknologi kelas paling canggih di kelasnya, di antaranya integrasi sistem dengan pusat pengendali dan sesama penempur di udara.

Adapun JAS-39 Gripen bersayap delta buatan SAAB Swedia, diketahui memiliki kemampuan tempur multiguna-interseptor berkecepatan di atas 2 Mach, dengan teknologi terkini dan menjadi salah satu arsenal andalan NATO.

JAS-39 Gripen merupakan penyempurnaan JAS-35 Vigen dan JAS-37-Drakken, dan bisa menjadi pamungkas dalam superioritas udara dari Swedia yang dikenal dengan produk-produk berkualitas tinggi itu.

Angkatan Udara Kerajaan Thailand menjadi pengguna perdana JAS-39 Gripen ini di ASEAN, sementara di dunia telah dipergunakan Angkatan Udara Kerajaan Swedia, Angkatan Udara Afrika Selatan, dan Angkatan Udara Hungaria.

Sementara Boeing F/A-18E/F Super Hornet adalah pesawat tempur bermesin ganda yang didedikasikan untuk bertempur secara multiperan.

Dia juga dipergunakan di Angkatan Udara Singapura, yang diimbuhi teknologi lebih canggih ketimbang versi ekspor lain dari pabrikannya.

Sukhoi Su-35 Flanker E buatan  Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association adalah pengembangan dari Su-27 Flankeryang ditingkatkan manuverabilitasnya dari kokpit berkursi tunggalnya dan bermesin jauh lebih kuat dari pendahulunya.

Pertama kali mengudara pada 1988, Angkatan Udara Rusia memakai Su-35 Flanker E (semula dikenal sebagai Su-27M) tim aerobatik mereka, Vityyasii Ruskiyii (Ksatria Rusia), menggantikan MiG-29.

TNI AU sudah sangat akrab dengan sistem Su-27 Flanker ini karena telah memiliki satu skuadron udara berisikan mereka, yaitu Skuadron Udara 11, yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama Hasanuddin, Makasssar. 

Sumber : ANTARA

Warga Amerika Serikat siap perang dingin dengan Rusia

Warga Amerika Serikat siap perang dingin dengan Rusia - Putin bangun sistem pembayaran sendiri - Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dan Presiden Rusia, Vladimir Putin diyakini bakal memicu perang dingin atas persengketaannya di Ukraina.
(Foto: ist)Presiden Amerika Serikat, Barack Obama dan Presiden Rusia, Vladimir Putin diyakini bakal memicu perang dingin atas persengketaannya di Ukraina.
LENSAINDONESIA.COM: Perseteruan dua negara adi-daya, Amerika Serikat dan Rusia di wilayah Ukraina diyakini berujung pada perang dingin.
Keyakinan itu muncul pada separo warga Amerika Serikat yang disurvei oleh Gallup. Survei itu menunjukkan, 50 persen warga Amerika Serikat yang disurvei yakin bahwa perang dingin akan terjadi lagi. Sementara 43 persen tidak setuju.
Jajak pendapat yang sama telah dilakukan pada 1991 di akhir masa perang dingin. Hasilnya, hanya 25 persen orang yang ditanyai berpandangan Amerika Serikat dan Rusia akan kembali menghadapi perang dingin.
Warga Amerika Serikat yang lebih tua yang pernah mengalami masa perang dingin memperkirakan lebih mungkin terjadinya konflik baru.
64 persen dari mereka yang disurvei berusia 65 dan lebih tua berpandangan seperti itu dibandingkan dengan 36 persen dari orang-orang berusia antara 18-29 tahun yang belum lahir pada masa perang dingin.
Pandangan dan afiliasi politik juga berperan dalam bagaimana orang menanggapi survei tersebut.
Kurang dari separo dari pendukung partai Demokrat dan independen merasa Amerika Serikat kembali memasuki konflik negara-negara adi-daya, dibandingkan dengan lebih dari dua pertiga dari pendukung Partai Republik yang mengatakan hal serupa.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan siap membuat sistem pembayarannya sendiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap Barat.
“Di negara-negara seperti China dan Jepang, sistem seperti ini berjalan sangat baik. Mereka mengawali sistem itu terbatas untuk pasar mereka sendiri, wilayah sendiri, rakyat mereka sendiri. Namun, kini menjadi semakin populer,” kata Putin dalam pidato yang disiarkan televisi.
Menurut Putin, Rusia harus melakukan hal yang sama dan kini pemerintah bersama bank sentral Rusia sedang mempelajari kemungkinan itu.
Sebelumnya, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi untuk 20 orang terdekat Putin dan sanksi untuk Bank Rossiya.
Imbasnya, sejumlah bank menyaksikan para nasabah mereka tak bisa lagi menggunakan kartu kredit Visa dan MasterCard.
Kondisi ini membuat para pejabat dan parlemen Rusia berpikir Rusia harus menciptakan jaringan operasional keuangannya sendiri.
Kepala Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina juga menyerukan pembangunan sistem kartu kredit domestik untuk mengurangi ketergantungan terhadap Visa dan MasterCard setelah sanksi Amerika Serikat.@licom/voa/kc

Indonesia Harus Belajar dari Pengalaman Tiongkok Hadapi Arbitrase

www.caradvice.com.auIlustrasi pabrik mobil

BOGOR, KOMPAS.com – Produsen otomotif Jepang mulai gelisah setelah Indonesia benar-benar melarang ekspor mineral mentah pada 12 Januari 2014. Akibatnya, pemerintah Jepang berencana menggugat Indonesia di panel arbitrase Organisasi Perdagangan Dunia.

Menteri Perdagangan M Lutfi menuturkan, pemerintah Indonesia siap menghadapi kemungkinan tersebut, seiring dengan kian kuatnya sinyal dari Jepang untuk menggugat UU Minerba.

"Notifikasinya belum ada, (tapi) ada beberapa gelagatnya. Kira-kira Jepang akan menuju ke sana. Makanya mestinya disiapkan bagaimana kita menghadapinya," ujarnya kepada wartawan di Bogor, kemarin Sabtu (12/4/2014).

Meski langkah tersebut disesalkan, namun Lutfi meyakini sebetulnya pemerintah Jepang sendiri tidak menginginkan untuk melakukan gugatan tersebut. Berdasarkan pengalamannya sebagai Duta Besar Indonesia di Jepang, pemerintah Jepang selalu ingin menyelesaikan segala persoalan dengan baik.

“Yang kita lihat, pengalaman saya di Tokyo, itu adalah tekanan. Pengalaman saya, pemerintah Jepang sendiri tidak mau membawa penyelesaian ini ke WTO,” jelasnya.

Adapun tekanan tersebut berasal dari industri otomotif yang tiap hari mengutus perwakilan untuk “mengusik” pemerintah Jepang, kaitannya dengan penyediaan bahan baku dari Indonesia. Sebagai informasi, 44 persen impor nikel mentah Jepang berasal dari Indonesia.

“Ini ada Mitsubishi, bisa tiap hari datang ke kantor pemerintah Jepang jam 9 pagi. Mereka bayar satu anak buah untuk di manapun ngomongnya begitu,” jelas Lutfi.

Guna mengantisipasi gugatan tersebut, saat ini pemerintah Indonesia terus melobi pemerintah Jepang. Selain itu, agar tak bernasib serupa Tiongkok, pihaknya juga mencermati pengalaman negeri tirai bambu itu yang menuai kekalahan ketika digugat oleh Amerika Serikat.

Lutfi mengatakan Tiongkok juga pernah mengeluarkan aturan pelarangan ekspor bahan baku elektronik. Lantas Amerika Serikat mengajukan gugatan atas kebijakan tersebut dan memenangkannya di WTO.

[World News] Dua Korea Berbalas Tembakan Artileri di Perbatasan

Ilustrasi latihan di Korea Selatan

Seoul ☆ Korea Utara dan Selatan, Senin (31/3/2014), terlibat saling tembak artileri di wilayah perbatasan laut yang disengketakan, sehari setelah Korut mengancam akan melakukan uji coba nuklir baru.

Saling tukar tembakan artileri itu dipicu peluru tajam yang digunakan militer Korea Utara dalam latihan jatuh di perairan Korea Selatan. Demikian pernyataan militer Korea Selatan.

Sejumlah pengamat menilai insiden penembakan itu merupakan pertanda rasa frustrasi Korea Utara terhadap AS yang bersikukuh untuk belum melanjutkan pembicaraan terkait program nuklir negara itu.

Ini sebab Pyongyang melihat pembicaran soal nuklir itu adalah sebuah kesempatan untuk memenangkan sebuah konsesi konkret dan bantuan dari komunitas internasional.

"Saya tak melihat insiden ini akan memicu sebuah bentrokan serius," kata Yang Moo-jin, seorang profesor dari Universitas Studi tentang Korea Utara di Seoul.

Latihan militer Korea Utara berlangsung pada pukul 12.15 waktu setempat, dan Korea Selatan yang merasa terancam langsung membalas tembakan.

"Sejumlah peluru Korea Utara mendarat di sebelah selatan perbatasan selama latihan. Jadi militer kami menembak balik ke arah utara perbatasan sesuai protokol yang berlaku," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Korea Selatan.

Sebagai langkah antisipasi, penduduk yang tinggal di pulau-pulau perbatasan diminta berlindung saat jet-jet tempur Korea Selatan melintas di atas pulau-pulau tersebut.

Pada November 2010, Korea Utara menembaki pulau Yeonpyeong dan menewaskan empat penduduk pulau itu. Insiden penembakan itu sempat memicu kekhawatiran perang akan pecah kembali di Semenanjung Korea.


  ⚓ Kompas  

Soal Pembelian Tank Leopard, TNI AD Bantah Kritikan Habibie

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgg2hj76lKHZQ_CWFnGfIzHhD-fWS7XrMhit6eg0RLEsLT_KhAi6EUDn_rvRL72_CoGuGML9TugEtkzHBs6quOpLsv9b0-UnucvN0qeiM-E0NiEAD5Vr0GtHLUDdqTo7b-CM9kBk6OgtZA/s1600/1398805_20131005123334(jaka92).jpg

Jakarta ☆ TNI Angkatan Darat membantah kritikan mantan Presiden BJ Habibie terkait dengan pembelian tank Leopard dari Jerman oleh pemerintah Indonesia. Menurut TNI AD, tidak benar tank Leopard yang termasuk dalam tank tempur utama (main battle tankatau MBT) adalah tank yang dikhususkan untuk negara yang memiliki padang pasir.

"Dari 20 negara pengguna tank Leopard, hanya 3 negara (15 %) yang memiliki padang pasir. Sedangkan 85% dari negara-negara tersebut tidak memiliki padang pasir," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Andika Perkasa dalam rilisnya yang diterima Liputan6.com, Minggu (30/3/2014) malam.

Menurut Andika, saat ini ada 140 negara pengguna MBT diseluruh dunia, dengan 65 jenis MBT yang berbeda. Khusus untuk tank Leopard digunakan oleh 20 negara besar. Mulai dari Australia, Austria, Brasil, Kanada, Cile, Denmark, Finlandia, Jerman, Yunani, Indonesia, Italia, Lebanon, Norwegia, Polandia, Portugal, Singapura, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Turki.

TNI AD juga membantah kritikan Habibie yang mengatakan berat tank Leopard yang mencapai 60 ton tak mampu melintasi medan-medan di Indonesia.

Menurut TNI AD, Sekalipun berat Leopard lebih kurang 60 ton, tekanan jejak pada tanah hanya 0.8 kg/cm2 atau 8.9 ton/m2. Tekanan jejak ini relatif sama dengan tank AMX-13 yang memiliki berat 14.5 ton dan Scorpion dengan berat 8 ton.

"Dengan tekanan jejak 8.9 ton/m2, tank Leopard sangat memenuhi syarat untuk digunakan di jalan kelas 1 dan 2 di Indonesia. Beban terbagi rata tank Leopard juga masih lebih kecil dari jembatan kelas A dan B di Indonesia dengan lebar 6 meter dan panjang 40 meter," terang Andika.

Selain itu, tank Leopard juga mampu bermanuver off road di permukaan berlumpur dan di sungai dengan kedalaman kurang dari 4 meter.

Dari kebutuhan 103 garasi tank Leopard, 82 di antaranya (79.6 %) sudah selesai dibangun di berbagai lokasi penempatan. Sisanya akan diselesaikan tahun 2014 ini.

Penempatan 103 unit tank Leopard TNI AD adalah:

Batalyon Kavaleri 1 Kostrad, Cijantung (total 41)
* 13 Leopard 2A4.
* 28 Leopard 2 RI.

- Batalyon Kavaleri 8 Kostrad, Pasuruan (total 41)
* 28 Leopard 2A4.
* 13 Leopard 2 RI.

Pusat Pendidikan Kavaleri, Padalarang (total 4)
* 3 Leopard 2 RI.
* 1 Leopard 2A4.

Kompi Kavaleri CAMB, Sentul
* 13 Leopard 2 RI.

Kompi Kavaleri Pusat Latihan Pertempuran, Baturaja (total 4)
* 4 Leopard 2 RI.


  ⚓ Liputan 6  

Prajurit Kopassus yang Tak Memenuhi Standart akan "Dikeluarkan"



Sukoharjo ☆ Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Budiman melakukan kunjungan ke markas Grup 2 Kopassus Kartasura, Sukoharjo, Jumat (28/3). Di sana, orang nomor satu di jajaran TNI AD tersebut memantau langsung kondisi pasukan elit tersebut. Budiman pun dengan tegas meminta agar prajurit Kopassus terus meningkatkan kemampuannya. Jika seorang prajurit Kopassus tak lagi memenuhi standart, maka dia harus dikeluarkan ke satuan lain.

"Namanya saja pasukan khusus bukan prajurit biasa, mereka memiliki kemampuan yang profesional," kata Budiman di Markas Grup 2 Kopassus Kartasura Sukoharjo.

Kata dia, Koemandan Jendral Kopassus akan segera melakukan pemeriksaan anggotanya. Nah, jika ada yang tidak memenuhi standar maka mereka harus dikeluarkan. Nantinya Kopassus akan melakukan merekrut prajurit muda yang memiliki kemampuan lebih. Dengan cara itu maka Kopassus akan tetap spesial.

Prajurit yang dikeluarkan dari Kopasuss akan dipindahkan ke satuan lain di Kodam.

Menurut Budiman, pihaknya sengaja melakukan kunjungan ke Grup 2 Kopassus Kartasura Sukoharjo dan kemudian ke Batalion 413 Kostrad di Karanganyar karena melihat langsung kenyataan di lapangan. "Saya datang melakukan pengecekan dan melakukan langkah-langkah selanjutnya. Namun, semua itu, sudah dilakukan saat saya menjabat Wakasad," katanya.

"Saya setelah melihat langsung kondisi perumahan anggota Kopassus merasa `nelongso`, karena mereka dituntut tugas berat tetapi kami tidak memberikan sesuatu yang layak," imbuhnya.

Karenanya, pembangunan perumahan anggota di Grup 2 Kopassus lebih diprioritaskan, dan dikerjakan segera mungkin dengan anggaran cadangan yang ada.(antara/rr/mas)


  ⚓ JPNN  

Mantan OPM tegaskan tuduhan pelanggaran HAM adalah kebohongan

Jakarta ◆ Tuduhan negara Vanuatu bahwa terjadi pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran di Papua adalah sebuah kebohongan yang justru melukai masyarakat di negeri "burung surga", kata mantan wakil menteri luar negeri Organisasi Papua Merdeka, Nicholas Messet.

"Pernyataan Kalosil merupakan sebuah kebohongan. Masyarakat Papua telah menolak tudingan itu karena tidak berdasar dan mengandung unsur politis terselubung," kata Nicholas di Jakarta, Rabu.

Sebelumnya, Perdana Menteri Vanuatu Moana Carcasses Kalosil meminta Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk melakukan penyelidikan formal atas pelanggaran HAM di Papua.

"(Masyarakat internasional) telah mengabaikan suara masyarakat Papua yang dilanggar hak asasinya dan dengan kejam direpresi oleh aparat keamanan sejak 1969", kata Kalosil di depan sidang hak asasi manusia PBB di Jenewa pada 4 Maret lalu.

Menurut Kalosil, pasukan keamaanan Indonesia telah melakukan serangkaian penyiksaan, pembunuhan, perkosaan, dan penangkapan kepada masyaraakat Papua serta memecah belah masyarakat di wilayah itu dengan operasi intelejen.

Namun di sisi lain, Nicholas mengatakan bahwa bukti foto-foto yang diklaim sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang digunakan Kolasil sebagai dasar argumentasi adalah kejadian pada sekitar tahun 1970-an.

Bagi Nicholas, adanya pelanggaran HAM pada tahun 1970-an mulai dari Aceh sampai Papua memang merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri.

"Namun saat Soeharto turun dan era reformasi bergulir dan kebebasan demokrasi dikedepankan, pelanggaran HAM sudah tidak ada lagi," imbuh tokoh yang bergabung dengan NKRI tahun 2007 ini.

Nicholas mengatakan bahwa kondisi Papua saat ini sudah jauh lebih baik dibanding era Orde Baru tahun 1970an. Papua menurut dia sedang mengalami pertumbuhan ekonomi dan perkembangan infrastruktur yang baik, demikian juga dengan penegakan hukum.(G005/M009) 


  ★ Antara  

Benarkah calon presiden Indonesia harus direstui Amerika?


Jakarta (MI) : Peserta konvensi calon presiden Partai DemokratDino Patti Djalal menyebut bahwa calon presiden (capres) Indonesia mesti mendapat restu dari Amerika Serikat (AS) tidak benar. Dia menyebut kabar itu hanya sebuah mitos yang tak bisa dibuktikan kebenarannya.

"Enggak perlu sama sekali. Itu adalah mitos terbesar," kata Dino saat berbincang dengan wartawan di Hotel Harmoni, Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (30/3).

Sebagai diplomat, Dino melihat mitos tersebut seolah menjadi gejala yang melekat di mata politikus Indonesia. Bahkan, isu tersebut juga terdapat dalam pikiran masyarakat Indonesia.

Mantan duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu menambahkan, semasa menjabat sebagai diplomat, dirinya mengetahui bahwa pemerintah AS tidak terlalu ikut campur sistem demokrasi di negara lain. Menurutnya, pemerintahan Barack Obama itu hanya ingin memastikan bahwa demokrasi, terutama pemilu berjalan aman dan bebas.

"Mereka tahu kepekaan kita, tentu rakyat Indonesia akan bereaksi," pungkasnya.

Sumber : Merdeka

Siaga Konflik Laut China Selatan, TNI Perkuat Pulau Terluar


Jakarta (MI) : Panglima TNI Jenderal Moeldoko berencana memperkuat kekuatan di Pulau Natuna, Kepulauan Riau untuk mengantisipasi hal-hal negatif akibat konflik Laut China Selatan. Moeldoko pun mengumpulkan seluruh Kepala Staf Angkatan untuk mencari solusi penguatan pulau strategis Indonesia yang berbatasan dengan Laut China Selatan tersebut.

"Bila terjadi sesuatu di sana akan merembes ke Indonesia," kata Moeldoko pada 3 Maret 2014 lalu.

Terkait rencana Jenderal Moeldoko, TNI Angkatan Udara akan melakukan perbaikan Lanud Ranai Pulau Natuna dan menempatkan skadron move atau bisa berpindah home base. Agar Lanud Ranai bisa menjadi hardened shelter pesawat tempur seperti Sukhoi, F-16, Golden Eagle dan jenis lainnya.

"Skadron move untuk hardened shelter sewaktu-waktu bisa dilaksanakan tergantung kebutuhan operasi," tulis Kadis Penerangan TNI AU Marsma Hadi Tjahjanto melalui pesan singkat kepada Liputan6.com di Jakarta Minggu (30/3/2014).

Hadi menambahkan, untuk wewenang penggunaan kekuatan sepenuhnya di bawah Panglima TNI. Kemudian, kewenangan ini akan ditindakanjuti ke Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) atau Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau).

"Bisa Kohanudnas bisa Koopsau, tergantung jenis operasi. Karena doktrin kita masih seperti itu," tutup jenderal berkumis ini.

Sebelumnya, untuk mengantisipasi gangguan kedaulatan, TNI Angkatan Darat berencana menambah 1 batalyon dan menempatkan Helikopter Apache AH-64 di Pulau Natuna. Kehadiran helikopter buatan Amerika ini diharapkan bisa menjadi deterrent effect.

"Kenapa Natuna? Karena lebih untuk deterrent effect atau efek penangkalan. Jadi seperti psywar atau perang psikologis," ujar Kadispen TNI AD, Brigjen Andika Perkasa .

Selain itu, Mabes TNI juga akan meningkatkan status Pangkalan Angkatan Laut menjadi Pangkalan Utama Angkatan Laut. Alat utama sistem senjata (alutsista) canggih pun akan mengisi pulau terluar Indonesia tersebut.

Pulau Natuna dengan luas daratan 2.631 kilometer persegi, di utara berbatasan dengan perairan Vietnam, dan wilayah timurnya berbatasan dengan Malaysia Timur, Kalimantan Barat dan Brunei Darussalam. Sementara itu, di barat Pulau Natuna dengan luas lautan 262.156 kilometer persegi berbatasan dengan Semenanjung Malaysia Barat.

Sementara, meski mereda, permasalahan Laut China Selatan punya potensi 'kambuh'. China, Malaysia, Vietnam, dan Taiwan mengklaim wilayah laut yang diyakini memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat banyak itu.

China mengklaim sekitar 90 persen dari 3,5 juta kilometer persegi Laut China Selatan, yang bersinggungan dengan Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Taiwan. China juga berencana menetapkan Zona Indentifikasi Pertahahan Udara (ADIZ) di Laut China Selatan.

Sumber :  Liputan6

KSAD Cek Helikopter dan Rudal, Siap Jika Diminta Bantu Amankan Pemilu


Semarang (MI) : KSAD Jenderal TNI Budiman mengecek kesiapan alutsista dan persenjataan di Lanumad Ahmad Yani Semarang. Pengecekan tersebut dilakukan juga untuk kesiapan membantu pengamanan pelaksanaan pemilu.

Menurut Jenderal TNI Budiman, jika pihaknya diminta untuk membantu pengamanan pemilu dan harus mengerahkan personel ataupun alutsista dengan jumlah yang masif, maka sudah dipastikan semua siap.

"Saya cek kesiapan kalau memang dibutuhkan dalam jumlah masif, kita siap," kata Jenderal TNI Budiman usai melakukan pengecekan alutsista di Lanumad Ahmad Yani Semarang, Kamis (27/3/2014).

Pengecekan dilakukan KSAD didampingi Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Sunindyo di run way Lanumad Ahmad Yani Semarang. Di sana digelar sejumlah helikopter dan senjatanya. Antara lain helikopter jenis MI 17, MI 35, dan Bell 412 beserta rudal ataupun roket.

Hingga kini, lanjut Budiman, sudah ada 40 helikopter dan pesawat yang siap terbang jika nantinya dibutuhkan untuk pelaksanaan atau pengamanan pemilu.

"Bila butuh jumlah masif, rekan-rekan bisa lihat yang betul-betul siap terbang 40 unit. Kalau semua dikumpulkan luar biasa," tandasnya.

Untuk memaksimalkan kesiapan alutsista, pihaknya akan mengusahakan memperbaiki alutsista yang mengalami kerusakan. Namun yang akan diprioritaskan adalah alutsista dengan kerusakan paling ringan dahulu.

"Mudah-mudahan bisa meng-playable-kan karena ternyata cost tidak terlalu mahal, masih masuk anggaran pemeliharaan saya," tutur Budiman.

Meski mengaku sudah siap, pihaknya tidak kemudian langsung menawarkan bantuan kepada KPU. "Komunikasi KPU, saya tidak akan menawarkan, tapi Dandim dan Danrem sudah komunikasi," tutupnya.

Sumber : Detik

Militer 17 Negara Latihan Gabungan Bareng TNI di Kepulauan Riau


Batam (MI) : Sebanyak 4.885 personel militer dari 17 negara menggelar latihan gabungan bersama TNI di wilayah Kepulauan Riau. Latihan yang dinamai Latma Komodo 2014 ini merupakan latihan multilateral untuk penanggulangan bencana alam.

Latihan bersama (Latma) ini bernama Multilateral Naval Exercise Komodo 2014, resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Djoko Suyanto di Ball Room Swiss Belhotel, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (29/3/2014).

Acara peresmian dihadiri Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Marsetio, para Kasal negara-negara peserta, para Duta Besar asing, para Kepala Delegasi dan Atase Pertahanan negara-negara peserta, para pejabat Mabes TNI, TNI AL, TNI AU, dan Polri, para Komandan Kapal negara-negara peserta, serta Gubernur Kepulauan Riau H Muhammad Sani.

Sebanyak 4.885 personel yang terlibat latihan terdiri dari 3.000 personel TNI AL yang diperkuat TNI AD, TNI AU, dan Polri, serta 1.885 personel AL dari 17 negara ASEAN dan sahabat.

Selain Indonesia, 17 negara yang ikut serta adalah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Laos, India, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Amerika Serikat, China, Rusia, dan Australia. Selain itu, tak ketinggalan pula 25 personel PBB, Uni Eropa, Belanda, Spanyol dan ASEAN sebagai observer.

Latma Komodo 2014 merupakan latihan multilateral pada aspek nonwarfighting yaitu penangulangan bencana alam (Disaster relief) dan bakti sosial (Humanitarian Civic action).

Dalam latma ini, TNI AL mengerahkan 19 kapal perang, 6 pesawat udara yang terdiri dari dua fixed wing dan empat rotary wing, termasuk terlibat pula unsur-unsur dari Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Departemen Perhubungan (Dephub) sebanyak dua kapal, dan satu kapal dari SKK Migas.

Sedangkan dari negara-negara asing mengerahkan 14 kapal perang, empat helikopter. Lokasi latihan dilaksanakan di perairan yurisdiksi nasional Indonesia di Laut Natuna dan Kepulauan Anambas. Adapun kegiatan civic mission dilaksanakan secara serentak di tujuh lokasi yang berada di wilayah kerja Lanal Ranai (Laut Natuna) dan Lanal Tarempa (Kepulauan Anambas).

Latma ini sebagai tindak lanjut dari ASEAN Agreement on Dissaster Management and Emergency Response sesuai agenda kerja sama pada ASEAN Defence Minister’s Meeting (ADMM). Sehingga latma Multilateral Naval Exercise Komodo 2014 menitikberatkan materi latihan pada aspek nonwarfighting, yaitu mengorganisir dan kerja sama antarnegara terhadap berbagai bentuk ancaman keamanan maritim, dengan memfokuskan pada materi latihan meliputi: Humanitarian Assistance (HA) dan Humanitarian Civic Action (HCA), Disaster Relief (DR), menghadapi Transnational Organized Crimes (TOC), dan Peace Keeping Operation (PKO).

Latma ini juga diselenggarakan dalam bentuk Indonesia Maritime Festival 2014, dengan acara antara lain kegiatan pameran maritim; meliputi transportasi maritim, pariwisata, dan ekonomi kerakyatan dan kreatif, produk-produk kemaritiman; kegiatan olahraga; yakni triathlon, fun bike, lomba perahu naga, sepak bola gembira, dan bola basket; serta kegiatan hiburan; yakni jazz festival, konser band, kirab kota, serta lomba masak.

Sumber : Detik

`Psywar`, TNI AD Tempatkan Helikopter Canggih Apache di Natuna


Jakarta (MI) : Untuk melengkapi kekuatannya, TNI Angkatan Darat membeli 8 helikopter canggih, Apache AH-64 E dari Amerika Serikat. Kepala Staff Angkatan Darat, Jenderal Budiman mengatakan, salah satu penempatannya adalah di Natuna.

Umumnya, penggunaan Apache sering dilakukan di lokasi darat. Lalu, apa fungsinya di Kepulauan seperti Natuna?

Menurut situs www.army-technology.com, Helikopter Apache AH-64 E menggunakan Small Tactical Terminal (STT) KOR-24 yang menghasilkan terminal radio frekuensi sangat tinggi (VHF/UHF). Selain itu dengan sensor elektro-optik dan inframerah (EO/IR) pilot Apache bisa menghadapi atau melakukan serangan terhadap kapal kecil.

"AH-64E memiliki kemampuan diagnostik mandiri,  instrumen data Link-16, dan radar  Longbow yang diperbarui," demikian tuliswww.militaryaerospace.com yang dikutip Liputan6.com, Minggu (30/3/2014). Heli itu juga punya kemampuan menyerang.

Saat dihubungi, Kadispen TNI AD, Brigjen Andika Perkasa mengatakan, penempatan helikopter canggih ini fungsinya untuk menjadideterrent effect terhadap gangguan kedaulatan NKRI. Untuk jumlah yang akan ditempatkan di Natuna ditentukan sebelum Apache tiba di tanah air.

"Kenapa Natuna? Karena lebih untuk deterrent effect atau efek penangkalan. Jadi  seperti psywar atau perang psikologis. Untuk jumlah, jadi tidak perlu dikhawatirkan mungkin 2016 baru fix-lah keputusan pimpinan di mana akan ditempatkan berapa unit yang jelas tidak mungkin ditempatkan di satu lokasi semuanya," imbuhnya.

Ditambahkan Jenderal bintang satu ini, tahun ini para penerbang TNI AD (penerbad) akan dikirim ke Amerika Serikat untuk belajar mengoperasikan Apache. Ke depan, para penerbang  yang belajar di Fasilitas Boeing Mesa, Arizona Amerika Serikat ini akan menjadi instruktur di dalam negeri.

"Mereka yang dilatih sekarang akan dijadikan pelatih. Dan mereka akan melatih penerbang-penerbang muda kita berikutnya yang akan terus datang setiap tahun," tutupnya.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Minggu 16 Februari 2014, Jenderal Budiman mengatakan pihaknya membeli Helikopter Apache AH-64 E baru dari Amerika Serikat. Helikopter canggih ini akan datang pada akhir tahun 2017.

"Nanti akan dibeli lagi baru yaitu helikopter jenis Apache sebanyak 8 unit yang akan datang akhir tahun 2017 dengan kemampuan bisa over dengan ketinggian tertentu dengan radar Longbow, sasaran 50 kilometer terdeteksi sekaligus mengunci 20 sasaran serta bisa langsung kena sasaran secara bersamaan hanya dengan 1 tekan tombol," ucap Budiman.

Untuk mengoperasikan 8 unit Apache, TNI AD menyiapkan 24 penerbang dan 59 teknisi. Kehadirannya diharapkan membantu menjaga pertahanan dan kedaulatan NKRI. 

Sumber :  Liputan6

Rusia: pembicaraan Ukraina bisa batal

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan tindakan bersenjata apapun yang dilakukan oleh pemerintah Ukraina di sebelah timur negara itu akan merusak rencana perundingan.

Komentar ini diucapkan setelah militan pro-Rusia menyerbu markas kepolisian di Kramatorsk, wilayah bagian timur Ukraina pada Sabtu (12/04).

Lavrov mengatakan pemerintah Ukraina telah "menunjukan ketidakmampuan mereka untuk menentukan masa depan negaranya."

Pembicaraan antara Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, dan Uni Eropa dijadwalkan akan berlangsung di Jenewa pada Kamis mendatang (17/04).

AS telah mengutuk peran Rusia yang "menghasut" sehingga menciptakan kekacauan di Ukraina timur.

Rusia sejauh ini membantah terlibat langsung terhadap konflik yang terjadi di daerah itu.

Namun AS mengatakan ada "pergerakan terpusat" yang dilakukan secara sengaja dengan dukungan dari Rusia untuk mengusik pemerintahan baru di Kiev.

Dalam sambungan telepon, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry mendesak Rusia untuk meredam konflik. Jika tidak, Rusia harus bersiap untuk menghadapi sejumlah sanksi tambahan dari pihak internasional.

Kerry mengatakan serangan di timur Ukraina mirip dengan gerakan Krimea awal tahun ini.

"Jika Rusia tidak mengambil langkah-langkah untuk menurunkan ketegangan di Ukraina timur dan memindahkan pasukannya kembali dari perbatasan Ukraina, akan ada konsekuensi tambahan," ia memperingatkan.

(bbc/bbc)
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner