Select Language

Senin, 03 Februari 2014

TNI akan tempatkan kapal perang di Muntok

Pangkalan TNI AL Kepulauan Bangka Belitung berencana menempatkan sejumlah kapal perang di wilayah perairan Muntok, Kabupaten Bangka Barat untuk membantu pengamanan laut di daerah itu.

"Perairan laut memiliki tingkat kerawanan pelanggaran hukum tinggi, keberadaan kapal perang di perairan Muntok kami harapkan mampu menekan kemungkinan tersebut," ujar Komandan Pangkalan TNI AL Babel Kolonel Laut (P) Iwa Kartiwa saat mengunjungi Pos TNI AL Muntok dalam rangka menghadiri peringatan Hari Dharma Samudra 2014, Rabu.

Iwa Kartiwa mengatakan bahwa saat ini seluruh enam unit kapal perang yang dimiliki Pangkalan TNI AL Babel berlabuh di Pelabuhan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang.

"Jika terjadi sesuatu di perairan Muntok memerlukan waktu cukup lama karena jarak antara Pangkalbalam dan Muntok terlalu jauh, kami harapkan dengan adanya minimal satu unit kapal perang di Muntok akan bisa membantu pengamanan kawasan perairan Muntok," kata dia.

Ia menjelaskan bahwa wilayah perairan merupakan daerah yang cukup rawan akan terjadinya berbagai tindak kejahatan, seperti perompakan, penyelundupan, dan penangkapan ikan ilegal.

"Kami harapkan dengan adanya kapal perang di perairan Muntok akan mampu mengantisipasi hal tersebut, dan kami nilai kedalaman di perairan juga mendukung," kata dia.

Peringatan Hari Dharma Samudra 2014 yang digelar merupakan peringatan setiap tahun sekali untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur pada pertempuran di Laut Aru puluhan tahun silam.

Saat itu, terjadi pertempuran antara tiga armada kapal cepat torpedo milik TNI AL, yaitu KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau.

Pada pertempuran melawan kapal perang kerajaan Belanda itu mengakibatkan tenggelamnya KRI Macan Tutul serta gugurnya Komodor Yos Sudarso beserta 25 ABK, yang salah satu di antaranya adalah putra Babel, yaitu Kelasi II Sahabudin.

Pada peringatan Hari Dharma Samudra kali ini Pangkalan TNI AL Babel bekerja sama dengan Pemkab Bangka Barat, dan swasta menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis, sunatan massal, dan pengasapan lingkungan atau "fogging" yang dipusatkan di Pos AL Muntok.

"Pelayanan kesehatan bagi masyarakat ini merupakan salah satu bentuk kepedulian, solidaritas, kami harapkan kegiatan ini bermanfaat dan mampu mempererat kesatuan dan persatuan," demikian Iwa Kartiwa.


Pengerahan Armada Perang Ke Perbatasan Sesuai Skala Prioritas

JAKARTA-(IDB) : TNI-AL akhirnya mengeluarkan sikap terkait dengan pengerahan sejumlah kapal perang ke kawasan perbatasan laut di Indonesia Timur belakangan ini. Pihak TNI-AL menegaskan, penambahan kapal perang itu tidak memiliki alasan khusus karena menyesuaikan dengan kebutuhan di wilayah yang memang sangat luas.

Kadispenal Laksamana Pertama Untung Suropati saat dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya menambah sejumlah kapal perang ke wilayah perbatasan dengan Australia. Meski begitu, Untung menolak jika penambahan tersebut dikhususkan untuk merespons kasus pelanggaran batas wilayah yang dilakukan Angkatan Laut Australia.

Menurut Untung, pihaknya tidak pernah membuat skala prioritas dalam pengerahan armada. Pengerahan armada dilakukan setelah ada analisis mengenai situasi di lapangan. Jika memang diperlukan adanya tambahan, armada akan ditambah. “Intensitas patroli memang kami tingkatkan, namun itu hal biasa untuk menjaga wilayah perbatasan kita,” ujar Untung kemarin (31/1).

Alumnus US Naval War College 2009 itu mengibaratkan menjaga perbatasan negara seperti menjaga rumah sendiri. “Kalau ketua RT mengingatkan kampung kita rawan kejahatan, otomatis kita juga akan meningkatkan kewaspadaan,” lanjutnya. Untung juga tidak menyebutkan berapa jumlah armada yang dikerahkan ke kawasan yang langsung berbatasan dengan perairan Australia itu.

Menyikapi pelanggaran yang dilakukan AL Australia, Untung memilih berhati-hati. Pihaknya mengikuti langkah yang diambil pemerintah Indonesia, dalam hal ini presiden dan panglima TNI. “Umumnya di berbagai negara, sepanjang (pelanggaran) tidak provokatif, tidak mendramatisasi, saya rasa masih oke,” tambahnya. Terlebih, secara khusus Australia sudah meminta maaf kepada pemerintah Indonesia.

Sebelumnya muncul informasi bahwa TNI-AL merespons pelanggaran AL Australia dengan mengerahkan sejumlah kapal perang ke Laut Timor dan Arafuru. Kapal yang dikirim, antara lain, fregat, kapal cepat torpedo (KCT), kapal cepat rudal, (KCR), dan korvet. Juga, pesawat patroli perairan.
Sumber : Kaltimpost

LSA-01 Lapan Mampu Pantau Wilayah Indonesia

TANGERANG-(IDB) : Kini, Indonesia memiliki Pesawat Pengamat Wilayah. Lapan bekerja sama dengan Universitas Berlin, Jerman, berhasil mengembangkan pesawat pengamat yakni Lapan Surveillance Aircraft (PK-LSA01). 

Pesawat ini menjadi bagian pemanfaatan untuk kepentingan memotret wilayah di Indonesia. Selasa (28/1), Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana meresmikan Pesawat LSA di Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BBKFP) Ditjen Perhubungan Udara, Curug, Tangerang.

Program pesawat LSA ini merupakan bagian dari program utama Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) Lapan. Selain LSA, Pustekbang juga memiliki program pengembangan pesawat tanpa awak (Lapan Surveillance UAV – LSU) dan program pengembangan pesawat transport nasional (N-219).

Pesawat LSA memiliki beberapa misi yakni akurasi citra satelit, verifikasi dan validasi citra satelit, monitoring produksi pertanian, aerial photogrammetry, pemantauan, pemetaan banjir, deteksi kebakaran, search and rescue (SAR), pemantauan perbatasan dan kehutanan, serta pemetaan tata kota.

Misi pesawat LSA ini dapat memperkuat sistem pemantauan nasional. Indonesia yang berpulau ini sangat memerlukan sistem pemantauan wilayah. Selain menggunakan teknologi satelit, diperlukan pula sistem pemantauan yang lebih impresif dengan menggunakan pesawat terbang. LSA tersebut sekaligus memperkuat penguasaan teknologi terbaru pesawat terbang. 

Pesawat LSA ini juga mampu mengakurasikan data dari foto citra satelit dengan resolusi tinggi yang telah digabung dengan satelit-satelit lain, dan mampu konfirmasi ulang langsung di lapangan secara acak. Dengan kemampuan terbang non-stop selama 6-8 jam, jangkauan tempuh 1.300 kilometer, dan dapat membawa muatan hingga 160 kg, LSA ini berpotensi untuk melakukan patroli sistem kelautan di Indonesia.



Dalam peresmian LSA, Kepala Lapan menargetkan selama lima tahun ke depan, pesawat ini dapat memiliki fungsi autonomous. Menurut ia, keuntungan sistem autonomous selain dapat bermanuver secara otomatis, kualitas dalam menjalankan misi surveillance dapat lebih presisi, efisien, dan efektif. 

“Dalam skema prosesnya, awalnya pesawat ini masih dikendalikan oleh pilot untuk lepas landas dan mendarat. Dan setelah mengudara, sistem autonomous ini akan aktif sehingga tidak memerlukan kendali dari pilot. Namun, jika ada hal yang tingkat urgensitasnya tinggi, pilot dapat mengintervensi,” ujarnya.

Saat ini pesawat telah siap dan sudah melakukan tes penerbangan perdana (flight test), ia berharap pesawat ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan surveillance di Indonesia.

Sumber : Lapan

Batalyon Komando 463 Paskhas Refreshing Free Fall Dan Terjun Static

MAGETAN-(IDB) : Di medan operasi salah satu tugas pokok prajurit Paskhas adalah melaksanakan penerjunan, baik penerjunan High Altitude Hight Opening (Haho) High Altitude Low Opening (Halo) maupun terjun static, sehingga pembinaan fisik maupun ketrampilan setiap diri prajurit Paskhas harus terus di jaga.

Oleh karena itu, dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules Rabu (29/1), prajurit Batalyon Komando 463 Paskhas me-refresh kembali kemampuan terjung free falldan terjun static guna untuk lebih meningkatkan kemampuan dan ketrampilan prajurit Batalyon Komando 463 Paskhas dalam hal terjun tempur sehingga akan tercapai kesiapan operasional yang tinggi.

 
Refreshing terjun static diikuti oleh 146 prajurit Batalyon Komando 463 Paskhas, sementara refreshing terjung Bebas / free fall dengan menggunakan Dropping Zone main aprron Lanud Iswahjudi tersebut dilaksanakan oleh 35 peterjun gabungan yang terdiri dari atlit Fasida, Wara dan Paskhas, sebanyak satu shortie di atas ketinggian 5000 feet. 

Sumber : TNI AU 

Pasuruan Siap Jadi Markas Leopard

PASURUAN-(IDB) : TNI AD melakukan sejumlah persiapan untuk menyambut tambahan alutsista kelas berat main battle tank (MBT) Leopard yang akan didatangkan tahun ini.
Persiapan itu adalah garasi beserta SDM yang akan mengoperasikannya. Salah satu lokasi garasi leopard tersebut ada di Pasuruan, Jatim.
   
Rencananya, tank bikinan Jerman seberat 62 ton itu akan bermarkas di Batalyon Kavaleri 8 (Yonkav 8) Divisi 2 Kostrad Pasuruan.
 
"Tank Leopard yang akan ditempatkan di Satuan Yonkav 8 ini sekitar 40 unit," ujar Menteri pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam siaran pers yang diterima Jawa Pos.
   
Menurut Menhan, garasi beserta sarana pendukung di Yonkav 8 sudah tersedia sehingga Leopard bisa langsung masuk. Sedikitnya ada 33 garasi khusus di Yonkav 8 yang telah siap 100 persen. Masing-masing garasi dapat menahan beban sekitar 70 ton.
   
Untuk dukungan SDM, Yonkav 8 telah menyiapkan sejumlah personel terlatih. Di antaranya, 60 komandan kendaraan, 60 pengemudi, 41 penembak, dan 41 loader. Mereka akan didukung 24 orang teknisi. Terdiri dari teknisi mesin 8 orang, teknisi alat komunikasi 8 orang, dan teknisi senjata 8 orang.
   
Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan jika pihaknya saat ini sedang menyiapkan lahan untuk latihan leopard tersebut. terutama, untuk latihan manuver dan menembak. Lahan untuk latihan itu tentunya berbeda dengan lokasi latihan militer umumnya karena akan dilewati kendaraan tempur kelas berat.
   
"Itu yang sedang kami pikirkan. Kalau tidak (representatif) nanti bisa mengganggu lalu lintas atau lingkungan sekitarnya," ujarnya.
 
Meski begitu, secara umum Yonkav 8 dinilai sudah siap untuk menampung tank Leopard yang dijadwalkan tiba sebelum Agustus tahun ini.
      
Sebelumnya, KSAD Jenderal Budiman mengumumkan jika kesatuannya akan memborong alutsista tahun ini. Di antaranya adalah 52 unit main battle tank (MBT) Leopard 2A4 Revolution baru. Kemudian, tahun depan masih ada 71 MBT lagi yang didatangkan.
      
Selain itu, TNI AD juga membeli 81 rudal anti serangan udara, serta meriam Caesar 155 mm dan Multi Launcher Rocket System (MLRS) masing-masing dua batalyon. Aksi borong berlanjut dengan pembelian sejumlah helikopter, seperti Eurocopter Fennec 12 unit dan Bell Helicopter 16 unit. "Apache juga akan didatangkan tapi tahun 2017," lanjutnya.

Sumber : JPNN

Memperkuat Daya Tawar Indonesia

SURABAYA-(IDB) : TNI Angkatan Laut (AL) tengah menghitung hari menyambut datangnya KRI Bung Tomo 357. Rabu kemarin, tim TNI AL yang bertugas menjemput sudah melakukan ”ritual” sebelum terbang ke Jerman untuk membawa korvet ke Tanah Air yang diretrofit di galangan kapal Lusern. 

KRI Bung Tomo sendiri adalah metamorfosa korvet milik Brunai Darussalam, KDB Nakhoda Ragam Class, yang dijual ke Indonesia dengan harga sangat murah, yakni USD300 juta untuk tiga kapal sejenis, belum termasuk biaya retrofit. Dua kapal lainnya, KDB Bendahara Sakam KDB Jerambak yang akan menyusul kemudian, konon juga akan dinamai pejuang pembela kemerdekaan, yakni KRI Usman-Harun dan KRI John Lie. Terlepas dari pro-kontra kenapa Brunai tidak jadi menggunakan kapal tersebut, Indonesia memandang kapal tersebut sangat layak. 

Bahkan, sistem persenjataan dan komunikasinya lebih canggih dibandingkan korvet sigma yang dibeli dari Belanda. Untuk sistem senjata, misalnya, KRI Bung Tomo dicanteli Oto Melara, VLS Mica, Exo Block II, dan torpedo Stinger. Kedatangan kapal dengan senjata canggih dan lengkap tentu akan memacu kepercayaan diri prajurit untuk mengawal kedaulatan NKRI. Kekuatan korvet ragam kelas yang disandingkan dengan kelas Sigma, kelas Van Speijk, KCR, kapal selam, dan aneka jenis kapal perang lainnya yang telah dimiliki bangsa ini, sudah barang tentu juga akan melambungkan daya tangkal Indonesia di lautan. 

Namun sering luput dari pengamatan publik, kedatangan KRI Bung Tomo mengindikasikan meningkatnya daya tawar diplomasi bangsa ini di fora internasional. Mengapa demikian? Pembelian kapal tipe F2000 Corvette buatan BAE System Maritime-Naval Ships Inggris bisa disebut sebagai bukti konkret terbukanya kembali kerja sama militer Indonesia dengan negerinya Ratu Elizabeth tersebut, cara pandang baru mereka terhadap negeri ini. 

Seperti diketahui, sebelumnya Inggris pernah mengembargo penjualan senjata terkait tuduhan Indonesia menggunakan pesawat Hawk untuk mengebom sipil saat konflik Timor Timur. Selain menyetujui penjualan ragam kelas, Inggris telah menjual rudal Startreak dan beberapa alutsista lain. Tidak dapat dimungkiri, keputusan Inggris kembali menjual alutsista ke Indonesia tidak terlepas dari pragmatisme ekonomi. Inggris yang tengah mengalami kelesuan ekonomi tentu ingin menikmati dana segar dari Indonesia yang sedang gencar-gencarnya meningkatkan kapabilitas persenjataannya. 
Namun tak dapat dimungkiri pula, sikap baru Inggris itu mencerminkan pengakuan terhadap kekuatan diplomasi Indonesia negara bebas aktif yang mempunyai peran signifikan dalam membangun perdamaian dunia. Hal ini secara tidak langsung juga merupakan bentuk pengakuan bahwa Indonesia bukanlah negara pelanggar HAM dan berpotensi menjadi agresor. 

Hal ini bukanlah isapan jempol. Lihatlah peran Indonesia meredam konflik Laut China Selatan (LCS), konflik Suriah, dan lainnya. Pasukan TNI juga seolah sudah menjadi tulang punggung PBB dalam setiap misi peace keeping operation di beberapa konflik di berbagai belahan dunia. 

Perspektif yang demikian sangat mungkin ada di benak Amerika Serikat. Negeri Paman Sam itu pelan namun pasti mulai mengobral senjatanya untuk Indonesia, dari hibah pesawat F-16, pembelian peluncur rudal antitank (ATGM) Javelin, helikopter Apache, hingga rencana pembelian Black Hawk. Jika negara-negara yang pernah menjaga jarak dengan Indonesia sudah demikian, apalagi negara-negara yang secara konsisten membangun hubungan baik dengan Rusia, China, Jerman, Prancis, dan lainnya sudah pasti akan ringan tangan memberikan alutsista terbaiknya karena sudah paham pembelian senjata bukan sekadar untuk alat pertahanan, melainkan juga memperkuat daya tawar Indonesia untuk mendorong terwujudnya perdamaian dunia.

Sumber : Sindo

Hacker Indonesia Juara 2 Dunia Selama Juli September 2013

MERDEKA-(IDB) : Akamai kembali mengeluarkan laporan kondisi internet dunia pada kuartal ketiga 2013. Dalam laporan tersebut, dilampirkan pula beberapa negara dengan tingkat serangan hacker tertinggi di dunia.
 
Jika pada kuartal sebelumnya Indonesia jadi sumber serangan hacker terbesar dunia, hal ini tak terjadi sekarang. Indonesia harus mengakui keunggulan China sebagai negara dengan sumber serangan hacker terbesar dengan persentase 35 persen seperti dikutip dari ZDNet (28/1).

Jumlah serangan hacker dari China ini meningkat sekitar dua persen dari kuartal sebelumnya yang mencapai 33 persen. Sementara itu, serangan hacker Indonesia justru mengendur jadi 20 persen padahal di kuartal sebelumnya mencapai angka 38 persen.

Baik hacker Indonesia dan China sendiri masih belum bisa dikalahkan oleh para hacker dari negara lain. Amerika Serikat misalnya, harus puas di posisi ketiga di bawah Indonesia dan China dengan persentase serangan 11 persen.

Data ini sendiri menunjukkan trafik atau rutinitas asal serangan hacker. Trafik dicatat sesuai dengan asal alamat IP sumber penyerangan.

Sehingga, bisa saja ada hacker Indonesia yang menyerang sebuah situs dengan menggunakan IP negara lain. Hal ini lazim digunakan untuk menyembunyikan identitas hacker tersebut agar aman dari kejaran pihak berwajib.


Sumber : Merdeka

KASAU Terima Kunjungan Dubes Rusia

JAKARTA-(IDB) : Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mr. M. Galuzin di Mabesau Cilangkap pada Kamis (30/1/2014). 

Kunjungan tersebut dalam rangka diskusi tentang perkembangan situasi pada saat ini dan kemungkinan kerjasama militer antara Indonesia dan Rusia kedepan. Selanjutnya Kasau mengharapkan kerjasama yang sudah dirintis dengan baik selama ini dapat terus ditingkatkan. 
Selain itu Kasau juga menyampaikan ucapan selamat atas jabatan sebagai Duta Besar Rusia di Indonesia. 

Pada kesempatan tersebut Kasau didampingi Aspam Kasau Marsda TNI Zulhasymi, Aspers Kasau Marsda TNI Herry Wibowo Eslah, Aslog Kasau Marsda TNI Ida Bagus Anom, Waasrena Kasau Marsma TNI Azman Yunus, Waasops Kasau Marsma TNI Abdul Muis, Kadispenau Marsma TNI Hadi Tjahjanto, sedangkan Dubes Rusia didampingi oleh Athan Rusia di Jakarta COL V. Afanasenkov dan Mr. V. Varaksin.

Sumber : PelitaOnline

Menggelar Kekuatan Pagar Teritori

Gelar kekuatan angkatan laut Indonesia kembali diperlihatkan dengan menggelar gugus tempur laut bersandi operasi Benteng Hiu 14, mulai bulan Februari 2014 di perbatasan laut Indonesia Malaysia di Kalimantan Utara.  Perairan yang menjadi salah satu hotspot NKRI ini memang harus terus dikawal ketat agar gangguan dan provokasi dari negeri jiran bisa dieliminasi sekaligus menunjukkan kekuatan harkat diri untuk tidak bermain api di kawasan kaya sumber daya mineral itu, Ambalat. Gelar Benteng Hiu dipimpin oleh KRI jenis fregat Oswald Siahaan yang membawa rudal maut Yakhont. Anak buahnya terdiri dari KRI korvet anti kapal selam Lambung Mangkurat, kapal cepat rudal KRI Badik, kapal buru ranjau KRI Pulau Raas dan kapal patroli cepat KRI Badau dan KRI Salawaku. Kapal berjenis KAL, UAV dan kapal nelayan juga ikut bergabung sebagai satuan intelijen.

Sebenarnya ada dua gelar kekuatan di dua hotspot berbeda yang saat ini digelar. Yang satu lagi di kawasan laut Timor dan laut Arafuru. Di laut seberang Darwin itu TNI AL menggelar kekuatan armada laut untuk memastikan tidak ada keculasan negeri selatan untuk mencerobohi perairan teritori Indonesia.  Di luar dua gelar gugus tempur laut itu sebenarnya ada belasan KRI yang berpatroli di Natuna, selat Malaka, selat Singapura, selatan Jawa dan selat Sunda.  Itu adalah bagian dari tugas harian TNI AL untuk menjaga nilai negara kepulauan. Kemudian dalam sebulan ke depan Mabes TNI AL juga harus mempersiapkan 12-15 KRI untuk latihan gabungan angkatan laut bersama 16 negara lain di Natuna dan laut Cina Selatan.

KRI Oswald Siahaan sedang menembakkan rudal Yakhont
Itu semua bisa dilakukan karena angkatan laut Indonesia memiliki armada kapal perang yang memadai untuk melakukan penjagaan dan patroli.  Ada sekitar 160 KRI berbagai jenis yang dioperasikan.  TNI AL tahun ini akan mendapatkan belasan kapal perang baru, diantaranya 3 kapal perang light fregat Bung Tomo Class yang dibeli dari Inggris. Kapal ini sebenarnya pesanan dari Brunai tetapi tidak jadi diambil.  Jadi dibilang beli bekas juga tidak karena kapalnya masih baru, kapal baru tapi harganya harga kapal bekas.  Disamping 3 kapal tadi, ada juga pesanan 3 kapal perang jenis KCR (kapal cepat rudal) 60 m buatan PT PAL yang selesai seluruhnya tahun ini. Kemudian penyerahan 3 KCR 40 m, 2 kapal perang jenis BCM (Bantu Cair Minyak) dan 3 kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank) buatan galangan kapal swasta dalam negeri.

Peningkatan kuantitas dan kualitas KRI memang diperlukan, apalagi kekuatan armada RI akan disesuaikan dengan pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan yang dikenal dengan istilah Kogabwilhan. Sebagai negara kepulauan tentu pagar terluar Indonesia didominasi oleh perairan dan sangat wajar pula bila pagar laut ini diperkuat.  Ini juga bagian dari perubahan strategi “masuk dulu baru digebuk” menjadi “berani masuk digebuk”. Untuk angkatan laut, agar bisa masuk kategori “berani masuk digebuk” dicapai dengan penambahan kuantitas dan kualitas armada KRI dan persenjataannya.

Menyikapi kondisi kawasan yang dinamis dan menjurus pada kondisi tak terduga sebagaimana provokasi Australia di laut Selatan dan ambisi penguasaan laut Cina Selatan oleh negeri semilyar ummat, maka perkuatan daya gebuk angkatan laut Indonesia mutlak harus dipenuhi. Oleh karena itu sangat diperlukan kepemilikan kapal perang permukaan laut berkualifikasi fregat dan destroyer dan kapal selam berkualifikasi srigala.  Sejalan dengan itu sebaran pangkalan utama untuk menampung dan menjaga alutsista kapal perang diperlukan.  Menjaga kapal perang di pangkalan dari sabotase bawah laut dan serangan udara merupakan keharusan.  Jangan sampai punya banyak pangkalan tetapi telanjang tanpa perlindungan.
Jet tempur Sukhoi memayungi Jakarta
Pemikir strategis di Kemhan, Mabes dan TNI AL tentu sudah punya rancang bangun kekuatan armada angkatan laut lima sampai sepuluh tahun ke depan.  Sebagai negara kepulauan maka sudah seyogyanya angkatan laut dan angkatan udara diperkuat karena merupakan pagar pengaman garis depan. Perkuatan angkatan laut dan udara seharusnya merupakan prioritas karena kekuatan matra ini adalah indikator untuk menunjukkan nilai dan martabat teritori sebuah negara kepulauan. Adalah wajar jika dalam lima tahun ke depan kita sudah harus memiliki tambahan armada laut dengan 2-3 destroyer dan 5-6 fregat serta 6-8  kapal selam srigala. 

Tambahan kekuatan angkatan laut ini juga seirama dengan tambahan skuadron tempur angkatan udara, misalnya dengan penambahan 2 skuadron Sukhoi Family.  Apalagi jika diperkuat dengan pesawat peringatan dini.  Ini secara kebutuhan dasar bukan hal yang muluk karena payung perlindungan untuk negara besar ini memang harus begitu.  Tujuannya tentu bukan untuk mengajak perang tetapi untuk menjaga nilai dan martabat teritori.  Bahwa ke depan ini memang akan terjadi sesuatu yang tak terduga berupa ancaman serius bagi kedaulatan NKRI.  Maka muulai sekarang memang harus berbenah secara lebih intens, lebih fokus dan lebih revolusioner alias lebih cepat lebih baik.

Perkuatan alutsista di MEF II diharapkan akan memberikan angin kesegaran bagi pengawal republik. Sekaligus mengurangi bahkan meniadakan omongan pelecehaan orang luar utamanya tetangga selatan yang selalu menganggap armada kapal perang Indonesia kalah kelas.  Sekarang memang masih kalah kelas tetapi kita meyakini dalam lima tahun ke depan sudah mendekati kesetaraan. Tetangga selatan memang karakternya begitu.  Tetapi jika kita tetap teguh dalam program perkuatan alutsista utamanya dengan kesediaan membeli sejumlah destroyer, fregat, kapal selam srigala dan jet tempur mutakhir maka secara perlahan omongan pelecehan itu akan berkurang. 

Tetapi jangan lupa karakter orang atau negara yang suka melecehkan itu sebenarnya untuk menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Misalnya kekhawatiran eksistensinya terhadap ancaman dari utara. Tong kosong nyaring bunyinya kata peribahasa.  Dalam bahasa preman orang yang berkarakter suka melecehkan dan anggap enteng seperti ini perlu sekali waktu digebuk dengan bogem mentah supaya cangkemnya mingkem. Pengawal republik paham dengan hukum ini tapi tak perlu berlaku seperti preman itu. Permintaannya hanya satu: perkuat dulu dengan sejumlah alutsista gahar berteknologi, kemudian perhatikan apa yang akan terjadi, niscaya mereka akan tahu diri.
****
Jagvane / 02 Feb 2014

SBY Peringatkan Negara Tetangga Tak Masuki Wilayah Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperingatkan negara-negara tetangga untuk tidak memasuki wilayah kedaulatan RI.

Menurutnya, kedaulatan NKRI bukan perkara main-main, sehingga tidak bisa dilanggar seenaknya. Pernyataan itu disampaikan saat menerima peserta rakornas Kementerian Kelautan dan Perikanan dan sidang anggota dewan kelautan Indonesia di Istana Negara, Kamis (30/1).

"Ada aspek kedaulatan kelautan kita yang bisa dilanggar setiap saat oleh negara-negara lain. Kita pastikan dulu bahwa wilayah lautan kita ini aman. Aman dari ancaman lawan yang mengganggu kedaulatan dan teritori kita," kata Presiden SBY.

Ia menyadari wilayah Indonesia yang tiga per empat adalah laut harus dipastikan keamanannya sampai zona ekonomi ekslusif. Indonesia, lanjutnya, harus bisa mempertahankan tanah air demi kedaulatan.
Presiden SBY menegaskan, ancaman terhadap keamanan Indonesia, terutama di lautan, semakin bervariasi. Bukan hanya negara lain yang memasuki teritori Indonesia, tetapi kejahatan lainnya seperti perompakan, pencurian ikan, hingga pencurian kayu yang diselundupkan lewat laut.

"Faktor keamanan menjadi sangat penting," katanya.

Kapal Angkatan Laut Australia sempat melanggar wilayah Indonesia. Negara Kanguru tersebut berupaya mengembalikan pencari suaka yang sudah masuk ke wilayah negaranya ke Indonesia. Pemerintah pun sempat bereaksi keras atas peristiwa tersebut.

Sumber : Republika

PM Israel Minta Rusia Tidak Jual Rudal S-300 Ke Iran

TEL AVIV-(IDB) : Perdana Menteri rezim Zionis Israel baru-baru ini meminta Presiden Rusia untuk mengurungkan niatnya menjual rudal-rudal S-300 ke Iran.
  
Tasnim News (30/1) melaporkan, surat kabar Israel, Maariv menulis, Benyamin Netanyahu, PM Israel tiga pekan lalu meminta Vladimir Putin, Presiden Rusia untuk tidak menjual rudal-rudal S-300 miliknya ke Iran.

Rusia berulang kali mengumumkan, pihaknya akan menepati janjinya untuk memindahkan sistem pertahanan rudal S-300 ke Iran.
  
Sementara itu, Amerika Serikat dan Israel meminta pemerintah Rusia untuk tidak menjual rudal-rudal yang mampu menjadikan pesawat-pesawat yang berada dalam jarak 150 kilometer menjadi sasarannya itu. 

Sumber : Irib

RDP DPR Tentang Pembelian Satelit Pertahanan

JAKARTA-(IDB) : Komisi I DPR melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin dengan agenda rapat dengar pendapat (RDP). Sjafrie mengatakan, Komisi bidang pertahanan dan keamanan memberi dukungan penuh untuk melakukan pengadaan satelit pertahanan.

??"DPR berikan satu dukungan satu sisi dari sistem pertahanan ini memang layaknya suatu institusi itu tidak terganggu. Baik secara administrasi maupun teknis," ujar Sjafrie di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (29/1).

Lebih lanjut, Sjafrie menegaskan, penting adanya satelit untuk memperkuat pertahanan negara sebesar Indonesia. "Memang perlu. Tinggal sekarang bagaimana kemampuan anggaran bisa mendukung kebutuhan dari sistem pertahanan yang sudah didukung oleh politik anggaran," jelas Sjafrie.

Sedangkan kerjasama pertahanan yang melibatkan tiga kementerian di antaranya Kemenhan, Kominfo dan Sekneg, jelas Sjafrie adalah mengenai kerjasama Cyber. Namun, ketika ditanya berapa anggaran untuk semua proyek tersebut, Sjafrie mengaku lupa.

??"Kalau kita bicara cyber, ini jadi domain secara nasional di Kominfo. Kita kan ambil network-nya yaitu cyber defense atau cyber nasional. Ada cyber defense, cyber crime. Tapi kan kalau untuk satu satelit hanya dipakai cyber defense kan sayang ya. Maka mungkin kita kaitkan dengan cyber nasional," jelas Sjafrie.

"Saya enggak tahu berapa harga satelit. Saya kira Indonesia perlu memiliki satelit untuk pertahanan dan penting. Kemampuan pertahanan harus didukung oleh berbagai komponen termasuk satelit," tandasnya.

Sumber : Merdeka

Inggris Tegaskan Dukungan Terhadap Kedaulatan NKRI

JAKARTA-(IDB) : Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague, menegaskan kembali dukungan negaranya terhadap keutuhan wilayah RI, khususnya setelah Organisasi Papua Merdeka (OPM) membuka kantor perwakilan di Oxford pada April 2013 lalu. Hague menyebut kendati pemberitaan itu sempat menjadi perdebatan, tetapi hal itu tidak akan mengubah kebijakan dari Pemerintah Inggris yang mendukung penuh NKRI. 

Hal tersebut diungkap Hague dalam jumpa pers yang digelar usai pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu, 29 Januari 2014. Ini merupakan kunjungan kali pertama Hague ke Indonesia, setelah terakhir menyambangi Jakarta pada 2005. 

"Inggris sepenuhnya mendukung integritas Indonesia. Tidak ada keraguan posisi mengenai isu terkait hal itu (Papua dan Papua Barat). Kebijakan kami juga sama mengenai demokrasi. Kami jelas mendukung keutuhan negeri ini," kata Hague. 

Sebelumnya, aksi pembukaan kantor perwakilan OPM oleh Benny Wenda pada akhir April 2013 lalu sempat membuat geram Pemerintah Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto sampai harus memanggil Dubes Inggris untuk Indonesia, Mark Canning. 

Dia menjelaskan pembukaan kantor perwakilan di kota Oxford itu turut dihadiri oleh wali kota dan anggota DPR setempat. Padahal, selama ini Pemerintah Inggris dan oposisi di parlemen tidak pernah mendukung kegiatan tersebut. 

Djoko menyebut secara formal Inggris mengakui kedaulatan NKRI atas Papua. 

Pernyataan serupa juga pernah dilontarkan oleh Menlu Marty. Dia mengatakan kendati OPM berhasil membuka kantor perwakilan di Oxford, bukan berarti negeri yang dipimpin Ratu Elizabeth II itu mendukung gerakan separatisme di Papua. Sebaliknya mereka sudah berulang kali menegaskan bahwa sikap pemerintah kota tidak mencerminkan kebijakan luar negeri Inggris. 

Marty malah meminta agar isu mengenai pembukaan kantor itu tidak dibesar-besarkan, karena justru malah akan dijadikan forum bagi Benny dalam menyuarakan perjuangannya.  

Sumber : Vivanews

Jelang Ke Lebanon KRI Frans Kaisiepo–368 Laksanakan Sea Trial


SURABAYA-(IDB) : KRI Frans Kaisiepo (FKO) – 368 yang dikomandani Letkol Laut (P) Ade Nanno. S tepat pukul 08.30 WIB bertolak dari dermaga Koarmatim, Ujung Surabaya untuk melaksanakan Uji Coba / Sea Trial di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), Rabu, (29/1).

Bersama unsur Helikopter NV - 409 TNI AL jenis Bolkow 105, Komandan KRI FKO – 368 selaku Komandan Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-F / UNIFIL 2014 dibawah pimpinannya mengawali kegiatan dengan melakukan pengecekan kesiapan personel dan materiil.

Bagi tiap personel yang mengawaki pos tempur masing – masing untuk selalu mengutamakan safety first danzero accident. Sehingga dalam melaksanakan latihan peran dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan skenario yang direncanakan.  

Sea trial kali ini juga melaksanakan peran heli touch and go yaitu helikopter melakukan manuver landing dan take off yang digelar di geladak heli KRI FKO – 368.

Sea trial bertujuan untuk menguji kesiapan KRI dan sebagai bahan evaluasi penyiapan KRI FKO – 368 yang rencananya akan melaksanakan misi operasi maritim di perairan Lebanon pada tahun 2014”, ujar Komandan KRI korvet kelas sigma tersebut.

Keterlibatan KRI dan Helikopter TNI dalam misi perdamaian PBB, khususnya di Lebanon merupakan yang kedua kalinya untuk KRI FKO – 368, yang sebelumnya pada tahun 2010 telah sukses mengemban misi perdamaian PBB dari Indonesia. 

Sumber : Koarmatim

PATROLI BOURDERS SALAH SATU UPAYA PENGAMANAN ASET

Tampak Gabungan Prajurit Lanud Palembang dan Satgas Paskhas saat melaksanakan Patroli. ( Foto : Pentak Lanud Palembang )
Patroli bouders memang sudah sering kita dengar, akan tetapi patroli bourders di Lanud Palembang kali ini bertujuan untuk meningkatkan pengaman aset yang dimiliki oleh Negara yang mana Lanud Palembang mendapatkan kepercayaan untuk menjaganya. Pada kegiatan patroli bourders kali ini diikuti oleh anggota Lanud Palembang dan Satgas Paskhas.(30/1)
Rute yang ditempuh adalah merupakan rute bourders Lanud Palembang seluas 720 Ha. Tampak semangat yang tinggi pada prajurit Lanud Palembang dan Satgas Paskhas. Ini menunjukkan bahwa ini salah satu tugas pokok dari TNI secara umummnya dan TNI Angkatan Udara Lanud Palembang pada khususnya.
Dalam pelaksanaan kagiatan tersebut akan di laksanakan secara continue dan terprogram, mengingat betapa luasnya aset Lanud Palembang yang harus dijaga dan dipertahankan.

Kim Jong-Un Kini Lebih Fokus Inspeksi Militer

Pyongyang – Setelah beberapa waktu lalu Kim Jong Un sebagai pemimpin Kores Utara (Korut), mengeksekusi mati pamannya sendiri, Jang Song Taek, kini inspeksi militer terus diperkuat olehnya. Bahkan inspeksi tersebut langsung dilakukan oleh Kim Jong Un.
Kim Jong-Un Kini Lebih Fokus Inspeksi Militer
Seperti yang dikutip dari Kantor Berita Yonhap, Sabtu (1/2/2014), di bulan Januari ini memang Jong-Un lebih sering tampil didepan publik. Dimana hampir sebagian besar penampilannya ditujukan untuk kepentingan Korut.
Tidak dipungkiri memang setelah Jang Song Taek dieksekusi, sepertinya kehadiran Jong-Un di militer Korut ingin diperkuatnya. Walaupun hadirnya pimpinan Korut dalam inspeksi militer bukanlah sebuah hal yang istimewa, namun dengan meninggalnya Jang, sepertinya pemimpin muda dari Korut ini ingin membuktikan bahwa ia adalah pemimpin Korut yang sebenarnya.
Tercatat pada awal Januari kemarin, Jong-Un telah mengunjungi pos komando dan juga fasilitas pembekuan yang dimiliki oleh Kementerian Militer Korut. Bahkan ia juga ikut berpartisipasi dalam penampilan band militer yang dimiliki oleh Negara Komunis tersebut.
Selain itu Jong-Un juga menyaksikan latihan Angkatan Udara Korut serta pasukan khusus yang selama musim dingin ini melaksanakan latihan secara rutin. Apa yang dilakukan oleh Jing-Un ini jauh berbeda ketika di tahun 2013.
Dimana pada saat itu sepertinya Jong-Un lebih fokus terhadap inspeksi ekonomi,. Yang Moo-Jin sebagai peneliti University of North Korean Studies, berpendapat bahwa inspeksi yang dilakukan oleh Kim Jong-Un saat ini tidak lain bertujuan untuk menaikkan moralitas militer serta menunjukkan adanya komitmen atas keamanan nasional.
Diprediksi inspeksi Jong-Un ini bertujuan untuk menunjukkan adanya kestabilan atas dieksekusinya Jang Song Taek. Sebagaimana yang diketahui bahwa Jong Song Taek merupakan paman Kim Jong-Un yang pada Desember 2013 lalu elah dieksekusi mati. Jang sendiri dahulunya adalah orang terkuat kedua yang berasal dari Korut serta banyak yang menganggap bahwa dalam militer Korut posisi Jang Song cukup kuat. (Mohammad Noval – sisidunia.com)
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner