Select Language

Rabu, 06 November 2013

Dana Alutsista MEF Akan Maksimal

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRjzW5cohBnOt58FRrJEZwqBvJg7SN_MLMVoORZdQ3kvF4SbbwPwgDPR berkomitmen mendukung pencairan dana on top (dana yang tak diambil dari APBN, tapi langsung dianggarkan Bappenas) untuk penguatan alat utama sistem senjata (alutsista). Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengajukan dana on top pada 2013 sebesar 18,3 triliun rupiah.

"Asalkan untuk kepentingan alutsista, kami prinsipnya no problem. Apalagi itu sudah diprogram hingga 2014 mendatang," kata Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, di Jakarta, Senin (8/10). Permintaan pengajuan dana itu masih dibahas di Badan Anggaran DPR. "Kami di Komisi I tinggal memastikan, kalau ada penyesuaian dana on top dari Banggar, penyesuaiannya berapa?" kata Tubagus.

Total dana on top alutsista yang dianggarkan pemerintah dari 2010 hingga 2014 sebesar 57 triliun rupiah. Dana itu sebagai tambahan untuk memenuhi kekuatan pokok minimal (minimum essential forces) untuk periode lima tahun itu sebesar 156 triliun rupiah. Dana itu terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 sebesar 99 triliun rupiah dan dana on top sebesar 57 triliun rupiah.

Kemhan menargetkan bisa mengadakan 45 jenis alutsista dari anggaran tersebut untuk Mabes TNI, TNI AD, TNI AU, dan TNI AL. Jumlah itu setara dengan 30 persen kekuatan MEF. Adapun MEF sendiri ditarget tercapai pada 2024 mendatang. Sebanyak 14 jenis alutsista di antaranya diperuntukkan bagi TNI AU, yang terdiri dari lima jenis pesawat tempur, tiga jenis pesawat angkut, dua jenis helikopter, dua jenis pesawat latih, serta beberapa jenis pesawat tanpa awak dan alutsista udara lain di luar radar.

Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, justru sedikit pesimistis semua dana on top bisa cair pada 2014. "Kementerian Pertahanan seharusnya mengajukan dana on top pada 2013 lebih besar lagi karena dana tersisa masih besar. Minimal diajukan 22 triliun rupiah agar bisa terserap maksimal," kata Mahfudz.

Menanggapi hal itu, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, optimistis dana on top bisa maksimal dipergunakan hingga 2014 mendatang. "Hingga 2013 sudah cair 29 triliun rupiah. Sisanya saya optimistis bisa dicairkan pada 2014 mendatang," kata Purnomo.

Adapun rincian dana on top yang sudah cair, antara lain hingga 2012 ini keluar sebesar 17 triliun rupiah, lalu pada 2013 diajukan sebanyak dua kali masing-masing sebesar 6 trilun rupiah. Sisanya sebesar 28 triliun rupiah akan dicairkan pada 2014. "Kita upayakan untuk bisa cair semua," ujar Purnomo.

Dengan demikian, target men capai 30 persen kekuatan MEF pada 2014 bisa tercapai. Menhan bahkan optimistis bisa melampaui target MEF hingga 40 persen di masa akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Ini karena kita banyak ditawarkan alutsista hibah dari negara lain," kata dia. Hibah 24 pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat dinilai sangat signifikan menggenjot target pemenuhan MEF.

 

  ● Koran Jakarta 

Kapal Frigate AL India Akan Ke Surabaya

Kapal perang jenis Frigate INS SAHYADRI-F.49 dari jajaran Angkatan Laut India dalam waktu dekat ini, tanggal 24 hingga 27 Oktober akan tiba di Pelabuhan Umum Tanjung Perak Surabaya. Rencana kedatangan kapal perang tersebut, disampaikan oleh Tim Aju AL India Kolonel Karfik Murfhy yang hari ini, Rabu (16/10) berkunjung ke Koarmatim.

Kedatangan Tim Aju yang didampingi satu orang perwira stafnya tersebut, diterima Komandan Guskamlatim Laksamana Pertama TNI Wuspo Lukito, SE dengan didampingi beberapa Asisten Pangarmatim, yang diterima di Gedung Candrasa Koarmatim Ujung Surabaya.

Kapal perang jenis Frigate INS SAHYADRI-F.49 yang dikomandani Capten Sanjay Vatsayan ini, saat tiba di Surabaya nanti komandan beserta ABK nya akan melakukan kunjungan ke beberapa Kotama TNI AL yang ada di Surabaya, yaitu ke Koarmatim, Kobangdikal, Akademi Angkatan Laut (AAL) dan Lantamal V Surabaya.Kunjungan tim aju ini, diakhiri dengan saling menukar cindera mata.

  ● Koarmatim 

Pesawat Intai Bagian dari Operasi Intelijen

Ilustrasi UAV Searcher-II
Akhir-akhir ini media banyak membahas soal pengadaan pesawat intai untuk TNI yang berita awalnya dirilis oleh Ketua Komisi I DPR Mahfud Sidik. Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat itu, mengatakan, bahwa pada pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) yang akan berlangsung hingga 2014 salah satu yang akan dibeli adalah pesawat intai tanpa awak. "Secara kebutuhan itu memang kebutuhan TNI cuma waktu itu pernah dibahas terkait dengan sumber pengadaannya," kata Mahfud di Gedung DPR, Rabu 1 Februari 2012.

Komisi I menolak rencana pengadaan pesawat dari Israel. "Seingat saya ada dua pesawat yang dibutuhkan. Pesawat itu kan dibutuhkan untuk patroli di daerah perbatasan," kata Mahfud. Namun, katanya TNI akan membeli dari Filipina. "Infonya dari Filipina, tapi yang perlu didalami apakah itu produk Filipina atau buatan Israel," kata dia.

Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro belum mendengar rencana pembelian pesawat intai dari Israel. "Saya belum ada informasi soal itu. Itu apa sih? dari mana info itu?" ucap Purnomo, saat ditemui di kompleks Istana, Jakarta, Kamis (2/2/2012). Bersamaan dengan Purnomo, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menampik kabar rencana pembelian pesawat intai dari Israel. “Enggak, enggak ada itu,” bantahnya. Panglima TNI, mengakui bahwa pesawat intai tanpa awak memang dibutuhkan. Alasannya, Indonesia masih belum memilikinya. “Kalau pesawat intai tanpa awak ya kita butuh, kan kita belum punya,” jelasnya.

Nampaknya berita yang dilansir Ketua Komisi I menjadikan kedua petinggi tadi menjadi kurang nyaman, karena disebutnya nama Israel. Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel, tetapi memang sejarah pernah menyebutkan bahwa Indonesia pernah mendapatnya dari Israel melalui saluran intelijen.

 Sebenarnya apa yang disebut pesawat intai ?  

Indonesia, TNI dan khususnya TNI AU memiliki pesawat intai maritim Boeing 737 dan CN-235, yang di operasikan untuk melakukan pengintaian / pemantauan udara terkait dengan maritim. Dalam prakteknya informasi dari jajaran TNI AU disalurkan ke Gugus Tempur TNI AL.

Selain pesawat intai maritim, TNI AU memang merencanakan pembentukan satu skadron pesawat intai tanpa awak terdiri dari enam pesawat, yang dikenal di dunia internasional sebagai UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Negara-negara maju kini lebih memodernisir UAV menjadi mesin pembunuh udara yang paling efektif, efisien dan aman. Penulis menuliskan dalam artikel "UAV mesin pembunuh paling mematikan" http://ramalanintelijen.net/p=4224.

Keberadaan UAV yang pada umumnya dioperasikan oleh Angkatan Udara selalu terkait dengan jaringan intelijen. AS dalam mengoperasikan beberapa macam jenis UAV, dalam praktek pertempuran memberikan wewenang kepada CIA untuk mengendalikannya. Operasi intelijen (Pulbaket, pengumpulan bahan keterangan) yang dilakukan AS di Afghanistan, Pakistan, Yaman, Iran dan bahkan di Korea Utara dilakukan dengan beberapa type UAV/drones seperti Predator, Sentinel dan Shadow. Kelebihan pesawat intai tanpa awak ini selain mampu terbang berjam-jam, dapat menyadap saluran telpon, dan bahkan dengan teknologi terbarunya Sentinel dapat memonitor dan menterjemahkan gerakan manusia dibawahnya.

UAV dapat dioperasikan dari jarak beberapa puluh km dan bahkan dari jarak ribuan kilometer. Type terakhirnya yang paling modern adalah RQ-170 Sentinel yang termasuk berkemampuan anti radar (teknologi stealth). Selain dilengkapi dengan kamera video, pesawat hampir dipastikan membawa peralatan komunikasi untuk menyadap, serta dilengkapi dengan sensor yang dapat mendeteksi sejumlah kecil isotop radioaktif dan bahan kimia lainnya yang dapat memberikan petunjuk adanya kegiatan penelitian nuklir.

 Untuk apa sebetulnya pesawat intai tanpa awak itu ?  

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmZTJCI8uJsxyrOvyjIzEn_m7RkokTU8OsEjMPHY95sl0-ASBXCMKss3ZwMGMbDJo5JUrgg8GONcXw3xFsqiVnQ6uObbRclAGbT0GhqZXyS2xTqN4NGQ-ENfAIM1pVKFBofybLLan38o7Y/s320/puna-wulung-mampu-terbang-200-km.jpg
PUNA BPPT
Pesawat intai tanpa awak kini merupakan alutsista (alat utama sistim senjata) terpopular dari negara-negara maju, dimana negara yang menerapkan sistem demokrasi, maka nilai nyawa manusia di negara mereka sangatlah tinggi. Apabila pesawat tersebut ditembak jatuh, tidak menyebabkan korban jiwa. Pola dan metoda serta strategi perang negara maju telah bergeser dari pengerahan kekuatan baik perangkat perang dan manusia digantikan dengan teknologi perang.

Perang sipil di Libya misalnya, AS dan NATO tidak menggelar pasukan dalam jumlah besar untuk terlibat dalam perang campuh. Tetapi mereka memainkan kekuatan udara (air power) untuk menghancurkan dan mendikte militer loyalis Kolonel Khadafi.

Yang bertempur langsung di darat adalah para pejuang pemberontak bersenjata. Kemenangan demi kemenangan diraih pemberontak, karena alutsista militer Khadafi terus dihancurkan.

Perang pada masa mendatang bagi Amerika kini lebih terinspirasi perang melawan teroris Al-Qaeda yang melakukan aksi teror. Karena itu AS dengan tegas mengklasifikasikan ancaman terhadap negaranya sesuai dengan intensitas ancaman. Bila ancaman besar dan kuat, maka mereka akan mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar, bisa ancaman kecil, maka yang akan dijadikan sasaran hanyalah tokoh-tokoh utamanya saja. Penyerangan dilakukan dengan dukungan penuh pesawat intai tanpa awak yang canggih itu. Prinsip preemtive strike atau menyerang lawan jauh digaris belakang pertahanannya tetap menjadi pegangan negara-negara besar tersebut.

 Bagaimana Indonesia ?  

Ancaman terhadap Indonesia masa kini dan masa mendatang diperkirakan masih berkisar dengan konflik perbatasan. Perkiraan strategis yang berupa ancaman langsung terhadap kedaulatan negara belum nampak. Yang menonjol, terjadinya gangguan dari kelompok bersenjata dalam skala kecil dengan pola teror. Kemungkinan beberapa tahun mendatang, Indonesia akan terkena imbas dari konflik dua kekuatan besar dunia AS dengan China yang kemungkinan bisa terjadi di kawasan Laut China Selatan dan kawasan Pasifik.

Oleh karena itu, untuk menghadapi kondisi baik keamanan maupun pertahanan di dalam negeri memang TNI membutuhkan pesawat intai tanpa awak tersebut. Baik type maupun kemampuan pesawat sangat tergantung dengan anggaran yang tersedia. Operasi pesawat intai tanpa awak akan memberikan data-data intelijen udara (air intelligence) yang sangat penting untuk kepentingan pertahanan dan keamanan. Dengan memiliki pesawat intai tersebut, memonitor teroris yang bersembunyi didalam hutanpun bukan pekerjaan yang sulit. Yang terpenting kini, dibutuhkan kesamaan pendapat bahwa kebutuhan tersebut memang sangat mendesak.

Mengenai sumber pesawat, dengan penolakan jenis pesawat buatan Israel, ya tidak usah dibeli, masih banyak negara lain yang memproduksinya dan teknologinya juga tidak kalah. Kenapa mesti ribut, kata Gus Dur (Alm) "Begitu saja kok repot." Semoga bermanfaat.

  ● Ramalan Intelijen  

Gaji prajurit Malaysia 20 kali lipat TNI

Operasi Sandi Yudha (Merdeka.com/buku Operasi Sandi Yudha
Setelah Presiden Soekarno lengser, tak ada lagi operasi Dwikora mengganyang Malaysia. Pemerintahan Presiden Soeharto menjalin persahabatan dengan Malaysia dan menumpas gerombolan Pasukan Gerilya Rakyat Serawah (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku).

Padahal di masa Soekarno, PGRS didukung penuh oleh pemerintah dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Gerilyawan PGRS dilatih ABRI dan mereka sama-sama bertempur melawan Malaysia dan Inggris.

Dalam operasi gabungan Indonesia dan Malaysia menumpas PGRS/Paraku, banyak kejadian menarik. Salah satunya saat tentara Indonesia terkagum-kagum melihat fasilitas Tentara Diraja Malaysia.

Hal itu ditulis Hendropriyono dalam buku berjudul Operasi Sandi Yudha, Menumpas Gerakan Klandestin. yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas.

Ceritanya saat itu Letnan Dua AM Hendropriyono bergabung dengan Detasemen Tempur 13 Pasukan Khusus Angkatan Darat. Mereka bersama pasukan Malaysia melakukan pengejaran pada gerilyawan.

Namanya pasukan elite, pergerakan pasukan baret merah ini pun berbeda dengan pasukan reguler. Karena itu mereka sering tak sempat memasak. Bahkan prajurit lebih sering makan beras mentah. Jika sempat memasak, lauknya pun hanya ikan asin.

Sementara itu makanan tentara Malaysia saat itu sudah wah. Kornet daging sapi, ikan sardin dan makanan kaleng lain.

Saat istirahat, pasukan khusus Indonesia hanya membuat bivak dari jas hujan. Untuk alasnya hanya plastik dan berbantalkan ransel.

"Kami merasa heran melihat Askar Melayu Diraja Malaysia yang setiap beristirahat memasang tenda loreng yang indah, dilengkapi dengan kantin dan tenda kesehatan. Mereka juga berbaring di atas tempat tidur lapangan (field beld)," kata Hendro.

Di kesempatan lain, Hendro berbincang soal gaji dengan tentara Malaysia. Untuk pangkat Letnan Dua, gaji tentara Malaysia sekitar 650 ringgit. Di tahun 1972 itu setara dengan Rp 62.400. Sementara letnan dua TNI cuma Rp 3.120.

"Artinya gaji prajurit Malaysia 20 kali lipat gaji prajurit TNI dalam pangkat yang sama," kenang Hendro.

Lalu apa TNI jadi minder?

"Tidak sama sekali! Prajurit TNI sudah kenyang dibina dengan doktrin kejuangan untuk rela hidup seperti generasi terdahulu di zaman revolusi," kata Hendro tegas.

Tapi ada saja sedikit rasa iri pada prajurit TNI. Mereka pun mencoba menghibur diri sendiri.

"Kalau mereka kan diwarisi budaya tentara Inggris yang profesional," kata Pratu Jeje, anggota saya yang rajin mengaji, tanpa ia mengerti apa artinya profesional. Ketika saya tanya apa maksudnya profesional dengan pandir dijawabnya, "Bayaran, Letnan. Sersan Pangat menyambut, entah diarahkan kepada siapa. "Kalau kita kan tentara pejuang yang mengabdi dengan sukarela, ya?" beber Hendro. (Hal 91).

"Begitulah diskusi 'kampungan' kami untuk mengusir rasa iri hati yang tidak pada tempatnya.


  ● Merdeka  

Panglima TNI Lirik Kapal Selam Bekas dari Rusia

http://indonesian.cri.cn/mmsource/images/2012/08/15/1691d90108634ae99870d851369b6622.jpg
Kapal Selam Kilo
Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengaku tertarik untuk mendalami dan mengkaji tawaran 10 kapal selam eks angkatan laut Rusia. Kata Moeldoko, kondisi kapal selam tersebut masih memadai.

Namun demikian, Moeldoko menegaskan, meski TNI tertarik untuk membeli kapal selam bekas tersebut, pihaknya tetap akan melakukan verifikasi secara mendalam dulu.

"Saya kira kita tertarik dengan itu. Sampai saat ini masih dilakukan kajian dan pendalaman. Dan kalau bisa, itu akan lebih bagus, ya," ujar Panglima TNI Jenderal Moeldoko di sela-sela raker dengan Komisi I DPR RI, Kamis (17/10).

Moeldoko mengatakan, pihaknya merespons sangat baik atas tawaran 10 kapal selam dari Rusia itu, karena memiliki efek gentar yang cukup baik. Apalagi kapal selam yang ditawarkan ke Pemerintah Indonesia cocok dengan kondisi Tanah Air, yakni jenis dan tipe kapal selam kelas menengah.

  ● Parlemen  

Anggaran Disetujui, Kemenhan Siap Datangkan Helikopter dari AS

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyambut baik dukungan anggaran dari DPR RI. Maklum, TNI memang lagi butuh duit untuk pengadaan helikopter serbu Apache buatan Amerika Serikat dan pesawat angkut sedang Hercules C-130 bekas milik Royal Australian Air Force (RAAF). Apalagi anggaran itu berupa anggaran on top yang dipastikan tidak akan mengganggu kebutuhan anggaran reguler TNI.

"Kemarin memang tengah dipikirkan untuk uang mukanya. Karena pengadaan (Apache dan Hercules) itu, kan, pengadaan 2014-2017. Kalau DPR sudah memberi dukungan anggarannya, tentu ini akan lebih baik," ujar Moeldoko di sela-sela raker di Komisi I DPR RI, Kamis (17/10).

Panglima TNI menjelaskan, instansinya butuh heli serbu Apache itu minimum enam unit. Sementara pesawat angkut Hercules sebanyak empat unit.

"Untuk pengadaan Apache, kita perkirakan akan mulai tiba di Tanah Air pada 2014 mendatang sebanyak dua unit. Sisanya akan menyusul sampai 2017," ujar Moeldoko.

  ● Parlemen 

Timor Leste Disebut Langgar Kesepakatan Perbatasan

Timor Leste Disebut Langgar Kesepakatan Perbatasan
Perbatasan RI - Timor Leste di Motamasin
Kupang - Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Eduard Gana menilai pemerintah Timor Leste melanggar kesepakatan terkait batas antara kedua negara sehingga memicu bentrok di Dusun Sunsea, Desa Nelu, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sejak Rabu lalu. "Sudah ada kesepakatan bahwa tidak ada pembangunan apa pun di daerah perbatasan. Tapi kesepakatan tersebut dilanggar oleh Timor Leste," kata Edu Gana kepada Tempo di Kupang, Kamis, 17 Oktober 2013.

Bentrokan antara warga Dusun Sunsea dengan warga Leolbatan, Desa Kosta, Kecamatan Kota, Distrik Oekusi, Republik Demokratic Timor Leste (RDTL), dipicu oleh pembangunan jalan yang dikerjakan pemerintah Timor Leste di zona bebas.

Menurut Edu, warga Dusun Sunsea menutup akses jalan antar kedua negara. Saat itu warga Distrik Oecuse melakukan penyerangan dengan membawa senjata tajam. Aksi saling serang pun tak terhindarkan. Bentrok terjadi selama tiga hari, yakni 12-15 Oktober 2013.

Pemerintah Provinsi NTT, kata Edu, belum mengambil langkah penyelesaian terkait bentrok antar warga di perbatasan negara itu. "Kami hanya minta agar warga Nelu menahan diri sehingga bentrokan tidak berkepanjangan," ujar dia.

Edu menjelaskan, penyelesaian masalah tersebut hanya bisa dilakukan melalui pendekatan budaya. Di antaranya dengan mempertemukan tokoh masyarakat dan pemerintah kedua negara.

Dia juga memaparkan, sebenarnya di Kabupaten Timor Tengah Utara hanya menyisakan dua titik batas yang dipersoalkan, yakni di Desa Citrana, Kecamatan Oben dan Haumeni Ana. Namun, tidak terjadi pertikaian. Justru di Desa Nelu muncul masalah. "Ini masalah baru," ucapnya.

Wakil Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Kapten (Inf) Abdul Samad membantah terjadi bentrok antar warga di perbatasan kedua negara. "Tidak terjadi bentrok. Kalau ada bentrok, pasti ada korban," tuturnya.

Sebelumnya, pertikaian warga di perbatasan RI-Timor Leste dipicu sengketa lahan. Warga Nelu, yang masuk wilayah Indonesia, dan warga Leolbatan, Distrik Oekusi, Republik Demokratic Timor Leste, saling mengklaim danah yang digunakan untuk pembangunan jalan tersebut sebagai milik mereka. Kedua kelompok warga tersebut sebenarnya masih berkeluarga. Warga Nelu melakukan penghadangan karena jalan tersebut melewati pekuburan warga Desa Nelu. Selain itu, telah memasuki wilyah Indonesia sejauh 500 meter.

Warga Perbatasan RI dan Timor Leste Saling Serang
Warga Perbatasan RI dan Timor Leste Saling SerangWarga Dusun Sunsea, Desa Nelu, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis, 17 Oktober 2013, saling serang dengan warga Leolbatan, Desa Kosta, Kecamatan Kota, Distrik Oekusi, Republik Demokratik Timor Leste. Penyebabnya adalah sengketa lahan di perbatasan kedua negara.

"Pertikaian antar warga di perbatasan negara itu dipicu oleh pembangunan jalan oleh pemerintah Timor Leste di wilayah zona bebas," kata Wakil Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Kapten Abdul Samad kepada Tempo.

Menurut Samad, lahan di batas kedua negara yang terletak di Desa Nelu masih diklaim oleh warga di kedua negara yang masih berkeluarga itu sebagai milik mereka. Pembangunan jalan yang menuju ke Desa Nelu dihadang oleh warga karena telah memasuki wilayah Indonesia sejauh 500 meter. 

Bahkan, melewati pekuburan warga Desa Nelu, sempat terjadi ketegangan. Untungnya ketegangan itu bisa diredam. ”Memang sempat terjadi ketegangan, tapi tidak sampai bentrok,” ujar Samad.

Ia menuturkan, aparat Satgas Pamtas telah diterjunkan ke lokasi kejadian untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan. "Anggota saya sudah mengamankan lakasi,” ucap dia. Anggota Satgas Pamtas juga melakukan sosialisasi kepada warga agar tidak terpancing emosi yang bisa berbuntut bentrokan. "Serahkan masalah ini kepada negara untuk diselesaikan."

  ● Tempo 

Pembentukan Kogabwilhan Dimatangkan

Agenda ini dibahas dalam kunungan Assiten Deputi Kekuatan, Kemampuan Pertahanan dan Kermahan pada Deputi IV Pertahanan Negara Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenpolhukam) ke Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Agung Pramono SH. M. Hum. Rabu (16/10) di ruang VVIP Room Markas Panglima Koarmatim, Ujung, Surabaya.

Kedatangan pejabat dari Kemenpolhukam yang dipimpin oleh Laksma TNI H Sipahutar beserta 3 stafnya dari TNI Angkatan Laut dan Angkatan Darat itu diterima oleh Pangarmatim di ruang VVIP Room dengan didampingi oleh beberapa pejabat teras di lingkungan Koarmatim.

“Maksud dari kunjungan itu adalah untuk mematangkan dan membahas tentang kekuatan dan kemampuan serta kerjasama pertahanan, terkait dengan rencana pembentukan Kogabwilhan,” kata Kadispen Koarmatim, Letkol Laut (KH) Yayan Sugiana dalam siaran pers, Kamis (17/10).

  ● Jurnas  

2 T50i Golden Eagle Datang Lagi di Lanud IWJ

http://lanud-iswahjudi.mil.id/galeri/img_gambar/361855.jpgMagetan (17/10) • Enam (6) sudah pesawat T-50i Golden Eagle berada di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, dari enam belas (16) Pesawat T-50i Golden Eagle yang dipesan Pemerintah Indonesia dari Korea Selatan, setelah dua (2) pesawat T-50i Golden Eagle tiba lagi di Lanud Iswahjudi, Kamis (17/10), setelah menempuh perjalanan panjang dari Korea Selatan manuju Indonesia. 

Seperti yang sudah direncanakan bahwa setiap dua minggu sekali Korean Aerospace Industries (KAI), akan mengirimkan dua (2) unit pesawat T-50i Golden Eagle untuk menggenapi pesanan pemerintah Indonesia yang totalnya berjumlah 16 unit. 

Kedatangan kedua pesawat tersebut disambut oleh Komandan Skadron Udara 15, Wing 3 Lanud Iswahjudi Letnan Kolonel Pnb Wastum, dan segenap pejabat Lanud Iswahjudi, di Main Appron Skadron Udara 15. Pesawat T-50i Golden Eagle diterbangkan secara ferry oleh penerbang Korea Aerospace Industries (KAI), diantaranya MR. Kwon Huiman, MR. Lee Dongkyo, MR. Khang Cheol, MR. Shin Donghak, dengan rute terbang Sacheon, Korea Selatan � Kaohsiung, Taiwan � Cebu, Philipina - Sepinggan, Balikpapan Kaltim � Iswahjudi Air Force Base.

Keterangan Gambar : Komandan Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Letnan Kolonel Pnb Wastum, berdialog dengan penerbang KAI, yang baru tiba di Lanud Iswahjudi, Kamis (17/10). (Foto Pentak Lanud Iswahjudi).

  ● Iswahjudi  

MENJAJAKI LOKASI TEMPAT PELUNCURAN ROKET INDONESIA

Roket Lapan
Roket LAPAN
JAKARTA -- Morotai bukan sekedar pulau di Maluku Utara yang bersejarah dan menyimpan jejak pasukan sekutu di masa Perang Dunia II, karena pulau ini juga dinilai ideal dipilih sebagai lokasi peluncuran roket yang sudah seharusnya dimiliki Indonesia.

Jarangnya penduduk (54 ribu jiwa untuk daerah seluas 2.315 km2) dan lokasinya yang menghadap langsung ke Samudera Pasifik sesuai untuk memenuhi prasyarat sebuah lokasi peluncuran roket yang harus menghadap ke laut bebas dan jauh dari wilayah berpenduduk padat.

Pulau Morotai juga dinilai sebagai alternatif terbaik di antara dua lokasi pilihan lainnya, seperti Pulau Enggano, Bengkulu dan Pulau Biak, Papua, kata Deputi bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr. Ing. Soewarto Hardhienata.

"Pada 6 November ini kami mulai mempersiapkan pengiriman perlengkapan peluncuran beserta roketnya melalui kapal ke Morotai, mungkin sekitar 20 hari perjalanan. Diharapkan awal Desember peluncuran roket sudah bisa dimulai, ini sebagai uji coba lokasi," katanya. 
Lapan, ujarnya, sejak lama telah berencana mengembangkan roket pengorbit satelit (RPS) yang didesain dan dibuat secara mandiri di dalam negeri untuk mengorbitkan satelit yang juga buatan sendiri.

Namun Desember ini roket-roket yang diluncurkan untuk uji terbang di Morotai memang masih roket-roket ukuran kecil yakni dua unit RX 1210 dan empat unit RX 1220 yang digunakan untuk misi pertahanan, ujarnya.

"Roket pengorbit satelit yang berskala besar merupakan rencana jangka panjang Lapan untuk 2025, karena untuk sekarang ini Lapan masih menggunakan roket milik India untuk meluncurkan satelit. Lokasi peluncurannya pun dari negara itu," katanya.

Satelit Lapan-Tubsat (Lapan A1) seberat 57 kg buatan Lapan telah diluncurkan sejak Januari 2007 dari Pusat Antariksa Satish Dhawan, India untuk keperluan memantau kondisi bumi dan pemantauan lalu lintas kapal.

Satelit berikutnya yang sudah siap adalah Lapan A2 yang dijadwalkan akan diluncurkan pada 2013, namun ditunda hingga 2014 karena kesiapan roket India yang belum selesai. Lapan A2 ini akan disusul satelit Lapan A3 di tahun berikutnya.

"Indonesia adalah negara kepulauan yang luas. Satelit adalah alat yang tak bisa ditawar lagi di zaman modern ini, terkait pentingnya komunikasi antarwilayah dan optimasi sumber daya alam melalui pengamatan penginderaan jauh serta untuk kepentingan keamanan wilayah," katanya.

Pengembangan roket Lapan, lanjut dia, ditujukan baik untuk kepentingan ilmiah maupun kepentingan pertahanan, yang dalam jangka panjang juga mengarah pada peluncuran satelit.

Dimulai dengan RX 320 yang diluncurkan pada 2008, disusul RX 420 pada 2009 dan terakhir mempersiapkan roket RX-550 (Kaliber 550mm) dengan jangkauan 300 km yang masih dalam tahap uji statis.

Teknologi roket, urai Soewarto, bisa digunakan untuk berbagai kepentingan, baik sipil maupun militer, tergantung dari muatannya, apakah berupa sensor ilmiah untuk kepentingan pengamatan bumi atau satelit untuk keperluan komunikasi, atau berupa hulu ledak.

Untuk misi pertahanan, teknologi roket Lapan sudah diadopsi oleh Konsorsium Roket yang terdiri dari Kemhan, Kemristek, PT Pindad, PT Dahana, dan PT DI yang ditandai dengan diproduksi sebanyak 200 unit roket dinamai R Han-122 dengan daya jangkaunya 20 km pada 2012 dan 2013.

Roket R Han 122 ini akan disusul R Han 220 berdaya jangkau 40 km yang sedang dikembangkan konsorsium untuk kepentingan peningkatan kapasitas personel militer.

Pengganti Pamengpeuk

Menurut Kepala Pusat Teknologi Roket Lapan Dr Rika Andiarti, selama ini Lapan menggunakan Instalasi Peluncuran Roket di Pameungpeuk, Garut untuk melakukan uji terbang roket dengan ketinggian terbatas.

Instalasi yang berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat ini dibangun khusus untuk riset penguasaan teknologi dasar roket, terutama pada kinerja motor roket, agar roket dapat meluncur dengan baik, ujarnya.

Namun instalasi milik Lapan ini sudah tak lagi ideal untuk melakukan uji coba roket berukuran besar berhubung saat ini kawasan di sekitar Pantai Santolo itu sudah semakin padat penduduk, dan makin berkembang menjadi kawasan wisata.

"Untuk meluncurkan roket yang berukuran besar diperlukan lokasi yang memenuhi zona aman, mengingat faktor resiko yang ditimbulkannya lebih besar, karena itu dicarilah lokasi baru yang memenuhi syarat, sekaligus syarat sebagai bandar antariksa nasional," katanya.

Dari hasil ekspedisi di Morotai, ada enam alternatif lokasi, yakni di Tanjung Gurango, Desa Gorua, Kecamatan Morotai Utara yang jaraknya dari pemukiman penduduk 2 km, Pulau Tabailenge di depan kota Berebere dengan jarak 2,5 km, Kecamatan Morotai Utara, di Desa Bido, Kecamatan Morotai Utara yang jaraknya 2 km dari pemukiman penduduk.

Selain itu Desa Mira, Kecamatan Morotai Timur dengan jarak 1 km dari pemukiman penduduk, lokasi antara Desa Sangowo dan Desa Daeo Kecamatan Morotai Timur serta Tanjung Sangowo yang letaknya berada di antara Desa Sangowo dan Desa Mira, Kecamatan Morotai Timur.

Dari enam alternatif lokasi itu, urainya, Tanjung Sangowo merupakan wilayah yang paling potensial, karena jika ditarik garis lurus, jarak tepi dua desa ini mencapai 6,5 km sehingga jika meletakkan posisi peluncur utama di tengah antara dua desa itu, maka jaraknya lebih dari 3 km dari masing-masing desa, jauh dari kawasan penduduk.

Kontur daerah tersebut juga merupakan bukit yang sebagian besar memiliki sudut kemiringan yang tak curam, sementara di selatan kontur tanahnya datar dengan tepi pantai yang landai dan bagian utara pegunungan yang langsung bersinggungan dengan pantai dengan kemiringan cukup curam.

Kontur yang relatif datar dapat digunakan untuk daerah perakitan, penyimpanan serta pekerjaan dengan mobilitas tinggi, sedangkan peluncur yang memerlukan standar keamanan dan keselamatan tinggi dapat diletakkan di daerah yang mempunyai ketinggian cukup dari muka laut.

"Daerah terbang roket di sini bisa ke arah utara dan bisa ke timur, bebas ke laut dan juga tak melewati jarak jangkau ke pemukiman penduduk maupun ke batas negara lain," katanya.

Berbeda dengan Pameungpeuk yang baru mengantisipasi uji terbang roket skala kecil, Morotai ditargetkan menampung uji terbang roket skala besar, bahkan termasuk peluncuran satelit yang jangkauannya minimal 350 km, misalnya untuk keperluan remote sensing, bahkan sampai ketinggian 36 ribu km untuk geostation, kata Rika.

Sebelumnya Asisten Deputi Penyedia Jaringan Kemristek Goenawan Wibisana mengatakan, pihaknya sangat mendukung misi ini, khususnya karena roket berdaya jangkau hingga ratusan kilometer seperti yang ditargetkan memerlukan lokasi pengujian dan peluncuran yang representatif.

"Ini sangat penting untuk bangsa," tambahnya.


  ● Republika  

RI PUNYA CADANGAN PANAS BUMI TERBESAR DI DUNIA, TAPI MINIM PENGEMBANGAN

http://images.detik.com/content/2013/11/04/1034/pembangkitpanasbumidifilipina.jpg
Jakarta - Indonesia terletak dalam jalur tumbukan antara lempeng Samudera Australia dan lempeng Benua Asia. Hal tersebut membuat Indonesia memiliki banyak gunung api aktif, dan cadangan energi panas bumi (geothermal) terbesar di dunia.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, potensi panas bumi di dunia yang bisa dimanfaatkan untuk kelistrikan mencapai 113 Giga Watt (GW), di mana 40%-nya dimiliki Indonesia sebesar 28 GW.

Panas Bumi disebut sebagai energi masa depan dan energi hijau, mengapa? Karena hanya memanfaatkan ekstraksi uap dan limbahnya hanya berupa air, sehingga masuk kembali ke dalam tanah lalu digunakan kembali untuk dipanaskan menjadi uap.

"Panas Bumi merupakan sumber energi yang berkelanjutan (sustainable energy) yang memanfaatkan hasil interaksi antara panas batuan dan air yang mengalir di sekitarnya," ujar Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) Ardiansyah dalam diskusi Panas Bumi di Kantor Pertamina Pusat, pekan lalu.

Berdasarkan data Pertamina Geothermal Energy, hanya beberapa negara beruntung dianugerahi panas bumi, di antaranya Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, Filipina, Meksiko, Islandia, dan Selandia Baru.

Salah satu negara yang berhasil mengembangkan adalah Amerika Serikat dan Filipina. Sementara Filipina sendiri berhasil mengembangkan panas bumi mencapai 1.848 megawatt (MW) dari potensi 10,2 GW.

"Kapasitas terpasang pembangkit panas bumi di Filipina sudah mencapai 1.848 MW. Kami sudah mengembangkan panas bumi sejak 20 tahun lalu," kata Director IV Renewable Energy Management Bureu Philippines Departement of Energy Mario C. Marasigan saat berdiskusi di Hotel Park Inn dalam kunjungan WWF Indonesia ke Mount Apo Geothermal Project, Davao, Filipina dikutip Senin (4/11/2013).

Mario mengatakan, dengan pengembangan panas bumi tersebut, negaranya dapat menghemat anggaran sebesar US$ 1,636 miliar atau sekitar Rp 16 triliun.

"Dengan kapasitas terpangan 1.848 MW pembangkit panas bumi saat ini kami bisa menghemat US$ 1,636 miliar sejak memanfaatkan panas bumi, dengan menghemat 17,05 miliar barel BBM," ungkapnya.

Berdasarkan data Philippines Departement of Energy, saat ini penggunaan energy mix di Filipina 5% masih menggunakan minyak, 27% gas bumi, 39% menggunakan batubara, energi air 15%, dan panas bumi 14%.

Posisi Indonesia sendiri total kapasitas terpasang pembangkit panas bumi masih sebesar 1.336 MW dengan potensi 27.141 MW. Dari total kapasitas terpasang tersebut, Indonesia baru memanfaatkan energi panas bumi sebesar 4% dari 40% cadangan panas bumi yang dimilikinya.

"Sayang sekali, potensi kita banyak, tapi yang dimanfaatkan baru sedikit. Bukan pemerintah tidak mau, tapi tidak mudah mengembangkan panas bumi di Indonesia, aspek politik yang paling sulit dihindari," kata Kepala Persiapan Lahan dan Evaluasi Panas Bumi Direktorat Energi Baru Terbarukan, Kementerian ESDM, Bambang Purbiyantoro.

Menurut Bambang, semua persiapan dari ESDM, perusahaannya, kesiapan keuangan sudah ada, namun lagi-lagi ada saja gangguan untuk pengembangan panas bumi di Indonesia.

"Seperti di Rajabasa, Lampung, proyek panas bumi di sana sudah ada, kita mau mengembangkan eh status hutannya ditingkatkan jadi wisata alam, izin pun tidak keluar, karena panas bumi termasuk kegiatan pertambangan," katanya.

Ardiansyah mengungkapkan, banyak ketidaksepahaman antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam memandang panas bumi.

"Panas bumi dianggap sebagai kegiatan pertambangan, padahal kami hanya mengekstrak energi yang keluar dari uap panas, bukan pertambangan. Bahkan jangan salah kita berusaha menjelaskan serinci mungkin kepada pemerintah daerah namun mereka kebanyakan tidak sepaham dengan kami (PGE). Akhirnya uang sudah keluar, investasi, CSR sudah dikeluarkan namun izin tidak keluar," keluhnya.


  ● detikFinance 

"ANONYMOUS INDONESIA" SERANG LAMAN AUSTRALIA

Manila/Jakarta - Para peretas yang mengaku ada kaitannya dengan kelompok aktivis internasional Anonymous, merusak laman-laman bisnis Australia dan kantor pemeritah Filipina.

Satu kelompok yang menamakan dirinya "Anonymous Indonesia' memposting daftar berisi lebih dari 100 situs Australia yang diretas.

Mereka menyebut aksinya ini sebagai jawaban atas laporan aktivitas mata-mata Australia.

Laman-laman yang dibobol dengan pesan singkat "Stop Spying on Indonesia" kebanyakan milik usaha kecil Australia dan sepertinya diserang secara acak.

Menurut Reuters, berita peran Australia dalam program spionase pimpinan AS akan memburukkan hubungan negeri itu dengan Indonesia.

Indonesia sendiri sudah memanggil Dubes Australia menyusul laporan bahwa Kedubes Australia di Jakarta dipakai untuk kegiatan mata-mata.

Dalam kesempatan terpisah, sebuah grup yang menamakan dirinya "Anonymous Philippines" mengungkapkan di laman Facebook-nya bahwa mereka telah meretas situs-situs pemerintah Filipina dengan pesan dukungan untuk kampanye anti politik uang.

"Kami meminta maaf untuk ketidaknyamanan ini, tapi ini adalah cara termudah untuk menyampaikan pesan kami kepada Anda, saudara-saudara kami yang telah lelah oleh kebuasan dan demokrasi yang keliru ini, yang lelah oleh pemerintah ini dan para politisi yang hanya memikirkan dirinya sendiri," bunyi pesan itu seperti dikutip Reuters.

  ♞ Antara 

5 RENCANA TNI BIKIN PERTAHANAN DI JAKARTA

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman dan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin beberapa waktu lalu bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Mereka menyampaikan rencana TNI tentang strategi pertahanan yang tepat untuk Jakarta.

Dalam pandangan TNI, sistem pertahanan nasional bukan hanya di daerah-daerah perbatasan dan daerah-daerah hutan tetapi daerah pada penduduk seperti DKI Jakarta juga harus dijaga ketat. Alasannya, Jakarta merupakan pusat pemerintahan dan pusat perekonomian nasional.

TNI AD telah melakukan kerja sama dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo terkait tata ruang wilayah pertahanan di Jakarta. Selain itu, TNI AD juga akan menempatkan alat pertahanan di kota-kota besar sesuai dengan demografis wilayahnya. Berikut 5 rencana TNI untuk menjadikan Jakarta aman dari sisi pertahanan seperti dirangkum merdeka.com, Sabtu (2/11).

1. Penangkis serangan udara di gedung tinggi

TNI AD berencana memasang sejumlah alat utama sistem persenjataan (Alutsista) atau senjata penangkis serangan udara di atas gedung-gedung tinggi di Jakarta.

"Pada gedung tinggi bisa digunakan. Gedung yang ditentukan tempatnya bisa buat rata, sehingga bisa ditempatkan senjata penangkis udara," ujar KSAD Jenderal Budiman dalam acara operasi katarak dan bibir sumbing gratis memperingati hari Juang Kartika di Silang Monas, Jakarta Pusat, Jumat (01/11).

2. Gedung tinggi zona pendaratan helikopter

TNI berharap di gedung-gedung tertentu di Jakarta dapat juga digunakan sebagai zona pendaratan helikopter logistik yang membawa alat berat seperti radar dan sebagainya.

"Sehingga gedung tinggi ini harus dibuat kokoh, bisa dilandasi helikopter radar dan penembakan penangkis serangan udara," kata KSAD Jenderal Budiman.

Menurut dia, perang masa depan tidak seperti dulu, di hutan atau ditentukan di suatu daerah. Oleh sebab itu, Jakarta sebagai pusat pemerintahan perlu dijaga.

3. Pangkalan tank di bawah Monas

TNI berencana membangun pangkalan tank di bawah Monas. Diperkirakan luas pangkalan militer plus parkir bawah tanah dan pusat souvenir di bawah Monas sekitar 160 hektar. Namun detail bangunan seperti apa belum bisa disampaikan.

"Pembangunan dimulai 2014 nanti. Di bawah monas nanti ada underpass strategi pertahanan saat kondisi darurat, yang saling berhubungan," ujar Jokowi.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan (Kemhan) Sjafrie Sjamsoeddin menemui Jokowi. Keduanya membicarakan singkronisasi antara strategi penataan ibu kota dengan strategi pertahanan negara.

Apalagi, September dan Oktober lalu, militer Indonesia bakal menerima ratusan tank berat. Tank itu bakal masuk Jakarta, lalu disebarkan di satuan operasional. Selain itu, militer juga bakal menerima roket jarak jauh untuk mengamankan ibu kota, serta sejumlah pesawat tempur dan puluhan tank amfibi.

4. Kemayoran untuk pendaratan pesawat tempur

Gubernur Jokowi akan menindaklanjuti koordinasi dengan Kementerian Pertahanan sehubungan penyediaan ruang bagi masuknya peralatan militer. Salah satu perubahan yang akan dilakukan adalah jalan di kawasan Kemayoran bisa dimanfaatkan untuk pendaratan pesawat tempur dengan sedikit mengubah tata ruangnya.

"Di Kemayoran bisa untuk pendaratan pesawat. Karena ada fly over nya itu nanti dipindah menjadi underpass sehingga nanti untuk pendaratan bisa dipakai darurat," kata Jokowi.

5. Marunda untuk jalur peralatan tempur TNI AL

Kawasan Marunda juga dibidik untuk membantu pertahanan melalui laut. Menurut Jokowi, ada lahan seluas 200 hektar di kawasan Marunda yang bisa digunakan untuk peluncuran amfibi. "Di Marunda itu luasnya lebih dari 200 hektar, sebagian wilayah pantainya itu juga nanti bisa digunakan untuk meluncurnya amfibi ke laut. Memang, hal-hal tersebut harusnya sudah kita rancang," kata Jokowi.

  ♞ Merdeka  

120 KARYAWAN PTDI BERHASIL BUAT BADAN HELIKOPTER MILITER EC725 COUGAR

Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyerahkan fuselage (badan) terakit, di mana upper dan lower fuselage helikopter militer EC725 Cougar.

Sejak tahun 2008 lalu, Eurocopter telah mempercayakan PTDI sebagai mitra pengembangan produksi untuk upper dan lower fuselage serta tailboom.

Sesuai dengan rencana, PTDI akan memasok 125 fuselages dan 125 tailbooms untuk EC725 (versi militer) atau EC225 (versi sipil) dalam jangka waktu antara 10-16 tahun. Sebelum mampu menyerahkan badan helikopter EC725 secara terakit, PTDI sudah menyerahkan 23 unit tailbooms (ekor) saja dan 5 unit upper fuselages saja.

Sampai dengan 2014 mendatang, PTDI akan mentargetkan pengiriman 1 unit tailboom setiap 3 minggu dan 1 unit fuselage terintegrasi setiap 10 minggu. PTDI juga merencanakan penambahan shift kerja dan assembly jig untuk menaikan kapasitas produksi.

Karyawan PTDI yang menangani pengerjaan komponen EC725/EC225 Cougar ini terdiri dari 120 orang dengan latar pendidikan, S1, D3 dan SMK dan 80 persennya adalah tenaga-tenaga muda. Pihak Eurocopter juga telah menempatkan personelnya di PTDI Bandung sejak program pengembangan ini dimulai. Nilai kontrak dari Eurocopter yang sudah dipegang oleh PTDI untuk komponen-komponen EC725/EC225 adalah US$ 43 juta.

PTDI merupakan salah satu pemasok komponen EC725/EC225 di samping beberapa perusahaan dari Spanyol dan Timur Tengah. Komponen dari PTDI memang sudah sangat ditunggu oleh Eurocopter dan PTDI harus mampu menjadi pemasok komponen kelas dunia.

Direktur Produksi PTDI, Supra Dekanto, mengatakan PTDI adalah salah satu pemasok industri raksasa di dunia seperti Airbus dan Eurocopter yang pesawat-pesawatnya sudah terbang di berbagai negara di dunia (pemasok global).

"Khusus untuk Airbus, PTDI sudah mengirim lebih dari 3.000 shipset komponen melalui Spirit Aero System dan produksi masih berlangsung sampai saat kini," kata Supra dalam siaran persnya, Jumat (1/11/2013).

Fuselage dan tailboom yang pertama ini akan dikirim ke lokasi Eurocopter di Prancis yang selanjutnya diintegrasikan serta dilengkapi dengan engine dan sistem terbang. Rencananya helikopter pertama ini akan diserahkan ke TNI AU sebagai salah satu pemesan helikopter jenis EC725 ini.

EC725 Cougar merupakan helikopter generasi baru melanjutkan legenda helikopter NAS332 Super Puma. PTDI telah memproduksi NAS332 Super Puma di bawah lisensi Aerospatiale Prancis (sekarang Eurocopter) sejak tahun 1982 lalu.
  ● detikFinance 

TNI AU Tingkatkan Alutsista dan Prajurit Andal

TNI AU akan terus melengkapi alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimilikinya. Setelah selesai, kelengkapan alutsista TNI AU akan diperlihatkan kepada publik pada hari ulang tahun TNI, 5 Oktober 2014.

TNI AU Tingkatkan Alutsista dan Prajurit Andal

"Sampai saat ini, kami mengajukan kelengkapan, mulai dari pesawat T 50, F16, Hercules sebagai pesawat angkut dari Australia. Kemudian pesawat latih kami menunggu dari Jerman, heli Cougar akan digunakan Combat SAR, dan Supertucano akan menjadi satu skuadron," kata Kepala Staf TNI AU (Kasau), Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia, pada latihan perang Angkasa Yudha 2013 di Landasan Udara Ranai, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu.


Lebih jauh, Kasau menuturkan pada tahun 2014, pimpinan TNI AU akan memperlihatkan dan mempertanggungjawabkan semua peralatan baru tersebut kepada masyarakat. Semua alutsista yang baru dengan kondisi terbaik, yang memperkuat jajaran TNI AU, akan dapat dilihat secara langsung oleh rakyat.

Saat ditanya mengenai penambahan alutsista untuk TNI AU, Putu Dunia menyerahkan kepada pihak Kementerian Pertahanan (Kemhan) yang menjadi penentu kebijakan dalam pembelian alutsista. "Penambahan alusista, itu kebijakan Kemhan, tapi kami akan ada tim yang melihat lagi MEF (Minimum Essensial Force) yang sudah ada dan akan kami sempurnakan. Apa yang sudah jadi kebijakan, ya berlanjut. Ke depan, kami tunggu keputusan dari Menhan," kata Kasau.

Sementara itu, Menteri Pertahanan (Menhan), Purnomo Yusgiantioro, mengatakan Indonesia membutuhkan sedikitnya 34 radar untuk bisa menunjang pengawasan TNI AU dalam menjaga wilayah udara Indonesia. "Jadi, radar TNI AU itu radar primer. Kalau sekunder itu untuk keperluan komersiil. Sementara ini mereka bekerja sama dengan baik," kata Menhan.

Untuk sekarang, prioritas penambahan radar dipusatkan di bagian timur Indonesia. Hal itu dilakukan agar pengawasan arus penerbangan di wilayah tersebut bisa dilakukan secara maksimal. "Wilayah barat sebagian sudah terpenuhi. Kalau wilayah timur, ya bertahap. Untuk rencana strategis (renstra) pertama, ada empat yang harus dipenuhi," tutur Purnomo.

Meski begitu, ujar Menhan, pemenuhan radar yang kurang tersebut akan dilakukan secara bertahap. Selain bertahap, pemenuhan radar tersebut menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Perencanaan Pembangunan nasional (Bappenas). "Untuk renstra pertama sampai 2014 ini, kami rencana membeli empat radar, harganya total 150 juta dollar AS," papar dia.

Sementara itu, Komandan Satuan Radar 212 Lanud Ranai, Mayor (Lek) Feri, mengatakan radar yang terpasang di Lanud Ranai jangkauannya bisa mencapai 540 km. Aktivitas radar tersebut juga sangat baik untuk mengintai arus penerbangan yang melewati udara di Natuna. Jangkauan radar ini bisa sampai Kucing, wilayah Malaysia. Radar di Lanud Ranai ini dijaga 47 personel.

Prajurit Andal


Dalam kesempatan itu, Kasau mengungkapkan rasa puas dan bahagianya atas suksesnya latihan puncak Angkasa Yudha 2013. Menurut dia, latihan itu ditujukan untuk mencetak prajurit yang andal.

"Perlu diketahui, ke depan, saya ingin punya tentara yang kuat untuk menembak di darat dan di laut. Sebab nanti ancaman sasaran juga di laut. Jadi kami latih prajurit yang bisa tembak di laut," ujar Kasau terkait latihan pengeboman di laut.

Meski merasa puas, Kasau menjelaskan TNI AU masih akan mengevaluasi hasil latihan puncak Angkasa Yudha 2013. "Beberapa hal perlu kita evaluasi, seperti operasi medikal udara. Saya rasa perlu tambahan pesawat di mana doktrin yang kami lakukan hanya turunkan pasukan, peralatan, dan seleksi korban," kata Kasau.

Sebenarnya, dalam operasi itu, lanjut Kasau, hampir 40 persen personel yang terlibat operasi bisa menjadi korban dan 10 persen korban harus segera dievakuasi. "Jadi, pertama, pesawat SAR itu harus membawa korban yang terlihat nyata. Nah tim dari pesawat belakangnya baru membikin rumah sakit dan menyeleksi yang sakit," lanjut dia. (KJ)

Langkah Awal LAPAN Meluncurkan Roket Menuju Mars

Beberapa negara sudah memulai proyek penelitian untuk memungkinkan umat manusia menghuni planet tersebut.Selasa sore kemarin, India sudah meluncurkan roket yang membawa pengorbit pertama mereka ke Mars.

Langkah Awal LAPAN Meluncurkan Roket Menuju Mars

Lalu kapan Indonesia? Pertanyaan itu begitu menantang dan membayangkan saja tidak tega. Tapi pertengahan Oktober lalu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah mulai melangkah ke arah sana.

Setidaknya, diskusi ke arah itu sudah mulai digalakkan dalam momen penyelenggaraan Festival Sains Antariksa (FSA) di Pusat Sains Antariksa Lapan, Bandung, Sabtu (19/10).


Kegiatan ini merupakan wujud partisipasi Lapan dalam World Space Week 2013 dan rangkaian menyambut HUT Lapan ke-50 pada 27 November 2013. FSA yang diikuti 152 siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tersebut bertema Exploring Mars, Discovering Earth.

"Sesuai dengan tema, dengan mengeksplorasi Mars, kita juga mempelajari Bumi kita sendiri. Belajar cara menciptakan lingkungan hidup yang kita inginkan, dan cara manusia bisa mengelola sumber daya yang ada," kata Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan Clara Yono Yatini dalam sambutannya dilansir dari laman Lapan,lapan.go.id.

Guru pendamping peserta FSA 2013 mengikuti sesi tanya jawab setelah presentasi Pengaruh Lingkungan Ruang Angkasa terhadap Pertumbuhan Tanaman serta misi Space Seeds for Asian Future (SSAF) pada acara FSA 2013 di Auditorium Lapan Bandung.

Perlukah Bangsa Indonesia ke Mars?

NKRI dibangun untuk berdiri selamanya. Jadi kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan di masa mendatang juga merupakan milik bangsa ini. Setidaknya Indonesia dari sekarang harus bersiap, jikalau suatu saat bumi yang dihuni umat manusia mengalami gangguan kosmologis. Ada banyak tujuan lain mengeksplorasi Planet Mars.

"Berjaga-jaga terhadap tumbukan Bumi dengan asteroid di kemudian hari, mengurangi kepadatan penduduk di Bumi, serta mengembangkan berbagai bentuk teknologi baru," ujar Gunawan Edmiranto Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN dalam presentasinya.

Di FSA ini juga ditampilkan presentasi misi Space Seeds for Asian Future (SSAF) oleh tim SSAF Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB). Mereka memberikan gambaran tentang biji yang dibawa dan ditumbuhkembangkan di ruang angkasa.

"Kesimpulan yang didapat dari eksperimen tersebut yaitu biji ruang angkasa mengalami kerusakan kulit biji dan aberasi kromosom," ujar Chunaeni Latief dari SITH ITB. Ia menambahkan, meskipun ada perbedaan pada pertumbuhan dan produktivitasnya, penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan. (ROL)
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner