Select Language

Jumat, 01 November 2013

Pengamanan Jakarta dan Penempatan Tank Leopard

Tank Leopard 2A4 TNI AD
Tank Leopard 2A4 TNI AD
Untuk  mendukung pertahanan Ibu Kota, TNI Angkatan Darat membangun garasi tank tempur utama (main battle tank/MBT) Leopard di bawah tanah dekat Monumen Nasional.  Garasi ini untuk mempermudah pergerakan pasukan dan mendukung pertahanan dalam perang kota.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Budiman, mengatakan, garasi tank bawah tanah tersebut akan dibangun dekat kompleks rumah susun TNI AD yang sedang dibangun di Pejambon, Jakarta Pusat. “Batalyon MBT Leopard berpangkalan di Jawa Barat dan Jawa Timur. Untuk melindungi ibu kota Jakarta dibangun pangkalan berupa garasi bawah tanah dekat Istana Negara dan Monas,” kata Jenderal Budiman optimistis.
Garasi bawah tanah tersebut mempermudah pergerakan pasukan dan mendukung pertahanan dalam perang kota. TNI AD belajar dari situasi kekacauan yang pernah terjadi di Ibu Kota sehingga perlu antisipasi.
Operator MBT Leopard dan tank angkut personel (APC) Marder adalah Divisi I Kostrad di Cilodong, Jawa Barat, dan Divisi II Kostrad di Malang, Jawa Timur.
Proyek tersebut, menurut Budiman, akan bersinergi dengan pembangunan pertahanan ruang udara Jakarta.
TNI AD juga menunggu kedatangan sejumlah peluru kendali darat permukaan (surface to air missile/SAM) terbaru yang didatangkan dari Eropa. Sistem rudal itu adalah Mistral buatan Perancis dan Starstreak buatan Inggris.
Rudal Starstreak Monopod
Rudal Starstreak
Koordinasi dengan Jokowi
KSAD mengaku sudah berkoordinasi dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk penempatan rudal tersebut di puncak-puncak gedung di kawasan bisnis penting Jakarta kalau suatu saat negara memerlukannya.
“Payung hukumnya adalah Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang dan Rencana Wilayah yang mengatur tentang Tata Wilayah Pertahanan. Bahkan, disiapkan gorong-gorong (drainase) yang menjadi sarana pertahanan seperti di luar negeri,” kata Budiman.
Dia meyakini Gubernur Joko Widodo bisa berkordinasi dengan para pemilik gedung demi kepentingan pertahanan negara. Penempatan baterai rudal dan unit-unit helipad di atas gedung itu juga akan digunakan untuk pertahanan keadaan darurat.
Pertahanan gorong-gorong tersebut bukan hal baru. Pada abad ke-19 di Kota Batavia sudah dibangun garis Van den Bosch atau jalur pertahanan berupa gorong-gorong yang menghubungkan titik strategis di Kota Batavia.
Tugu Monas Stasiun Gambir - Google Maps
Tugu Monas Stasiun Gambir – Google Maps
Rusun TNI AD
KSAD menambahkan, saat ini ada dua tower rumah susun TNI AD yang selesai dibangun di sebelah selatan Monas. Rumah susun tersebut menampung para perwira TNI AD agar tinggal tidak jauh dari Markas Besar TNI AD.
Setiap hunian yang dibangun itu mampu menampung perwira dengan istri dan dua anak. Satuan rumah susun yang sudah dibangun adalah tipe 70 sebanyak 59 unit dan tipe 47 sebanyak 162 unit. Pembangunan rumah susun empat lantai dengan empat menara tersebut menelan biaya Rp 85 miliar.
Rumah susun tersebut dilengkapi dengan helipad, mess, dan fasilitas seperti apartemen. Biaya pembangunan rumah susun TNI AD tersebut ditekan sedemikian rupa sehingga hanya Rp 2.3 juta per meter persegi.
Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanudin yang dihubungi terpisah berpendapat langkah itu sangat strategis.
“Namun, harus diingat, penempatan MBT Leopard di garasi bawah tanah tersebut berfungsi sebagai basis operasi dan bukan basecamp. Basis operasi itu dalam keadaan damai bisa digunakan untuk kepentingan sipil,” kata Tubagus Hasanudin.
Dia mencontohkan, di bawah Lapangan Merah (Krasnoyarsk Ploshchad) Moskwa pun terdapat ruangan bawah tanah untuk instalasi militer. Bahkan, ada sarang peluru kendali (silo) di lapangan sebelah Kremlin (secara harfiah berarti ‘benteng’) yang menjadi pusat pemerintahan Rusia.
Tubagus Hasanudin mengingatkan, selain menyimpan tank Leopard di bawah tanah, KSAD juga harus memperhitungkan dengan cermat pengaturan pergerakan tank tersebut di Ibu Kota dalam keadaan darurat. (ONG/ Kompas Cetak 23/10/2013)

Know How Hibah F-16 AS by Cinta Tnah air

F-16 block 25 yang akan dihibahkan kepada Indonesia sebelum direfurbish (photo: F-16.net)
F-16 block 25 yang akan dihibahkan kepada Indonesia sebelum direfurbish (photo: F-16.net)
Pembahasan tentang hibah pesawat tempur F-16 dari USA seru dan menarik untuk dicermati. Ini informasi tambahan, tentang pro kontra hibah pesawat F16. Semoga bermamfaat:
Varian F-16
Seperti mesin perang lainnya, F-16 terdiri dari berbagai varian, dengan kemampuan dan konfigurasi mesin, avionik, hingga persenjataan yang berbeda, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Dimulai dari seri A/B dengan versi block 1/15/15OCU/MLU, kemudian seri C/D dengan versi Block 25/30/32/40/50/52/50D/52+, serta yang termutakhir F-16 E/F Block 60.
F-16 A/B Block 15 OCU milik TNI AU
Dari seluruh varian F-16, TNI AU kini memiliki sepuluh unit F-16 A/B Block 15 OCU. Pada saat awal kedatangannya tahun 1989 memang perangkat persenjataannya belum lengkap di datangkan, namun pada perkembangan selanjutnya, F-16 milik TNI AU turut dilengkapi dengan Misil Sidewinder P4 All aspect, dan juga AGM-64D Maverick. Selain itu verisi Block 15 OCU juga dilengkapi dengan HUD yang lebih besar, serta memiliki perangkat radar altimeter sebagai standar, yang memungkinkan F-16 ini dapat melakukan navigasi terbang rendah mengikuti kontur bumi. Dengan demikian F-16 yang TNI AU miliki memiliki kemampuan untuk bertempur dalam cuaca dan menyerang dengan presisi yang tinggi. Oleh karena itu dalam operasi latihan militer F-16 kerap dijadikan penyerang penutup untuk menghabisi sasaran yang tersisa. Selain handal dalam operasi latihan, dalam kondisi tempur F-16 tetap dapat menunjukan taringnya. Bahkan kini F-16 masih diadikan kuda beban untuk melaksanakan berbagai tugas guna mendukung penegakan kedaulatan NKRI, contohnya adalah operasi patroli di wilayah Ambalat, hingga berbagai patroli di atas pulau-pulau terluar. Kemampuan F-16 untuk melakukan tugas-tugasnya juga di dukung oleh kemampuannya untuk dapat terbang jarak jauh, bahkan apabila membawa beban persenjataan yang sangat berat.
Kesepahaman antara DPR dan pemerintah dalam pengadaan F-16 masih terus mencari titik temu dari segi teknologi dan pembiayaan. Komisi I DPR, sebagai mitra pemerintah dalam bidang pertahanan dan keamanan nasional, memberikan beberapa persyaratan dan skema pembiayaan. Seperti apa? Berikut polemik sekitar ini.
DPR dan pemerintah telah sepakat bahwa pengadaan F-16 penting bagi TNI untuk meningkatkan performa dan kewibawaan TNI di lingkungan regional. Tertuang dalam rencana pembelian di tahun 2011, telah disepakati alokasi dana untuk pembelian 6 unit F16 baru untuk block 52+, senilai lebih kurang us$ 430juta. Alokasi pembelian armament (senjata) dipersiapkan secara terpisah.
Dalam perkembangannya timbul opsi lain. Hasil komunikasi antara TNI AU dan pemerintah Amerika, secara Goverment to Goverment, pemerintah Amerika menawarkan program hibah F-16 kepada pihak Indonesia. Program hibah ini disampaikan juga oleh Presiden Barrack Obama dalam kunjungan singkatnya ke Indonesia pada 9 November 2010 yang lalu. Hibah F-16 ini telah mendapat persetujuan dari Kongres Amerika, dengan komposisi sbb : maksimal 28 unit F-16 block 25, 2 unit F-16 block 15, dan 28 engine utk F-16 block 25, dengan kondisi “as is where is” (seperti itu, di lokasi itu) alias apa adanya untuk pesawat F-16 yang diparkir di Arizona.(tempat penyimpanan) parkir
Di Arizona, terdapat sebuah padang luas, tempat dimana Amerika memarkir pesawat-pesawat tempur, baik yang masih digunakan maupun yang tidak digunakan lagi oleh militer Amerika. Padang Arizona memiliki kelembaban yang rendah, sehingga pesawat yang diparkir di sana tidak mengalami korosi/kerusakan akibat humiditas. Kongres Amerika telah memberikan izin 28 unit F-16 untuk Indonesia, sementara Indonesia hanya butuh 24, jadi sudah terdapat titik terang. F-16 yang dimaksud kondisi nya terpakai 4000jam sd 6000jam, sehingga harus dilakukan program Falcon Star agar dapat digunakan hingga 8000jam terbang. Menurut KSAU, rata-rata pesawat akan digunakan 10-20jam/bulan, sehingga pesawat bekas tersebut dapat digunakan selama 12 – 15 tahun.
Karena “as is where is”, berarti delegasi Indonesia harus berangkat ke Arizona akan memilih 24 unit pesawat yang terbaik dari ratusan F-16 blok 15,25 yang terdapat di sana.
Dalam penjelasan yang disampaikan menteri pertahanan kepada komisi 1, lebih lanjut ditengarai bahwa pemerintah Amerika ternyata tidak memberikan hibah “begitu saja”. There no ain’t such thing as a free lunch, tidak ada makan siang yang gratis. Mereka menawarkan konsep hibah plus upgrade.
Terjadi Dispute. Proposal yang disampaikan menteri pertahanan, diperlukan biaya sekitar us$ 450 juta – 600 juta untuk proses hibah (termasuk upgrade 24 pesawat) tersebut. Pada kesempatan yang berbeda, terjadi penjelasan Panglima TNI dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I, ada dua catatan terhadap proses hibah dan upgrade ini. Pertama, pesawat setelah diambil dari Arizona, kemudian akan diupgrade ke block 32. Hasil upgrade bisa selesai dan dikirim ke Indonesia, paling cepat pada tahun 2014 sebanyak 4 (empat) unit, setelah itu disusul dengan pengiriman lainnya. Kedua, biaya hibah dan upgrade 450 juta US dollar harus dibayar pemerintah Indonesia di awal, TUNAI ( perlu diingat ya ..Tunai di muka) (berharap tidak diembargo, tahu tahu barang tidak dikirim) uang hangus
Atas persyaratan tersebut, maka terjadilah perdebatan panjang di ruang rapat Komisi I antara anggota Komisi I DPR RI dengan Pihak Kemenhan.
F-16 Block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia selagi bertugas di Air National Guard (photo; F-16.net)
F-16 Block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia selagi bertugas di Air National Guard (photo; F-16.net)
Beberapa pemikiran yang dimunculkan oleh anggota Komisi I antara lain:
Pertama; kalau waktu delivery nya lama, kenapa harus beli bekas. Kalau beli baru, kita butuh waktu sekitar 36 bulan (sekitar 3 tahun) untuk mendapatkan 6 unit saja dengan daya tahan atau pemakaian jauh lebih lama (up to 8000jam pemakaian). Resiko membeli bekas, dari segi teknologi sudah pasti ketinggalan, walau memang harus diakui dari segi jumlah pesawat lebih banyak dengan jumlah uang yang sama.
Kedua; bila membeli bekas dan kemudian akan melakukan upgrade, maka Komisi I secara bulat mempunyai pemikiran, “bagaimana jika 24 unit pesawat F-16 tersebut diupgrade ke teknologi terbaru saja?”. Berdasarkan penjelasan Kemhan dan TNI AU, block 25 dan bloc 52 memiliki 2 perbedaan mendasar yaitu Perbedaan Sistem Avionik (block 32 menggunakan teknologi Commercial Fire Control Computer – CFCC, block 52 menggunakan teknologi Modular Mission Computer – MMC), Perbedaan Engine (engine block 52 berukuran lebih besar), dan Perbedaan Airframe (mengakomodasi mesin block 52 yang lebih besar, dan penambahan ruang angkut bahan bakar). Pilihannya adalah 24 F-16 block 25 tersebut diganti sistem avionik nya (termasuk mengganti cockpit) menjadi sistem avionic block 52 (sistem persenjataan menyesuaikan), sementara airframe dan engine tetap.
Sisi Teknologi
Konsep Hybrid (perkawinan), yaitu F-16 block 25, dengan kekuatan mesin tetap block 25, tapi avionik serta senjatanya di upgrade ke block 52. Keunggulan terdapat di avionic block 52, yang lebih canggih dari avionic block 25 dan block 32. Catatan : Proposal Kemhan mengusulkan agar upgrade avionic dilakukan menjadi block 32.
Pertimbangan yang mengemuka : karena Indonesia negara kepulauan, maka tidak membutuhkan mesin dengan jangkauannya lebih jauh. Untuk menjangkau Malaysia, misalnya, bisa dari kepulauan Riau, atau Pontianak untuk menjangkau wilayah Malaysia yang dekat Kalimantan. Begitu juga, untuk menjangkau Timor Leste bisa dari Kupang.
Dasar pemikiran dari Komisi I dengan konsep Hybryd itu terkait dengan “efek getar” (deterrent effect) dan daya tangkal. Singapura memiliki F-16 block 52 sejak tahun 1998 yang lalu.. Jadi kalau Indonesia di tahun 2014 memiliki 24 unit F-16 yang diupgrade “hanya” menjadi block 32, maka dinilai tidak mempunyai efek getar di kawasan.
Komisi 1 mempersilahkan Kemhan untuk mempersiapkan beberapa opsi, dilengkapi perkiraan biaya dan waktu, untuk menjadi bahan pertimbangan yang diperlukan. Proposal Kemhan untuk meng upgrade menjadi block 32, dan butuh waktu 3 tahun, dengan ongkos us$450 juta, sementara dari segi efek getarnya juga tidak terasa, maka menurut Komisi I, adalah keputusan yang “nanggung”, perbuatan setengah-setengah. Adalah lebih baik sekalian saja beli pesawat tempur baru sebanyak 6 unit blok 52. Selain efek getarnya lebih terasa, umur pemakaian juga akan lebih lama, yaitu sekitar 30 tahun, dibanding pesawat bekas yang hanya berumur 12 tahun.
F-16 Block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia selagi bertugas di Air National Guard (photo; F-16.net)
F-16 Block 25 yang akan dihibahkan ke Indonesia selagi bertugas di Air National Guard (photo; F-16.net)
Sisi Pembiayaan
Polemik kedua berkaitan dengan sisi pembiayaan. Skema pembayaran FMS (Foreign Military Sale) yang ditawarkan oleh pemerintah, sangat menarik, yaitu G to G (negara dibayar oleh Negara). Namun muncul pemikiran : Hibah, kok Mbayar?
Muncul pemikiran : (mungkin) pesawat bekas nya hibah, tetapi di “bundled” dengan membayar utk pelaksanaan program Falcon Star dan Upgrade.
Skema pembayaran FMS, ada kelemahannya : Pemerintah Amerika minta dibayar tunai 70% dimuka. Artinya, pesawat dikirim 2014 tapi pemerintah harus bayar lebih dulu, sekarang juga. Uang sebesar itu (70% x us$450 juta) tertahan diam di kas pemerintah Amerika. Sungguh disayangkan, semestinya dana sebesar itu bisa kita manfaatkan untuk membeli keperluan TNI lainnya seperti pembangunan pesawat patroli, kapal patroli, tank tempur, dan lain-lain. Ada masukan agar melalui Pinjaman Dalam Negeri oleh Bank Pemerintah, sebagai contoh melalui Bank Mandiri cabang New York, Bank Mandiri atas nama Pemerintah membayar penuh ke pemerintah Amerika, sementara Kemhan membayar ke Bank Mandiri secara installment per tahun (dicicil).
Komisi I sekarang ingin berbuat lebih baik dalam masa pengabdiannya. Jangan sampai hanya menjadi “tukang stempel” pemerintah. Tapi harus benar-benar menjadi mitra pemerintah dalam menghasilkan sesuatu yang terbaik untuk bangsa dan negara. Karenanya Komisi I membahas setiap persoalan, secara detil, teliti, dan berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara secara konsisten.
Sisi Pengerjaan Upgrade
Komisi 1 juga menyampaikan pemikiran : untuk memberdayakan kemampuan engineering Dalam Negeri, bagaimana bila proses Falcon Star dan Upgrade Block, dilakukan di wilayah Republik Indonesia? Sehingga terjadi proses pembelajaran dan transfer of technology yang bisa diserap oleh bangsa Indonesia. Kalau proses Falcon Star dan pelaksanaan Upgrade sepenuhnya dilakuka di Amerika, komisi 1 menganggap tidak ada nilai lebih yang signifikan buat industri pertahanan Dalam Negeri. Ini bagian dari komitmen Komisi 1 untuk mendukung pemberdayaan terhadap teknologi dan industri dalam negeri dalam menuju kemandirian alutsista. Pengerjaan upgrade-nya harus dilakukan di Indonesia dengan supervisi dari pihak produsen utama. Kami di Komisi I mengetahui bahwa anak-bangsa kita mempunyai potensi dan kemampuan untuk di bidang teknik perawatan dan upgrade alutsista.
Memahami pemikiran Komisi 1, anak bangsa Indonesia akan mempunyai kesempatan untuk melakukan bongkar-pasang pesawat-pesawat F-16 tersebut. Meskipun mengerjakan barang bekas, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh anak bangsa tersebut merupakan aset yang sangat berharga dalam perjalanan bangsa ke depan. Jelas itu jauh lebih berguna bila dibandingkan : beli barang bekas, diupgrade oleh produsen langsung, duit terbang ke negara lain, sementara bangsa sendiri tidak pernah diberi kesempatan untuk pintar.
Jadi selain syarat teknologi dan pembiayaan, Komisi I juga memberikan penekanan pada aspek pengerjaan up-grade tersebut.
Dalam dua kali pertemuan, yaitu Senin (19/09) dan Rabu (21/9) antara pihak Pemerintah dan DPR, kesepakatan belum dicapai. Pihak pemerintah masih akan mengkaji keinginan Komisi I, dan Komisi I juga belum bisa menyetujui kemauan pemerintah. Pihak pemerintah yang hadir dalam pertemuan antara lain Menhan, Wamenhan, Sekjenhan, Panglima TNI, Asrenum (Asisten Perencanaan Umum) didamping oleh Kasau, Wakasau, dan jajaran Angkatan Udara. (by Cinta Tnah air).

Eurocopter EC 725 Cougar TNI AU 2014

Eurocopter Cougar EC-725 MkII (photo: Dmitry A. Mottl)
Eurocopter Cougar EC-725 MkII (photo: Dmitry A. Mottl)
PT Dirgantara Indonesia segera menyerahkan fuselage atau badan pesawat helikopter EC 725 Cougar kepada perusahaan patungan Prancis-Jerman-Spanyol, Eurocopter. ”Sejak tahun lalu kita jadi mitra strategis Eurocopter Perancis. Disainnya dari mereka, gambarnya dari mereka. Itu nol banget. Lalu kita kerjain komponen dari gambar itu. Kita bikin badan tengah dan buntutnya,” ujar Kepala Komunikasi PT DI Sonny Saleh Ibrahim, di Kantor PT DI, Bandung (23/10/2013).
Rencananya badan pesawat ini yang akan diserahkan pekan ini ke Eurocopter di Perancis. Selanjutnya, Eurocopter memasang mesin dan baling-balingnya. “Pengerjaan sekitar enam bulan di sana. Setelah itu dikembalikan lagi kepada kita. Kita assembly-nya. Setelah beres kita serahkan pada TNI AU,” jelas Sonny.
Menurutnya helikopter Cougar ini memang dipesan oleh TNI AU. “Mereka memesan empat buah pada kita. Jadi kita tuh under licensed dengan Eurocopter. Karena hak ciptanya ada di mereka, cuma kita yang buat komponennya,” ujar  Kepala Komunikasi PT DI Sonny Saleh Ibrahim.
Ketika ditanya berapa nilai proyek empat buat helikopter ini, Sonny mengaku tidak memegang datanya. “Saya lupa lagi,” katanya. Ditargetkan empat unit helikopter Couger ini akan selesai akhir 2014.
EC725 Brazil Navy (photo:defenseindustrydaily.com)
EC725 Brazil Navy
(photo:defenseindustrydaily.com)
Mengenai kerjasama dengan Eurocopter, kemungkinan akan berlangsung lama. Sebab bukan tidak mungkin helikopter EC725 Cougar dipesan oleh negara lain. Ia menyebut untuk kembali modal, Eurocopter setidaknya harus menjual 80 unit.
“Nah kalau ada yang pesan pada mereka, pastinya PT DI terlibat. Karena kan komponennya kita yang buat. Meski under license, untuk helikopter ini kita ikut dari nol. Kalau yang lain seperti Superpuma, itu komponen bukan kita yang bikin,” terang Sonny. (finance.detik.com).
Berdasarkan press release dari Eurocopter,  kontrak kerjasama dengan PT DI meliputi pembuatan enam helokopter multi-role EC 725, yang  diserahkan kepada TNI AU mulai tahun 2014 berdasarkan kontrak yang ditandatangani bulan Maret 2012.
General characteristics EC-725
  • Crew: 1 or 2 (pilot + co-pilot)
  • Capacity: 1 chief of stick + 28 troops or 5,670 kilograms (12,500 lb) payload
  • Length: 19.5 m (64 ft 0 in)
  • Height: 4.6 m (15 ft 1 in)
  • Empty weight: 5,330 kg (11,751 lb)
  • Gross weight: 11,000 kg (24,251 lb)
  • Max takeoff weight: 11,200 kg (24,692 lb)
  • Powerplant: 2 × Turboméca Makila 2A1 turboshaft engines, 1,776 kW (2,382 hp) each
  • Main rotor diameter: 16.20 m (53 ft 2 in)
  • Main rotor area: 206.1 m2 (2,218 sq ft)
Performance
  • Maximum speed: 324 km/h (201 mph; 175 kn) in level flight
  • Cruising speed: 285 km/h (177 mph; 154 kn)
  • Never exceed speed: 324 km/h (201 mph; 175 kn)
  • Range: 857 km (533 mi; 463 nmi)
  • Ferry range: 1,325 km (823 mi; 715 nmi)
  • Service ceiling: 6,095 m (19,997 ft)
  • Rate of climb: 7.4 m/s (1,460 ft/min)

Super Tucano Akan Menjaga Papua

Super Tucano TNI AU (photo : Viva)

TNI AU Datangkan Pesawat Tempur ke Papua


SENTANI - Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara II (Pangkoopsau II) Marsekal Muda Agus Supriatna, memberikan perhatian khusus kepada Papua yang berada di perbatasan negara. Perhatian tersebut, dengan mendatangkan pesawat tempur taktis ke Papua untuk memperketat penjagaan terhadap pesawat asing yang masuk ke wilayah Papua.

"Kita bersyukur karena pemerintah telah mempercayakan kepada kami, khususnya TNI AU hinga akhirnya bisa membeli pesawat tempur taktis seperti Tucano dari Brazil, yang akan di standby-kan di wilayah Papua," ungkapnya kepada wartawan Kamis (18/10) kemarin.

Menurutnya, pesawat tempur yang akan diletakkan di Papua merupakan rencana strategis, mengingat Papua merupakan daerah perbatasan. Dengan adanya pesawat tempur taktis itu, Agus berharap akan bisa memantau keadaan dan situasi di Papua secara keseluruhan. "Itu sangat strategis kalau kita standby-kan di sini nantinya. Namun karena pesawatnya belum lengkap 16 unit, maka memang belum kita gerakkan, namun suatu saat nanti akan kita standby-kan di sini," sambungnya.

Super Tucano TNI AU (photo : Okezone)

Disinggung mengenai pesawat asing yang beberapa kali "mampir" ke wilayah Papua tanpa ijin, Agus membenarkan adanya hal itu. Dan dalam rangka itulah pihaknya akan mendatangkan pesawat tempur taktis tersebut ke Papua. Namun menurut Agus, menyikapi adanya pesawat asing yang masuk ke wilayah RI, pihak TNI AU, khususnya Pangkalan Udara yang ada di Papua, selalu menindak tegas terhadap pesawat asing yang masuk ke wilayah Papua.

"Makanya kita simpan radar di Biak dan di Merauke juga. Radar itu nantinya untuk pengawasan itu, jadi setiap ada pesawat-pesawat yang unschedule (di luar jadwal izin "red) maka kita pasti amankan. Kalau mereka tidak ada ijin, maka kita tidak akan keluarkan pesawat tersebut hingga mereka mengurus perizinannya,"jelasnya.

Bukan hanya itu saja, Marsekal TNI Agus juga mengklaim beberapa kali telah menangkap pesawat yang datang dari Australia maupun PNG ketika berada di Merauke dan beberapa tempat yang ada di Papua. Jika ditemukan benda-benda yang tidak sesuai dengan izin, maka akan disita.

"Jadi kalau ada kamera, video, dan lain sebagainya akan kita ambil. Jangan-jangan mereka ingin mendokumentasikan sesuatu. Pokoknya harus ada izin dahulu. Kalau tidak ada ijin, kita akan rampas, dan mereka harus bertanggungjawab," tegasnya.

(JPNN)

Korpaskhas Bentuk 15 Satuan Baru

Satuan Bravo 90 Paskhas AU (photo : teguh212)

SOREANG, (PRLM).- Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) Angkatan Udara (AU) makin berkembang dengan peresmian 15 satuan baru. Peresmian dilakukan Kepala Staf AU Marsekal TNI IB Putu Dunia pada upacara peringatan ulang tahun ke-66 Korpaskhas di Lapangan Jingga Lanud Sulaiman, Kamis (17/10/2013).

Validasi dan regrouping Korpaskhas sesuai dengan keputusan Kepala Staf AU No. 527/IX/2013 tertanggal 10 September 2013. Pengembangan Korpaskhas yakni Wing 3 Paskhas di Medan yang sebelumnya Wing 3 di Lanud Sulaiman khusus pendidikan. Korpaskhas juga membentuk batalyon 469 Medan, Detasemen 471, Detasemen 472, Detasemen 473, dan Detasemen 474.

Selain itu, Korpaskhas juga membentuk Detasemen Matra 1, Detasemen Matra 2, Satuan Pendidikan Pusdiklat di Lanud Sulaiman membawahkan Satdik Hanud, Satdik Khusus, Satdik Tempur Darat, dan Satdik Matra. Khusus pasukan anti teror yang sebelumnya bernama Detasemen Bravo 90 juga ditingkatkan menjadi Satuan Bravo 90. Satuan anti teror ini membawahkan Detasemen 901, Detasemen 902, dan Detasemen 903.

Menurut Putu Dunia, pengembangan Korpaskhas merupakan upaya mengantisipasi tantangan ke depan yang makin kompleks. "Korpaskhas harus mengambil keputusan cepat dan tindakan tepat baik dalam perang maupun non perang khususnya membantu masyarakat saat bencana," katanya.

(Pikiran Rakyat)

Pembentukan Skuadron Super Tucano di Papua

Super Tucano TNI AU (photo: viva.co.id)
Super Tucano TNI AU (photo: viva.co.id)
Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara II (Pangkoopsau II) Marsekal Muda Agus Supriatna, memberikan perhatian khusus kepada Papua yang berada di perbatasan negara dengan mendatangkan pesawat tempur taktis ke Papua untuk memperketat penjagaan terhadap pesawat asing yang masuk ke wilayah Papua.
“Kita bersyukur karena pemerintah telah mempercayakan kepada kami, khususnya TNI AU hinga akhirnya bisa membeli pesawat tempur taktis seperti Tucano dari Brazil, yang akan di standby-kan di wilayah Papua,” ungkapnya kepada wartawan 18/10/2013.
Marsekal Muda Agus Supriatna, pesawat tempur yang akan diletakkan di Papua merupakan rencana strategis, mengingat Papua merupakan daerah perbatasan. Dengan adanya pesawat tempur taktis itu, Pangkoopsau II berharap bisa memantau keadaan dan situasi di Papua secara keseluruhan. “Itu sangat strategis kalau kita standby-kan di sini nantinya. Namun karena pesawatnya belum lengkap 16 unit, maka memang belum kita gerakkan, namun suatu saat nanti akan kita standby-kan di sini,” sambungnya.
Super Tucano TNI AU (photo:viva.co.id)
Super Tucano TNI AU (photo:viva.co.id)
Disinggung mengenai pesawat asing yang beberapa kali “mampir” ke wilayah Papua tanpa ijin, Marsekal Muda Agus Supriatna  membenarkan hal itu.  Dan dalam rangka itulah TNI AU akan mendatangkan pesawat tempur taktis tersebut ke Papua. Menyikapi adanya pesawat asing yang masuk ke wilayah RI, pihak TNI AU, khususnya Pangkalan Udara yang ada di Papua, selalu menindak tegas terhadap pesawat asing yang masuk ke wilayah Papua.
“Makanya kita simpan radar di Biak dan di Merauke juga. Radar itu nantinya untuk pengawasan itu, jadi setiap ada pesawat-pesawat yang unschedule (di luar jadwal izin “red) maka kita pasti amankan. Kalau mereka tidak ada ijin, maka kita tidak akan keluarkan pesawat tersebut hingga mereka mengurus perizinannya,”jelasnya.
Super Tucano akan ditempatkan di Papua untuk antisipasi Pesawat Asing / Intruders (photo: TNI AU)
Super Tucano akan ditempatkan di Papua untuk antisipasi Pesawat Asing / Intruders (photo: TNI AU)
Bukan hanya itu saja, Marsekal Muda TNI Agus juga mengklaim beberapa kali telah menangkap pesawat yang datang dari Australia maupun PNG ketika berada di Merauke dan beberapa tempat yang ada di Papua. Jika ditemukan benda-benda yang tidak sesuai dengan izin, maka akan disita. “Jadi kalau ada kamera, video, dan lain sebagainya akan kita ambil. Jangan-jangan mereka ingin mendokumentasikan sesuatu. Pokoknya harus ada izin dahulu. Kalau tidak ada ijin, kita akan rampas, dan mereka harus bertanggungjawab,” ujar Pangkoopsau II. (jpnn.com).

Pembentukan Skadron Helikopter Serbu di Kalimantan Timur

Kodam VI Mulawarman Operasikan Helikopter Bell 412 EP (Photo; ARC.web.id)
Kodam VI Mulawarman Operasikan Helikopter Bell 412 EP (Photo; ARC.web.id)
Realisasi rencana strategis Angkatan Darat untuk membangun satuan tempur Skuadron helikopter di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terus berlanjut. Dalam kunjungan kerjan ke Bumi Batiwakkal, Danrem 091/ASN Kolonel Inf Nono Suharsono, menyebutkan, proses saat ini adalah pembangunan pangkalan di Bandara Kalimarau. “Itu memang bagian rencana strategis Angkatan Darat memperkuat wilayah perbatasan, makanya kita akan membangun skuadron heli ini, dengan demikian keamanan perbatasan bisa betul-betul terjaga,” ujar Kolonel Inf Nono Suharsono, usai memberikan paparan di jajaran Kodim 0902/TRD, Senin 21/10/2013.
Meski tidak menjelaskan target realisasi masuknya perangkat dan personel, Danrem menyebutkan penyiapan pangkalan adalah persiapan yang utama. “Begitu nanti pangkalannya selesai dengan perangkatnya, maka personelnya akan segera diisi. Untuk tahap pertama, akan ditempatkan empat personel Penerbang Angkatan Darat (Penerbad) di pangkalan ini. Secara bertahap, penambahan personel akan terus dilakukan diiringi dengan pemenuhan fasilitas lain, termasuk pengadaan jenis pesawat lain yang dibutuhkan”, ujar Danrem 091/ASN.Kolonel Inf Nono Suharsono,berharap rencana tersebut mendapatkan dukungan dari masyarakat maupun Pemerintah kabupaten Berau.
Rencana pembentukan Skadron Helikopter di Berau Kalimantan Timur, diuraikan lebih lanjut oleh Dandim 0902/TRD Letkol Hendri Sembiring. Menurutnya pembentukan Skadron itu akan direalisasikan pada akhir tahun ini. “Ya kemungkinan akhir tahun ini rencananya helikopter sudah parkir di Berau, itu informasi terakhir,” ujar Letkol Hendri Sembiring.
Helikopter Bell-412 EP buatan PT DI
Helikopter Bell-412 EP buatan PT DI
Modul Camera di Helikopter Bell-412 EP buatan PT DI (photo:PikiranRakyat)
Modul Camera di Helikopter Bell-412 EP buatan PT DI (photo:PikiranRakyat Online)
Kini TNI AD sedang membicarakan masalah teknis dengan Ditjen Perhubungan Udara. “Kalau ada kesepakatan, pastinya semua akan dipakai karena nantinya kita akan memanjangkan apron yang ada, membangun hanggar heli, dan bangunan maintenance juga termasuk markas, saya rasa nggak ada masalah ketika bertemu dengan menteri saat peresmian hanya tinggal MoU saja,” ungkap Letkol Hendri Sembiring.
Markas dan Mess personel akan dibangun tahun 2014 mendatang sekaligus keperluan lainnya. Helkopter serbu yang akan didatangkan akhir tahun ini hanya empat unit dari total keseluruhan yang direncanakan sebanyak 32 helikopter, untuk empat flight.
“Ini bakal menjadi markas skadron pertama di Kaltim, nantinya dari empat flight, ada dua flight saja yang di Berau, yang dua berada di Sulawesi dan Kalimantan Barat. Berau nanti akan menjadi sentralnya, tujuannya jelas untuk mempermudah pelayanan, termasuk dukungan wilayah perbatasan,” tandasnya. (sapos.co.id).

Panser Amphibi Pindad dan Iveco Superav

Iveco Superav 8x8. Kendaraan Tempur Amphibi buatan Italia
Iveco Superav 8×8. Kendaraan Tempur Amphibi buatan Italia
Ada keterangan menarik yang disampaikan Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Pindad, Wahyu Utomo, terkait pengembangan Panser Anoa Amphibi, saat pameran Alutsista TNI di Monas Jakarta, awal Oktober 2013. Wahyu utomo mengatakan panser yang akan mereka buat tahun 2015, mampu mengarungi: sungai, danau dan laut. Panser tersebut akan melibatkan kerjasama dengan Italia dan Korea Selatan: “Tahun 2015, panser anoa akan bisa beroperasi di laut dengan teknologi hydrojet. Untuk mendapatkan kemampuan itu, PT Pindad bekerjasama dengan Italia dan Korea Selatan”, ujar Wahyu Utomo.
Jika bekerjasama dengan Italia untuk membuat panser amphibi, kira-kira bentuk Panser Pindad nanti seperti apa ?. Salah satu APC produk Italia yang sedang naik daun adalah Superav 8×8 buatan Iveco Defence Vehicles.
Superav 8×8 dibuat Iveco Defence Vehicles untuk menggantikan 600 unit kendaraan tempur amphibi M113 dari Pasukan Pendarat Angkatan Darat Italia, pada tahun 2010.
Ujicoba di Perairan, Bae-Iveco Superav  8x8 selama 12 hari, untuk MPC US Marine, Mei 2013 (photo: BAE)
Ujicoba Bae-Iveco Superav 8×8  di air selama 12 hari, untuk MPC US Marine, Mei 2013 (photo: BAE)
Ujicoba di Perairan, Bae-Iveco Superav  8x8 selama 12 hari, untuk MPC US Marine, Mei 2013 (photo: BAE)
Ujicoba Bae-Iveco Superav 8×8 di air selama 12 hari, untuk MPC US Marine, Mei 2013 (photo: BAE)
superav3
superav4
Ujicoba di Perairan, Bae-Iveco Superav  8x8 selama 12 hari, untuk MPC US Marine, Mei 2013 (photo: BAE)
Ujicoba Bae-Iveco Superav 8×8 di Air selama 12 hari, untuk MPC US Marine, Mei 2013 (photo: BAE)
Superav 8×8 ini menarik perhatian negara lain karena dianggap memiliki mobilitas tinggi dan proteksi superior bagi operasi pasukan militer di medan pertempuran. Kemampuan amphibi Superav 8×8 didukung sistem propulsi waterjet, mampu bergerak 5 km/jam di air di laut hingga level sea II atau dengan ketinggian ombak maksimum 1/2 meter. Superav bisa dilepas, jauh dari garis pantai oleh kapal pengangkut dalam melakukan penyerbuan.
Dengan kecepatan maksimum 105km/jam, kendaraan ini dapat beroperasi sejauh 800 km di daratan atau 64 km di air serta bisa diangkut pesawat transport C-130 Hercules.
Pada Agustus 2011, Iveco Defence Vehicles dan BAE Systems bergabung untuk menawarkan kendaraan platform amphibi bagi US Marine Personnel Carrier (MPC). Dalam kesepakatan itu, Iveco dan BAE Systems mengembangkan kendaraan baru berbasis Iveco Superav 8×8. Kendaraan BAE – IVECO SuperAV 8×8 Marine Personnel Carrier (MPC) itu kini sedang menjalani uji coba di air.
Varian Superav
Fleksibilitas dari disain Superav membuat kendaraan tempur ini dapat dirakit menjadi berbagai varian dari platform yang sama. Hal serupa sebenarnya terjadi juga dengan Patria AMV 8X8 Finlandia, sehingga banyak pihak asing tertarik membeli jenis kendaraan tempur tersebut.
Superav dapat digunakan sebagai: Kendaraan tempur pengangkut pasukan, Kendaraan Anti-Tank, Mortar carrier, Kendaraan Pos Komando, Engineer/ recovery vehicle, serta Ambulans. Dengan mengusung sistem monocoque Superav memiliki dua varian lebar body, yakni 2.7 m serta 3 meter. APC ini mampu menampung 13 pasukan, termasuk supir dan 12 anggota pasukan. Untuk keluar masuk pasukan, tersedia pintu di bagian atas serta bagian belakang APC.
Dengan bobot tempur 24 ton, Superav 8×8 memiliki konfigurasi panjang 7,92 meter, lebar maksimum 3 meter serta tinggi 2,3 meter, dilengkapi peralatan standar: air conditioning system, NBC (nuklir, biologi, kimia) system, pendeteksi api dan kebakaran, suppression system serta central tyre inflation system.
Iveco Superav 8x8
Iveco Superav 8×8
Superav mengusung persenjataan hingga kaliber 40 mm, serta sistem turret/canon, dilengkapi 8 peluncur granat asap. Chasis dan hull-nya dilengkapi sistem proteksi pasif dan aktif untuk menyediakan perlindungan level tinggi terhadap serangan senjata mesin, artileri, ranjau atau pun perangkat peledak buatan IED attacks. Kendaraan ini bisa dipasang lapisan pengaman tambahan (add-on armour kits) untuk meningkatkan proteksi. Kemampuan survival ditingkatkan dengan adanya sistem pemadam api dan anti-ledakan.
Kendaraan ini digerakkan double turbocharged multifuel diesel engine yang menghasilkan tenaga 500-560 hp, dengan gearbox 7 transmisi untuk maju dan 1 untuk mundur. Mesin dan sistem kemudi APC Superav 8×8 turunan dari kendaraan tempur Italia Centauro yang sudah combat proven.
Iveco Guarani 6×6
Iveco Defence Vehicles memiliki varian Kendaraan tempur roda 6×6. Pada tahun 2009, Iveco menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Brasil, untuk memproduksi VBTP-MR (Viatura blindada de transporte de pessoal-médio de rodas) Guarani 6×6 bagi kebutuhan Angkatan Darat Brasil.
VBTP-MR Guarani 6x6 Brasil
VBTP-MR Guarani 6×6 Brasil
Kontrak pertama senilai 119 juta USD ditujukan untuk pengadaan 86 APC Iveco Guarani 6×6. Kontrak ini bagian dari rencana Brasil yang memesan 2044 unit Iveco dalam 20 tahun ke depan dengan nilai kontrak 2,5 miliar Euro. Angkatan darat Brasil membutuhkan sekitar 2000 Iveco Guarani sebagai bagian restrukturisasi Pasukan Mekanis Brasil.
Ujicoba VBTP-MR Guarani 6x6 (photos: CAEx / CECOMSEX)
Ujicoba VBTP-MR Guarani 6×6 (photos: CAEx / CECOMSEX)
Ujicoba VBTP-MR Guarani 6x6 (photos: CAEx / CECOMSEX)
Ujicoba VBTP-MR Guarani 6×6 (photos: CAEx / CECOMSEX)
Guarani_04
Pabrik Iveco yang berada di Sete Lagoas Brasil telah mengirimkan 38 APC Gurani 6×6 untuk Infanteri dan Kavaleri Brazil. Sisa 48 APC Guarani untuk batch pertama akan dikirim bulan Juli 2014. “APC ini diinstal turret yang berbeda , senjata, sensor dan sistem komunikasi ke dalam hull yang sama”, ujar Menteri Pertahanan Brasil, Celso Amorim.
Guarani 6×6 merupakan hasil kerjasama Iveco dengan Angkatan Darat Brasil, untuk membuat kendaraan roda 6×6 amphibi, menggantikan kendaraan tempur Angkatan Darat Brasil (armoured fighting vehicles) EE-11 Urutu dan Cascavel pada tahun 2015.
Apakah Panser Amphibi PT Pindad yang dibangun tahun 2015, merujuk pada Superav 8×8 ,  Guarani 6×6 atau disain PT Pindad ?. Kita tunggu informasinya. (JKGR).

Panglima TNI Kaji Kapal Selam Rusia

Kapal Selam Kilo Rusia
Kapal Selam Kilo Rusia
Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengaku tertarik untuk mengkaji dan mendalami tawaran 10 kapal selam eks angkatan laut Rusia. Kondisi kapal selam tersebut dinyatakan masih memadai, namun TNI tetap akan melakukan verifikasi secara mendalam, sebelum mengambil keputusan.
Kapal selam dari Rusia sudah ada. Mereka membuka kesempatan karena kedekatan dengan kita
“Saya kira kita tertarik dengan itu. Sampai saat ini masih dilakukan kajian dan pendalaman. Dan kalau bisa, itu akan lebih bagus, ya,” ujar Panglima TNI Jenderal Moeldoko di sela-sela raker dengan Komisi I DPR RI
Panglima TNI mengatakan, pihaknya merespons sangat baik atas tawaran 10 kapal selam dari Rusia itu, karena memiliki efek gentar yang cukup baik. Apalagi kapal selam yang ditawarkan ke Pemerintah Indonesia cocok dengan kondisi Tanah Air, yakni jenis dan tipe kapal selam kelas menengah.
Sebelumnya Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, pemerintah mendapat tawaran untuk membeli sekitar 10 unit kapal selam dari Rusia. Jumlah ini di luar rencana pembelian tiga unit kapal selam dari Korea Selatan yang akan datang pada 2014.
“Kapal selam dari Rusia sudah ada. Mereka membuka kesempatan karena kedekatan dengan kita,” ujar Purnomo beberapa waktu lalu. Saat itu Purnomo menyatakan, pemerintah belum bulat untuk menerima tawaran Rusia karena masih harus mempertimbangkan dan menghitung biaya.
Selain harga kapal selam per unit, pemerintah juga harus mempertimbangkan besarnya biaya perawatan, pemeliharaan, perbaikan, dan kesiapan infrastruktur. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah usia atau masa guna kapal selam tersebut. “Kita sedang survei pangkalan kapal selam, salah satunya di Palu,”ujarnya.
Pada tahun 2024 , Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan Indonesia, akan berada pada empat negara kuat di kawasan Asia Tenggara bersama Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bersama tiga negara ini, Indonesia akan membentuk ASEAN Defense Ministerial Meeting yang kuat dari ancaman kawasan luar.(jurnalparlemen.com).

Kamis, 31 Oktober 2013

Keunggulan Pesawat Patroli TNI AL Buatan Indonesia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghcXBynjdoj_Pl7cx2cG7XVFUuOWRgkscRVO2x8gcn3AuOMVsKm3-I2PUFT_F0-7LC5ndaqMbphFmGvLU1CnC05Md9rUj5tix-BphO0J5xZLe_Dp1NM0TIIytdbZ8gRWSvY76eLPqZAhbE/s640/CN-235-220.jpg
Jakarta ( MilNas ) - Kementerian Pertahanan secara resmi menerima pesawat CN235 dari PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Bandara International Husein Sastranegara, Jalan Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Rabu (2/10/2013). Pesawat ini merupakan yang pertama dari tiga pesawat pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) yang kontrak jual belinya disepakati pada Desember 2009 lalu.

Penyerahan pesawat Patroli Maritim (Patmar) kepada Kementerian Pertahanan ini ditandai dengan penandatanganan dokumen serah terima pesawat oleh Direktur PT DI Budi Santoso dan dari pihak Kemenhan, antara lain Kabaranahan Kemenhan RI Laksamana Muda TNI Rachmad Lubis, Aslog Panglima TNI Mayor Jenderal TNI Joko Sriwidodo, Aslog Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto, Danpuspenerbal Laksamana TNI I Nyoman Nesa, disaksikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio.

"Pesawat CN235 Patmar kita serahkan kepada Kemenhan untuk dioperasikan oleh TNI Angkatan Laut. Pesawat ini merupakan kali pertama yang akan dioperasikan TNI AL untuk mengawasi dan melindungi laut Indonesia. Sebelumnya TNI AL mengoperasikan sejumlah pesawat, salah satunya NC212 Patmar produksi PT DI," ucap Budi Santoso kepada wartawan di Lapangan PT DI, Bandara International Husein Sastranegara, Rabu (2/10/2013).

Menurutnya, CN235 merupakan pesawat patroli kelas medium yang sangat cocok untuk patroli maritim. Pesawat ini ditenagai sepasang mesin CT7-9C, yang tiap-tiapnya berkekuatan 1.750 tenaga kuda. CN235 tersebut dilengkapi komponen-komponen yang sangat canggih, antara lain Search Radar, Flir, IFF Transponder, Tactical Navigation, Tactical Computer System, dan Bubble Windows. "Pesawat ini sudah menerapkan teknologi aerodinamika terbaru dengan memasang unit wing let kiri dan kanan ujung luar sayap yang berfungsi untuk meningkatkan stabilitas dan kemantapan saat terbang di udara," ujarnya.

Budi menyampaikan ucapan terima kasih kepada jajaran TNI AU, AL, dan AD, yang terus memberikan dukungan dan kepercayaan penuh kepada PT DI atas produk-produk unggulannya. "Kami ucapkan terima kasih atas kepercayaannya. Kami akan terus bekerja keras untuk menghasilkan produk-produk yang lebih berkualitas. Kami berharap agar PT DI tak henti diberi kepercayaan untuk menciptakan pesawat yang lebih mantap lagi," harapnya.

Budi juga berharap, pesawat ini dapat memberi dukungan penuh dan mempermudah TNI AL dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di lautan Indonesia. "Mudah-mudahan, pesawat CN235 Patmar ini mendukung TNI AL dalam mengatasi semua tantangan di laut," pungkasnya. Sementara itu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyampaikan apresiasi atas hadirnya pesawat CN235 Patmar TNI AL. "Mudah-mudahan pesawat ini bisa mendukung tugas TNI AL," harapnya.
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner