Select Language

Senin, 04 Februari 2013

TNI Gelar Puskodal Berbasis Jaringan WAN

JAKARTA - Mabes TNI menggelar Rapat Koordinasi Teknis Pusat Komando Pengendalian (Rakornis Puskodal) jajaran TNI yang dibuka oleh Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Kapusdalops) Brigjen TNI Edhy Ryanto

“Pada tahun 2011-2012 Pusdalops TNI telah melanjutkan optimalisasi sistem informasi dengan menggelar jaringan WAN (Wide Area Network) Pusdalops TNI di beberapa Kotamaops TNI,” kata Edhy di Jakarta, Jumat (27/4).Pembangunan jaringan WAN ini, tutur dia, diprioritaskan terhadap Kotamaops TNI yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, termasuk juga pemasangan maupun pemindahan Unit CCTV untuk pemantauan daerah perbatasan.

Sampai saat ini, jaringan WAN Pusdalops TNI yang dilengkapi dengan Encryption System sudah terintegrasi hampir di seluruh Kotamaops TNI. “Ini dimaksudkan untuk mempercepat sistem pelaporan yang mengarah kepada real time,” ujarnya.

Sumber : JURNAS.COM

Meneropong Kekuatan Rudal Malaysia


F-18D Hornet AU Malaysia (TUDM)
F-18D Hornet AU Malaysia (TUDM)
Dari segi kekuatan militer, nampak postur militer Malaysia tak seheboh Singapura, meski demikian, dari segi eskalasi konflik, jutrsu Malaysia yang paling dominan bergesekan di lapangan dengan Indonesia. Sebut saja mulai mulai konflik perebutan pulau Sipadan – Ligitan pada tahun 2002, kemudian berlanjut pada memanasnya terkait batas wilayah di blok Ambalat, Kalimantan Timur. Bahkan masih ada persoalan lain pada patok perbatasan di darat.
Dengan potensi konflik yang besar, sejak beberapa tahun lalu Malaysia mulai menggenjot kemampuan tempurnya. Dari segi alutsista, yang cukup mencolok adalah pengadaan jet tempur MiG-29 N/NUB dari Rusia tahun 1995, dilanjutkan dengan pengadaan F/A-18D Hornet pada tahun 1997. Saat itu, boleh dibilang arsenal jet tempur Malaysia sudah lebih unggul dari Indonesia. Seolah mengikuti jejak TNI AU yang membeli Sukhoi, maka TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) juga membeli 18 unit Sukhoi Su-30MKMs yang sudah datang sejak 2007 silam.
Rudal AIM-7 Sparrow
Rudal AIM-7 Sparrow
Sedangkan dari aspek laut, TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia) membangun armada kapal selam sejak tahun 2002. Seri kapal selam yang dimiliki pun cukup canggih, yakni dari kelas Scorpene buatan Perancis/Spanyol. Dari 6 yang dipesan, setidaknya 2 unit Scorpene telah beroperasi penuh saat ini, yakni KD Abdul Rahman dan KD Abdul Razak. Dilihat dari senjata yang dibawa Scorpene, membuat kapal selam TNI AL, type 209 jadi ketinggalan daya deteren. Sebut saja Scorpene memiliki  6 tabung peluncur torpedo dengan 18 torpode yang dapat dibawa, plus yang istimewa, Scorpene bisa meluncurkan rudal SM-39 Exocet, varian Exocet yang khusus diluncurkan dari bawah permukaan laut untuk menghajar sasaran kapal di permukaan.
Entah bisa jadi dipicu oleh kemampuan Scorpene Malaysia yang bisa menembakkan rudal dari bawah permukaan laut, Mabes TNI AL pun kemudian mengharuskan kemampuan kapal selam TNI AL terbaru, nantinya harus memiliki kemampuan meluncurkan rudal anti kapal.
Exocet SM39
Exocet SM39
Dengan ragam jet tempur generasi mutakhirnya, TUDM memiliki beberapa rudal andalan, yakni AIM-120 AMRAAM yang mampu menghantam target pesawat lawan dari balik cakrawala. Rudal ini menjadi paket senjata yang mematikan bersama F/A-18 Hornet. Tidak hanya AMRAAM, bahkan F/A-18 TUDM dikabarkan juga dibekali  AIM-7 Sparrow, rudal udara ke udara jarak menengah yang punya reputasi tinggi di kancah perang udara.
Informasi yang lebih baru, dikabarkan Kementrian Pertahanan Malaysia tengah mengajukan permohonan ke Kongres Amerika untuk bisa membeli 20 unit rudal AIM-9X2 Sidewinder Block II dengan nilai jual hingga 52 juta dollar. Dengan adanya AIM-9X Sidewinder, menjadikan postur kekuatan rudal udara Malaysia sebanding dengan Singapura.
AIM-120 AMRAAM di F-18 Hornet
AIM-120 AMRAAM di F-18 Hornet
AIM-9X merupakan versi termutakhir dari Sidewinder, mulai dikembangkan pada tahun 1996. AIM-9 mempunyai kemampuan first shot dan first kill yang lebih responsif. Rudal ini dilengkapi thrust vectoring yang terhubung ke guidance fins, artinya rudal dapat menguber target yang berbelok sekalipun. Radius putar AIM-9X mencapai 120 meter, dengan kemampuan ini, saat penembakan pesawat peluncur tidak lagi harus melakukan manuver untuk menyesuaikan dengan target. Cukup lepas AM-9X, selanjutnya rudal akan menguber target sendiri.
AIM-9X mulai dioperasikan jajaran militer AS pada tahun 2003, dan kini sudah digunakan oleh 40 negara. Untuk mengoperasikannya rudal ini diintegrasikan dalam joint mounted helmet mounted cuing system (JHMCS) buatan Boeing yang dikenakan pilot. Tak heran, AIM-9X menjadi rudal andalan untuk jet-jet tempur mutakhir AS, seperti F-22 Raptor dan F-15 Strike Eagle.
Rudal Sea Wolf
Rudal Sea Wolf
Di lini kekuatan laut, selain memiliki SM-39 Exocet, seperti halnya TNI AL, TLDM juga merupakan pengguna rudal anti kapal MM-38 Exocet, bahkan Malaysia juga menggunakan versi mutakhirnya MM-40 Block II Exocet yang ditempatkan pada frigat kelas Lekiu. Untuk memperkuat daya gempurnya frigat ini juga dibekali rudal Sea Wolf, rudal ini berperan ganda, yakni untuk anti serangan udara dan anti kapal. Sea Wolf sejatinya merupakan pengembangan dari rudal Sea cat yang tak lagi digunakan. Sea Wolf dapat menjangkau sasaran hingga 10 Km, beroperasi secara sea skimming.
Bicara tentang Yakhont, kabarnya Malaysia juga tertarik dengan Brahmos, alias versi Yakhont yang dibuat oleh India. Bila nantinya Malaysia jadi membeli Brahmos, maka skor kekuatan di segmen rudal jelajah anti kapal akan berimbang antara TLDM dan TNI AL. Perlu dicatat, pemerintah Malaysia dengan anggaran pertahanan yang besar lebih fleksibel untuk pengadaan alutisista. Hadirnya Brahmos/Yakhont sangat mungkin di Malaysia, mengingat negeri jiran ini kerap mengikuti langkah Indonesia, seperti halnya saat kita memesan Sukhoi di masa lalu.
Rudal Brahmos
Rudal Brahmos
Selama ini tidak sedikit persepsi publik yang menyatakan bahwa rudal Yakhont memiliki kesamaan dengan rudal Brahmos produksi India. Secara teknis, memang benar bahwa Brahmos memiliki cetak biru yang diambil dari Yakhont. Akan tetapi penting pula dipahami perbedaan kedua rudal jelajah tersebut.
Perbedaan mencolok dari kedua sistem senjata itu bukan sekedar diameter di mana rudal yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Rusia dan Indonesia itu lebih panjang daripada senjata yang digunakan oleh Angkatan Laut India, tetapi juga menyangkut sistem pandu. Yakhont mengandalkan sistem pandunya pada active radar dan inersial. Adapun Brahmos opsi pengendaliannya yaitu inersial untuk versi ASCM (anti ship cruise missile) dan INS/GPS bagi tipe SLCM (submarine launched cruise missile). 

KD Perak TLDM insight!

Kapal jenis Kedah Class (174) KD Perak hasil ToT dari Kapal Jerman Meko 100, Jerman. Kapal tersebut dibangun oleh Boustead Naval Berhad company. Malaysia.

Saat ini TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia) telah menandatangani MoU dan MoA untuk pembuatan Jebat batch ke-2 yang rumournya tampil lebih canggih dari KD Jebat sebelumnya. Kabar yang beredar disana juga spesifikasi Jebat batch ke-2 ini merupakan 1st edition dari kelasnya yang di produksi oleh BAE System khusus buat TLDM. Rencananya TLDM memesan 4 unit untuk kapal jenis ini. @lutsista



Anggaran Pertahanan 2013 Dinaikkan Menjadi RP 77 Triliun


Termasuk dalam rencana pengadaan adalah 3 kapal Multi Role Light Frigates Nakhoda Ragam class (photo : John Rahmat)

Anggaran Pertahanan Dinaikkan Lagi                       

JAKARTA– Pemerintah kembali menaikkan anggaran untuk pertahanan pada tahun anggaran 2013 mendatang menjadi di atas Rp77 triliun, setelah tahun ini mencapai Rp72,54 triliun.

Penguatan anggaran ini untuk mendukung program pembangunan pertahanan dengan memodernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seusai melakukan rapat kabinet di Mabes TNI menyebutkan, aspek anggaran pertahanan menjadi salah satu tema yang dibahas mendalam dalam pertemuan tersebut.

Dia menyebut, meski terus mengalami peningkatan,hal itu dinilai belum besar sekali. Sebagai gambaran, pada 2004 anggaran pertahanan sebesar Rp21,7 triliun dan 2009 sejumlah Rp33,67 triliun.“Tahun 2012 ini sebesar Rp72,54 triliun,dan insya Allah pada tahun 2013 kita bisa mengalokasikan Rp77 koma sekian triliun,” katanya kemarin.

Jajaran Kementerian Pertahanan dan TNI dipesan untuk bisa mengelola anggaran yang begitu besar secara baik, dengan melakukan perencanaan pengadaan alutsista secara tepat. Pengadaan juga harus sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang benar, serta harus dicegah adanya penyimpangan. Meski begitu, Presiden membebaskan jajaran TNI dan Kementerian Pertahanan melakukan perencanaan alutsista apa yang hendak dibeli, selama alutsista itu memiliki kehandalan sistem sekaligus interoperabilitas.

Peningkatan kekuatan pertahanan ini juga diharapkan mengembalikan Indonesia sebagai “Macan Asia”dalambidang militer.Pada era Soekarno,Indonesia dikenal sebagai Macan Asia untuk militer dan politiknya.“ Insya Allah, cita-cita Bung Karno menjadikan Indonesia Macan Asia bukan hanya militer, politik,melainkan juga ekonomi,” tegasnya. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, pengembangan MEF adalah ditentukannya program prioritas dalam modernisasi alutsista.

“Hasil pembahasan berdasarkan perencanaan MEF 15 tahun dan master list telah dituangkan ke dalam blue book yang dikeluarkan Bappenas pada 28 Oktober 2011,”ujarnya. Dalam buku biru tersebut sudah dimasukkan mengenai perubahan kebutuhan alutsista dari masing-masing angkatan. Di TNI Angkatan Darat, perubahannya seperti dalam pengadaan helikopter Apache dan rudal Starstreak,Multi Role Light Frigates di TNI Angkatan Laut,dan untuk TNIAngkatan Udara pesawat tempur F-16, Penangkis Serangan Udara, dan pesawat C-130 Hercules.

Majukan Industri Alutsista Negeri Ini, Pak Jenderal


HUT TNI ke 67 pada 5 Oktober 2012 lalu, agaknya menjadi momen bersejarah bagi kebangkitan industri pertahanan negeri ini. Setelah pada 2 Oktober 2012 sebelumnya, undang-undang industri pertahanan disahkan oleh DPR, juga peryataan Presiden dalam pidato HUT TNI 67, yang mengenai rencana anggaran TNI 2013 menjadi sebesar 77 triliun. Tentu ini, menjadi kado spesial bagi TNI, juga bagi bangsa Indonesia, terlebih beberapa waktu lalu terdengar santer di berbagai media, bagaimana negara Malaysia menerobos seenaknya kedaulatan bangsa ini.
Anggaran TNI pada 2012 ini saja, mencapai Rp 72,5 triliun. Jumlah ini naik sebesar 27 persen dari periode tahun lalu. Jumlah ini belum termasuk anggaran alutsista sebesar USD 6,6 miliar. Memang jumlah ini belum terlalu besar, untuk negara seluas NKRI ini. Tapi paling tidak, anggaran TNI dari tahun ke tahun terus ditingkatkan. Sebagai gambaran, pada 2004 anggaran pertahanan sebesar Rp 21,7 triliun, kemudian 2009 sejumlah Rp 33,67 triliun.
Menurut menteri pertahanan Purnomo Yusdiantoro seperti yang dikutip dari viva.co.id, bahwa pengesahan RUU Industri pertahanan ini merupakan langkah strategis yang dapat memajukan industri pertahanan. “Membuat kita lebih dapat bekerja secara efektif dan memproduksi alat-alat pertahanan dan keamanan. Pengesahan RUU Industri akan memberikan dasar yang jelas, memberikan kebijakan industri pertahanan dan mendorong pemerintah untuk mengembangkan industri pertahanan yang mandiri dan berkesinambungan,” kata dia.
Boleh dibilang sampai dengan saat ini ketergantungan TNI terhadap alutsista impor masih sangat tinggi. Bahkan pada tahun ini saja, Indonesia bakal kebanjiran alutsista impor, seperti 15 MBT Leopard 2A6 dari Jerman, 4 pesawat Super Tucano dari Brasil dan Meriam Caesar 150 mm dari Prancis. Belum lagi pembelian 6 pesawat SU 30 MK 2. Juga alutsista lain dari Brasil berupa MLRS Astrol II.
Impor jor-joran memang bukan perkara haram, namun tentunya harus dibarengi dengan upaya strategis guna memajukan industri pertahanan dalam negeri. Kedepannya impor alutsista, dengan skema kerjasama asing dengan industri dalam negeri harus lebih ditingkatkan, sehingga ada transfer teknologi ke industri lokal. Upaya semacam ini sebenarnya sedang dilakukan pemerintah, seperti pada proyek pesawat KFX/IFX, kerjasama perushaan BUMN, PT. Pindad dengan Korea Selatan. Dimana, 6 prototype dari kerjasama ini diperkirakan akan selesai pada 2013 nanti.
Sebenarnya prestasi industri alutsista negeri ini cukup menggemberikan. Mulai dari panser Anoa, produksi Pindad yang saat ini menarik perhatian banyak negara asing. Irak misalnya yang akan segera memborong panser Anoa, sehubungan rencana revitalisasi militernya. Negara tetangga seperti Brunei Darusalam dan Malaysiapun juga tidak ketinggalan untuk memboyongnya. Berkah Pindad, juga mengalir ke BUMN lain seperti PT. DI dan PT. PAL. Contohnya, pesawat CN 235 produksi PT. DI yang cukup menjanjikan pasarannya. Menurut viva.co.id, “Total, ada 44 pesawat CN 235 buatan PT DI terbang di luar negeri. Pesawat ini melayang di Malaysia (2 varian VIP dan 6 untuk transportasi militer); di Brunei 1 unit; di Pakistan 4 unit; di Thailand 2 unit;  di Uni Emirat Arab 3 unit VVIP, 1 unit VIP, dan 3 unit kendaraan angkut militer. Juga ada 12 unit untuk Korea Selatan, 8 unit sudah diserahkan sejak 2000, sisanya 4 unit sudah diberikan awal tahun ini.” Keunggulan CN 235, sebagai pesawat serba guna, dengan desain ringan merupakan alasan utama para pembeli.
Tanpa menutup mata, memang teknologi dalam negeri belum sebaik dan semaju negara-negar semacam China, Korea Selatan, ataupun Amerika. Namun sekali lagi, impor alutsista harus dibarengi dengan peningkatan industri alutsista dalam negeri. Apalagi dari tahun ke tahun, anggaran pertahanan terus digenjot oleh pemerintah. Tentunya, penyerapan anggaran harus dimaksimalkan, baik untuk rencana pertahanan jangka pendek maupun jangka panjang. Yakin, bahwa bangsa ini punya potensi. Anoa, CN 235 adalah beberapa bukti bahwa kita punya potensi. So, kutitpkan padamu pak Jenderal, untuk memimpin pembangunan industri alutsista neger ini. Kami mendukungmu.

2013, TNI Siapkan Satu Batalion Infanteri di Perbatasan Malaysia

Panglima Komando Daerah Militer VI Mulawarman Mayjend Subekti mengungkapkan, tahun 2013, pihaknya akan menambah satu batalion lagi untuk wilayah perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan. Tujuannya untuk menambah pengawasan di garis perbatasan yang sering terjadi praktek ilegal, termasuk illegal logging.

2013 TNI Siapkan Satu Batalion Infanteri di Perbatasan Malaysia
Panglima Kodam VI/Mulawarman Mayjen TNI Ir Drs Subekti MSc MPA melakukan inspeksi pasukan pada upacara penerimaan Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Yonif 413/Kostrad di Pelabuhan Semayang Balikpapan (foto : kaltim.antaranews.com)

"Biar pengawasan semakin rapat, jadi tak ada lagi pencurian (kayu) di perbatasan," kata Mayor Jenderal Subekti di Samarinda, Ahad, 30 September 2012.

Ia mengungkapkan, penambahan batalion nantinya akan difokuskan untuk menjaga garis antara Malinau-Kutai Barat. Saat ini, menurut dia, ada 44 pos jaga di Kalimantan yang menjaga wilayah perbatasan sepanjang 2.004 kilometer, membentang dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Timur. Tapi, untuk garis batas di Kutai Barat, menurut Subekti, masih terlalu jauh jaraknya. "Tahun depan juga akan dibangun 29 pos baru," katanya.


Soal pergeseran patok perbatasan, kata dia, sejak enam bulan terakhir tak pernah terjadi. Memang ada pergeseran, tapi terjadi karena faktor alam, seperti longsor, sehingga patok bergeser. Itu pun, katanya, dikembalikan ke koordinat awal secara bersama-sama. "Kalau digeser tidak ada," ujarnya.

Subekti menambahkan, kondisi perbatasan yang terisolasi sampai sekarang memang menjadi masalah sosial di sepanjang perbatasan. Warga masih sangat bergantung pada Malaysia untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk BBM. "Harganya jadi mahal, tapi mau gimana lagi, mereka, ya beli juga," katanya.

Ia berharap pemerintah bisa menerapkan program yang menjawab kebutuhan rakyat. "Bangun infrastruktur di perbatasan sangat mendesak. Jangan dibandingkan dengan Malaysia, jauh tertinggal kita," katanya.


Sumber : Tempo

Menakar Kekuatan Alutsista TNI Hingga Tahun 2014

Indonesia merupakan negara kepulauan yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak serta kondisi geopolitik berada di dua persimpangan samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta dua benua, yakni benua Asia dan Australia. Negara lain akan menghargai kedaulatan Indonesia jika pertahanan kita kuat.

Menakar Kekuatan Alutsista TNI Hingga Tahun 2014

Nah, sekarang bagaimanakah kondisi pertahanan serta alat utama sistem senjata (alutsista) kita ? apakah sudah cukup kuat “menakuti” bangsa lain ? Mari kita simak masing-masing kekuatan, khususnya kekuatan alutsista trimatra Tentara Nasional Indonesia (TNI) yakni Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).

Pemerhati isu pertahanan dan alutsista TNI, Jagarin Pane mengatakan perkembangan pengadaan alutsista TNI mulai tahun 2012 ini bisa disebut masuk musim panen raya sampai tahun 2014. Tahun ini saja kita sudah menerima empat pesawat coin (counter insurgency) Super Tucano buatan Brazil dari yang kita pesan satu skuadron (16 unit).

Kita juga sudah menerima 2 KCR (Kapal Cepat Rudal) dari enam yang dipesan buatan galangan kapal dalam negeri di Batam. Tank berat Leopard juga sudah diambang pintu dengan pesanan 100 unit bersama dengan 50 uni tank medium Marder buatan Jerman.


“Kita juga sedang menunggu kedatangan MLRS (Multi Launcer Rocket System) Astross II dari Brazil untuk kebutuhan dua batalyon, satu unit kendaraan peluncurnya dipamerkan di ajang Indo Defence di Jakarta. Demikian juga dengan howitzer Caesar buatan Perancis untuk kebutuhan dua batalyon artileri sedang dinantikan kedatangannya bersama rudal Mistral untuk satu batalyon. Pokoknya banyak sekali pengadaan alutsista hingga tahun 2014 untuk ketiga matra TNI ini”, ungkap Jagarin kepada “PR” ketika dihubungi beberapa waktu lalu.

Jika ditanya mana yang terkuat diantara ketiga matra saat ini, ia mengatakan yang paling kuat adalah Angkatan Darat baik dari sisi jumlah pasukan maupun alutsista. TNI AD punya lebih dari 1000 tank dan panser belum termasuk artileri dan rudal anti serangan udara. “Akan tetapi tank yang dimiliki hanya berkategori tank ringan dari jenis Scorpion buatan Inggris dan AMX13 buatan Perancis. Itu sebabnya sesuai perkembangan situasi kawasan yang dinamis kita butuh Main Battle Tank (MBT) dan Medium Tank”, ungkap Jagarin menjelaskan.

Sementara itu, lanjut dia, untuk TNI AL punya kekuatan armada dengan lebih dari 140 KRI terbagi dalam dua armada, yaitu armada Barat dan Timur. Yang membanggakan tentu kekuatan pemukul KRI sudah dilengkapi dengan rudal anti kapal Yakhont buatan Rusia berjarak tembak 300 km, rudal C802 dan C705 buatan Cina. Uji coba rudal Yakhont yang dilakukan di mulut perairan Ambalat Oktober 2012 lalu pada seri latihan Armada Jaya mampu menenggelamkan KRI LST yang sudah pensiun dengan sekali tembak.

“Satuan pemukul TNI AL yang lain adalah Korps Marinir yang punya kemampuan serang pantai. Ini yang tidak dimiliki oleh Malaysia dan Singapura. Korps Marinir memiliki persenjataan yang berbeda generasi mulai dari tank amfibi PT 76, BTR50, AMX10P, BTR80A, RM Grad sampai yang terbaru BMP3F”, ungkap Jagarin lagi.

Untuk TNI AU Jagarin menilai kondisi alutsista yang paling lemah diantara dua matra TNI lainnya. Saat ini TNI AU hanya memiliki kekuatan 10 F16, 10 Sukhoi, 12 F5E, 32Hawk 100/200, 4 Super Tucano. Menurut dia kekuatan itu jelas sangat tidak memadai untuk mengawal dirgantara RI yang seluas Eropa ini.

“Namun dengan kedatangan 24 F16 blok 52, 6 Sukhoi, 16 Super Tucano dan 16 T50 setidaknya sesak nafas yang menjadi kendala mengawal kedaulatan udara RI bisa agak lega. Tentu saja tidak berhenti sampai disitu. Mestinya dalam MEF (Minimum Essential Force) tahap II tahun 2015-2019 kita harus memiliki minimal 32 jet tempur kelas berat Sukhoi, 48 jet tempur ringan F16 dan paling tidak punya juga minimal 24 unit dari jenis Typhoon atau Rafale” ucap Jagarin lagi.

Melihat kondisi alutsista trimatra TNI upaya untuk menambah persenjataan tentu menjadi sebuah keniscayaan bagi negara besar seperti Indonesia. Negara kita baru saja memproduksi UU Industri Pertahanan sebagai payung hukum untuk mengembangkan industri pertahanan dan keamanan (hankam) dalam negeri.

“Sebenarnya sebelum UU itu jadi, Kementerian Pertahanan sudah melakukan langkah maju yang berani dengan kerjasama ToT (Transfer of Technology) dengan Korea Selatan dalam pengadaan tiga kapal selam jenis Chang Bogo. Saat ini PT PAL dan Daewoo sedang menyeleksi tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk mendapatkan 200 tenaga ahli yang akan dikirim ke Korsel. Dua kapal selam dibangun di Korsel dan satu unit di PT PAL Surabaya. Dengan Cina kita juga sedang melakukan kerjasama alih teknologi rudal C705. Jika sekolah rudal ini berhasil, dikombinasi dengan kemampuan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang sudah mampu menguji roket berjarak tembak 300 km, bisa dipastikan akan terjadi kemajuan yang luar biasa dalam teknologi rudal kita dua hingga tiga tahun ke depan” ungkap Jagarin lagi.

Lebih lanjut ia menambahkan dalam pembuatan kapal perusak kawal rudal yang dikenal sebagai proyek PKR10514 dengan Damen Schelde Belanda saat ini pun dilakukan dengan transfer teknologi. “PT PAL yang saat ini sudah mendapat order membuat enam kapal cepat rudal ukuran 60 meter untuk TNI AL, jika berhasil mendapatkan teknologi PKR 10514 akan menjadi perusahaan pembuat kapal perang yang disegani di Asia Tenggara “, tutur Jagarin.

Posisi di Asia Tenggara

Jika demikian bagaimana sebenarnya posisi Indonesia di Asia Tenggara saat ini ? dulu kita dikenal sebagai “Macan Asia”, apakah gelar itu masih pantas diberikan kepada Indonesia ?

Jagarin mengatakan modernisasi alutsista TNI sebenarnya untuk mengejar ketertinggalannya yang cukup jauh dibanding dengan tetangganya. Malaysia sudah jauh hari punya MBT PT91 buatan Polandia, Singapura sudah punya MBT Leopard. Sampai hari ini TNI AD hanya punya tank ringan Scorpion. “Lha, Scorpion jika diadu dengan PT91 di Kalimantan, kan sama saja dengan menandingkan kambing dengan sapi, beda kelas. Jadi penambahan kekuatan persenjataan kita adalah sebuah keniscayaan dan fardu kifayah. Dulu di zaman Dwikora kekuatan militer RI adalah yang terkuat di Asia Tenggara sehingga dianggap sebagai kekuatan Macan Asia. Dengan modernisasi alutsista ini diharapkan Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di Asia sesuai arahan Presiden SBY di hadapan petinggi Kemenhan dan Mabes TNI bulan puasa yang lalu”, ujarnya menjelaskan.

Khusus dengan Malaysia dimana Indonesia sering mengalami konflik, Jagarin berani menyatakan bahwa kekuatan militer Indonesia saat ini secra umum tetap lebih kuat dari Malaysia. “Hanya di AU kekuatan mereka lebih ‘bergigi’ dengan memiliki 18 Sukhoi, 12 Mig29, 8 Hornet, 12 F5E. Untuk AL kita yang terkuat dengan lebih dari 140 KRI bandingkan dengan Malaysia hanya memiliki 58 KD. Mereka tidak punya pasukan Marinir berkualifikasi serbu, kita punya dua divisi pasukan Marinir berkemampuan serang pantai”, katanya lagi.

Yang lebih membanggakan, lanjut Jagarin, tentu skill individu prajurit kita lebih tahan uji dan mahir. Terbukti dalam setiap uji tanding di kejuaraan menembak regional berbagai senjata perseorangan, Indonesia selalu tampil menjadi nomor satu. Negara-negara ASEAN dan Australia angkat topi dengan kemampuan individu prajurit TNI. “Dengan Marinir AS pun terbukti dalam uji ketahanan fisik dan mental di hutan Jawa Timur beberapa waktu lalu bersama Marinir AS, personel Marinir AS kalah uji nyali dan uji fisik dengan Marinir Indonesia”, ungkapnya.

Apalagi, lanjut Jagarin, kehadiran 45 negara dan 500 produsen alutsista dunia di ajang Indo Defence membuktikan bahwa dunia sedang melirik Indonesia dengan anggaran alutsista yang luar biasa yakni Rp 100 trilyun dan diharapkan menjadi Rp 150 trilyun pada tahun 2014 nanti. “Prinsip yang dibangun Kemenhan, kan sudah jelas kalau belum mampu bisa beli dari luar tapi syaratnya berbagi teknologi. Kita meyakini kebijakan Kemenhan yang melakukan transaksi pengadaan alutsista sudah berada di jalan yang benar. Pengadaan MBT Leopard dilakukan G to G ( government to government) sehingga mampu menghapus beban jasa broker”, katanya menjelaskan.

Semua industri hankam dalam negeri saat ini bergerak dan mekar dengan berbagai order alutsista dari Kemenhan.
Lihat saja PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Industri dirgantara PT DI yang sempat dinyatakan bangkrut, saat ini sedang berupaya merekrut tenaga ahli untuk menyinari kembali industri kebanggaan RI itu. “Demikian juga dengan PT PAL, semuanya sedang menggeliat dan menampilkan kesibukannya tak terkecuali industri swasta nasional kita”, tutur Jagarin.

Menyambut Senyum 2013


Musim bunga alutsista segera tiba bersamaan dengan datangnya fajar senyum di tahun 2013 meski wangi kembangnya sudah mulai tercium harum sejak kuartal terakhir tahun ini. Bolehlah disebut sebagai tahun dimulainya panen raya dengan kedatangan beragam jenis alutsista modern untuk disandangkan dan dikandangkan ke setiap kesatrian pengawal republik di segala matra.

Boleh juga disebut inilah panen raya terbesar selama beberapa dekade manakala RI membelanjakan milyaran dollar untuk mengejar ketertinggalannya dalam memodernisasi alutsistanya.  Ada pelajaran pahit manakala sebagian besar alutsista kita tak pernah disegarkan, sudah jumlahnya sedikit, mutunya jadul lagi.  Namun yang bikin sesak nafas adalah ejekan tetangga dengan melakukan klaim dan show of force seakan mereka sudah menjadi ayam jantan yang merasa paling kuat lalu berkukuruyuk padahal hari telah malam.
Upacara Latgab 2012, perlu visualisasi lengkap
Kesabaran dan rasa sesak di sekujur tubuh itu perlahan mulai menemukan sinar cerah manakala panglima tertinggi mulai menjalankan strategi “wajah jawa”  dengan tetap berbaik hati dan bermanis muka pada si jiran.  Namun dibelakangnya menjalankan strategi besar dengan anggaran besar, membangun kekuatan tentara dengan alutsista secara revolusioner tanpa harus arogan sikap.  Kita masih ingat di ruang publik yang bernama layar kaca dan disiarkan secara langsung dari Cilangkap Jakarta beberapa tahun lalu Presiden Sby mengeluarkan statemen yang softly untuk meredam kemarahan rakyat kepada negara jiran yang hobi mengklaim.  

Pernyataan Presiden dalam bahasa diplomasi sebenarnya ingin agar kita sebagai rakyat tidak perlu emosi dengan negara jiran karena saling ketergantungan satu sama lain.  Misalnya, kata beliau, di sana ada lebih sejuta tenaga kerja kita dan seterusnya.  Jelas pernyataan yang tidak memuaskan secara adrenalin.  Tapi banyak yang tak tahu sesungguhnya setelah itu ada “kemarahan militer” yang dituangkan dalam strategi memodernisasi angkatan bersenjata.  Dan hasilnya kita lihat sekarang dan tahun-tahun mendatang, kita panen raya bro.

Namun yang perlu diingat dari semua sambutan kedatangan alutsista itu tentu   pertanggung jawaban pada kesesuaian produk dengan nilai yang telah dikorbankan.  Caranya tentu dengan menyampaikan sample utama untuk disiarkan kepada segenap publik yang juga menanti dengan keriangan hati.  Tidak perlu telanjang jua karena ini rahasia militer, namun sample kedatangan alutsista gahar perlu disampaikan ke publik untuk memberikan rasa kebanggaan dan memupuk semangat beralutsista.

Visualisasi seperti yang akan disiarkan oleh Kompas TV tanggal 26 dan 28 Desember 2012 tentang “pertanggungjawaban” kehebatan Garda Samudra seharusnya menjadi sebuah public relation untuk jembatan komunikasi kepada rakyat bahwa ini loh yang telah kami lakukan untuk mengawal samudra. Misalnya dengan keberhasilan penembakan rudal Yakhont yang menggetarkan itu baru-baru ini.  Sehingga publik tahu dan paham tentang sangarnya rudal itu dan keterlatihan prajurit TNI AL yang mampu menembakkan rudal maut itu tanpa supervisi dari negara si pembuat Rusia.

Jika setiap bulan ditayangkan melalui visualisasi minimal 30 menit di layar kaca dan narasi melalui media cetak representatif dengan berganti-ganti antar matra TNI, kita meyakini jembatan komunikasi yang dibangun kepada rakyat selaku “penyandang dana melalui pajak” akan memberikan nilai harmoni dan kesepahaman tentang nilai tugas  tentara dan jenis alutsista yang dipergelarkan.  Tidak seperti selama ini melalui layar kaca TVRI lewat acara CITA sama sekali tidak memberikan nilai kebanggaan dalam bermiliter.  Yang ditampilkan kegiatan pergantian tugas jaga di kesatrian lalu wawancara ala kadarnya.

Dengan tayangan yang mengedepankan kebanggaan menampilkan latihan militer skala brigade ke atas boleh jadi akan menjadi respons yang baik dari publik dengan mengajak pemerintah dan DPR untuk lebih memoles lagi pengawal republiknya.  Misalnya untuk pertahanan pangkalan AU dan AL serta ibukota negara tidak lagi dengan rudal-rudal  jarak pendek melainkan dengan rudal surface to air jarak menengah yang punya nilai gentar.

Kita meyakini tidak lama lagi pengawal republik akan segera mendapatkan alutsista  anti serangan udara jarak menengah seperti keyakinan kita akan terjadinya transaksi jet tempur canggih dari sebuah negara Eropa yang telah menjamu presiden Sby dengan megah dan meriah.  Tidak adalah makan siang gratis dalam hubungan pertemanan dan persahabatan sekalipun, seperti yang ditunjukkan dalam perjamuan full service VVIP naik pesawat kepresidenan Korsel manakala delegasi RI bertandang ke Korsel sebelum kontrak Changbogo setahun silam.  Dan itu sah dalam hubungan berbisnis untuk mengambil hati.
Gelar Alutsista TNI AL, memberi spirit beralutsista
Sebagai bangsa besar dengan populasi besar kita tetap akan berjalan dengan keyakinan hati dan kepercayaan diri bahwa kita bisa membangun kekuatan kita. Kekuatan ekonomi yang stabil selama 9 tahun ini dengan pertumbuhan yang mengesankan, PDB kita menjadi yang terbesar di ASEAN dan no 15 terbesar di dunia.  Pendapatan perkapita per tahun sudah mencapai US $ 5.000,-  Rasio hutang jauh lebih baik dan ada dalam koridor aman dengan rasio 24%.  Banyak hal yang berhasil di capai selama ini termasuk pengakuan badan-badan ekonomi dunia dan lembaga keuangan dunia pada kemajuan ekonomi Indonesia.  Kemajuan ini tentu berpengaruh besar pada peningkatan anggaran militer yang diprediksi akan terus meningkat dan akan menjadi nomor satu di ASEAN mengalahkan Singapura pada tahun 2018.

Oleh sebab itu menyambut senyum di tahun 2013 adalah awal dari perubahan revolusioner dalam perolehan kuantitas dan kualitas alutsista kita.  Kedatangan beragam jenis alutsista mulai tahun depan dan seterusnya akan memberikan nilai tawar dalam pergaulan kawasan dan diplomasi bergigi.  Ini yang mestinya menjadi pijakan cara pandang sesama kita dalam berdiplomasi.  Boleh saja di urusan rumah tangga bernegara kita ribut, namanya juga berdemokrasi.  Tetapi manakala menjalankan diplomasi kita seragamkan sikap kita, tentu dengan motor Kementerian Luar Negeri untuk mengedepankan kewibawaan tanpa harus merasa sombong.  Modal untuk kewibawaan itu tentu dengan kekuatan militer yang didukung kuantitas dan kualitas alutsista yang minimal setara dengan rumah jiran.

Rasa segan itu timbul jika kita mampu memoles kebugaran dan kekekaran tubuh kita untuk kemudian tampil dengan berbaik cakap dan sikap.  Itulah analogi perkuatan milter. Kebugaran dan kekekaran tubuh kita itu memberikan nilai tawar tinggi dalam etika pergaulan.  Setidaknya tetangga akan menahan diri untuk bersikap tak cakap, padahal kita belum melotot padanya.  Apalagi kalau kita sampai melotot.

TNI OPTIMISTIS "MEF" CAPAI 38 PERSEN

Jakarta, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono optimistis target kekuatan pokok minimal (minimum essential forces/MEF) sebesar 38 persen dapat tercapai pada 2014, sementara pada 2013 ini ditargetkan tercapai 30 persen.

"Saya optimistis bisa tercapai, jika konsisten terhadap pembangunan yang sudah dibuat dalam 'blueprint' pertahanan," kata Panglima TNI dalam acara konferensi pers di sela-sela Rapat Pimpinan TNI 2013 di Mabes TNI, Jakarta, Selasa.

Pasalnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Keuangan Agus Martowardoyo juga meminta agar angka 38 persen bisa tercapai di akhir masa Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ini.

Angka 30 persen MEF yang ditargetkan TNI, meliputi bidang organisasi, personel, logistik, sistem dan doktrin, serta anggaran. "Ya, kami berharap rata-rata mencapai 30 persen di semua bidang itu," kata Agus.

Di bidang logistik, pelaksanaan program yang telah dicapai, yaitu pengadaan beberapa alutsista. Untuk TNI Angkatan Darat, antara lain, Panser APS-2, Rantis Pendobtak, Heli Latih Dasar, Heli Serbu, Tank Leopard, Tank Support, Meriam 155 MM Caesar 37 Pucuk, Roket MLRS Astros II, Rudal Arhanud.

TNI Angkatan Laut, antara lain, pengadaan alutsista kapal patroli, kapal cepat rudal (KCR), Sea Raider, Helly Angkut Sedang, Meriam 30 MM 7 Barrel, Meriam Kal 40MM, MLRS Kal 22 MM, dan terpedo. TNI Angkatan Udara, antara lain, 24 unit pesawat F-16, Sukhoi SU-30 MK-2, pesawat NAS-332, dan Helikopter Full Combat SAR.

Fokus Padukan Trimatra Pada 2013 ini, Panglima TNI juga bertekad memperkuat keterpaduan ketiga matra TNI, yakni TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara, baik itu dalam melaksanakan operasi militer untuk perang maupun operasi militer selain perang.

Tak heran, pada tahun ini TNI akan merencanakan pelaksanaan latihan terintegrasi dan komprehensif untuk mendukung pelaksanaan latihan gabungan tingkat divisi.

Di bidang organisasi misalnya, TNI sudah memproses pembentukan organisasi baru yakni Komando Gabungan Wilayah Pertahanan, Pusat Pengadaan, dan Pusat Kerja sama Internasional. Ketiganya diharapkan bisa terbentuk pada 2013 ini.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan optimistis pencapaian kekuatan pokok minimal lebih cepat lima tahun dari target yang telah ditentukan, yakni pada 2019. Pada "blueprint" pertahanan, tertera bahwa kekuatan pokok minimal bisa tercapai dalam kurun tiga kali renstra, yakni renstra pertama pada 2009-2014, restra kedua pada 2014-2019, dan renstra ketiga pada 2019-2024.

"Awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024). Namun, ternyata bisa dicapai dalam dua kali renstra (2009-2019)," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, beberapa waktu lalu.

Pencapaian MEF yang lebih cepat lima tahun dari yang ditargetkan ini merupakan sebuah terobosan. Keberhasilan ini tak lain berkat besarnya APBN yang digelontorkan ke Kemhan.

Namun demikian, pencapaian MEF pada 2012 justru tak sesuai rencana. Target MEF tahun lalu adalah 28,7 persen. Namun, Kemhan hanya berhasil mencapai 26 persen, sehingga kurang 2,87 persen dari target yang harus dipenuhi. Artinya, pada 2013 ini TNI harus bisa menggenjot pencapaian MEF sebesar 4 persen agar bisa mencapai 30 persen. 



Sumber : Antara

Menhan RI Menerima Kunjungan Delegasi Komisi Luar Negeri Parlemen Finlandia Bahas Kerjasama Peace Keeping Operation


Jakarta, Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro menerima kunjungan delegasi The Foreign Affairs Committee of Finland (Komisi Luar Negeri Parlemen Finlandia), Jum’at (18/1) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Delegasi Finlandia dipimpin oleh Mr. Timo Soini dan didampingi Duta Besar Finlandia untuk RI Kai Sauer.

Kunjungan delegasi Finlandia ke Indonesia kali ini dimaksudkan dalam rangka upaya meningkatkan hubungan kerjasama bilateral kedua negara yang terjalin baik selama ini sejak dibuka pada tahun 1954. Secara khusus, dalam kunjungan kepada Menhan tersebut,  akan dibicarakan berbagai hal terkait penjajakan kerja sama di bidang pertahanan yang dapat dilakukan Indonesia dan Finlandia, karena selama ini Indonesia dengan Finlandia belum memiliki kerja sama di bidang pertahanan.

Menhan RI dan Delegasi Parlemen Finlandia membahas penjajakan kerjasama bidang pertahanan terutama dibidang pendidikan dan pelatihan Peace Keeping Operations (PKO) serta Cyber Security. Seperti diketahui Finlandia memiliki pusat pelatihan pasukan penjaga perdamaian yaitu Finnish Defence Forces International Centre (FINCENT) yang berlokasi di Kota Tuusula, Finland. Selain itu Finlandia juga mempunyai fasilitas Cyber Security yang sudah sangat maju, sehingga Indonesia dapat memanfaatkan kelebihan di Finlandia untuk meningkatkan SDM prajurit TNI.

Selain membahas kerjasama pertahanan, Menhan dan Delegasi Parlemen Finlandia juga bertukar pandangan tentang isu – isu keamanan global, misi perdamaian dimana kedua negara memiliki keterlibatan secara aktif.

Selama kunjungan kerja di Indonesia dari tanggal 15 sampai dengan 19 Januari 2013, Delegasi Finlandia telah berkesempatan mengunjungi  Indonesia Peace and Security Center (IPSC) di Sentul, Bogor, Kamis (17/1). Delegasi Finlandia ini juga direncanakan akan melakukan kunjungan ke Komisi I DPR RI.

Kunjungan ke IPSC tersebut bertujuan untuk melihat langsung pembangunan IPSC di Sentul serta mengadakan pertemuan dan diskusi dengan Indonesia untuk mengetahui peran Indonesia dalam misi perdamaian, sebagai bahan untuk menjajaki kerjasama lebih lanjut di bidang pertahanan antara Indonesia dan Finlandia. Dalam kunjungan tersebut, Delegasi menyatakan sangat terkesan dengan pembangunan IPSC yang digambarkan sebagai Pusat fasilitas yang modern, lengkap dan terbesar di kawasan.

Delegasi Finlandia memberi isyarat untuk menjalin kerjasama dengan IPSC antara lain dibidang Peace Keeping Operation dan Counter Terrorism serta menyatakan dukungannya terhadap Indonesia guna mewujudkan rencananya sebagai 10 besar Troops Contributing Countries. Disamping itu Finlandia akan membangun komunikasi dengan Indonesia serta menjalin kerjasama yang lebih intensif dengan Pusat Misi Pemelihara Perdamaian (PMPP).

Selama kunjungan kerja di Indonesia, selain membuka kerjasama di bidang Peace Keeping Center, Delegasi Finlandia juga berdiskusi dengan Kementerian Luar Negeri khususnya membahas keamanan luar negeri. Disamping itu Delegasi Finlandia juga mengamati perkembangan lingkungan di sektor ekonomi dan perdagangan di Indonesia.

Turut mendampingi Menhan RI dalam kesempatan tersebut beberapa pejabat Kemhan RI antara lain  Staf Khusus Menhan Bidang Kerjasama Internasional Soemadi D.M. Brotodiningrat, Direktur Kerjasama Internasional Ditjen Strahan Kemhan RI Brigjen TNI Brigjen TNI Jan Pieter dan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigjen TNI Bambang Hartawan.

Sementara itu Delegasi Komisi Luar Negeri Parlemen Finlandia berjumlah enam orang antara lain Mr. Jouni Backmann ( The Social Demoratic Parliamentary Group), Mr. Pekka Haavisto ( Green Parliamentary Group), Ms. Mari Kiviniemi (Finnish Centre Party), Ms. Katri Komi, (Finnish Centre Party), Ms. Maria Lohela, (the Finns Party Parliamentary Group), Ms. Tuula Svinhufvud ( Assistant Clerk to The Committee).



Sumber : DMC

Sekjen Kemhan RI Menerima Dubes Azerbaijan


Jakarta, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Sekjen Kemhan RI) Marsdya TNI Eris Herryanto,S.IP, M.A., menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Azerbaijan untuk Republik Indonesia Tamerlan Elmar Dylu Karaye, Jum’at (25/1) di kantor Kemhan RI, Jakarta.

Kunjungan ini dalam rangka mempererat hubungan kerjasama kedua negara khususnya kerjasama di bidang pertahanan. Pada kesempatan tersebut Sekjen Kemhan RI menyampaikan terkait pelaksanaan kunjungan kerjanya ke Azerbaijan, beberapa hari yang lalu pada tanggal 14-16 Januari 2013.

Sekjen Kemhan RI menjelaskan, dalam kunjungan kerjanya ke Azerbaijan yang dilaksanakan untuk meningkatkan kerja sama pertahanan militer antara Indonesia dan Azerbaijan tersebut, Sekjen Kemhan RI berkesempatan melakukan kunjungan kepada Menteri Pertahanan Azerbaijan, Jenderal Safar Abiyev.

Selain itu, Sekjen Kemhan RI juga diterima oleh Wakil Menteri Industri Pertahanan Azerbaijan dan meninjau fasilitas industri pertahanan Azerbaijan serta mengunjungi pusat pendidikan dan pelatihan serta akademi militer Azerbaijan.



Sumber : DMC

Sjafrie Pastikan Order Alutsista TNI ke PT Pindad

TEMPO.COBandung - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan  PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia tengah diminta untuk memproduksi alutsista  kebutuhan TNI. Pindad, misalnya, menyiapkan  amunisi bagi TNI, sedangkan  PT Dirgantara Indonesia memasok  helikopter dan pesawat angkut militer. "Kontrak yang sudah ditangani oleh  PT Pindad hingga 2013 senilai  Rp 2 triliun," kata Sjafrie saat berkunjung ke PT DI, di Bandung, Kamis, 29 November 2012. 

Menurut Sjafrie, kunjungannya bersama sejumlah pejabat lintas kementerian ke PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad mengatasnamakan High Level Committee untuk mengecek kesiapan BUMN itu. "Ini kunjungan pemerintah untuk menginspeksi kesiapan produksi dalam rangka mendukung modernisasi peralatan militer dengan target strategis 2014," kata dia. 

High Level Committee, yang beranggotakan sejumlah kementerian dan lembaga negara, di antaranya Kementerian Keuangan, Kementerian  Pertahanan, Bappenas, serta BPKP, tengah menyisir seluruh proses modernisasi alutsista. Dari pembiayaan, pengadaan, hingga mekanisme pengawasan, agar tenggat modernisasi alutsista  2014 tercapai. 

Sjafrie mengatakan, skema pembiayaan pembelian alutsista secara bertahap. Sebab, mekanisme pembiayaan dalam APBN, jika tidak digunakan skema multi-years akan menyulitkan pembelian alutsista. 

Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia Supra Dekanto mengatakan, perusahaannya mendapat order membuat helikopter dan pesawat angkut TNI. Nilai kontrak seluruhnya hingga 2016 sebesar Rp 8 triliun. "Ada kontrak yang sudah efektif, ada yang belum," ujar kata dia. 

Menurut dia, sejumlah kontrak yang sudah dijanjikan hingga 2016 mendatang, masih menunggu kepastian pembiayaannya. "Istilahnya non-effective contract," ujar Supra. 

Saat ini,  PT Dirgantara Indonesia tengah merampungkan produksi tiga unit CN235 spesifikasi Maritim Patrol untuk TNI Angkatan Laut, 1 unit C212-200 pesanan TNI Angkatan Udara, serta 1 unit helikopter Bel 412-EP pesanan TNI Angkatan Darat. "Pesanan yang menjadi bagian dari kontrak pemenuhan modernisasi alutsista itu dijadwalkan rampung mulai akhir tahun ini hingga tahun depan," kata Supra.

KSAU : delapan pesawat tempur akan lengkapi alutsista


Yogyakarta (ANTARA News) - Delapan pesawat tempur akan didatangkan dari Rusia dan Brasil dalam waktu dekat untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat.
"Delapan pesawat tempur itu masing-masing terdiri atas empat pesawat Sukhoi dari Rusia, dan Super Tucano dari Brasil. Kedelapan pesawat tempur baru tersebut akan tiba di Indonesia pada 2012-2014," katanya di sela Rapat Pimpinan (Rapim) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tahap berikutnya, TNI AU hingga 2024 juga akan mendatangkan pesawat tempur Sukhoi enam unit, Super Tucano 16 unit, MK-53 dari Korea Selatan 16 unit, Fighting Falcon delapan unit, dan F-16 sebanyak 30 unit.
"Dengan pengadaan alutsista tersebut TNI AU pada 2024 akan memiliki 180 pesawat tempur. Hal itu sebagai upaya TNI AU membangun kekuatan serta memodernisasi dan meregenerasi alutsista yang dimiliki saat ini," kata KSAU.
Ia mengatakan banyak pesawat yang dimiliki TNI AU saat ini sudah uzur, usianya rata-rata mencapai 30 tahun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Jika tidak diganti biaya perawatannya sangat tinggi, apalagi ada beberapa suku cadang pesawat yang sudah tidak dibuat lagi karena pabrik yang membuat pesawat sudah tidak beroperasi.
"Meskipun beberapa pesawat sudah tidak dapat berfungsi secara maksimal, kami telah memaksimalkan pesawat tempur untuk mengamankan wilayah Ngara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman luar. Hal itu juga didukung oleh penambahan alutsista yang didasarkan penghitungan dari kebutuhan pesawat tempur dan jumlah landasan yang bisa mengoperasikan pesawat tempur," katanya.

Menurut dia, TNI AU sudah mempunyai anggaran rutin dan alutsista melalui pemerintah yang cukup besar dan pengadaan di Kementerian Pertahanan (Kemhan) sehingga bisa membeli persenjataan dan pesawat untuk meningkatkan kemampuan alutsista dan memperkuat pertahanan negara di udara.
"Rencana kesiapan alutsista yang ada untuk melanjutkan program peningkatan kemampuan alutsista sudah dicanangkan dalam Rencana dan Strategi (Renstra) Pembangunan TNI AU 2010-2014," kata KSAU.

Cara Uninstal Aplikasi Yang Tidak Bisa DiHapus di Control Panel


Cara Uninstal Aplikasi Yang Tidak Bisa DiHapus di Control Panel atau Cara Menghapus Aplikasi Yang Tidak Bisa DiHapus di Control Panel disebabkan kegagalan windows dalam menyelesaikan proses uninstall secara penuh atau juga bisa disebabkan oleh uninstall dari program tersebut kurang beres dalam melakukan proses uninstall. Biasanya anda masuk di Start - Control Panel - Add or Remove Program tetatpi tidak berhasil.

Untuk mengatasi hal tersebut kita harus meng-uninstall secara manual, Berikut Cara Menghapus Program/File Yang Tidak Bisa Dihapus:
  1. Start pada windows anda.
  2. Masuk ke Run ketik regedit lalu Ok 
  3. Masuk ke menu HKEY_LOCAL_MACHINE/SOFTWARE/Microsoft/Windows/currentVersion/Uninstall. Lalu cari nama program yang akan anda uninstall, jika sudah klik nama program tersebut lalu tekan  tombol delete.     
  4. Setelah itu akan muncul jendela confirm key delete lalu klik Yes.
  5. Restart komputer anda dan coba cek apakah Program yang anda uninstall Sudah Terhapus ???
Jika belum terhapus kita gunakan saja Aplikasi Revo Uninstaller, ntar pada pstingan dibawah akan saya kasih linknya. Revo Uninttaller menghapus Aplikasi atau Sofware yang tidak kita perlukan lagi. Revo Uninstaller sangat kuat dan aman menghapus sisa-sisa Uninstal pada program. Ok langsung saja

hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner