Select Language

Sabtu, 01 September 2012

Bofors 40mm L/70 : Eksistensi Dari Era Yos Sudarso Hingga Reformasi


KRI Harimau 607 – salah satu MTB kelas Jaguar yang dilengkapi Bofors 40mm L/70
Dilihat dari kalibernya, jelas meriam ini tak memiliki daya getar yang diperhitungkan oleh lawan. Tapi lain halnya dalam bentuk pengabdian, Bofors 40mm punya andil yang cukup besar dalam kancah perjuangan, khususnya pada elemen armada kapal perang TNI AL dan korps artileri pertahanan udara (arhanud) TNI AD. Meriam ini pun sudah sangat kondang, kiprahnya sudah dimulai sejak perang dunia kedua sebagai sistem senjata anti serangan udara yang diandalkan pasukan sekutu. Dan, hingga kini Bofors 40mm telah diciptakan dalam banyak varian tempur.
Dalam tulisan kali ini, kami akan mengupas Bofors 40mm L/70 single barrel (laras tunggal) yang diadopsi oleh TNI AL dan TNI AD. Di lingkungan armada TNI AL, meriam anti serangan udara ini terbilang punya nilai historis yang tinggi, pasalnya Bofors 40mm L/70 menjadi senjata andalan yang terpasang pada STC (satuan tugas chusus)-9 dalam  misi penysupan pasukan tempur dalam operasi Trikora di tahun 1962. STC-9 yang terdiri dari tiga MTB (motor torpedo boat) kelas Jaguar buatan Jerman Barat, pada tiap kapalnya dibekali dua pucuk Bofors 40mm L/70, yakni pada haluan dan buritan.
STC-9 dalam misi 2.000 mil menuju Irian Barat terdiri dari KRI Matjan Kumbang (606), KRI Harimau (607), dan KRI Matjan Tutul (602). Meski labelnya adalah MTB yang artinya punya senjata andalan berupa torpedo, tapi sayangnya dalam misi tersebut, tidak satu pun dari 3 kapal perang tadi yang dilengkapi torpedo, mengapa? Menurut Laksamana Sudomo dalam bukuKonsiprasi Di Balik Tenggelamnya Matjan Tutul, disebutkan bahwa sejak awal memang sudah direncanakan TNI AL akan membeli MTB dari Jerman (Barat), kemudian akan dilengkapi torpedo buatan Inggris. Sebagai negara yang baru saja dikalahkan dalam perang dunia, industri strategis di Jerman saat itu terkena beragam pembatasan. Semisal boleh memproduksi MTB, tapi tidak boleh membuat torpedo.
Posisi Bofors 40mm di MTB Jaguar pada haluan
Bofors 40mm L/70 di posisi buritan
Bofors 40mm pada buritan, tampak posisinya diapit oleh dua tabung peluncur torpedo
Tentu dengan merebaknya konfrontasi dengan Belanda, sudah bisa ditebak, Indonesia kesulitan mendapatkan Torpedo dari Inggris, pasalnya Belanda adalah sekutu Inggris dalam NATO. Tapi show must go on, Laksamana Sudomo menyebutkan, “justru dengan tanpa membawa torpedo, kapal dapat dijejalkan pasukan, di luar anak buah kapal. Ditambah lagi keyakinan Sudomo, “kami juga telah memperkirakan tidak akan bertemu  dengan sasaran di atas air, sehingga dalam misi ini torpedo tidak diperlukan.”
Nah, bagaimana seandainya disergap dari udara? Setiap MTB memiliki sepasang Bofors 40mm buatan Swedia, dan sepasang SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7mm pada sisi kiri kanan dan kiri anjungan. Menurut kalkulasi Sudomo, Bofors 40mm cukup handal untuk merontokkan pesawat terbang atau bila terpaksa harus melawan penyergapan dari laut, termasuk SMB 12,7mm.
SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7mm pada sisi anjungan, ikut andil dalam duel di laut Arafuru
Kiprah Bofors 40mm di Laut Arafuru
Seperti sudah banyak diulas dalam beragam lituratur, konvoi STC-9 pada 15 Januari 1962, tepatnya sekitar pukul 21.00 keberadaanya telah terdeteksi oleh pesawat intai Belanda, jenis Neptune. Dan, sejak itulah konvoi STC-9 menjadi bulan-bulanan armada destroyer Belanda. Sebuah perlawanan yang tak seimbang, konvoi STC-9 dikeroyok oleh HRMS Kortaner, HRMS Utrecht, dan HRMS Eversten. Meski kisah akhirnya sudah diketahui, dimana KRI Matjan Tutul kandas bersama Komodor Yos Sudarso dan Kapten (pelaut) Wiratno, komandan KRI Matjan Tutul. Tapi ada sisi yang menarik dari peran Bofors 40mm, inilah untuk pertama kali armada kapal perang modern TNI AL terlibat duel artileri di tengah laut.
Dalam masa pengepungan, Yos Sudarso memerintahkan tembakkan dari kedua Bofors Matjan Tutul  ke arah HRMS Eversten. Sebuah tindakan yang berani tapi sia-sia, sebab posisi sasaran berada jauh di luar jangkauan Bofors 40mm yang sejatinya hanya senjata anti serangan udara. Sebelumnya Bofors 40mm juga telah beraksi sesuai kodratnya, yakni disaat Neptune meluncurkan peluru suar dengan parasut, KRI Matjan Tutul juga memuntahkan peluru dari Bofors 40mm ke arah pesawat intai tersebut. Begitu juga dengan KRI Matjan Kumbang juga ikut melepaskan tembakan Bofors 40mm  ke arah Neptune. Namun sesuai briefing , sebenarnya MTB tidak diperkenankan menembak sebelum adanya perintah dari Komandan Satgas (saat itu Kolonel) Sudomo, karena misi mereka adalah mendaratkan pasukan, bukan untuk bertempur. Sayangnya Neptune yang sejatinya ideal menjadi santapan proyektil Bofors 40mm bisa melenggang bebas dengan melepaskan beberapa flare.
Tampilan sisi belakang Bofors 40mm L/70
Yang perlu dicatat, Bofors 40mm L/70 pada armada MTB tidak dilengkapi dengan kubah (pelindung), posisi awak pengisi amunisi benar-benar tanpa perlindungan. Memang ada plat baja sebagai Shield/perisai di bagian muka, tapi sangat terbatas dan kurang member efek perlidungan pada awak. Dan benar saja, sebuah bom meledak tepat di buritan KRI Matjan Tutul, meriam Bofors 40mm yang ada disana hancur berantakan. Kelasi Sadikin, selaku penembak meriam gugur seketika di pos nya. Sekitar 20 menit Matjan Tutul terbakar sebelum akhirnya tenggelam menjelang tengah malam. Menurut catatan sejarah, KRI Matjan Tutul tenggelam pada pukul 21.40 waktu setempat.
Bofors 40mm L/70 di Arhanud TNI AD
Belum didapat informasi sejak tahun berapa korps Arhanud TNI AD mulai mengoperasikan Bofors 40mm L/70. Ada yang menyebut meriam ini mulai melengkapi persenjataan korps baret coklat pada awal tahun 80-an.  Bofors 40mm L/70 yang digunakan oleh TNI AL dan TNI AD punya karakteristik kerja yang sama. Hanya saja untuk versi arhanud, meriam dioperasikan secara towed (tarik), untuk itu meriam dilengkapi 4 roda.  Hingga kini Bofors 40mm L/70 masih terus digunakan sebagai kekuatan dalam batalyon artileri pertahanan udara sedang (arhanudse) dengan sejumlah program retrofit.
Tampak awak Bofors 40mm L/70 TNI AD sedang melakukan loading amunisi. Amunisi dimasukkan dengan sistem cartridge
Bofors 40mm Arhanud TNI AD dalam sebuah defile statis
Dalam gelar tempur, sista Bofors 40mm dapat dipadukan dengan teknologi pelacak sasaran dan radar.
Bofors 40mm L/70 dirancang sejak akhir perang dunia kedua, dan mulai resmi dioperasikan pada tahun 1951. Sejak mulai diproduksi, Bofors 40mm mendapat predikat sebagai senjata yang laris di pasaran, ekspor meriam ini terbilang laku keras di seluruh dunia. Bahkan Inggris memproduksi Bofors 40mm berdasarkan lisensi sebanyak 1000 pucuk, dimana produksinya dipercayakan kepada Royal OrdnanceFactory. Di Inggris, Bofors 40mm L/70 dipercaya untuk memperkuat persenjataan pada resimen Royal Artilery LAA (light anti aircraft), dan beberapa resimen pertahanan udara RAF (Royal Air Force). Di tangan Inggris kemudian, meriam ini dikembangkan lebih canggih dengan integral power dan radar pengendali tembakan. Inggris sendiri mengakhiri penggunaan meriam ini pada tahun 1983, dan kemudian mempercayakan elemen pertahanan udara di kapal perangnya pada rudal Sea Cat.
Bofors 40mm L/70 terbilang battle proven untuk sistem pertahanan udara titik
Proses loading amunisi
Dilihat dari efek gempurnya, Bofors 40mm L/70 mampu menghantam sasaran secara efektif di udara hingga jarak 3.000 meter. Sedangkan jarak tembak maksimum secara teori dapat mencapai 12.500 meter. Dalam satu menit, awak meriam yang terlatih dapat memuntahkan 240 peluru. Untuk kecepatan luncur proyektil mencapai 1.021 meter per detik. Dalam operasionalnya, Bofors 40mm L/70 diawaki oleh 6 personel, dimana 2 orang bertidak sebagai juru tembak, dan 4 orang lainnya bertindak sebagai loader (pengisi) peluru. Salah satu kelemahan meriam ini adalah pola loading pelurunya masih manual.
Kaliber Terpopuler di Armada TNI AL
Bofors 40mm pada buritan FPB-57, sudah lebih maju dengan pengisian amunisi otomatis
Bofors 40mm juga melengkapi persenjataan di sisi buritan pada KRI Fatahilah
Sampai saat ini Bofors 40mm menjadi kaliber meriam yang paling banyak digunakan dalam armada kapal perang TNI AL. Mulai dari FPB-57, KCR kelas Dagger, frigat kelas Fatahilah, LPD (landing platform dock) kelas Makassar, sampai LST (landing ship tank) kelas Teluk Banten, semuanya mengadopsi unsur Bofors 40mm dengan berbagai versi yang lebih maju. Salah satunya Bofors 40mm di KCR kelas Dagger dan KRI Fatahilah sudah mengadopsi pengisian amunisi secara otomatis. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Bofors 40mm L/70
Negara asal        : Swedia
Kaliber            : 40mm
Elevasi laras        : -40 sampai 90 derajat
Berat             : 4.800 Kg
Jarak tembak max    : 12.500 meter
Jarak tembak efektif    : 3.000 meter
Kecepatan tembak    : 240 peluru/menit
Lintasan putaran    : 360 derajat

KRI Samadikun : Destroyer Escort AS Dengan Meriam Eks Uni Soviet


KRI Martadinata 342 – eks USS Charles Berry
Kawin silang di lini alutsista tentu bukan sesuatu yang tabu, sepanjang menghasilkan kinerja yang maksimal, ditambah tidak menuai komplein dari negara pembuatnya, hal itu bisa dilakukan secara efektif, bahkan mampu menambah daya gempur ketimbang versi aslinya. Implementasi kawin silang bisa dituangkan dalam banyak hal, semisal dalam program retrofit, menggabungkan antara cita rasa teknologi barat dan timur. Contoh yang paling mudah ‘dicerna’ yakni pemasangan meriam Cockerill 90mm pada tank Amfibi Korps Marinir TNI AL, PT-76.
Cockerill 90mm adalah jenis meriam modern buatan Brazil yang menggantikan meriam lama yang berkaliber 76mm pada PT-76. Kawin silang dalam retrofit alutsista membuktikan bahwa tenaga Indonesia cukup kreatif dalam memperpanjang usia alat tempur yang ada. Selain tank PT-76, campur sari dalam alutsista eks Uni Soviet bisa juga dilihat pada retrofit panser amfibi BTR-50, dan meriam anti serangan udara S-60 kaliber 57mm. Seolah menjadi kebiasaan di alutsista TNI, yang di retrofit adalah platform senjata/ranpur buatan eks Uni Soviet, dengan upgrade sistem teknologi barat. Tapi ada yang berbeda di lingkungan armada kapal perang TNI AL.
Pada 16 Desember 1974, lewat program  FMS (foreign military sales), Amerika Serikat melimpahkan 4 unit kapal destroyer escort (perusak kawal) kelas Claud Jones kepada TNI AL. Empat kapal tersebut adalah USS Claud Jones (DE-1033), USS John R Perry (DE-1034), USS Charles Berry (DE-1035), dan USS McMorris (DE-1036). Dengan program FMS, Indonesia mendapat kemudahan dalam pengadaan dan proses kedatangan 4 perusak ini. Buat TNI AL, kedatangan perusak kawal ini menjadi sebuah anugrah, setelah sebagian besar armada kapal perang eks Uni Soviet yang dimilikinya lumpuh akibat embargo suku cadang pasca G-30S/PKI di tahun 1965.
Belum lama memperkuat TNI AL, armada perusak kawal ini sudah langsung dihadapkan pada operasi militer yang sesungguhnya di Tanah Air. Tepatnya di tahun 1975, terjadi pergolakan di Timor Timur, KRISamadikun – 341 (eks USS John R. Perry), KRI Martadinata – 342 (eks USS Charles Berry), KRI Monginsidi – 343 (eks USS Claud Jones), dan KRI Ngurah Rai – 344 (eks USS McMorris), dipersiapkan untuk mendukung pelaksanaan operasi Seroja. Meski punya label yang cukup sangar, destroyer escort yang dirancang pada era perang dingin ini terbilang rentan pada unsur pertahanan udara. Dari sinilah kemudian muncul ‘kreatifitas’ untuk meningkatkan kemampuan daya gempur keluarga perusak kawal ini.
Claud Jones Class
US Claud Jones 1033 – akhirnya menjadi KRI Monginsidi 343
Setelah kapal-kapal ini menjadi milik TNI AL, dilakukan pemasangan meriam kaliber 37mm dan 25mm, masing-masing adalah meriam berlaras ganda. Kedua meriam ini mempunyai spesifikasi utama sebagai meriam anti serangan udara, dan memang elemen senjata anti serangan udara pada versi default Claud Jones terbilang minim, dan rentan pada aspek pertahananan udara. Pemasangan kedua meriam ini dilakukan pada KRI Samadikun (341) dan KRI Martadinata (342).
Yang unik adalah meriam-meriam ini sejatinya dicopot dari kapal-kapal perang eks Uni Soviet yang sudah di-scrap. Meriam-meriam besutan Uni Soviet ini dipasang pada sisi buritan, menggantikan posisi meriam kaliber 76mm yang berada di belakang. Sebagai informasi, perusak kawal ini memang mengandalkan  meriam kaliber 76mm laras tunggal, ada dua pucuk meriam 76mm, satu di haluan dan satu di buritan. Untuk sisi haluan (depan), meriam 76mm dilengkapi dengan turret (kubah), sedangkan meriam 76mm di buritan tidak dilengkapi dengan kubah.
USS John R. Perry 1034 – akhirnya menjadi KRI Samadikun 341
USS McMorris 1036 – akhirnya menjadi KRI Ngurah Rai 344
USS Claud Jones tampak belakang
Elemen senjata anti serangan udara kurang begitu diperhatikan, hanya terdapat 2 pucuk SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7mm, justru kapal perang yang punya andil dalam blokade saat krisisi Kuba di tahun 1962 ini, lebih fokus pada unsur kekuatan anti kapal selam dan anti permukaan. Ini dibuktikan dengan hadirnya 2 peluncur torpedo MK.32 atau MK.46, dimana masing-masing peluncur dilengkapi 3 tabung torpedo. Lalu masih ada lagi 2 pucuk mortar anti kapal selam Hedgehog MK11. Tapi tetap saja, yang menarik adalah keberadaan 2 jenis meriam eks Uni Soviet yang di implant ke kapal perusak buatan AS.
Meriam 70K 37mm (1.45 inchi)
Meriam ini sudah tergolong sepuh jika saat ini masih digunakan, mulai dirancang pada akhir tahun 1930-an, dan digunakan secara aktif oleh Uni Soviet semasa Perang Dunia Kedua. Ada beberapa versi 70K 37mm yang dibuat, salah satunya adalah versi naval (angkatan laut). AL Uni Soviet mulai menggunakannya pada armada kapal penyapu ranjau kelas T301 sebelum invasi Jerman, dan terus memproduksinya hingga tahun 1955. Menurut informasi, 70K 37mm versi naval telah diproduksi sebanyak 3.113 pucuk, dan banyak dipakai oleh negara-negara sekutu Soviet.
70K 37mm – versi naval laras ganda V-11
Meriam 70K 37mm naval version dibuat dalam dua tipe laras, yakni laras tunggal dan laras ganda (twin barrel). Dan yang dipasang pada KRI Samadikun adalah jenis 70K 37mm laras kembar, atau disebut kode V-11-M. Mau tahu bagaimana kehandalan meriam ini? Untuk jarak tembak, bisa menjangkau 9.500 meter dengan jarak tembak efektif ke permukaan 4.000 meter. Sedangkan untuk melahap sasaran di udara, jarak tembak maksimumnya 6.700 meter dengan jarak tembak efektif ke udara sejauh 3.000 meter. Untuk kecepatan luncur proyektil, mencapai 880 meter/detik.
Meriam ini diawaki oleh 3 orang, secara teori dalam satu menit meriam ini dapat memuntahkan 160 sampai 170 peluru, walau dalam praktek rata-rata yang bisa dimuntahkan adalah 80 peluru per menit. Berat total meriam ini adalah 3.405Kg dengan panjang laras 2,3 meter. Sebagai meriam anti serangan udara V-11-M mempunyai sudut elevasi mulai dari -10 sampai 85 derajat. Ada beragam hulu ledak yang bisa dilepaskan, mulai dari FRAG-T, AP-T, HVAP, dan HE (high explosive). 50 negara tercatat menggunakan meriam ini, tak cuma sekutu Soviet, uniknya sekutu AS, seperti Israel dan Thailand pun ternyata ikut mengoperasikan jenis senjata ini. Saking larisnya, dikemudian hari Cina ikut memproduksi meriam ini berdasarkan lisensi, dan diberi kode type 65 (tanpa kubah), dan type 76 (dengan kubah) pada akhir tahun 1980-an.
Meriam 2M3 25mm Twin
Meriam ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1953. Dioperasikan dengan sistem amunisi belt, meriam laras ganda ini terbilang banyak digunakan oleh negara-negara sekutu Soviet. Untuk membidik target, masih dilakukan secara manual dengan dukungan iron ring sight. Kehandalan meriam ini dapat dilihat dari jangkauan tembak permukaan yang bisa mencapai 3.250 meter, dan jarak tembak obyek udara mencapai 2.770 meter. Secara teori, jangkauan tembak maksimum bisa mencapai 3.400 meter. Secara teori, 2M2 25mm dapat memuntahkan 450 peluru per menit, meski dalam prakteknya hanya 270 peluru per menit.
2M3 twin 25mm – meriam ini masih dioperasikan secara manual
Meriam ini terbilang laris manis dan suda menyandang gelar battle proven
Kapal torpedo cepat kelas P-6 juga menempatkan 25mm twin gun sebagai senjata andalan
Berat meriam ini mencapai 1.500Kg, mempunyai sudut elevasi mulai -10 sampai 85 derajat. Umntuk urusan amunisi, tersedia jenis AA, AA tracer, AP tracer. Untuk soal daya tahan, umur laras dapat digunakan hingga 12.000 tembakan, selanjutnya laras harus diganti. Agar tidak panas berlebih, laras mengusung pendingan udara. Lagi-lagi meriam ini diproduksi secara lisensi oleh Cina, dan diberi kode type 61.
Besar kemungkinan, 25mm twin gun yang dipasang untuk KRI Samadikun dan KRI Martadinata berasal dari meriam yang dulunya berada di armada kapal cepat kelas Komar. Kapal cepat dengan peluncur rudal anti kapal Styx ini dilengkapi 1 pucuk meriam 25mm untuk tiap kapalnya. Dan TNI AL memiliki 12 unit kapal cepat kelas Komar. Armada Komar menurut informasi resmi pensiun pada 1985. Bila suku cadang dinilai masih memadai, dan stock logistic amunisi lumayan banyak, maka wajar bila meriam ini kembali diberdayagunakan.
Kapal cepat kelas Komar, tampak pada sisi haluan ditempatkan meriam 25mm twin gun
Kapal cepat kelas Komar yang digunakan oleh TNI AL, peninggalan operasi Trikora
Samadikun Class – Sejarah Panjang Penuh Kenangan
Setelah dioperasikan oleh TNI AL, maka destroyer escort kelas Claud Jones berubah identitas menjadi perusak kawal kelas Samadikun, karena KRI Samadikun (341) merupakan kapal pertama di armada perusak ini. Dirunut dari sejarahnya, KRI Samadikun mulai diterima TNI AL pada 20 Februari 1973 dan resmi dipensiunkan TNI AL pada 8 September 2005. KRI Martadinata diterima TNI AL pada 31 Januari 1974 dan resmi pensiun dari TNI AL pada 8 September 2005. KRI Monginsidi diterima TNI AL pada 16 Desember 1974 dan pensiun dari TNI AL pada 2 Januari 2003, dan KRI Ngurah Rai diterima TNIAL pada 16 Desember 1974 dan pensiun di tanggal yang sama dengan KRI Monginsidi.
Sepanjang digunakan oleh TNI AL, kapal perang ini punya sumbangsih yang tak kecil, semisal dalam operasi Seroja, tepatnya pada 25 November  1975, perusak kawal KRI Martadinata (342) melakukan pemboman dengngan kanon 76mm (3 inchi) ke Atabae, Tailaco, dan daerah Simpang Tiga. Dalam penembakkan itu, kolonel Laut (P). Rudolf Kasenda bertindak sebagai spotter untuk memandu tembakan dari helikopter NBO-105 yang diterbangkan oleh Kapten Laut (P). Tony, seorang penerbang TNI AL.
USS Charles Berry 1035 – kemudian menjadi KRI Martadinata 342
Sebelumnya Claud Jones dilengkapi dua rak bom laut (depth charges) yang biasa dilepas di buritan, total 18 bom laut bisa dibawa. Tapi seiring modernisasi, bom laut disingkirkan dan digantikan roket/mortir anti kapal selam Hedgehog MK11.
Dikutip dari buku Saksi Mata Perjuangan Integrasi  Timor Timur, karya Hendro Subroto, menurut R. Kasenda, dalam rapat gabungan di Kupang pada tanggal 4 Desember 1975, telah diputuskan bahwa kapal perang TNI AL tidak melakukan penembakan dari laut. Namun demikian, disebabkan faktor kerahasiaan dan pendadakan kedatangan Komando Tugas Amfibi diketahui lawan, akhirnya Birgjen Suweno selaku Pangkogasgab memerintahkan penembakan ke pantai. Pertimbangan penembakan ini dilakukan untuk menurunkan moril lawan dan mengangkat moril pasukan di bawah komandonya. Dalam misi pendaratan ini, KRI Martadinata menembakkan kanon 76mm.
Selain KRI Martadinata, dalam operasi Seroja, KRI Monginsidi juga banyak berperan, seperti dalam misi-misi awal kehadiran TNI diawal berkecamuknya konflik horizontal di Timor Timur, “Berangkat secepatnya ke Surabaya,  telah disediakan satu destroyer dengan satu kompi marinir untuk berangkat ke Dili. Selamatkan dan ungsikan konsul Indonesia beserta seluruh staf dan keluarganya. Keadaan sangat gawat, pertempuran telah mencapai ibu kota Timor Timur (Timtim). Tugas supaya dilaksanakan secara bijaksana dengan mempertimbangkan masalah-masalah diplomatik.
23 Agustus 1975 pukul 15:00 WIB ketua misi sampai di Surabaya, dijemput Assintel Armada Letkol (P) Moh. Arifin di Bandara Juanda. Ketua misi langsung menuju ke pangkalan AL. Di sana telah menunggu Panglima Armada Laksamana Rudi Purwana. Panglima menerangkan, kapal baru saja selesai mengisi bahan bakar dengan menggunakan mobil-mobil tangki sipil, karena Armada kekurangan mobil seperti itu. Pasukan marinir juga belum lengkap, karena para anggota yang bediam di luar kota sedang dijemput.
Pada pukul 17:00 WIB, kompi marinir telah siap dan berbaris dengan rapi di kade. Setelah laporan kepada Panglima Armada, dengan teratur mereka menaiki tangga KRI Monginsidi. Pada pukul 18:00 WIB kapal mulai bergerak berlayar perlahan menuju Laut Jawa. Malam pertama diisi taklimat mengenai tugas yang diemban kepada para perwira dan komandan kompi marinir.
26 Agustus 1975 pukul 20:00 WIB, KRI Monginsidi meninggalkan Atapupu dan berlayar perlahan menuju ke arah timur. Kira-kira pukul 23:30 WIB, kapal sudah mendekati kota Dili yang semua lampunya terlihat padam. Tembakan-tembakan mortir sudah mulai terdengar beserta kobaran-kobaran api di daerah pegunungan yang tadinya terlihat samar-samar sudah mulai tampak terang.
Pada saat gawat itulah misi Indonesia datang dengan kapal destroyer Monginsidi dan muncul di depan kota dengan lampu-lampu menyala.
Kapal perusak ini mulai dibangun pada tahun 1955, dan masuk dinas US Navy pada 1959. Meski tidak dilengkapi rudal, perusak kawal ini banyak dilengkapi sensor, terutama sensor bawah air untuk memburu kapal selam. Kapal ini diawaki 171 orang (dengan 12 perwira), punya kemampuan jelajah 7.000 mil laut dengan kecepatan maksimum 22 knot yang dihasilkan dari 4 mesin diesel (Fairbanks-Morse 38ND8 diesels). Saat digunakan oleh TNI AL, armada Claud Jones sudah pernah dilakukan re-engine untuk mengganti mesin yang sudah tua.
KRI Samadikun 341 dalam sebuah defile
KRI Monginsidi 343
Perusak kawal ini bukan senjata ‘kelas dua’ dimasanya, buktinya AS mempercayakan USS Claud Jones pada 1960 untuk menyisir pantai Timur Karibia lalu menyusur ke wilayah utara Eropa untuk bergabung dengan armada NATO. Saat krisis misil Kuba pada 1962, Claud Jones berperan sebagai kapal pemimpin operasi dalam kampanye blokade laut terhadap Kuba. Keluarga kapal Claud Jones juga aktif mendukung operasi militer di Vietnam, salah satunya dalam operasi ‘Sea Dragon’ dalam memberi bantuan tembakan kapal.
Penulis sendiri pernah melihat dari dekat KRI Ngurah Rai dalam defile Arung Samudra di tahun 1995, dan pernah melihat beberapa Samadikun class saat menjalani masa docking di dermaga Ujung – Surabaya pada tahun 1997.Saat ini semua perusak kawal ini sudah tak lagi digunakan, teknologinya pun sudah sangat ketinggalan untuk konteks masa kini, dan TNI AL memutuskan untuk men-scrap kapal-kapal ini. Besar harapan saya, agar paling tidak ada satu Claud Jones yang tetap dipertahankan oleh TNI AL, dan dibangun untuk menjadi museum apung. Mengingat sejarahnya yang panjang, semoga saja ide ini bisa direalisasi, sehingga generasi muda dapat mengetahui dan merasakan langsung kebesaran TNI AL di masa lalu, melengkapi keberadaan monumen kapal selam (monkasel). (Haryo Adjie Nogo Seno)
Spesifikasi Claud Jones Class
Tipe        : Destroyer escort
Produksi     : Avondale shipyard, AS
Berat (kosong)    : 1314 ton
Berat (penuh)     : 1916 ton
Tinggi        : 11,3 meter
Panjang     : 95 meter
Lebar         : 5,5 meter
Mesin         : 4 Fairbanks-Morse 38ND8 diesels
Jarak jelajah     : 7.000 mil laut dengan kecepatan 12 knot
Kecepatan max    : 22 knot
Radar        : SPS-6E-2D Air Search
Sonar        : EDO 786, SQS-45(V), SQS-39(V), SQD-42(V)
Awak         : 171 (12 perwira)

Spesifikasi K-61


Namanya memang tak sekondang PT-76 maupun BTR-50, tapi soal peran dan pengabdiannya jangan ditanya, sudah banyak operasi militer yang dilakoninya. Meski dirancang dengan metarial lapis baja plus berpenggerak roda rantai, tapi K-61 bukan tergolong tank, kendaraan tempur (ranpur) ini dilingkungan Korps Marinir TNI AL disebut sebagai KAPA (Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri).
Dalam sebuah operasi pendaratan amfibi, peran KAPA K-61 memang tak langsung berada di lini terdepan. Setelah unsur BTP (batalyon tim pendarat) yang terdiri dari unsur tank dan pansam (panser amfibi) berikut pasukan melakukan pendaratan di pantai, barulah KAPA K-61 meluncur dari pintu palka LST (landing ship tank). KAPA K-61 punya peran yang sangat penting dalam proses perebutan daerah tumpuan. Pasalnya K-61 lah ranpur amfibi yang dapat mengangkut persenjataan artileri seperti Howitzer,mortir kaliber besar, hingga truk dari tengah lautan sampai masuk ke pedalaman di darat, apalagi jika yang dihadapi harus melalui medan pantai yang berat. Lewat K-61, Howtizer dapat digelar untuk memberikan bantuan tembakan pada pergerakan unit infrantri. Bila diperlukan pun, KAPA K-61 mampu membawa 60 pasukan marinir bersenjata lengkap.
Tampilan 3 dimensi K-61
K-61 tampak menggotong meriam
K-61, seperti juga tank PT-76 dan BTR-50 adalah ranpur satu angkatan, artinya berasal dari era Uni Soviet. Ranpur ini didatangkan saat masa operasi Trikora untuk merebut Irian Barat. Karena sejatinya merupakan ranpur tua, K-61 pun beberapa sudah ‘nongkrong’ di museum, salah satunya bisa Anda lihat di museum TNI Satria Mandala.
Tapi disisi lain, karena dinilai masih bandel, nasibnya pun serupa seperti PT-76 dan BTR-50, hingga kini masih terus dikaryakan oleh Korps Marinir TNI AL.  K-61 saat ini masih memperkuat Batalyon KAPA, Korps Marinir menempatkan K-61 dalam dua batalyon, yakni Batalyon KAPA 1 yang tergabung dalam Resimen Kavaleri 1, dimana Resimen Kavaleri 1 menjadi bagian organik dari Pasukan Marinir (Pasmar) 1 yang bermarkas di Sidoarjo – Jawa Timur. Sedangkan Batalyon KAPA 2 yang tergabung dalam Resimen Kavaleri 2, dimana Resimen Kavaleri 2 menjadi bagian organik dari Pasukan Marinir (Pasmar) 2 yang bermarkas di Cilandak – Jakarta. Unsur kekuatan Batalyon KAPA Korps Marinir sejatinya tidak hanya bertumpu pada K-61, arsenal ranpur malah ada yang lebih besar lagi, yakni PTS-10 yang dinobatkan sebagai kendaraan angkut amfibi terbesar milik Korps Marinir TNI AL.
K-61 Korps Marinir TNI AL (foto : http://batalyon-kapa-1-marinir.blogspot.com)
K-61 (foto : http://batalyon-kapa-1-marinir.blogspot.com)
K-61 Korps Marinir TNI dalam sebuah latihan (http://batalyon-kapa-1-marinir.blogspot.com)
K-61 dalam sebuah pengujian di Surabaya (foto : http://batalyon-kapa-1-marinir.blogspot.com)
Seperti halnya ranpur peninggalan perang dingin, K-61 juga banyak dipakai oleh negara-negara sehabat Uni Soviet, di Asia Tenggara, Vietnam diketahui juga menggunakan K-61. Sosoknya kendaraan amfibi ini pertama kali terlihat pada tahun 1950, di negara asalnya K-61 juga disebut sebagai GPT. Selain bisa berenang di laut, K-61 juga cocok untuk mengarungi sungai. Untuk soal daya angkut, kapasitas angkutnya mencapai 3 ton saat melaju di darat, sedangkan bisa mengangkut hingga 5 ton saat melaju di air.
Soal sistem penggerak, saat  berenang K-61 mengandalkan 2 buah propeller berukuran besar, dengan masing-masing propeller memiliki 3 bilah. Letak propeller ini berada di bawah ramp. Dengan dua buah propeller ini, K-61 mampu  melaju maksimum 10 Km per jam di air. Nah, bagaimana performanya saat di darat, K-61 bisa melaju hingga kecepatan maksimum 36 Km per jam dengan 7 roda baja kecilnya. Dapur pacu K-61 dipercayakan pada mesin diesel YaAZ-M204VKr 4-cylinder dengan pendingin air. Kapasitas bahan bakarnya mencapai 260 liter, dan K-61 bisa menempuh jarak hingga 260 Km. Untuk menghadapi medan berat, K-61 bisa melahap rintangan vertikal 15 derajat.
http://batalyon-kapa-1-marinir.blogspot.com
K-61 Korps Marinir TNI AL dalam misi tanggap bencana tsunami di NAD
K-61 punya jasa besar dalam misi kemanusiaan, tampak K-61 Korps Marinir TNI AL dalam misi bantuan dalam bencana tsunami di NAD
Korps Marinir TNI AL dalam beberapa latihan terlihat menggunakan K-61 sebagai moda pengangkut meriam Howitzer LG-1 MK II 105mm. Uni Soviet sendiri dahulu menggunakan K-61 sebagai pengangkut Howitzer 122 mm M1938 (M-30), truk GAZ-63, dan beragam mortir kaliber besar. Lain dari itu, K-61 juga handal untuk operasi militer non perang, salah satunya K-61 juga pernah terlihat digunakan dalam misi kemanusiaan saat bencana tsunami di Nangroe Aceh Darusalam (NAD) tahun 2005. Awak K-61 sendiri hanya terdiri atas 2 personel, yakni komandan dan pengemudi. (Haryo Adjie Nogo Seno)
Penampilan K-61 dalam defile militer Uni Soviet di Lapangan Merah, Moskow.
Mampu menggotong truk yang ukurannya hampir sama.

Spesifikasi K-61
Dimensi     : 9,15 x 3,15 x 2,15 meter
Berat di air    : 9.550Kg
Berat di darat    : 12.550Kg
Mesin         : diesel YaAZ-M204VKr 4-cylinder water-cooled 135 hp at 2000 rpm
Kecepatan max    : 10Km per jam (di air)/ 36Km per jam (di darat)
Jangkauan max    : 260Km

Wamenhan Resmikan Pembangunan Tiga Kapal Perang


JAKARTA - Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Irjen Kemhan Laksdya TNI Sumartono, dan Wakasal Laksdya TNI Marsetyo serta sejumlah Pejabat Mabes TNI dan Angkatan, Selasa (31/7), meresmikan pembangunan tiga kapal perang di Galangan Kapal PT. Dok dan Perkapalan (DKB) Kodja Bahari, di Jakarta.
Peresmian yang ditandai dengan peletakan lunas (keel laying) ini menandai pembangunan satu unit kapal perang jenis Bantum Cair Minyak (BCM) serta pemotongan baja pertama (first steel cutting) untuk pembangunan dua unit kapal jenis Landing Ship Tank (LST).
Dalam sambutannya, Wamenhan mengatakan, Peristiwa peresmian ini merupakan bukti satu langkah maju dari peran PT. Dok dalam membangkitkan industri pertahanan, sekaligus menjadi peran pemerintah sesuai dengan apa yang telah dicanangkan oleh Presiden RI untuk memodernisasi alutsista TNI. Terlebih, produk yang dihasilkan akan menjadi bahan laporan Bapak Presiden kepada rakyat Indonesia pada 5 Oktober 2014 di Surabaya.

Model kapal perang LST buatan PT. Dok Kodja Bahari
Lebih lanjut, Wamenhan mengatakan masih ada 2 episode tantangan lagi yang harus dimenangkan oleh PT Dok Kodja Bahari yaitu, masalah kualitas dan ketepatan waktu penyelesaian pembangunan kapal. Sedangkan ke depan, Wamenhan berharap PT Dok Kodja Bahari juga harus mampu berbicara tidak hanya pada skala nasional saja, tetapi juga pada tingkat regional.
Dan untuk mewujudkan upaya tersebut, sedang dipikirkan wacana mengadakanjoy sea trip bagi tamu-tamu dari negara luar pada event Indo-Defence 2012mendatang, sebagai bagian memperkenalkan kepada negara-negara luar tentang industri perkapalan khususnya yang berada di Jakarta, untuk menopang kebangkitan industri pertahanan. Mengingat, hal tersebut dapat menjadi cermin serta Indonesia dikenal dengan kebangkitan industri dan tidak mengenal krisis ekonomi global.
Sementara itu, Dirut PT Dok Kodja Bahari Riry Syeried Jetta menyampaikan, bahwa kapal jenis BCM yang berukuran panjang 122,40 meter, lebar 16,50 meter, memiliki kecepatan maksimal 18 knots dan berkapasitas bahan minyak cair sebanyak 5500 m3 akan selesai pembangunannya dan diserahkan pada Bulan Desember 2013.
Pola pembangunan kapal tersebut menggunakan Multiyard Single Construction Methode dengan sistem Integrated Hull Construction Outfitting & Painting, yakni dilaksanakan di tiga galangan di Jakarta yang dilakukan secara paralel serta pengerjaan konstruksi bangunan kapal sudah mencapai 550 ton dari total 1.770 ton.
Sedangkan untuk kapal LST berukuran panjang 117 meter, lebar 16,40 meter dengan kecepatan maksimal 16 knots, diproyeksikan dapat mengangkut tank tidak hanya jenis BMP 3F tetapi juga untuk tank sekaliber Leopard.
Sumber : DEPHAN.GO.ID

PEMBERIAN NAMA KRISTEN

"Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada 
Tuhan karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. Lalu pergilah Barnabas 
ke Tarsus untuk mencari Sauius; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. 
Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhia-lah murid-murid itu untuk 
pertama kalinya disebut Kristen.'
(Kis 11:23-26)Ayat ini membuktikan bahwa yang menamakan agama itu "Kristen' bukan Yesus. tetapi Barnabas dan Paulus.
Seumur hidupnya Yesus tidak pernah tahu kalau agama yang dibawanya dinamai Kristen, sebab nama "Kristen' itu baru muncul jauh setelah Yesus mati. 
Timbul pertanyaan; kalau begitu kapan Yesus mati dan kapan agama yang dibawanva dinamaKAN Kristen? Menurut data yang kami baca dalam beberapa 
buku yang ditulis oleh kalangan Kristen sendiri, diantara-nya dalam buku "Religions on File" Yesus lahir sekitar tahun 4 SM (Sebelum Masehi) dan wafat 
sekitar tahun 29 M (Masehi). Sementara Paulus dan Barnabas memberi nama "Kristen" terhadap agama yang mereka bentuk, yaitu sekitar tahun 42 M. 
Ini berarti sekitar 13 tahun (42-29=13) setelah Yesus mati, baru muncul agama Kristen bentukan Barnabas dan Paulus.
Didalam kitab suci agama Islam yaitu Al Quran, tidak dijumpai satu pun kata "Kristen", yang ada kata "Nashara" karena Yesus/nabi isa putra maryam berasal dari kota Nazareth. 
Dan pengikut ajaran Yesus disebut "Nashrani” bukan Kristen. Bahkan didalam Alkitab itu sendiri, kata "Kristen' hanya disebutkan paling 
banyak 6 (enam) kali, 
yaitu pada Kis 11:26, Kis 26:28, Rm 16:7, 1 Kor 9:5, 2 Kor 12:2 dan 1 Ptr 4:16)

Minggu, 26 Agustus 2012

cara membuka situs porno dengan Hotspot Shield (Update 2012)

Hotspot Shield menciptakan virtual private network (VPN) antara laptop atau iPhone dan gateway internet kami. Ini ditembus mencegah terowongan snoopers, hacker, ISP, dari melihat kegiatan web browsing, pesan instan, download, informasi kartu kredit atau apa pun yang Anda kirim melalui jaringan. Hotspot Shield aplikasi keamanan bebas untuk men-download, menggunakan teknologi VPN terbaru, dan mudah diinstal dan digunakan. Hotspot Shield dapat membuka website yang terblokir.

Hotspot Shield dapat digunakan pada:

    Windows 7
    Windows XP
    Windows 2000
    Windows Vista
    Mac OS X (10,5 Leopard)
    Mac OS X (10,6 Snow Leopard)
    Mac OS X (10,7 Singa)

Hotspot Shield memberikan dengan gratis ada pula yang berbayar. Jika menggunakan yang gratis disetiap Anda membuka website akan selalu tertampil adversite atau iklan. Iklan tersebut bisa dihilangkan dengan mengklik close. Tapi, akan selalu muncul ketika kita membuka ke link lain atau halaman lain.

Kalau yang berbayar tidak ada iklan, diberikan Malware Protection Plus, dll. 


cara membuka situs porno:

1. instal 
Hotspot Shield

2. klik Hotspot Shield
3. klik connect (tunggu paling lama 2 menit)

4. udah connect , klik situs porno yang anda inginkan
5. kalau ada penghitung waktu selama 10 detik tunggu
6. sesudah itu baru continue
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner