Select Language

Rabu, 10 November 2010

Iklim Organisasi

Robert G. Owens mendefinisikan iklim organisasi sebagai studi persepsi individu mengenai berbagai aspek lingkungan organisasinya.
Sementara Keith Davis mengemukakan pengertian iklim organisasi sebagai ”The human environment within an organization’s employees do their work”. Pernyataan Davis tersebut mengandung arti bahwa iklim organisasi itu adalah yang menyangkut semua lingkungan yang ada atau yang dihadapi oleh manusia di dalam suatu organisasi tempat mereka melaksanakan pekerjaannya.
Senada dengan Davis, Renato Taguiri dan Litwin seperti dikutip Wirawan mendefinisikan Iklim organisasi sebagai kualitas lingkungan internal organisasi yang secara relatif terus berlangsung, dialami oleh anggota organisasi, mempengaruhi perilaku mereka dan dapat dilukiskan dalam pengertian satu set karakteristik atau sifat organisasi . Wirawanpun mengutip pendapat Litwin dan Stringer yang mendefinisikan Iklim organisasi merupakan suatu konsep yang melukiskan sifat subjektif atau kualitas lingkungan organisasi. Unsur-unsurnya dapat dipersepsikan dan dialami oleh anggota organisasi dan dilaporkan melalui koesioner yang tepat.
James L. Gibson dkk. Mengemukakan pengertian iklim organisasi sebagai ”Climate is s set of properties of the work environment perceived directly or indirectly by the employees who work in this environment and is assumed to be a major force in influencing their behavior on the job”. Gibson mengatakan bahwa iklim merupakan satu set perlengkapan dari suatu lingkungan kerja yang dirasakan secara langsung atau tidak langsung oleh karyawan yang bekerja di lingkungan ini dan beranggapan akan menjadi kekuatan utama yang mempengaruhi tingkah laku mereka dalam bekerja.
Definisi lain tentang iklim organisasi dikemukakan oleh B. H Gilmer seperti dikutip Wayne K. Hoy yang menyebutkan bahwa iklim organisasi merupakan karakteristik yang membedakan satu organisasi dengan organisasi lainnya dan mempengaruhi orang-orang dalam organisasi tersebut. Sedangkan Steers menyebutkan bahwa iklim organisasi dapat dipandang sebagai kepribadian organisasi yang dicerminkan oleh anggota-anggotanya. Lebih lanjut Steers mengatakan bahwa iklim organisasi tertentu adalah iklim yang dilihat pekerjanya, tidak selalu iklim yang sebenarnya dan iklim yang muncul dalam organisasi merupakan faktor pokok yang menentukan perilaku pekerja.
Dari pengertian-pengertian yang dikemukakan tersebut jelas bahwa iklim organisasi berhubungan erat dengan persepsi individu terhadap lingkungan soasial organisasi yang mempengaruhi organisasi dan perilaku anggota organisasi. Karena konsep iklim organisasi didasarkan pada persepsi pribadi anggota organisasi, maka pengukuran iklim organisasi kebanyakan dilakukan melalui kuisioner. Beberapa kuisioner yamg telah dikembangkan untuk mengukur konsep iklim organisasi diantaranya adalah The Organizational Climate Description Questionnaire (OQDQ) yang dikembangkan oleh Andrew W. Halpin dan Don B. Croft untuk mengukur iklim organisasi sekolah, The Organizational Climate Questionnaires (OCQ) oleh Litwin dan Stringer serta The Business Organizational Climate Index (BOCI) oleh RL. Payne dan D.C Pheysey yang dikembangkan untuk bisnis.
Dalam konteks sekolah Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel mendefinisikan iklim organisasi sekolah sebagai kualitas dari lingkungan sekolah yang terus-menerus dialami oleh guru-guru, mempengaruhi tingkah laku mereka dan berdasar pada persepsi kolektif tingkah laku mereka. Di samping itu Wayne menyebutkan bahwa “Organizational climate is a broad concept that denotes members shared perceptions of tone or character of workplace; it is a set of internal characteristics that disitnguishes one school from another and influences the behavior of people in scholls.” Iklim organisasi merupakan konsep yang luas yang diketahui anggota mengenai persepsi berbagi terhadap sifat atau karakter tempat kerja; ini merupakan karakteristik internal yang membedakan satu sekolah dengan sekolah yang lainnya dan mempengaruhi orang-orang yang ada di sekolah. Sementara Sergiovanni dan Starratt mendefinisikan iklim organisasi sekolah sebagai karakteristik yang ada, yang menggambarkan ciri-ciri psikologis dari suatu sekolah tertentu, yang membedakan suatu sekolah dari sekolah yang lain, mempengaruhi tingkah laku guru dan peserta didik dan merupakan perasaan psikologis yang dimiliki guru dan peserta didik di sekolah tertentu. Iklim sekolah merupakan karakteristik dari keseluruhan lingkungan pada suatu bangunan sekolah.
Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel menyebutkan ada dua tipe iklim organisasi, yaitu iklim organisasi terbuka dan iklim organisasi tertutup. Pada iklim organisasi terbuka, semangat kerja karyawan sangat tinggi, dorongan pimpinan untuk memotivasi karyawannya agar berprestasi sangat besar; sedangkan rutinitas administrasi rendah, karyawan yang meninggalkan pekerjaan seperti bolos, ijin dan sebagainya juga rendah; perasaan terpaksa untuk bekerja juga rendah. Sebaliknya, pada iklim organisasi yang tertutup, semangat kerja karyawan sangat rendah; dorongan pimpinan untuk memotivasi karyawannya berprestasi sangat rendah; sedangkan rutinitas administratif tinggi, karyawan yang meninggalkan pekerjaan tinggi; perasaan terpaksa untuk bekerja juga tinggi.
Davis menyebutkan bahwa iklim organisasi dapat berada di salah satu tempat pada kontinum yang bergerak dari yang menyenangkan ke yang netral sampai dengan yang tidak menyenangkan. Majikan dan karyawan menginginkan iklim yang lebih menyenangkan karena maslahatnya, seperti kinerja yang lebih baik dan kepuasan kerja. Unsur-unsur yang mengkontribusi terciptanya iklim yang menyenangkan adalah : (1) kualitas kepemimpinan, (2) kadar kepercayaan, (3) komunikasi, ke atas dan ke bawah, (4) perasaan melakukan pekerjaan yang bermanfaat, (5) tanggung jawab, (6) imbalan yang adil, (7) tekanan pekerjaan yang nalar, (8) kesempatan, (9) pengendalian, struktur, dan birokrasi yang nalar, dan (10) keterlibatan pegawai, partisipasi.

Steers menyebutkan struktur organisasi, teknologi, lingkungan luar dan kebijakan serta praktek manajemen sebagai faktor pengaruh yang penting terhadap iklim organisasi.
Menurut Steers semakin tinggi “penstrukturan” suatu organisasi lingkungannya akan terasa makin kaku, tertutup, dan penuh ancaman. Sementara semakin otonomi dan kebebasan menentukan tindakan sendiri diberikan pada individu dan makin banyak perhatian yang diberikan manajemen terhadap karyawannya akan makin baik iklim kerjanya. Begitu juga dengan kebijakan dan praktek manajemen sangat mempengaruhi iklim kerja. Manajer yang membeikan lebih banyak umpan balik, autonomi dan identitas tugas pada bawahannya sangat membantu terciptanya iklim yang berorientasi pada prestasi, di mana karyawab merasa bertanggungjawab atas pencapaian tujuan organisasi.
James L. Gibson dkk. mengutip hasil penelitian Halpin dan Crofts menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi iklim organisasi antara lain 1) Esprit (semangat), 2) consideration (pertimbangan), 3) production (produksi) dan 4) aloofness (menjauhkan diri). Gibson juga mengutip pendapat Forehand yang mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi iklim organisasi sebagai berikut : 1) ukuran dan struktur organisasi, 2) pola kepemimpinan, 3) kompleksitas sistem, 4) tujuan organisasi dan jaringangan komunikasi. Sementara menurut Renato Taguiri seperti dikutip Robert G. Owens menyebutkan dimensi iklim organisasi antara lain :

  1. Ecologie, berhubungan dengan faktor lingkungan fisik dan material organisasi, sebagai contoh , ukuran, usia, fasilitas dan kondisi bangunan. Ini juga berhubungan dengan teknologi yang digunakan orang-orang dalam organisasi, seperti : meja dan kursi, papan tulis, elvator, segala sesuatu yang digunakan untuk menunjang aktivitas organisasi;
  2. milieu, berhubungan dengan dimensi sosial pada organisasi. Termasuk ke dalam dimensi ini segala sesuatu mengenai orang-orang dalam organisasi. Sebagai contoh, berapa banyak dan seperti apa mereka. Termasuk di sini ras dan etnis, tingkat penggajian guru-guru, tingkat sosial ekonomi siswa, tingkat pendidikan para guru, moril dan motivasi orang dewasa dan siswa dalam sekolah, tingkat kepuasan kerja, dan sejumlah karakteristik lainnya pada orang-orang dalam organisasi.
  3. sosial system, berhubungan dengan struktur organisasi dan administrasi. Termasuk dimensi ini adalah struktur organisasi sekolah, cara pengambilan keputusan dan siapa orang-orang yang terlibat di dalamnya, pola komunikasi di antara orang-orang dalam organisasi dan lain-lain.
  4. culture, berhubungan dengan nilai, sistim kepercayaan, norma dan cara berpikir yang merupakan karakteristik orang-orang dalam organisasi.

Litwin dan Stringer seperti dikutip Linda Holbche mengklasifikasikan dimensi iklim organisasi sebagai berikut :

  1. Tanggungjawab, karyawan diberi kebebasan untuk melaksanakan tugas dan menyelesaikannya, diberi motivasi yang lebih untuk melaksanakan tugas tanpa harus selalu mencari persetujuan manajer, diberi keberanian menanngung resiko dari pekerjaan tanpa rasa takut dimarahi.
  2. Fleksibilitas, karyawan diberi kebasan untuk lebih inovatif
  3. Standar, diperlukan untuk mencapai hasil yang memuaskan ditandai dengan adanya dorongan untuk maju
  4. Komitmen tim, orang akan memberikan apa yang terbaik yang mereka bisa lakukan jika mereka memiliki komitmen terhadap organisasi dan bangga berada di dalamnya.
  5. Kejelasan, kejelasan terhadap apa yang menjadi tujuan, tingkatan tanggungjawab, nilai-nilai organisasi. Hal ini penting diketahui oleh karyawan agar mereka tahu apa yang sesungguhnya diharapkan dari mereka dan mereka dapat memberikan kontribusi yang tepat bagi orgganisasi.
  6. Penghargaan, karyawan dihargai sesuai dengan kinerjanya. Manajer harus lebih banyak memberikan pengakuan daripada kritikan. Sistem promosi harus dibuat untuk membantu karyawan meraih puncak prestasi. Kesempatan berkembang harus menggunakan penghargaan dan peningkatan kinerja.
  7. Gaya kepemimpinan, ketika gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi yang ada maka hasil akan dicapai

IKLIM ORGANISASI


A. Pengertian Iklim Organisasi

Stinger (Wirawan, 2007) mendefinisikan bahwa iklim organisasi sebagai koleksi dan pola lingkungan yang menentukan munculnya motivasi serta berfokus pada persepsi-persepsi yang masuk akal atau dapat dinilai, sehingga mempunyai pengaruh langsung terhadap kinerja anggota organisasi. Tagiuri dan Litwin mengatakan bahwa iklim organisasi merupakan kualitas lingkungan internal organisasi yang secara relatif terus berlangsung, dialami oleh anggota organisasi dan mempengaruhi perilaku mereka serta dapat dilukiskan dalam satu set karateristik atau sifat organisasi.

Kemudian dikemukakan oleh Luthans (Simamora, 2004) disebutkan bahwa iklim organisasi adalah lingkungan internal atau psikologi organisasi. Iklim organisasi mempengaruhi praktik dan kebijakan SDM yang diterima oleh anggota organisasi. Perlu diketahui bahwa setiap organisasi akan memiliki iklim organisasi yang berbeda. Keanekaragaman pekerjaan yang dirancang di dalam organisasi, atau sifat individu yang ada akan menggambarkan perbedaan tersebut. Semua organisasi tentu memiliki strategi dalam memanajemen SDM. Iklim organisasi yang terbuka memacu karyawan untuk mengutarakan kepentingan dan ketidakpuasan tanpa adanya rasa takut akan tindakan balasan dan perhatian. Ketidakpuasan seperti itu dapat ditangani dengan cara yang positif dan bijaksana. Iklim keterbukaan, bagaimanapun juga hanya tercipta jika semua anggota memiliki tingkat keyakinan yang tinggi dan mempercayai keadilan tindakan.

Iklim organisasi penting untuk diciptakan karena merupakan persepsi seseorang tentang apa yang diberikan oleh organisasi dan dijadikan dasar bagi penentuan tingkah laku anggota selanjutnya. Iklim ditentukan oleh seberapa baik anggota diarahkan, dibangun dan dihargai oleh organisasi. Batasan pengertian iklim organisasi itu bisa dilihat dalam dimensi iklim organisasi. Steve Kelneer menyebutkan enam dimensi iklim organisasi sebagai berikut :

  1. Flexibility conformity. Fleksibilitas dan comfomity merupakan kondisi organisasi yang untuk memberikan keleluasan bertindak bagi karyawan serta melakukan penyesuaian diri terhadap tugas-tugas yang diberikan. Hal ini berkaitan dengan aturan yang ditetapkan organisasi, kebijakan dan prosedur yang ada. Penerimaan terhadap ide-ide yang baru merupakan nilai pendukung di dalam mengembangkan iklim organisasi yang kondusif demi tercapainya tujuan organisasi.
  2. Resposibility Hal ini berkaitan dengan perasaan karyawan mengenai elaksanaan tugas organisasi yang diemban dengan rasa tanggung jawab atas hasil yang dicapai, karena mereka terlibat di dalam proses yang sedang berjalan.
  3. Standards. Perasaan karyawan tentang kondisi organisasi dimana manajemen memberikan perhatian kepada pelaksanaan tugas dengan baik, tujuan yang telah ditentukan serta toleransi terhadap kesalahan atau hal-hal yang kurang sesuai atau kurang baik.
  4. Reward. Hal ini berkaitan dengan perasaan karyawan tentang penghargaan dan pengakuan atas pekerjaan yang baik.
  5. 5. Clarity. Terkait dengan perasaan pegawai bahwa mereka mengetahui apa yang diharapkan dari mereka berkaitan dengan pekerjaan, peranan dan tujuan organisasi.
  6. Tema Commitmen. Berkaitan dengan perasaan karyawan mengenai perasaan bangga mereka memiliki organisasi dan kesediaan untuk berusaha lebih saat dibutuhkan.

b. Aspek-Aspek Iklim Organisasi

Stringer (Wirawan, 2007) menyebutkan bahwa karakteristik atau dimensi iklim organisasi dapat mempengaruhi motivasi anggota organisasi untuk berperilaku tertentu. Ia juga mengatakan enam dimensi yang diperlukan, yaitu:

  1. Struktur. Struktur merefleksikan perasaan bahwa karyawan diorganisasi dengan baik dan mempunyai definisi yang jelas mengenai peran dan tanggung jawab mereka. Meliputi posisi karyawan dalam perusahaan.
  2. Standar-standar. Mengukur perasaan tekanan untuk memperbaiki kinerja dan derajat kebanggaan yang dimiliki karyawan dalam melakukan pekerjaannya dengan baik. Meliputi kondisi kerja yang dialami karyawan dalam perusahaan.
  3. Tanggung jawab. Merefleksikan perasaan karyawan bahwa mereka menjadi “pimpinan diri sendiri” dan tidak pernah meminta pendapat mengenai keputusannya dari orang lain. Meliputi kemandirian dalam menyelesaikan pekerjaan.
  4. Pengakuan. Perasaan karyawan diberi imbalan yang layak setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Meliputi imbalan atau upah yang terima karyawan setelah menyelesaikan pekerjaan.
  5. Dukungan. Merefleksikan perasaan karyawan mengenai kepercayaan dan saling mendukung yang berlaku dikelompok kerja. Meliputi hubungan dengan rekan kerja yang lain.
  6. Komitmen. Merefleksikan perasaan kebanggaan dan komitmen sebagai anggota organisasi. Meliputi pemahaman karyawan mengenai tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan.

Menurut model Pines, iklim kerja sebuah organisasi dapat diukur melalui empat dimensi sebagai berikut :

  1. Dimensi Psikologikal, yaitu meliputi variabel seperti beban kerja, kurang otonomi, kurang pemenuhan sendiri (self-fulfilment clershif), dan kurang inovasi.
  2. Dimensi Struktural, yaitu meliputi variabel seperti fisik, bunyi dan tingkat keserasian antara keperluan kerja dan struktur fisik.
  3. Dimensi Sosial, yaitu meliputi aspek interaksi dengan klien (dari segi kuantitas dan ciri-ciri permasalahannya), rekan sejawat (tingkat dukungan dan kerja sama), dan penyelia-penyelia (dukungan dan imbalan).
  4. Dimensi Birokratik, yaitu meliputi Undang-undang dan peraturan-peraturan konflik peranan dan kekaburan peranan.

IKLIM ORGANISASI

Setiap lingkungan keluarga, institusi pendidikan, perusahaan dan departemen-departemen kerja mempunyai iklim sendiri-sendiri. Menurut Hepner (1973) pembentuk iklim organisasi adalah manusia, dan bukan bangunan, perabot, peralatan, maupun hasil produksi. James dan Jenoe dalam Karyanto (1995) mengemukakan tiga pandangan tentang iklim organisasi, yaitu :

1. Iklim organisasi sebagai sekumpulan ciri organisasi yang dapat diterangkan dengan obyektivitas yang masuk akal. Ciri-ciri ini membedakan organisasi tersebut dengan organisasi lainnya yang secara relatif bertahan dan mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi tersebut.

2. Iklim sebagai konsep yang merefleksikan isi dan kelebihan dari nilai-nilai, norma, perilaku dan perasaan para anggota dan sebuah sistem sosial yang secara operasional dapat diukur melalui persepsi dari anggota-anggota sistem.

3. Iklim organisasi itu mempunyai sesuatu yang signifikan hanya pada setiap individu. Karena individu tersebut itulah yang terlibat atau tidak terlibat dalam keputusan-keputusan, mengalami atau tidak komunikasi yang efektif dan hangat, mempunyai atau tidak otonomi, dan sebagainya.

Tahiuni dalam Delp (1977) menyimpulkan bahwa iklim organisasi adalah kualiatas relatif dari lingkungan internal suatu organisasi, yang dialami dan mempengaruhi perilaku anggotanya, dan dapat digambarkan dalam suatu perangkat karakteristik. Apabila dikaitkan dengan budaya, menurut Jenks (1990) budaya lebih cenderung pada nilai, norma, dan tradisi organisasi. Dengan kata lain, budaya adalah filosofi suatu organisasi, sedangkan iklim organisasi adalah atmosfir dari sebuah organisasi.

Selaras dengan pengembangan iklim organisasi, iklim sekolah yang positif merupakan suatu kondisi dimana keadaan sekolah dan lingkungannya dalam keadaan aman, damai, dan menyenangkan untuk kegiatan belajar mengajar. Sergiovanni dalam Moedjiarto (2002) berpendapat bahwa iklim secara umum diciptakan, dibentuk dan disalurkan sebagai hasil dari suatu kepemimpinan interpersonal yang efektif oleh pimpinan sekolah. Pada hakekatnya iklim bersifat interpersonal dan dimanifestasikan dalam sikap dan perilaku guru, siswa dan pimpinan sekolah dalam kegiatan kerjanya. Selain itu, iklim merupakan energi yang terdapat di dalam organisasi yang dapat memberikan pengaruhnya terhadap sekolah, tergantung bagaimana energi tersebut di salurkan dan diarahkan oleh pimpinan sekolah. Semakin baik energi yang disalurkan dan diarahkan maka semakin baik pula pengaruhnya terhadap sekolah.

Sehubungan dengan iklim sekolah yang positif ini, Frederick (1987) mengutarakan, bahwa sekolah merupakan tempat yang tenang dan terjamin untuk bekerja dan belajar. Fasilitas fisik selalu dijaga kebersihannya, kerusakan-kerusakan kecil secepatnya mendapatkan perbaikan. Di sekolah terdapat bukti yang nyata adanya moral dan semangat belajar yang tinggi, didepan guru dan siswa menunjukan rasa bangga-nya terhadap sekolah, suasana kelas dan sekolah sangat kondusif untuk belajar.

Moedjiarto (2002) mengemukakan bahwa iklim sekolah yang positif, menunjukan adanya rasa kekeluargaan yang kuat antara civitas sekolah yaitu pimpinan sekolah, guru, karyawan, siswa dan orang tua. Rasa kebersamaan itu demikian kuatnya sehingga satu sama lain merasa wajib saling memberikan bantuan. Snyder dalam Moedjiarto (2002) mengemukakan bahwa hubungan kerja diantara dan didalam kelompok guru, siswa dan orang tua memberikan kejelasan tentang iklim kerja yang terdapat di sekolah. Personel di sekolah yang efektif, bekerja sama dalam banyak cara, baik yang formal maupun yang tidak.

Menurut Siver dalam Komariah dan Triatna (2005) iklim sosial suatu sekolah dibentuk oleh hubungan timbal balik antara perilaku pimpinan Sekolah dan perilaku guru sebagai suatu kelompok. Perilaku pimpinan sekolah dapat mempengaruhi interaksi interpersonal para guru. Dengan demikian dinamika kepemimpinan yang dilakukan pimpinan sekolah dengan kelompok (guru dan staf) dipandang sebagai kunci untuk memahami variasi iklim sekolah. Interaksi antara perilaku guru dan perilaku pimpinan sekolah akan menentukan iklim sekolah yang bagaimana yang akan terwujud, iklim sekolah yang baik dan kondusif bagi kegiatan pendidikan akan menghasilkan interaksi edukatif yang efektif sehingga upaya pencapaian tujuan pendidikan sekolah akan berjalan dengan baik.

Interaksi di dalam kelas, baik yang lisan maupun yang tertulis mutlak diperlukan dan akan memberikan dampak proses dan hasil belajar yang positif. Interaksi semacam ini harus selalu ditingkatkan, karena dapat memotivasi siswa agar mempunyai keberanian dan kegairahan untuk berinteraksi dengan guru. Kolb, et.al dalam Komariah dan Triatna (2005) mencatat 11 dimensi iklim organisasi yang dapat diadaptasikan bagi iklim sekolah, yaitu :

1. Struktur tugas, perincian metode yang dipakai untuk melaksanakan tugas organisasi

2. Hubungan imbalan hukum, tingkat batas pemberian imbalan tambahan seperti promosi dan kenaikan gaji berdasarkan prestasi dan jasa, bukan pada pertimbangan lain seperti senioritas dan favoritisme.

3. Sentralisasi keputusan, batasan-batasan keputusan penting yang dipusatkan pada manajemen level atas

4. Tekanan pada prestasi, keinginan pihak pekerja organisasi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik dan memberikan sumbangan bagi sasaran kerja organisasi.

5. Tekanan pada latihan dan pengembangan, tingkat ketika organisasi berusaha meningkatkan prestasi individu melalui kesiapan latihan dan pengembangan yang cepat

6. Lingkungan sekolah yang memberikan keamanan, kenyamanan, kebersihan dan kelengkapan sarana prasarana.

7. Keterbukaan versus ketertutupan, tingkat ketika orang-orang lebih suka menutupi kesalahan mereka dan menampilkan diri secara baik dan bekerja sama.

8. Rasa kekeluargaan yang kuat antara civitas sekolah yaitu kepala sekolah, guru, karyawan, siswa dan orang tua.

9. Pengakuan dan umpan balik, tingkat seorang individu mengetahui apa pendapat atasan dan manajemen terhadap pekerjaannya serta tingkat dukungan mereka atas dirinya

10. Status dan semangat, perasaan umum diantara individu bahwa organisasi merupakan tempat kerja yang baik.

11. Kompetensi dan keluwesan organisasi secara umum, tingkat organisasi mengetahui apa tujuannya dan mengejarnya secara luwes dan kreatif. Termasuk juga batas organisasi mengantisipasi masalah, mengembangkan metode baru dan mengembangkan keterampilan baru pada pekerja.

Senin, 08 November 2010

Pemahaman Terhadap Demo dan Tautannnya

Unjuk rasa atau demonstrasi (demo) adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok penentang kebijakan atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik dari kepentingan suatu kelompok.

Aksi unjuk rasa, umumnya terjadi di negara-negara demokrasi, meski ada beberapa yang terjadi juga di negara-negara totaliter. Dekade delapanpuluhan akhir, aksi-aksi unjuk rasa yang dipelopori masyarakat sipil (civil society) marak terjadi, khususnya di Eropa Timur, melawan keangkuhan kekuasaan rezim totaliter di kawasan tersebut. Perubahan kemudian banyak terjadi dari semula berstatus totaliter menjadi negara demokrasi.

Nilai fundamental masyarakat sipil memperjuangkan nilai demokrasi adalah untuk "berkata benar" (telling the truth) sebagai lawan dari "berkata bohong" (telling the lie). Demokrasi adalah nilai kebenaran karena ia adalah antitesis sistem otoriter dan totaliter yang dibangun atas dasar kebohongan. Pergerakan-pergerakan demo di dunia adalah untuk menegakan demokratisasi dan sistem demokrasi yang kebenaran menjadi asasnya.

Disaat penguasa negara melakukan kebohongan publik (seindah apapun bentuknya), disitulah pekerja politik bekerja membangun demokrasi. Proses itu tidak akan pernah berhenti walaupun demokratisasi tumbuh subur, karena tabiat senang berbohong merupakan habitat manusia berpolitik. Penguasa selalu diuji sikapnya oleh masyarakat sipil. Disaat penguasa mulai "telling the lie", pekerja politik turun ke jalan untuk mengembalikan "telling the truth"

Demo adalah hak asasi & ekspresi politik masyarakat yang dijamin konstitusi yang ditujukan untuk menyampaikan protes dan ketidak sepakatan terhadap Pemerintah. Aksi ini merupakan salah satu saluran dari proses komunikasi dalam cara menyampaikan pesan ketidakpuasan terhadap suatu kebijakan publik, kepemimpinan politik atau janji politik

Dari sisi politik, unjuk rasa menjadi salah satu partisipasi politik alternatif, manakala saluran konstitusional dianggap kurang efektif atau tak berguna. Hasil unjuk rasa akan menunjukkan apakah tuntutan dan ketidak sepakatan masih tetap, berubah, atau malah hancur sama sekali. Demo lebih sering dipahami sebagai sesuatu yang negatif oleh para penguasa dan pilihan utama bagi para penentangnya. Bagi penguasa, unjuk rasa bukanlah kebiasaan baik karena dapat mengurangi kewibawaan pemerintah di mata rakyat malah sampai pada menurunkan presiden di tengah jalan.

Pelaku unjuk rasa merasa itulah jalan terbaik menekan penguasa mendengar dan memenuhi sebagian atau seluruh kehendak mereka. Penguasa selalu membungkam suara pengunjuk rasa ibarat "hak kritik mereka dicabut". Tuduhan terhadap pengunjuk rasa sebagai "pengkritik yang berasal dari orang yang kalah dalam Pemilu". Inilah yang dituding sebagai upaya mengkerdilkan demokrasi dimana seolah-olah kontestan pemenang Pemilu bisa bertindak apa saja. Dengan dua persepsi yang sulit dikompromikan, maka unjuk rasa sering diihat secara hitam (oleh penguasa) dan putih (oleh para pelakunya).

Penguasa akan selalu mencoba melemahkan, mendiskreditkan, dan membendung bahkan meniadakan kiprah aksi unjuk rasa karena demo mengisyaratkan ada yang tidak beres dan dialah yang sedang dituding. Garis antara "criticism and insulting" tipis perbedaannya dan saling dituduh ke masing-masing pihak sampai-sampai masuk ke ranah hukum.

Tulisan ini mencoba untuk memberi pemahaman terhadap aksi demo di Indonesia dan tautannya berdasarkan data kumpulan yang terbatas.

I. KOMPONEN ELEMEN DEMO:
1. Masyarakat Sipil (Civil Society):
Umumnya aksi demo diorganisir oleh kelompok kelas menengah dan kelompok pekerja bawah (yang tidak puas dengan perlakuan majikannya). Kumpulan ini dikenal sebagai masyarakat sipil (civil society) dimana untuk kelas menengah didukung kelompok mahasiswa sebagai ujung tombak. Sedangkan kelompok pekerja bawah terwakili oleh para buruh. Tanpa kedua kelompok ini, potensi unjuk rasa mustahil dilakukan.

Civil society mempunyai kemampuan mengartikulasikan kegelisahan sosial ke tingkat grass root (akar rumput) dan bisa menciptakan opini publik yang pada akhirnya diikuti oleh masyarakat kecil. Gerakan mereka semakin populer disaat kumpulan wanita, ibu-ibu (atau orang tua) para demonstran ikut terlibat sebagai pendukung logistik; malah sampai pula sebagai barisan pagar terdepan dari aksi unjuk rasa.

Sejak jatuhnya rezim kekuasaan Soeharto pada tahun 1998, aksi-aksi unjuk rasa menjadi hal yang umum. Unjuk rasa menjadi simbol kebebasan ber-ekspresi warga di negara ini yang terjadi hampir setiap hari di berbagai bagian wilayah di Indonesia, khususnya di Ibukota Jakarta.

Semenjak tahun 1965 sampai 2010, sebagian besar gerakan unjuk rasa di Indonesia adalah kumpulan mahasiswa. Mereka berbaris di jalan-jalan menuju istana (kantor pemerintah) sampai ke gedung perwakilan rakyat untuk menyatakan ketidakpuasan terhadap penguasa dan wakil rakyat. Buruh, rakyat kecil dan pelajar merupakan kumpulan lain, termasuk para orang tua yang menyediakan dukungan logistik bagi peserta demonstran.

2. Dukungan:
Setidaknya ada tiga elemen penting yang dibutuhkan agar sebuah unjuk rasa dapat dijadikan alat untuk menekan rezim penguasa, yakni dukungan jaringan, dukungan uang dan dukungan militer. Namun tanpa dukungan dua elemen terakhir, uang dan militer, aksi demo sama sekali tidak akan maksimal melakukan tekanan.

Demo-demo di Indonesia (1965 & 1998), Hong Kong (2003), Thailand (2006) dan Philippine (1986) adalah contoh dari tiga elemen itu saling bersatu padu dalam aksi gerakan unjuk rasa sehingga mampu menggulingkan rezim penguasa.

Unjuk rasa yang dilakukan 3 bulan terakhir, yakni tanggal 9 Desember 2009 (Hari Anti Korupsi Sedunia) dan 28 Januari 2010 (100 hari pertama KIB II), merupakan contoh hanya didukung oleh jaringan saja. Dua elemen lainnya, yakni uang dan dukungan militer, sama sekali tidak ada.

3. Thema:
Situasi psikologi rakyat adalah pendukung utama terjadinya dorongan unjuk rasa. Thema demo penting sebagai faktor pendorong ereksi politik rakyat. Seperti diketahui, masyarakat Indonesia adalah soft culture; tidak akan marah karena penderitaan hidup. Hanya harga diri dan ketidakadilan yang bisa menggerakan mereka. Isyu mengenai kelaparan atau kemiskinan belum tentu ampuh menyentuh hati nurani rakyat.

Demo 1998, merupakan gerakan massive akibat suasana psikologi ketidakadilan rakyat yang terkungkung sekian puluh tahun tidak tersalurkan. Themanya konkrit, ialah untuk "bongkar rezim penguasa" dengan menyatakan ketidakpuasan terhadap pemerintah. Rakyat bisa dimobilisasi untuk menghadiri aksi dan menyatu diri dengan pemikiran para demonstran.

Perubahan polituk di tahun 1998, adalah sebuah kejutan bagi semua orang, pemerintah dan warga sendiri. Pemikiran para penguasa, pejabat dan beberapa kalangan menengah keatas (orang-orang yang kehidupan ekonomi berkecukupan), aksi perubahan mustahil dilakukan. Mereka adalah pihak yang apatis terhadap politik; mereka berpikir dan bertindak berdasarkan perhitungan kepentingan material dibanding prinsip abstrak; mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, dan mereka memecahkan masalah mereka secara individual ketimbang tindakan kolektif.

Demo 1998, menggunakan slogan "bongkar rezim penguasa & kembalikan kekuasaan kepada rakyat" merupakan senjata ampuh memobilisasi rakyat. Aksi ini dikenal dengan "reformasi" yang sangat konkret dengan thema dan tujuan yang jelas. "Kembalikan kekuasaan kepada rakyat" memang relatif abstrak, namun, mengingat situasi politik saat itu, thema itu dapat dipahami sebagai warna ketidakadilan melawan keangkuhan kekuasaan rezim totaliter Soeharto.

Thema seperti di tahun 1998, tidak bisa lagi dipakai, karena saat ini psikologi rakyat sudah berubah. Rakyat sekarang ingin adanya "maintenance or assembling" dari perbuatan bongkar yang dilakukan tahun 1998.

Sedangkan thema unjuk rasa 9 Desember 2009 dan 28 Januari 2010, abstrak dan tidak konkrit dibandingkan thema Cicak versus Buaya yang menyentuh hati rakyat dan harga diri melihat ketidakadilan yang terjadi. Saat sekarang, aksi sosial lebih meningkat diterima rakyat dibandingkan aksi demo, seperti thema "Koin Peduli Prita" dan "Koin Cinta Bilqis".

Penyebab utama adalah "kelelahan demokrasi" dimana rakyat tidak melihat aksi-aksi demo kemana akhirnya akan berujung. Rakyat "ambivalen & questioning" terhadap sistem demokrasi yang berjalan. Reformasi & demokrasi menghasilkan banyak kebohongan terhadap publik, suburnya korupsi, ketidakjelasan hukum, kepincangan ekonomi, kemiskinan dan lain sebagainya. Potensi kelelahan ini harus diwaspadai karena sinisme terhadap demokrasi bisa membuka ruang masuk sistem otoriter dan totaliter.

4. Mobilisasi:
Unjuk rasa adalah upaya memobilisasi rakyat dari status individual menjadi kelompok massa. Bagaimana masyarakat bisa dimobilisasi untuk menghadiri unjuk rasa? Mobilisasi yang efektif hanya mungkin jika tujuan tindakan kolektifnya jelas dan dianggap oleh rakyat penting serta relevan dengan kepentingan mereka. Masyarakat tidak dapat dengan mudah dimobilisasi kecuali psikologi nurani mereka sudah mobilizable terlebih dahulu.

"Citizen self-mobilization" merupakan model yang paling effektif dalam memobilisasi individual menjadi kerumunan massa. Keuntungan "citizen self-mobilization" adalah biaya yang rendah dalam proses memobilisasi, karena aksinya tidak tersentralisir dan sulit ditekan penguasa. Harkat diri rakyat di dongkrak naik akibat hambatan budaya partisipasi yang dikembangkan penguasa, apalagi peningkatan itu didorong oleh sistem media yang bebas, sehingga rakyat dapat memainkan peran penting dalam kehidupan sosial politik.

Gerakan yang dihasilkan "citizen self-mobilization" memiliki warna romantis mereka sendiri. Sebagian peserta merasa, gerakan yang lahir, merupakan cita-cita mulia yang dipegang para pelaku dalam kehidupan sosial politik di masa mendatang.

Namun "citizen self-mobilization" tetap mempunyai sisi lemah. Seperti demo 1998, telah mengejutkan banyak orang, bukan hanya karena jumlah peserta semata, tetapi juga karena karakter yang keras dan rasional dari demonstrasi itu sendiri. Warga yang memobilisasi diri juga memiliki kelemahan tertentu karena tidak ada tokoh pemimpin massa, ketidakmampuan mengorganisir kelompok, terlebih tindakan peserta yang reaksional dengan situasi yang berkembang tidak dapat dengan mudah dikoordinasikan.

Pekerja demokrasi Indonesia perlu mengubah paradigma dalam berpikir dan mulai mendorong "opini publik" dengan cara "citizen self-mobilization". Pemerintah sekarang terlalu mudah memutar dan memanipulasi opini publik, kadang-kadang mengambil serius, kadang-kadang mengambil itu sebagai tidak ada. Sekarang rakyat telah berbicara, suara mereka terdengar merata. Enggan meskipun mungkin, pemerintah harus berhadapan muka dengan opini publik.

Mobilisasi bukanlah sesuatu yang dapat dibangun dalam satu minggu atau bulan. Prosesnya evolusi dan diperlukan tahunan untuk membentuk suatu opini menyentuh hati rakyat. Disini pentingnya sosialisasi dari thema demo itu. Rezim Orba telah membuat banyak kesalahan dalam periode kekuasaan dan warga tidak mungkin dimobilisasi ke jalan untuk mengekspresikan pendapat tanpa sebelumnya ada evaluasi terhadap kegagalan pemerintah.

Secara tradisional, kelompok asosiasi & organisasi sosial (LSM, Ormas dll) memainkan peran penting dalam memobilisasi kekuatan rakyat. Saat digunakan melawan rezim, mobilisasi kekuasaan rakyat merupakan ancaman besar. Pekerja demokrasi paham betul hal ini, seperti terlihat bagaimana mereka memobilisasi pendukungnya melalui berbagai asosiasi & organisasi membangun opini publik. Berbeda dengan partai politik yang berjuang hanya demi kepentingan partai untuk berkuasa.

Sebenarnya dalam unjuk rasa 4 bulan terakhir, para demonstran tahu dengan sangat jelas apa yang mereka lakukan. Sebagian rakyat (termasuk kelas menengah) sebenarnya setuju dengan pandangan bahwa kinerja pemerintah SBY mengecewakan dan bahkan "tidak dapat ditoleransi." Rakyat menyadari ketidakmampuan SBY telah mempengaruhi kepentingan-kepentingan materi mereka dan berpotensi terhadap hidup dan mati. Untuk itu, dukungan jaringan dan asosiasi sosial diperkuat untuk memerangi penyakit politik rezim SBY, dengan media memainkan peran penting dalam mendongkrak proses evaluasi ini.

Namun sosialisasi mobilisasinya belum merata dan ini merupakan alasan tidak meluasnya warga pergi ke jalan menyikapi inkompetensi pemerintah. Saya berkeyakinan, penguasa tidak mengabaikan fakta ini. Atribut demonstrasi hanya sebuah "faktor eksternal." Jika penguasa tetap taat dalam cara berfikir mereka, maka hanya akan membuat dirinya terasing dari masyarakat, dan ini space untuk mobilisasi.

5. Ikon Penggerak:
Penyelenggara unjuk rasa 4 bulan terakhir berbeda dengan tahun 1998, dimana kolektifitas mereka sangat terbatas dalam memobilisasi rakyat. Meski berkembang dengan baik, namun struktur organisasinya belum solid. Untuk warga turut terlibat dalam unjuk rasa, peran penyelenggara harus jelas. Siapa organisasi penyelenggara demo? Siapakah tokoh utama di balik demonstrasi?

Sebelum demonstrasi, warga mungkin hanya punya beberapa ide yang tidak jelas mengenai pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Belakangan ini demo tidak dipimpin oleh organisasi terpusat tetapi hanya oleh para peserta individu asosiasi & organisasi sipil itu sendiri

Di samping terbatasnya peran penyelenggara, unjuk rasa yang terjadi tidak bergantung pada atau menghasilkan ikon heroes. Demo Malari tahun 1974, meski dipimpin oleh kelompok-kelompok mahasiswa, didalam prosesnya, individu pemimpin mahasiswa itu menunjuk Hariman Siregar sebagai ikon pusat dari keseluruhan gerakan.

Sampai sekarang, bisa dikatakan, aksi-aksi demo tidak dapat menghasilkan pahlawan sebagai tokoh sentral gerakan. Apakah ada organisasi yang kuat dari atas ke bawah dapat memunculkan pahlawan itu? Ini tergantung semua dari interaksi antara media komersial dan para penyelenggara demo. Jika mobilisasi rakyat terus menerus digalang kedalam gerakan demokrasi, saya percaya suatu hari akan muncul tokoh pahlawan itu.

6. Media & Pers:
Harus disadari, aksi unjuk rasa sebagai akibat dari dinamika komunikasi yang melibatkan saluran media/pers dan dunia maya (internet). Kota-kota besar di Indonesia, khususnya Ibu kota Jakarta, adalah masyarakat yang pluralistik dengan penduduk yang padat dilayani oleh sebagian besar sistem media/pers dan dunia maya yang bebas. Para pengunjuk rasa di kota-kota besar Indonesia umumnya memiliki tingkat pendidikan menengah keatas yang menggunakan media/pers & dunia maya sebagai sumber informasi.

Media cetak (surat kabar) merupakan informasi awal di pagi hari bagi warga demonstran, sementara media elektronik & dunia maya melengkapi pesan-pesan sejauh mana mereka dipengaruhi oleh panggilan untuk hadir dalam aksi unjuk rasa. Informasi dan pesan yang berasal dari media/pers & dunia maya memiliki pengaruh yang penting pada diri peserta demo. Para demonstran menganggap informasi dan pesan-pesan dari editorial surat kabar, artikel kolom surat kabar, berita koran, radio talk show, berita radio, dunia maya (internet), berita TV dan TV program urusan publik mempunyai pengaruh terhadap keputusan berpartisipasi dalam unjuk rasa.

Jika dibandingkan satu sama lain; koran (cetakan & interactive di internet) maupun radio tampaknya lebih berpengaruh dibandingkan TV. Pekerja demokrasi dan peserta demo, lebih dipengaruhi berita surat kabar & radio, karena pesan-pesan yang disampaikan lebih persuasif dalam memobilisasi informasi. Berita televisi, meski cenderung menyimpan lebih kuat terhadap norma objektivitas, mungkin memiliki sedikit pesan persuasif dalam memobilisasi informasi.

Perlu dicatat bahwa media dapat menggerakkan orang untuk bertindak, tanpa penyelenggara berita itu sendiri mengadopsi posisi tertentu pada masalah yang dihadapi. Bahkan ketika penyelenggara berita tetap objektif, berita masih membawa sejumlah besar pesan persuasif dan memobilisasi informasi yang datang dari sumber berita yang berbeda.

Di masa Orba, sebagai suatu rezim otoriter, negara memperoleh monopoli dalam mendefinisikan realitas sosial. Di era reformasi sekarang, di mana media sudah independen dan masyarakat sipil terbentuk ramai, serta berbagai sistem pakar profesional berkembang dengan baik, maka media sering kali menjadi ruang untuk kontestasi-kontestasi diskursif dalam perjuangan untuk mendefinisikan realitas.

Unjuk rasa tahun 1998 merupakan peristiwa "kemenangan opini publik". Semua kelompok masyarakat dan media/pers tiba-tiba ada disisi opini publik. Ini adalah pertama kalinya bagi Indonesia menunjukkan kepada dunia adanya kekuatan rakyat setelah 35 tahun Orba berkuasa. Sebelum itu, beberapa media komersial (cetak dan elektronik) mendukung pemerintah. Namun, setelah menyaksikan ekspresi opini publik yang berkembang, mereka secara radikal mengubah sikap. Media/Pers merupakan mesin pendukung demokrasi, terutama ketika pemerintah terus menderita krisis legitimasi. Media/Pers adalah corong dalam menggerakkan partisipasi publik memperjuangkan demokrasi.

7. Interaksi Interpersonal:
Komunikasi interpersonal merupakan komponen utama komunikasi antar pendemo (Handphone, SMS, BlackBerry, Twitter, Facebook, dll). Panggilan untuk bertindak / berkumpul datang dari teman-teman dan kolega yang menggunakan fasilitas koneksi ini. Interaksi ini ampuh dalam membentuk "citizen self-mobilization"

Demonstrasi bukanlah kerumunan orang per orang yang berjalan sendirian. Sedikit sekali peserta demo berpartisipasi dalam reli karena keinginan diri sendiri. Sebagian besar peserta demo berpartisipasi karena dorongan komunikasi interpersonal dari teman-teman atau organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi (sekolah), selebihnya karena pengaruh keluarga serta ajakan pasangan pacar mereka.

Tingkat mobilisasi unjuk rasa tahun 1998 sangat tinggi meski pemerintah mengontrol penuh media dan pers. Beberapa tahun sebelum meletus aksi demo tahun 1998, semua spasi dan saluran komunikasi media, merujuk untuk kepentingan rezim penguasa. Namun pekerja politik menggunakan ruang dan saluran alternatif untuk mengadakan perubahan, yakni jaringan komunikasi interpersonal, media kecil seperti pamflet, radio swasta dan teknologi media internet (seperti grup diskusi Apa Kabar). Saat itu, pemerintah sulit memahami opini publik yang berkembang dan para penguasa menemukan diri mereka terisolasi dari masyarakat dalam mencegah konflik yang ada.

Sekali lagi, jika ada yang menyatakan asosiasi & organisasi secara formal memiliki kekuatan mobilisasi yang lemah bisa dibenarkan, karena akumulasi mobilisasi timbul dari adanya solidaritas jaringan sosial dan interaksi interpersonal. Demonstrasi bukan hasil dari mobilisasi asosiasional tetapi hasil dari warga memobilisasikan diri (citizen self-mobilization ) akibat adanya interaksi interpersonal.

Tanpa interaksi interpersonal, mustahil memobilisasi rakyat dapat bertindak. Pesan persuasif dan informasi mempengaruhi memobilisasi terutama karena mereka be-resonansi dengan sesuatu yang sudah ada dalam pikiran orang. Dalam pikiran rakyat ("man on the street"), pemerintah telah melakukan tindakan begitu buruk sehingga saatnya sesuatu harus dilakukan agar menjadi harapan bersama. Melalui komunikasi interaksi interpersonal dengan sesama teman dan kolega, warga menemukan sebuah konsensus politik.

Umumnya individu yang terlibat dalam suatu aksi tidak mengetahui siapa awalnya yang mengangkat ide pemikiran untuk bergabung; apakah karena dirinya atau pengaruh teman mereka. Ada semacam konsensus, di para penyelenggara aksi unjuk rasa, untuk mengarahkan rasio kesadaran individu tidak membiarkan orang lain mengetahui banyak untuk apa mereka bergabung dalam suatu aksi unjuk rasa.

Ini adalah modus komunikasi massa, dimana mobilisasi perilaku dengan cara "citizen self-mobilization", dapat menjadi kumpulan yang dimobilisasi atau memobilisasikan dirinya sendiri. Pertama, penyelenggara, menekankan komunikasi top-down dengan model pengaruh, yang masuk melalui berbagai lapisan dari sebuah organisasi untuk memobilisasi para anggota dan simpatisan mereka. Kedua, penyelenggara menekankan komunikasi horisontal, yang jarang berasal dari inti organisasi untuk memotivasi diri pelaku.

II. DEMO SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN POLITIK DALAM MASYARAKAT SIPIL:
Kita setuju bahwa gerakan demokrasi di Indonesia saat ini tidak memiliki kepemimpinan yang kompeten. Masyarakat siap dimobilisasi demi demokrasi, tapi bagaimana opini publik dapat secara efektif terorganisir, yang diwakili, dan dikomunikasikan? Bagaimana kita bisa mengkombinasikan keuntungan warga asosiasional mobilisasi dan mobilisasi diri di masa depan? Bagaimana kita bisa memelihara dan memperluas cakupan partisipasi publik? Ini masalah utama yang dihadapi pekerja politik memelihara demokrasi yang saat ini terasa kurang baik. Mengatasi kendala itu diperlukan hadirnya tokoh yang kredibel dan kompeten dalam memimpin perpolitikan masyarakat sipil.

Seperti kata para ahli, sistem politik tidak akan berubah dalam semalam. Sebagian kemenangan sosial, yang dicapai dalam bentuk unjuk rasa, diproses secara evolusi. Umumnya peserta demo, tidak pernah berpartisipasi dalam unjuk rasa serupa sebelumnya. Dengan kata lain, demonstrasi telah memberikan banyak orang pengalaman pertama berunjuk rasa dan itu adalah sangat positif. Masyarakat mengakumulasi pengalaman mereka dalam partisipasi politik yang diharapkan dapat meningkatkan kecenderungan rakyat untuk melaksanakan kekuasaan di masa depan.

Kelompok kelas menengah memainkan peran manajerial penting dalam masyarakat Indonesia, tetapi mereka tidak memiliki juru bicara politik dan organisasi-organisasi politik. Reformasi tahun 1998, dapat dianggap sebagai titik awal kembalinya kelas menengah untuk berperan lebih aktif dalam proses politik. Bisa dikatakan, struktur demografi peserta demonstran, disadari kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga kelas menengah yang sebagian besar memiliki pendidikan perguruan tinggi atau di atasnya. Selebihnya adalah profesional atau memegang posisi manajerial di tempat kerja.

Bagaimana kekuatan-kekuatan politik yang ada dapat menggabungkan kekuatan meningkatnya kelas menengah ini, dan untuk tujuan apa? Apakah akan tampil tokoh pemimpin muda dimasa mendatang? Apakah panggilan untuk demokratisasi menjadi lebih keras dan lebih keras di masa depan?

Jawabannya jelas ada, karena sekelompok besar aktifis pro demokrasi dan sebagian besar yang terlibat dalam aksi unjuk rasa adalah kaum muda. Setelah demonstrasi, sikap politik kaum muda menjadi semakin mengkristal. Kemungkinan bahwa mereka akan terjun ke tingkat yang lebih tinggi, penting bagi isyu demokrasi, apalagi setelah kaum muda mengevaluasi profil kegagalan politisi yang berkuasa sekarang. Partai berkuasa tidak akan kehilangan pendukung inti mereka, tetapi pasti akan merasa jauh lebih sulit memenangkan suara. Kekuatan faksi yang berbeda dalam legislatif akan berubah.

Aksi-aksi unjuk rasa di 10 tahun terakhir adalah tindakan "kolektif lokal "yang memberikan kontribusi dan konfirmasi ulang terhadap kehidupan politik bagi rakyat yang tidak menikmati rasa bangga dan terkungkung selama bertahun-tahun. Unjuk rasa memberi rakyat memperbaharui kepercayaan diri dan harapan akan berdemokrasi. Identifikasi dan kepentingan lokal merupakan faktor kunci dalam perkembangan sosial di masa mendatang yang akan mempengaruhi bagaimana media komersial menempatkan diri mereka.


Liquid Entertainment



Type Private
Industry Video game industry
Founded February 1999
Founder(s) Ed Del Castillo, Mike Grayford
Headquarters Pasadena, California, United States
Key people Ed Del Castillo, Holly Newman
Products Battle Realms, LotR: War of the Ring, D&D: Dragonshard, Desperate Housewives: The Game, Rise of the Argonauts
Website http://www.liquidentertainment.net

Liquid Entertainment is a video game developer based in Pasadena, California. Liquid was co-founded in 1999 by Ed Del Castillo and Michael Grayford.[1]


Overview

Ed Del Castillo and Michael Grayford worked on a number of high profile computer games prior to founding Liquid Entertainment. Aside from his work with Liquid, Del Castillo is best known as the producer for the Command & Conquer series. Michael Grayford's game credits include programming for Legend of Kyrandia: Hand of Fate, Legend of Kyrandia: Malcom's Revenge, Monopoly: CD-ROM, Lands of Lore II, and Blade Runner.

Battle Realms, released by Crave and Ubisoft in November, 2001, is a real-time strategy PC game for Windows that features an unconventional approach to resource management and unit development. It was well received by reviewers, many of whom praised its at-the-time state of the art 3D engine and East Asian-inspired setting and aesthetics.

A stand-alone expansion pack, Battle Realms: Winter of the Wolf, followed in April, 2002. Winter of the Wolf was received with less enthusiasm than Battle Realms by the gaming community;[3] some reviewers compared it unfavorably to 2002's blockbuster real-time strategy titles such as Warcraft III and Age of Mythology.

Since the release of Winter of the Wolf, Liquid has developed two real-time strategy PC games based on intellectual property licenses. In November, 2003, Sierra released The Lord of the Rings: War of the Ring, based on Vivendi Universal's license to Tolkien's literary works. Atari released the licensed Dungeons & Dragons PC game Dragonshard in October, 2005.

In October, 2006, Buena Vista Games released Desperate Housewives: The Game, Liquid's lifestyle simulation computer game adaptation of the popular television series Desperate Housewives.

Codemasters released Rise of the Argonauts, a Greek mythology-themed action role-playing game for Windows, PlayStation 3 and Xbox 360, in December 2008.[5]

Games developed



KOMUNIKASI INTERPERSONAL


Pengertian komunikasi Interpersonal

Kita dapat memahami makna atau pengertian dari komunikasi interpersonal dengan mudah jika sebelumnya kita sudah memahami makna atau pengertian dari komunikasi intrapersonal. Seperti menganonimkan saja, komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka.

Komunikasi Interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik, komunikasi publik, dan komunikasi kelompok kecil.

Komunikasi Interpersonal juga berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini.

Sistem Komunikasi Interpersonal

Menurut Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. lewat bukunya yang berjudul Psikologi Komunikasi, beliau menjelaskan tentang sistem dalam komunikasi interpersonal seperti:

* Persepsi Interpersonal
* Konsep Diri
* Atraksi Interpersonal
* Hubungan Interpersonal.

Dalam tulisan ini, Tim Penulis hanya menjelaskan point hubungan interpersonalnya saja. Karena Tim Penulis beranggapan, pembahasannya terlalu rumit dan dianggap dalam point hubungan interpersonal pembahasannya jelas sehingga mudah dimengerti.

Hubungan Interpersonal

Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. Anita Taylor mengatakan Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting.

Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:

1. Percaya (trust)

Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:

a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.

b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.

c. Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.

2. Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu:

a. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.

b. Orientasi maslah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cra mencapai tujuan.

c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.

d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona.

e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan.

f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.

3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll.

Komunikasi ini dapat dihalangi oleh gangguan komunikasi dan oleh kesombongan, sifat malu dll.


Sumber-sumber:

* http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_interpersonal
* Buku Psikologi Komunikasi, karangan Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. Penerbit Rosda

Arus Balik Komunikasi Politik
POLITIK itu politik. Politik bukan teori, tetapi praktik. Karena itu seluhur apa pun teori politik, di lapangan pelaksanaannya sering menjadi lain. Praktik politik acapkali berbeda jauh, bahkan bertentangan, dengan teori politik. Di lapangan, politik mengajarkan dan membentuk sikap serta perilaku berorientasi kekuasaan. Ini bisa dimengerti, karena pragmatisme politik, umunnya berada dalam bingkai kekuasaan. Baik untuk mempertahankan kekuasaan, atau guna merebut kekuasaan.
Demikian pula dengan komunikasi politik. Berbagai temuan, sebagaimana diuraikan Dan Nimmo, George N Gordon, James Carey, Marshall McLuhan, Jalaluddin Rakhmat, dan pakar komunikasi politik lain dalam berbagai karya ilmiah mereka, terlalu lancang atau tergesa-gesa untuk meyakini bahwa komunikasi politik adalah bentuk praktis dari komunikasi strategis, persuasif dan efektif, guna memengaruhi pemilih (konstituen), terutama dalam konteks pemilu.

Strategis, persuasif, dan efektif atau tidak komunikasi politik, bergantung bukan hanya pada ”siapa, mengatakan apa, kepada siapa dan lewat media mana”, tetapi juga sangat ditentukan oleh sejauhmana saluran komunikasi politik itu dapat memosisikan diri sebagai media interpersonal, di samping berposisi selaku media publik.

Komunikasi politik pernah diungkapkan oleh Johnstone dan kawan-kawan dalam The Newspeople. Johnstone mengatakan, strategi komunikasi yang digunakan untuk mencegah informasi atau mencegah dirinya (sumber informasi) diketahui oleh orang lain, adalah kekhasan komunikasi politik interpersonal, yang terbiasa dimanfaatkan komunikasi politik.

Komunikasi interpersonal sebagai bagian realistis komunikasi politik, membuka peluang ketidaksamaan antara sumber dan destinasi, selain (sebaliknya) empati antara penyampai dan penerima pesan. Ciri-ciri itu sangat memengaruhi komunikasi interpersonal, selain juga dipengaruhi oleh situasi di sekitar wacana, serta kebutuhan psikologis dan kedekatan batin di antara mereka,

Ini berarti, di tingkat kepercayaan publik (sasaran), komunikasi politik kognitif (bermuatan informasi yang berada dalam ranah pengetahuan semata), tidak akan mampu menciptakan kepercayaan masyarakat terhadap kandidat (misalnya: calon presiden/calon wakil presiden tertentu). Komunikasi kognitif hanya berkemampuan membentuk kesadaran publik, terutama tentang kondisi yang diciptakan sejumlah kandidat.

Hak Demokrasi

Dalam jangka pendek, memang, orang belajar tentang politik lewat komunikasi politik. Melalui komunikasi politik pula, orang mencoba mengenali kandidat yang akan maju dalam perebutan kekuasaan (di Indonesia mutakhir melalui Pemilu Legeslatif dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009). Tetapi, semua itu sebatas pengenalan pribadi dan program yang ditawarkan kandidat.

Dalam jangka yang lebih panjang, kandidat yang berhasil merebut simpati sasaran (konstituen) akan berpeluang ”menguasai” komunikasi politik. Kandidat yang kurang mampu merebut simpati dan dukungan publik, menghadapi lebih banyak kendala penguasaan magnitude (keluasan) komunikasi politik, dibanding rivalnya yang sangat dikenal, apalagi dekat di hati publik.

Itulah salah satu risiko komunikasi politik. Risiko komunikasi politik dimaksud, mengakibatkan terbuka luasnya perbedaan pandangan antara pemerintah (selain anggota TNI dan Polri yang tidak memiliki hak memilih) dan masyarakat, antara negarawan dan politisi, maupun antara sesama elite, dan antar sesama massa pendukung parpol, ketika mereka menjatuhkan pilihan terhadap calon presiden dan wakil presiden.

Arus balik komunikasi politik menjelang Pilpres 2009, mengakses politik tidak bersama (tidak bersamaan pandangan, atau ketidakbersamaan kepentingan) antara sejumlah partai politik pendukung kandidat yang akan maju sebagai calon presiden dan calon wakil presiden.

Itu berarti, koalisi antarparpol yang akan mendukung Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, dan Jusuf Kalla, atau lainnya merupakan perwujudan hak demokrasi warga negara yang diimplementasikan lewat mekanisme partai politik. Karena alasan itu, maka jalinan dan jaringan komunikasi politik Pilpres 2009, idealnya dilandasi oleh 5 (lima) prinsip utama komunikasi politik.

Pertama, fairness dalam arti kejujuran, keadilan, kesetaraan kedudukan, dan tanpa diskriminasi. Kedua, transparancy (keterbukaan) semua kandidat dalam menyampaikan visi dan misi, serta dalam menjanjikan program kerjanya, bila kelak terpilih sebagai Presiden/Wakil Presiden RI 2009-2014. Ketiga, accountablity dalam bentuk pertanggungjawaban kepada publik atas setiap bentuk pelayanan kepada masyarakat.

Keempat, independensi dalam arti setiap kemasan simbol komunikasi politik sang kandidat seharusnya terbebas dari segala ketergantungannya kepentingan pihak mana pun, seperti kepentingan kekuasaan, politik, ekonomi, dan lain-lain, yang pada hari kemudian dapat mengakibatkan politik balas budi sang presiden dan wakil Presiden terpilih.

Kelima, impartiality, dalam arti kandidat benar-benar memberi jaminan ketidakberpihakan mereka kepada kepada apa, siapa dan pihak mana pun kecuali, atau selain, keberpihakan kepada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kepentingan nasional, melebihi kepentingan kelompok pendukung.

Demokrasi Komunikasi

Praksis komunikasi politik jelang Pilpres 2009 dapat dijamin bersifat demokratis, jika proses komunikasi politik itu sendiri tidak diawali dengan kultur buruk sangka antara sejumlah kandidat yang akan maju selaku capres. Kalau kebiasaan berburuk sangka itu tidak dapat dihilangkan, jangan heran manakala arus balik komunikasi politik tersebut akan berupa rangsangan sikap serta perilaku keras/memaksa di antara pendukung para kandidat itu sendiri.
Padahal, seharusnya, arus komunikasi politik adalah keterwujudan kebersamaan, bukan hanya antara pasangan capres/cawapres yang akan maju, tetapi juga di antara seluruh kelompok pendukung mereka.

Konsisten dengannya, maka komunikasi politik yang semestinya digalang oleh tim sukses semua pasangan capres/cawapres dalam Pilpres 2009, harus benar-benar dilandasi serta diarahkan kepada persamaan atau kebersamaan, di samping perbedaan atau ketidakbersamaan, lewat proses atau mekanisme komunikasi politik yang demokratis. Keduanya dimungkinkan, jika proses dan mekanisme komunikasi politik yang mereka rancang, betul-betul diposisikan dalam disain berbasis hak asasi manusia, sekaligus berlandaskan hak politik warga negara.

Karena itu, negara wajib memberikan jaminan terealisirnya komunikasi politik yang demokratis. Di samping perlunya negara memprediksi kemungkinan arus balik komunikasi politik, yang dapat merusak tatanan persatuan dan kesatuan, dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di sinilah arti penting rambu/pembatasan bagi keberlangsungan komunikasi politik, dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI 2009-2014, yang tinggal dua bulang mendatang. Konsekuensinya adalah, komunikasi politik perlu selalu dikaitkan dengan kepentingan penegakan hak asasi manusia, terjaminnya rahasia negara, dan tidak rusaknya berbabagai bentuk kesepakatan antara negara dan warga negara yang telah terjalin jauh hari sebelumnya, terutama mempertahankan Pancasila dan NKRI.

Dari itu, sederas apa pun tuntutan demokrasi komunikasi politik jelang Pilpres 2009, arus baliknya perlu tetap dicegah dari perubahan supremasi hukum ke supremasi kekuasaan, di seluruh pelosok Nusantara. Karenanya, komunikasi politik menjelang Pilpres 2009 bukan sekadar tidak bebas nilai, dan ketat rambu, tetapi juga mengenal fatsun akibat kesadaran dan ketaatan semua pihak yang telibat dalam proses komunikasi politik itu sendiri.

Komunikasi politik sampai dan sesudah 9 Juli mendatang, tidak boleh menghalalkan cara. Termasuk di dalamnya larangan menghujat pihak lain, mempropagandakan kepentingan diri sendiri dan kelompok sendiri, serta secara terang-terangan dan kasar (vulgar) menjatuhkan pihak lain, tanpa mengindahkan norma luhur komunikasi politik itu sendiri.

1. Pesan –pesan politik[1]....

Sebagaimana telah diterangkan, bahwa komunikasi dan politik mempunyai persamaan. Persamaanya adalah keduanya sama-sama suatu pembicaraan.

David V.J. Bell mengemukakan 3 jenis pembicaraan yang mempunyai makna politik, yaitu :

Ø Pembicaraan kekuasaan....

Pembicaraan kekuasaan mempengaruhi orang lain dengan ancaman atau janji.

Bentuk pernyataannya adalah : “Jika anda melakukan X, maka saya akan melakukan Y”.....

Contoh :

Presiden AS George Bush mengatakan, “Jika Presiden Saddam Hussein tidak segera keluar dari Irak, maka AS akan menjatuhkan nya dari jabatannya dengan cara memborbardir Irak”

Ø Pembicaraan pengaruh....

Kata-kata yang terdapat dalam pembicaraan pengaruh adalah yang bernada dorongan, nasehat, permintaan, dan peringatan.

Bentuk pernyataanya adalah : “Jika anda melakukan X, maka anda akan melakukan/merasa/mengalami Y”.....

Contoh :

Tokok masyarakat NAD mengatakan, “Jika Presiden SBY melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat dan alim ulama Aceh, maka konflik Aceh akan dapat diselesaikan”.

Ø Pembicaraan otoritas....

Yang dianngap sebagai penguasa yang sah ialah suara otoritas dan memiliki hak untuk dipatuhi. Sumber-sumber pengesahan itu misalnyaadalah keyakinan religious atau sifat-sifat supranatural, daya tarik pribadi penguasa, adat istiadat atau kedudukan resmi.

Bentuk pernyataanya adalah : “Lakukan X” atau “Jangan Lakukan X”....

Ø Pembicaraan konflik....

Melalui pembicaraan konflik, para komunikator politik menyelesaikan perselisihan-perselisihan mereka dengan menyusun perbendaharaan kata tentang asumsi, makna, pengharapan dan komitmen bersama.

.. ..

2. Saluran-saluran politik[2]....

Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Pesan di sini bisa dalam bentuk lambang-lambang pembicaraan seperti kata, gambar, maupun tindakan. Atau bisa pula dengan melakukan kombinasi lambang hingga menghasilkan cerita, foto (still picture atau motion picture), juga pementasan drama. Alat yang dimaksud di sini tidak hanya berbicara sebatas pada media mekanis, teknik, dan sarana untuk saling bertukar lambang, namun manusia pun sesungguhnya bisa dijadikan sebagai saluran komunikasi.

1. Komunikasi Massa....
Dalam sistem pemerintahan yang bagaimana pun, media komunikasi (dalam hal ini media ....massa....) selalu tidak luput dari perhatian. Dikarenakan sifatnya yang memang sanggup menjangkau komunikan dalam skala besar di wilayah mana pun dan kapan pun.
Media ....massa.... merupakan alat komunikasi politik yang berdimensi dua, yaitu bagi pemerintah dan bagi masyarakat. Dalam dimensi pemerintah, maka media ....massa.... berfungsi sebagai berikut : [3]
(1) Untuk menyebarluaskan informasi-informasi seputar:
a. Kebijaksanaan pemerintah.
b. Program-program untuk mensejahterakan rakyat.
c. Kondisi politik dalam negeri.
d. Aktivitas jalinan komunikasi dengan Negara-negara lain sebagai kebijaksanaan politik luar negeri.
(2) Untuk membentuk karakter bangsa melalui fungsi pendidikan.
(3) Untuk melakukan fungsi sosialisasi dalam kaitan pelestarian sistem politik (sekaligus sistem nilai).
(4) Menumbuhkan kepercayaan Negara lain melalui sajian-sajian berita yang direncanakan dan ditata secara baik, (sebagai alat promosi atau propaganda).
Sedang dimensi bagi masyarakat, media ....massa.... berfungsi sebagai sarana kontrol sosial terhadap kebijaksanaan yang dilakukan pemerintah.

Kekuatan media ....massa.... (powerful media) sebagai saluran untuk mempengaruhi khalayak, telah banyak memberikan andil dalam pembentukan opini publik. Kemampuan melipatgandakan pesan-pesan politik di media ....massa.... mempunyai dampak terhadap berubahnya perilaku pemilih. Maka dari itu, bagi para elit politik yang ingin bertarung memperebutkan kursi kekuasaan, akan berusaha memanfaatkan media ....massa.... untuk tujuan publikasi dan pembentukan citra. Media dalam bentuk apapun adalah saluran komunikasi seorang kandidat kepada khalayak yang dikatakan efektif dan efisien pada masa kampanye modern saat ini. ....Ada.... beberapa media yang sangat penting dalam mempublikasikan agenda politik:

.. ..

Media radio, Menurut McLuhan, terdapat resonansi antara radio dan telinga serta pikiran manusia, resonansi yang menyajikan peluang besar bagi kampanye radio. Di samping itu, radio juga merupakan saluran ....massa.... bagi kaum minoritas walaupun dalam perkembangannya kaum mayoritas pun masih belum bisa meninggalkannya. Meskipun radio tidak menampilkan visual/gambar hidup, namun media satu ini bisa merambah ke lokasi di mana media lain susah bahkan tak bisa menjangkaunya.

.. ..

Media Televisi, Di Amerika, penggunaan televisi sebagai media kampanye sudah sejak dasawarsa 1950-an dan 1960-an dimulai. Penekanan dalam kampanyenya pun beragam, mulai dari pembuatan citra; di mana penggunaan media ini untuk memproyeksikan atribut-atribut terpilih dari kandidat. Hingga penekanan berkembang pada tahun 1970-an menjadi pengaturan dan pembahasan pokok masalah kampanye. Teknik untuk membangun citra sang kandidat pun beragam dari melalui publisitas gratis hingga pada beriklan di televisi yang mesti bayar. Sebenarnya sudah ada pengaturan tentang tata cara beriklan di media ....massa...., terutama di televisi. Namun tetap saja banyak terjadi kecurangan di sana-sini, hingga terjadi ketidakadilan dalam peliputan berita kampanye pada Pilpres 2009 yang lalu. Peliputan berita kampanye pasangan kandidat tertentu mendapat durasi yang relatif lebih panjang dibanding pasangan kandidat yang lainnya. Hal ini dikarenakan pemilik stasiun televisi tersebut adalah “orang dekat” dari pasangan tersebut. Atau bisa juga karena pasangan kandidat tersebut memiliki dana kampanye yang cukup banyak untuk dapat memasang iklan berlebih pada media tersebut.[4]

.. ..

Media Cetak, Meskipun media elektronik ditambah dengan media inovasi sudah semakin maju, tetap saja media cetak belum akan ditinggalkan khalayak ....massa..... Terdapat dua tipe media cetak yang kerap dijadikan sebagai media kampanye, yakni melalui ..surat.. langsung dan ....surat.... kabar atau majalah. ....Surat.... Langsung. Pada tahun 1974, Robin dan Miller memeriksa pengaruh pengiriman ....surat.... umum kepada 72.000 orang pada tahun 1974. Mereka menemukan bahwa, ....surat.... langsung tidak memiliki cukup pengaruh terhadap tingkat informasi pemilih, pandangan kandidat, tujuan memberikan suara dalam pemilihan, atau pemilihan kandidat.

2. Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal merupakan bentukan hubungan satu-kepada-satu; terdiri atas saling tukar kata lisan di antara dua orang atau lebih. Saluran ini bisa berbentuk tatap muka maupun berperantara.

Beberapa teoritisi dan ilmuwan komunikasi seperti: Joseph Klapper, Elihu Katz, Paul Lazarfeld, dan Ithil de La Solapool telah mencatat, betapa efektifnya komunikasi interpersonal, terutama bagi Negara-negara berkembang yang lebih tinggi tingkat frekuensinya dalam menggunakan tenaga manusia dibanding menggunakan produk teknologi canggih.
Walaupun komunikasi interpersonal terdapat kelemahan, seperti jangkauan sasaran (komunikan) terlalu luas atau karena dibatasi geo nature (letak geografis) yang sulit dijangkau.

3. Komunikasi Organisasi....

Jaringan komunikasi dari organisasi menggabungkan sifat-sifat saluran ....massa.... dan saluran interpersonal. Tentu saja ada jenis-jenis organisasi yang sangat berbeda dalam politik, baik formal maupun informal. Yang dimaksud kelompok informal adalah keluarga seseorang, kelompok sebaya, dan rekan kerja yang kesemuanya memainkan peran penting dalam mengembangkan opini politik orang itu. Sedangkan kelompok formal meliputi partai politik dan berbagai organisasi kepentingan khusus, seperti serikat buruh, asosiasi perusahaan, pembela konsumen, organisasi hak sipil, dan koalisi kebebasan wanita.

sumber

[1] Riswandi, Komunikasi Politik (..Yogyakarta.., PT. Graha Ilmu, 2009) Hal 9

[2] Dan Nimmo, Komunikasi Politik, komunikator, Pesan dan Media (Bandung, PT Rosda Karya, 1999) Cet ke-3 hal-8)....

.. ..



Cara Menampilkan Subtitle ke Dalam Film

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jika file masih dalam bentuk rar atau zip, maka ekstract lah dahulu dengan menggunakan aplikasi Winrar
  • Pindahkan file film dan subtitlenya ke dalam satu folder. Nama film dan subtitlenya harus sama. Misalkan filmnya berjudul Hancock.avi, maka subtitlenya = Hancock.srt.
  • Kemudian mainin filmnya dengan Windows Media Player. subtitle otomatis akan keluar.
Atau
  • Instal aplikasi VLC Media Player , Jika film dan subtitlenya sudah berada dalam satu folder serta nama film dan subtitlenya sama, maka otomatis teks akan keluar.
  • Namun jika tidak keluar, maka masukkan subtitle secara manual dengan cara klik menu Video, pilih Subtitle Track, lalu pilih Load File. Cari/ Browse file subtitlenya terletak di mana, kalau sudah ketemu pilih dan klik OK.
Jika file film berupa MKV, maka bisa diputar dengan menggunakan VLC Media Player

Download VLC Media Player = Klik Di sini
Download Winrar = Klik Di sini

Selasa, 02 November 2010

sejarah hima humas

Makna Lambang:

•Dua anak panah membentuk lingkaran : kesinambungan

•Satu anak panah ke atas menindih lingkaran : hubungan dengan publik eksternal

•Dua anak panah ke bawah simetris yang ditindih oleh lingkaran : hubungan dengan publik internal

•Warna merah marun : ketepatan dan tanggung jawab

Sejarah Hima Humas

Sebelum tahun 1984, Menurut Drs. Elvinaro Ardianto, M.Si pemilihan jurusan dilakukan pada semester 7. Lalu, pada tahun 1984, calon mahasiswa yang mengikuti SPMB dapat langsung memilih jurusan dan masuk jurusan pada semester 3. Maka dari itu, Tutang Wintarta (angkatan 1980), Elvinaro Ardianto (Angkatan 1980), dan Hussein Fahmi (angkatan 1981) membentuk dan memprakasai Hima Humas Fikom Unpad pada Bulan Juli 1984. Ketua Hima Humas yang pertama adalah Tutang Wintarta, Hussein Fahmi sebagai Wakil Ketua, dan Elvinaro Ardianto sebagai kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang).

Tahun 1984 Hima Humas, HimaPen (Hima Penerangan—Mankom), dan HimaJur (Hima Jurnalistik) sudah ada. Sekalipun semua Hima ini di bawah naungan BEM, koordinasi dilakukan hanya ketika ada acara fakultas. Pada angkatan awal ini, Hima belum mempunyai atribut Hima seperti logo Hima atau jaket Hima. Untuk logo, Hima hanya memakai logo Unpad. Namun, hanya dengan beratribut logo Unpad tersebut, Hima Humas sudah mengikuti lomba “Riset Institusional Komunikasi Dosen Wali dan Persepsi Mahasiswa Fikom Unpad” dalam program kerja pertamanya. Hima Humas menang juara 2. Selain itu, Divisi SDM pernah menghadirkan Resitas, PR Sahid Group. Hima Humas angkatan 1984 bertahan selama 1 tahun dengan kabinet dari angkatan 1980-1984. Kepengurusan Hima Huma periode pertama lebih kepada pengembangan profesi dan keilmuan. Proker yang belum tercapai adalah menjalin kerjasama dengan Perhumas.

Ojid (Angkatan 1998) menyebutkan jaket yang sekarang telah menjadi kebanggaan Hima Humas adalah ide dari angkatan beliau. Menurut Ojid, pertama kali terbesit ingin merubah model jaket karena angkatan 1998 ingin membuat jaket yang timeless, bisa dipakai dalam berbagai acara formal ataupun non-formal, dan ingin menghapus persepsi bahwa yang memakai jaket adalah hanya pengurus Hima Humas saja, bukan keluarga besar Humas Fikom Unpad. Bahan Jaket Hima pun dirubah. Dari yang tadinya warna merah saja dengan bahan parasit menjadi dapat dibolak-balik dengan warna merah atau warna hitam. Pada angkatan 1998 setiap jaket mempunyai nama tiap pemiliknya di resletingnya. Ternyata terobosan jaket baru yang pada angkatan 1998 dipimpin oleh Putu Gede Ong Dika Rusjaya sampai angkatan 2007 ini terus dipakai walaupun dengan pencatuman nama diganti dengan NPM mahasiswa


1. Baliho adalah salah satu media berpromosi baru yang berkembang seiring dengan kemajuan teknologi digital printing dan merupakan media yang digunakan untuk luar ruangan.

2. Baliho biasanya dipasang di pinggir-pinggir jalan untuk dilihat atau dibaca orang yang lewat.

3. Bahan baliho yang sering dipakai adalah Vinyl PVC

4. Pemasangannya bisa dibentangkan saja atau menmpel pada plat besi

5. Neon box termasuk salah satu jenis baliho


Baliho adalah sebuah media penyampai yang menjelaskan/ mempertegas akan adanya suatu kegiatan/ aktivitas/ event, jadi senafas dengan pemberitahuan seperti halnya spanduk, dll, dll.

Biasanya dipajang dihalaman dekat dengan kegiatan acara, misalkan didepan sebuah gedung pameran, diskusi, dll. Bahan bisa aneka macam, bisa dibuat dari dasar kain, triplek, dll, dll.

definisi media promosi







Anda tentu sudah biasa menggunakan alat-alat promosi cetak dan kenal bentuk dan ukurannya. Tapi ketika pembedaan itu sudah begitu detail penerjemahannya mungkin jadi agak kikuk. Apa bedanya billboard dan baliho, misalnya? Apa beda pamphlet dan leaflet? Atau poster dengan banner?
Berikut ini penjelasan beberapa istilah yang mudah-mudahan bisa membantu:

Pamphlet.
Pamphlet (pamplet) adalah semacam booklet (buku kecil) yang tak berjilid. Mungkin hanya terdiri dari satu lembar yang dicetak di kedua permukaannya. Tapi bisa juga dilipat di bagian tengahnya sehingga menjadi empat halaman. Atau bisa juga dilipat tiga sampai empat kali hingga menjadi beberapa halaman. Jika dilipat menjadi empat, pamphlet itu memiliki nama tersendiri yaitu leaflet. Penggunaan pamphlet atau leaflet umumnya dilakukan untuk pemasaran aneka produk dan juga untuk penyebaran informasi politik.
Pamphlet pertama kali diperkenalkan pada tahun 1387 sebagai "pamphilet atau "panffet' yang mengikuti kepopuleran komik satir saat itu berjudul Phamphilus, Seu de Amore. Phampilus artinya dicintai semua orang.

Flyer,
fiyer adalah leaflet yang hanya terdiri dari satu lembar. Flyer umumnya memiliki ukuran tak
lebih dari A5 (14,8 cm x 24 cm). Karena selembar flyer mudah disebar di jalanan sambil lalu sehingga melayang-layang sebelum jatuh ke jalan. Tapi flyer juga umum dibagikan pada pengunjung dalam suatu acara tertentu seperti pameran.

Poster.
Poster adalah selembar publikasi (baik gambar atau teks atau gabungan keduanya) dengan maksud untuk ditempelkan di dinding atau di permukaan yang vertikal. Umumnya ukurannya besar. Yang konvensional ukuran poster adalah 24 x 36 inchi.
Titik awal kemunculan poster adalah ditemukannya teknik litografi (cetak) dan kromatografi (pewarnaan) pada akhir tahun 1780-an. Pada pertengahan abad 19 (tahun 1800-an) poster mulai banyak dibuat di Eropa. Pada tahun 1866 Julius Cheret membuat 1000-an poster untuk promosi pameran, pertunjukan theater, dan produk-produk lain di Paris.



Billboard.
Billboard adalah bentuk promosi iklan luar ruang dengan ukuran besar. Bisa disebut juga billboard adalah bentuk poster dengan ukuran yang lebih besar yang diletakkan tinggi di tempat tertentu yang ramai dilalui orang.
Billboard termasuk model iklan luar ruang yang paling banyak digunakan. Perkembangannya pun cukup pesat. Sekarang di jaman digital, billboard pun menggunakan teknologi baru sehingga muncullah digital billboard. Ada juga mobile billboard yaitu billboard yang berjalan ke sana ke mari karena di-pasang di mobil (iklan berjalan). Mobile billboard sendiri sekarang sudah ada yang digital mobile billboard.
Di Indonesia, billboard punya definisi sendiri. Yaitu
reklame yang berbentuk bidang dengan bahan terbuat dari kayu, logam, fiberglas, kain, kaca, plastik, dan sebagainya yang pemasangannya berdiri sendiri, menempel bangunan dengan konstruksi tetap, dan reklame tersebut bersifat permanen. Jadi papan iklan di atas toko pun masuk kategori billboard.

Megatron.
Jika billboard tersebut sudah menggunakan tampilan elektronik dengan gambar yang bergerak maka namanya menjadi Megatron. Tapi jika gambar tersebut sumbernya video namanya videotron.
Baliho.
Selain billboard di Indonesia juga dikenal baliho. Perbedaannya terletak pada permanen atau tidaknya tempat billboard itu berdiri. Jika tempatnya (konstruksinya) sementara atau semi permanen maka billboard tersebut disebut baliho. Baliho bahannya bisa berupa kayu, logam, kain, fiberglas dan sebagainya. Isinya merupakan informasi jangka pendek mengenai acara (event) tertentu atau kegiatan yang bersifat insidentil.

Banner.
Dengan makin berkembangnya teknologi cetak format besar, berkembang pula produk poster yang ukurannya lebih besar. Muncullah format-format poster yang disebut banner yang ukurannya dua hingga empat kali lipat poster atau bahkan lebih besar lagi. Banner ini tak ditempel di dinding melainkan dipasang pada dudukannya sehingga mudah dipindah-pindah. Banner umumnya di pasang di ruang pelayanan umum.

hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner