Select Language

Rabu, 03 Juni 2015

Satgas Kizi TNI di Afrika terima Ranpur Anoa

APC 2 (1)
Afrika, 11 Mei 2015, Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga)XXXVII-A/Minusca (Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic)yang sedang melaksanakan tugas sebagai peacekeepers misi PBB di Central African Republic(CAR), Afrika, menerima bantuan Kendaraan Tempur (Ranpur) Anoa jenis V2 6×6 buatan Pindaddan kendaraan alat berat lainnya yang telah tiba di Camp Garuda, Bangui, Afrika, Senin (11/5/2015).
APC 2 (8)
Menurut Dansatgas Kizi TNI Letkol Czi Alfius Navirinda K., ke-4 (empat) unit Ranpur Anoa jenis V2 6×6 buatan PT. Pindad yang datang beserta tambahan beberapa unit barang re-supply lainnyauntuk kebutuhan Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kizi TNI Konga XXXVII-A/Minusca telah tiba di CAR Afrika setelah menempuh perjalanan laut selama 30 hari dari Indonesia.
Perkuatan 4 (empat) unit Ranpur Anoa jenis V2 6×6 buatan PT. Pindad yang telah mengalami penyempurnaan dari tipe sebelumnya pada komponen navigasi serta bagian lainnya, dalam penggunaannya disiapkan hanya untuk menghadapi situasi yang genting seperti proses evakuasi,jika personel terjebak ditengah kerusuhan atau kondisi yang tidak memungkinkan dilalui oleh kendaraan biasa seperti yang pernah terjadi beberapa kali”, ujar Dansatgas.
APC 2 (2)
Lebih lanjut dikatakan Letkol Czi Alfius Navirinda, bahwa bersamaan dengan kedatangan Ranpur, juga terdapat satu unit Dozer D36, 1 (satu) unit Backhoe Loader, 1 (satu) unit Forklift, dan 7 (tujuh) kontainer yang berisi kelengkapan peralatan pendukung kegiatan Satgas, seperti peralatan listrik,air dan alat khusus Jihandak serta senjata mesin sedang GPMG Mag Belgia dan munisinya.Kemudian tambahan kelengkapan alat kesehatan dan suku cadang dari alat berat Zeni sertaRanpur Anoa.
Kendaraan tersebut diawaki oleh personel yang tergabung sebagai peleton pendukung FPS (Force Platoon Squad) yang dipimpin Danton Lettu Kav Yusriadi. Hadirnya Ranpur Anoa jenis V2 6×6 buatan anak negeri ini mampu menaikkan moril dan memberikan rasa bangga bagi pasukan perdamaian Indonesia karena menggunakan Ranpur buatan putra-putri bangsa didalam penugasan Internasional di belantara Afrika, guna ikut menciptakan perdamaian dibawah bendera PBB”, tutup Letkol Czi Alfius Navirinda.
.
Authentikasi : Perwira Penerangan Konga XXXVII-A/Minusca, Mayor Kav Eddy Wijaya, S.Sos.
Pengirim        : Puspen TNI

Pembangunan Kapal Selam Masih Terganjal Biaya

Pembangunan Kapal Selam Masih Terganjal Biaya
Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, dalam kunjungan kerjanya ke PT PAL Indonesia (Persero) beberapa hari lalu mengutarakan akan secepatnya mencairkan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk industri galangan kapal BUMN tersebut. Hal itu disampaikan setelah mendengar pemaparan langsung dari Dirut PT PAL Indonesia (Persero) M. Firmansyah Arifin kepada Komisi VI DPR RI.
“Anggaran tersebut bukan untuk modal kerja, namun untuk menjalankan misi pembangunan Alutsista (alat utama sistem pertahanan) berupa pembuatan kapal selam. Karena itu, kami mendesak pemerintah agar segera mencairkan,” terang Bambang sesuai dilansir dari portal berita PT PAL Indonesia (Persero).
Dalam mengawal pertahanan maritim Indonesia, pemerintah telah berencana untuk menambah jumlah armada kapal selam yang dimilikinya melalui rangkaian kerjasama dengan galangan kapal asal Korea, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME). Rangkaian kerjasama itu dengan melakukan Transfer of Technology (TOT) dalam format pembuatan 3 kapal selam jenis Changbogo yang 1 dibuat penuh di Korsel, 1 kapal dibuat setengah di korsel dan setengahnya di Indonesia, serta 1 kapal seluruhnya dibuat di Indonesia.
PT PAL Indonesia (Persero) telah dipercayakan pemerintah untuk melakukan ToT tersebut. Namun hingga detik ini rencana itu mengalami keterlambatan, karena pembangunan sarana dan prasarana fasilitas produksi kapal selam di PT PAL Indonesia (Persero) masih mengalami kendala.
Tidak salah lagi, kendala tersebut masih seputar anggaran yang hingga kini masih belum dicairkan pemerintah. Dalam pemaparannya, Dirut PT PAL Indonesia (Persero) menjelaskan secara objektif keadaan yang dialaminya tersebut.
“Saat ini kami sedang mengerjakan pembangunan fasilitas untuk produksi kapal selam. Tidak hanya bengkelnya saja, tetapi juga harus dilengkapi dengan teknologi yang nantinya mendukung produksi pembangunan kapal selam dan juga untuk perbaikan dan pemeliharaan jangka panjangnya,” paparnya.
Firmansyah menambahkan bahwa kegiatan pembangunan fasilitas produksi kapal selam mengalami keterlambatan dari jadwal yang seharusnya. Karena dana PMN senilai Rp1,5 T yang telah disahkan, belum kunjung turun. “Dana PMN Rp 1,5 T sudah masuk APBN 2015, tetapi sampai sekarang kami belum menerimanya. Padahal dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan fasilitas kapal selam,” sambungnya.
Apabila dana tersebut cair, percepatan pembangunan fasilitas dapat terlaksana. Dan joint section hingga peluncuran kapal selam ke 3 dapat dilakukan di PT PAL Indonesia (Persero).
Bambang Haryo beserta tim mengakhiri kunjungan dengan melakukan peninjauan lapangan dan menaiki KRI Sampari yang merupakan 1 dari 3 jenis Kapal Cepat Rudal 60 meter yang telah diserahterimakan PT PAL Indonesia (Persero). Kapal ini merupakan hasil inovasi putra putri bangsa Indonesia. KRI Sampari-628, KRI Tombak-629, dan KRI Halasan-630 saat ini juga digunakan untuk patroli pengamanan wilayah NKRI oleh TNI AL. (jurnalmaritim.com)

Wantimpres Soroti Dukungan Anggaran untuk LAPAN

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menerima cinderamata dari anggota Wantimpres Bidang Pertahanan dan Keamanan M. Yusuf Kartanegara.
Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin menerima kunjungan dari anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bidang Pertahanan dan Keamanan yang dipimpin oleh M. Yusuf Kartanegara beserta jajarannya pada Jumat (8/5), di Balai Pengamatan Dirgantara (BPD) LAPAN Watukosek, Pasuruan, Jawa Timur. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memperoleh informasi lengkap mengenai tugas, fungsi dan kompetensi utama LAPAN.
Thomas menjelaskan empat kompetensi utama LAPAN sesuai dengan amanat dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. Keempat kompetensi tersebut ialah kompetensi bidang sains antariksa dan atmosfer, penginderaan jauh, teknologi penerbangan dan antariksa serta kajian kebijakan penerbangan dan antariksa.
Penandatanganan Garis Besar Naskah Kerja Sama Aeronautika dan Antariksa 2015-2020 antara LAPAN dan CNSA di hadapan Presiden RI dan RRT
Setelah mendengar penjelasan Thomas, berbagai pertanyaan mengemuka dari Yusuf dan jajarannya terkait rencana strategis LAPAN hingga lima tahun mendatang. Yusuf beranggapan bahwa bidang yang ditangani LAPAN sangat luas dan berkaitan dengan industri strategis yang penting bagi kemajuan bangsa Indonesia.
“Dalam menjalankan tugasnya, kami ingin tahu kendala apa saja yang dihadapi LAPAN? Apakah mengalami kesulitan koordinasi dengan instansi lain? Pengembangan apa saja di masa mendatang dan apa saja yang dibutuhkan untuk pengembangan tersebut?” tanya Yusuf.
Menjawab pertanyaan tersebut, Thomas memberikan gambaran posisi lembaga keantariksaan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) China National Space Agency (CNSA) yang setara dengan posisi wakil presiden sehingga kebijakan keantariksaan RRT langsung bersumber dari presiden. Thomas menambahkan, Kepala LAPAN bertanggungjawab langsung kepada Presiden.
Namun, dalam pelaksanaan kegiatannya LAPAN berkoordinasi dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Koordinasi dengan instansi lain, Thomas menjawab, tidak ada kendala yang berarti.
Thomas menilai positif penggabungan pendidikan tinggi dalam Kemenristekdikti. Ia berujar, kerja sama LAPAN dengan institusi pendidikan tinggi akan semakin mudah dilakukan.
“Contohnya kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) akan jauh lebih mudah, terutama untuk pembangunan observatorium nasional di Nusa Tenggara Timur (NTT),” kata Thomas.
Menurut Thomas, dalam rencana strategis 2015-2019 LAPAN menargetkan untuk bisa membangun observatorium nasional di Nusa Tenggara Timur, mewujudkan konsorsium satelit nasional serta pengembangan teknologi roket. Meskipun persoalan anggaran masih menjadi kendala utama LAPAN hingga saat ini, namun LAPAN berharap bisa mencapai target tersebut.
Mengacu kepada lembaga keantariksaan India Indian Space Research Organization (ISRO), kata Thomas, anggaran ISRO untuk bidang keantariksaan tidak terbatas. Yusuf juga menyoroti hal lain terkait dengan LAPAN seperti sumber daya manusia (SDM), hasil litbang LAPAN terutama UAV/ drone, dan aspek bisnis dan ekonomi LAPAN.
Dari segi SDM, Thomas memaparkan, perlu peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kemudian terkait dengan UAV, LAPAN sudah memiliki program pengembangan UAV untuk keperluan kemaritiman.
“Saat Presiden mengutarakan visi kemaritiman, ada penekanan fungsi LAPAN Surveillance UAV (LSU) dan LAPAN Surveillance Aircraft (LSA) untuk keperluan maritim. Pengembangan dalam waktu dekat yaitu sistem pemantuan maritim terintegrasi memakai LSU dan LSA,” ujar Thomas.

Uji Coba LSU 05
Pada tanggal 24 Oktober 2014 LSU 05 karya LAPAN melakukan uji coba pemotretan puncak Gunung Merapi. Berikut adalah hasil photo yang berhasil diambil team Pustekbang menggunakan LSU 05 memotret puncak Gunung Merapi dari atas.
Thomas juga menjelaskan mengenai Badan Layanan Umum (BLU) LAPAN dan tugas yang diembannya. Pada dasarnya, LAPAN melayani instansi lain secara gratis, terutama penyediaan data citra penginderaan jauh satelit dengan lisensi pemerintah. Namun, untuk data citra resolusi tinggi dan sangat tinggi, LAPAN harus melakukan pengadaan untuk citra tersebut.
“Ada juga yang tidak bisa diperoleh LAPAN secara gratis, misal citra resolusi tinggi dan sangat tinggi yang dibutuhkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang serta Badan Informasi Geospasial (BIG) bahkan hingga resolusi 60 cm, harus pengadaan terlebih dahulu,” kata Thomas.
Mengakhiri kunjungannya, Yusuf mengatakan bahwa terdapat hal-hal penting tentang LAPAN yang perlu disampaikan kepada Presiden terutama dukungan anggaran untuk pengembangan tugas, fungsi dan kompetensi LAPAN. Yusuf dan jajarannya sempat meninjau gedung pengamatan matahari milik LAPAN dan langsung bertolak menuju PT Pindad di Malang.

Roadmap Deputi Teknologi Dirgantara LAPAN
Tahun 2015
  • Membangun pusat unggulan UAV
  • Melanjutkan pengembangan produk pesawat terbang dalam negeri sesuai dengan kebutuhan nasional.
  • Turut serta mendukung secara aktif pengembangan industri pertahanan.
  • Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya Lapan.
  • Meningkatkan fasilitas dan produktivitas litbang.
  • Menjalin kerjasama dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya teknologi satelit
  • Menjalin kerjasama dalam meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya teknologi penerbangan.
  • Menjalin kerjasama untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya teknologi roket, pesawat tempur, rudal, dan propelan.
  • Meningkatkan kemandirian dalam penguasaan teknologi sensitif dengan melibatkan seluruh potensi nasional.
  • Mengupayakan implementasi sertifikasi desain teknologi penerbangan.
  • Mengusulkan regulasi operasionalisasi pesawat tanpa awak dan roket.
  • Melakukan koordinasi dengan Kementrian Perindustrian untuk mendorong pertumbuhan industri dalam negeri terkait teknologi penerbangan dan antariksa.
  • Melakukan koordinasi dengan Pemda dalam penyediaan lahan pengujian roket.
  • Melakukan koordinasi dengan TNI-AU dalam pemanfaatan fasilitas bandara TNI sebagai bandara riset 2015.
Tahun 2016
  • Memanfaatkan teknologi UAV untuk melengkapi data satelit penginderaan jauh.
  • Membangun pusat unggulan roket.
  • Membangun konsorsium satelit nasional.
  • Mendorong industri dalam negeri dalam memenuhi komponen untuk pengembangan teknologi penerbangan dan antariksa yang dibutuhkan.
Tahun 2017
  • Mengembangkan inovasi teknik pengujian roket.
  • Membangun bandara riset dan bandar antariksa di kawasan strategis nasional (KSN).
  • Meningkatkan kemampuan satelit penginderaan jauh operasional.
  • Membangun satelit operasional melalui konsorsium satelit nasional dengan memanfaatkan mitra-mitra internasional.
  • Mengembangkan inovasi teknik pengujian roket.
Sumber : LAPAN

Kapal Bay Class Kedua Australia untuk Malaysia

KM Satria Bay Class Malaysia
KM Satria Bay Class Malaysia
Port Klang, 11 Mei 2015 – Malaysian Enforcement Agency Maritim (MMEA) menerima kapal patroli Bay Class lainnya dari pemerintah Australia setelah yang pertama diserahkan pada 27 Feb 2015.
Direktur Jenderal MMEA Datuk Mohd Amdan Kurish mengatakan kapal bernama ‘Kapal Maritim (KM) Satria’ akan berbasis di Johor Baharu untuk memerangi penyelundupan manusia di wilayah maritim selatan.
image
“Wilayah selatan adalah sarang untuk kegiatan penyelundupan manusia ke negara-negara ketiga dan kedatangan kapal ini adalah tepat waktu untuk meningkatkan patroli demi mengekang ancaman tersebut.
“Tapi itu tidak hanya akan digunakan untuk tujuan ini, juga akan membantu menjaga keamanan maritim,” katanya kepada wartawan setelah upacara menerima dan memberikan nama baru kapal.
image
Hadir dalam acara tersebut Deputy High Commissioner Australia di Malaysia Dr Angella MacDonald.
Kapal pertama bernama ‘KM Perwira’ berbasis di Lumut, Perak dan bertugas memerangi kejahatan lintas batas.
(Bernama)

Thailand dan Rumania Gunakan SNIPER Advanced Targeting Pod untuk F-16

Sniper Advanced Targeting Pod
Sniper Advanced Targeting Pod
Orlando, 11 Mei 2015 – Angkatan Udara Rumania (RoAF) dan Royal Thai Air Force (RTAF) baru-baru ini memilih Lockheed Martin Sniper XR Advanced Targeting Pod (ATP) untuk armada F-16 mereka, dan menjadi pelanggan internasional yang ke-18 dan ke-19 sebagai penerima kemampuan sensor canggih ini.
Lockheed Martin akan mengintegrasikan module Sniper ATP pada pesawat RoAF dan RTAF yang ada dan memberikan dukungan perawatannya. Pengiriman SNIPER Advanced Targeting Pod dimulai awal tahun 2015 untuk memenuhi kebutuhan operasional.
SNIPER ATP
SNIPER ATP
“Sniper ATP akan memberikan RoAF dan RTAF kemampuan presisi mencari dan menargetkan sasaran dengan citra resolusi tinggi,” ujar Rich Lovette, Direktur program Sniper ATP di Lockheed Martin Missiles dan Fire Control. “Kinerja Sniper ATP yang sudah terbukti dan biaya siklus hidup yang rendah membuat Sniper ATP memberikan pembeda utama bagi angkatan udara ini dan sekutu lainnya di luar negeri.”
image
Sniper ATP menawarkan pada pilot citra resolusi tinggi untuk penargetan presisi dan kecerdasan non-tradisional, pengawasan dan misi pengintaian. Mendeteksi, mengidentifikasi, secara otomatis melacak dan laser-petunjuk pada target taktis yang kecil pada rentang (jangkauan ATP) yang panjang dan mendukung kerja senjata laser-dan GPS-berpandu terhadap beberapa target tetap dan bergerak.
Interoperabilitas Sniper ATP juga memungkinkan angkatan udara koalisi untuk menggunakan Pod ini ke beberapa platform, termasuk Angkatan Udara AS dan pesawat multinasional F-15, F-16, F-18, A-10, B-1 dan B-52.
Lockheed Martin
Nb: Dalam catatan F-16.net, Angkatan Udara Malaysia telah menggunakan SNIPER Targeting Pod ini melalui pembelian tahun 2009. Angkatan Udara Mesir pun menggunakannya.

Pesawat F-16 Maroko, Rontok di Yaman

image
image
image
image
image
image
Sanaa – Pesawat tempur F-16 milik Kerajaan Maroko, yang ikut serta dalam serangan udara pimpinan Arab Saudi di Yaman, hilang sejak Ahad (10/5) sore. Insiden tersebut terjadi beberapa jam setelah mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh resmi mengumumkan aliansinya dengan pemberontak Houthi.
Kantor berita resmi Maroko, MAP, melaporkan Angkatan bersenjata Maroko mengkonfirmasi hilangnya pesawat F-16 milik mereka. Pesawat yang ikut ambil bagian dalam serangan udara koalisi Saudi tersebut menghilang sejak Ahad, pukul 06.00 waktu setempat.
Pilot di pesawat jet kedua yang berada satu skuadron dengan jet hilang mengatakan, tak melihat apa pilot jet berhasil menyelamatkan diri atau tidak. Namun, pihak berwenang Maroko sedang melakukan penyelidikan terkait insiden ini.
Pada Rabu 1 April, pemerintah Maroko secara resmi menyatakan ikut bergabung dengan koalisi pimpinan Saudi untuk melancarkan operasi udara di Yaman. Maroko telah menempatkan enam pesawat tempur F 16 miliknya di Uni Emirat Arab.
Saleh dukung Houthi
Insiden pada Ahad terjadi beberapa jam setelah mantan presiden Saleh secara resmi mengumumkan aliansinya dengan pemberontak Houthi. Ini merupakan pengumuman resmi yang pertama dibuat Saleh, setelah koalisi Saudi meluncurkan dua serangan udara ke rumahnya di Sanaa.
Mantan presiden yang selama ini dituduh mendukung Houthi tersebut menantang koalisi Saudi. Ia menggambarkan operasi udara Saudi sebagai tindakan pengecut. “Anda harus terus membawa senjata Anda, siap mengorbankan hidup Anda untuk bertahan menghadapi serangan-serangan agresif. Jika Anda cukup berani, datang dan hadapi kami di medan perang,” kata Saleh.
Republika.co.id

Militer Malaysia Terjun ke Medan Pertempuran Yaman

image
Riyadh – Garda terdepan Militer Malaysia berpartisipasi dalam koalisi untuk mendukung legitimasi pemerintah yang sah di Yaman, yang dipimpin oleh Kerajaan Arab Saudi dalam operasi militer Renewal of Hope. Pasukan Malaysia tiba di pangkalan udara Saudi hari ini, 10 Mei 2015.
Malaysia menjadi negara ke-12 dalam koalisi setelah Senegal yang mengumumkan keikutsertaannya dalam koalisi pekan lalu, melalui pengumuman Menteri Luar Negeri Mankeur Ndiaye ke Parlemen Senegal.
Departemen Pertahanan Arab Saudi menyatakan pusat operasi koalisi sedang mempersiapkan bergabungnya pasukan Malaysia dan Senegal untuk tugas yang dipercayakan kepada mereka dengan partisipasi dalam negara-negara koalisi.
spa.gov.sa

Visi Poros Maritim KASAL

image
(Surabaya, 11 Mei 2015). Visi Poros Maritim dunia yang dijalankan pemerintah saat ini membuka harapan baru bagi aktivitas maritim bangsa Indonesia yang selama ini terbelenggu oleh pandangan-pandangan agraris. “Bangsa ini perlu bergeliat kembali memotivasi segala bidang pembangunan untuk mewujudkan harapan yang selama ini terabaikan. Dari segi proses transformasi, hal ini bukan sesuatu yang mudah karena berhubungan dengan pola pikir dan kebiasaan serta budaya yang telah terpatri selama bertahun-tahun,” demikian dikatakan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, S.E. selaku keynote speech saat membuka acara Seminar Nasional tentang Poros Maritim Dunia yang digelar dalam rangka hari Pendidikan TNI AL di Komando Pengembangan Pendidikan Angkatan Laut (Kobangdikal), Surabaya, Senin (11/5/2015).
Seminar nasional yang mengangkat tema ”Tantangan dan Peluang 5 Pilar Poros Maritim Dunia” ini menampilkan lima pembicara antara lain Sri Sultan Hamengkubuwono X (Pilar Budaya Maritim), Ir. Harun Al Rasyid Lubis, M.Sc. (Pilar Insfrastruktur Maritim), Dr. Arif Havas Oegroseno (Pilar Diplomasi Maritim), Laksamana TNI (Purn) Dr. Marsetio (Pilar Pertahanan Maritim), dan Ir. Sarwono Kusuma Atmaja (Pilar SDM). Seminar kemaritiman yang dilaksanakan kali ini merupakan media sumbangan pemikiran TNI AL yang didedikasikan kepada pemerintah mengenai langkah-langkah antisipatif dan inovatif terhadap tantangan dan peluang yang ada dalam kemaritiman domestik, regional maupun global untuk mendukung terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Menurut Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E. untuk menuju ke arah pola pikir maritim, perubahan harus dilaksanakan secara mendasar, bertahap dan komprehensif. “Kehidupan maritim bangsa seakan-akan telah lama hilang, sehingga proses transformasi yang dibutuhkan tidak sekedar langkah-langkah optimalisasi atau revitalisasi, namun harus menjurus ke arah resureksi atau membangkitkan kembali sesuatu yang telah lama tiada, agar seluruh komponen bangsa berkonsentrasi secara bersama-sama untuk meletakkan dasar, pemahaman dan tindakan yang sejalan,” jelas orang pertama di jajaran TNI AL tersebut.
Lebih lanjut, Kasal mengatakan, saat ini setidaknya terdapat tiga jenis tantangan yang akan dihadapi, yaitu: Pertama, tantangan taktis, yang inherent dengan subyek pembangunan poros maritim dunia secara internal. Kedua, tantangan operasional, yang mempengaruhi proses pelaksanaannya; dan Ketiga, tantangan strategis, yang berhubungan dengan reaksi dan pengaruh eksternal.
image
Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, dan dalam upaya melaksanakan pembangunan menuju negara maritim yang besar, kuat dan makmur, papar Kasal, pembangunan yang dilaksanakan harus mengacu pada fungsi laut bagi bangsa Indonesia, sehingga pembangunan dapat terarah sesuai manfaat yang diharapkan.
“Saya juga menyambut baik dan mengapresiasi kepada panitia penyelenggara Seminar Nasional, yang kali ini mengusung tema “Tantangan dan Peluang Pembangunan Lima Pilar Poros Maritim Dunia”. Tema ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah untuk memajukan Indonesia melalui pembangunan nasional sesuai dengan konstelasi geografi negara kepulauan guna mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia,” tegas Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E.
Kasal juga optimis, Seminar Nasional ini dapat menghasilkan saran masukan berharga dengan memadukan berbagai temuan, ide dan gagasan yang muncul dari berbagai kalangan serta memformulasikannya menjadi langkah-langkah konkrit yang dapat menginspirasi dan diterapkan pemerintah, institusi dan stakeholder kelautan, pelaku usaha dan masyarakat maritim lainnya. “Sebelum mengakhiri keynote ini, saya mengajak seluruh komponen bangsa yang saat ini hadir untuk bersama-sama memadukan pemikiran demi meraih kembali kejayaan bangsa Indonesia yang dulu pernah berkibar dan tersohor hingga ke penjuru dunia sebagai bangsa maritim sejati, “ kata Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, S.E.
Seminar sehari ini dihadiri oleh sekitar 300 peserta yang terdiri dari para stakeholder yang bergerak di sektor kemaritiman nasional, para pakar, para rektor perguruan tinggi di Jawa Timur, para akademisi dan mahasiswa, serta sejumlah pejabat instansi sipil, militer dan Polri. (Puspen TNI).
Authentikasi :
Kasubdispenum, Kolonel Laut (P) Suradi Agung Slamet, S.Sos., S.T.

Senin, 01 Juni 2015

Kendaraan Tempur Pars 4×4 FNSS

image
image
image
image
image
image
image
image
image
FNSS Turki meluncurkan kendaraan tempur lapis baja Pars 4×4 di pameran pertahanan IDEF 2015, Istanbul, Turki pada tanggal 5 Mei 2015.
Kendaraan 4×4 ini pertama kalinya dikembangkan oleh FNSS yang dirancang sebagai komponen roda bersifat Anti-Tank, untuk pasukan Angkatan Darat Turki. Kendaraan ini dilindungi terhadap serangan kimia, biologi, radiologi, dan ancaman nuklir (CBRN).
Pars 4×4 menawarkan kemampuan amfibi tanpa persiapan, dan didisain dengan tinggi 1,9 meter untuk memiliki profil yang rendah dan mampu melakukan pengintaian -pejabat FNSS mengatakan kendaraan ini memiliki paket volume internal yang lebih besar dari kndaraan sejenis. Kendaraan tempur ini memiliki panjang 5 meter dan lebar 2,5 meter.
Kendaraan yang ditampilkan di IDEF dipersenjatai dengan turret Aselsan SARP remote control (RCT) yang dilengkapi senapan mesin Browning H2 12,7 mm.
Pejabat perusahaan mengatakan 4×4 Pars juga dapat dipersenjatai dengan berbagai pilihan turret tanpa awak yang berbeda, termasuk dipersenjatai dengan RCT senjata anti-tank berpandu (ATGW) atau RCT bersenjata dengan meriam otomatis 20 mm atau 25 mm.
FNSS mengatakan bahwa 4×4 Pars dirancang untuk memberikan perlindungan yang baik terhadap ancaman balistik, ranjau dan improvisasi device peledak (IED). Tingkat perlindungan bisa ditambah berdasarkan kebutuhan pelanggan. Demikian pula mesin kendaraan, opsional berdasarkan kebutuhan, seperti tingkat armor yang diperlukan (mempengaruhi bobot kendaraan), yang secara standar Pars 4×4 akan didukung oleh mesin diesel 25-30 HP /ton berat kendaraan.
Meskipun berat kendaraan akan tergantung pada paket yang armor yang dibutuhkan pelanggan, Pars 4×4 dirancang untuk bisa diangkut dengan helikopter Boeing CH-47 Chinook, atau pesawat sayap tetap, Lockheed Martin C-130H Hercules ke atas.
Pars 4×4 membawa hingga lima awak yang dirancang dengan dua konfigurasi, yakni dua pintu dan lima pintu.
Kendaraan yang dipajang di IDEF 2015 berbentuk konfigurasi lima pintu. Kendaraan ini juga dilengkapi dengan fully independent double wishbone suspension system, sistem sepenuhnya independen double wishbone suspensi, rem hidro-pneumatik, central tyre inflation system, dan run-flat tyres.
Fitur Pars 4×4 all-wheel offroad drive, dengan kendaraan dapat beralih menjadi dua roda penggerak ketika berada di jalan yang mulus. Dua baling-baling directional di bagian belakang menyediakan kecepatan maksimum 8 km/jam ketika bergerak di air.
IHS Jane

IFV Kaplan-20 FNSS Turki

image
image
image
image
image
image
image
Produsen kendaraan lapis baja FNSS Turki menampilkan kendaraan tempur infanteri (IFV) Kaplan-20, untuk pertama kalinya pada pameran pertahanan IDEF 2015 di Istanbul, 5 Mei 2015.
IFV ini beratnya 20 ton, sebagai anggota terbaru dari keluarga Kaplan, lanjutan dari kendaraan pengintai 10 Ton Kaplan, yang diresmikan di IDEF 2013.
IFV Kaplan-20 di IDEF tahun ini merupakan bentuk prototipe yang rencananya mulai uji coba di akhir tahun 2015. Meskipun tidak diciptakan untuk kebutuhan militer Turki saat ini, FNSS. yakin Turki akan meluncurkan program kebutuhan pengganti IFV dalam beberapa tahun ke depan.
Kaplan-20 tersedia dengan dua pilihan turret (kubah), yakni turret senjata mesin yang dikendalikan dua orang, serta versi turret RCWS (remote/ tak berawak). Turret Kaplan-20 dapat dipasang meriam otomatis 30-40 mm, atau kubah tak berawak ATK Bushmaster Mk 44 30 mm dual-feed cannon. Kedua konfigurasi turret ini dipersenjatai dengan 7.62 mm coaxial chain gun.
Pejabat perusahaan mengatakan kepada IHS Jane bahwa kendaraan dirancang untuk low visual and thermal signature. Mereka menambahkan IFV ini memiliki volume internal 40% lebih besar dari kendaraan di kelas berat yang sama, seperti ACV. Ketika dilengkapi dengan turret tak berawak Kaplan-20 akan membawa tiga awak dan dapat mengangkut delapan penumpang – yang turun menjadi enam jika turret senjata dilengkapi dengan dua awak.
Kesadaran situasional disediakan kamera 360 derajat sepanjang siang dan malam. Kaplan-20 juga dilengkapi dengan berbagai fitur seperti sistem deteksi tembakan akustik dan unit catu daya tambahan (APU).
Pejabat FNSS mengatakan bahwa Kaplan-20 sepenuhnya dirancang oleh tenaga dalam negeri Turki, meskipun running gear, powerpack, sistem elektronik, dan baju besi (armour) dibeli dari pemasok di luar negeri.
Karet lapisan Trek Kaplan-20 (dari Jerman Diehl), yang menurut FNSS mampu mengurangi kebisingan dan getaran, meningkatkan kenyamanan awak dan memperpanjang masa hidup peralatan di dalam IFV.
IFV ini dirancang untuk mengimbangi tank tempur utama baru Altay, Turki dan menawarkan kecepatan maksimum cross country 70 km/jam. FNSS menyatakan Kaplan-20 akan memiliki tenaga 25 Hp per ton, meskipun pemasok mesin belum dipilih untuk kendaraan ini, karena yang ditampilkan dalam pameran tanpa mesin terpasang. Selain itu, Kaplan-20 memiliki kemampuan amfibi, dengan dua jet air yang dipasang di bagian belakang.
Kaplan-20 memiliki panjang 6,5 meter dan lebar 3,15 meter tanpa sistem armor tambahan, dengan tinggi 2 meter.
IHS Jane.

Israel Pelajari Kelemahan S-300 Yunani

Angkatan Udara Israel melakukan latihan bersama untuk mengantisipasi rudal permukaan-udara S-300, yang dijadwalkan akan dikirim ke Iran dari Rusia. Apapun bisa dilakukan, jika mau memplajarinya.
S-300 Yunani
S-300 Yunani
Angkatan Udara Israel berlatih manuver terhadap sistem rudal permukaan-ke-udara S-300 yang segera diterima oleh Iran, dalam latihan bilateral yang dilakukan menggunakan dua baterai S-300 Yunani yang ditempatkan di Pulau Kreta.
Latihan ini berlangsung dari April 20-30, ketika Israel bergabung dengan Hellenic Air Force (HAF) /Angkatan Udara Yunani dalam Latihan Iniohos-2015, salah satu latihan tahunan terbesar, di mana sedikitnya 150 pesawat tempur dari semua skadron HAF mengambil bagian.
Menurut laporan, Israel mengerahkan sepuluh jet tempur F-16 dari empat skadron, dan juga pesawat mereka yang bergabung dengan Angkatan Udara AS di Eropa sebagai Joint Terminal Attack Controllers.
Israel telah mengakuisisi data teknis tentang sistem S-300, yang mampu memukul target di udara pada jarak 150 kilometer, di ketinggian hingga 27.000 meter.
F-16 Israel
F-16 Israel
Manuver ini dilakukan untuk menguji taktik yang berbeda terhadap S-300, dalam simulasi darat yang dilindungi oleh baterai S-300 baterai. Yunani memperoleh sistem S-300 dari Rusia pada 1990-an dan merupakan satu-satunya anggota NATO yang memiliki sistem tersebut.
Menteri Pertahanan Yunani Panos Kammenos bulan lalu, pada kunjungan ke Moskow untuk sebuah konferensi tentang keamanan global, mengatakan bahwa Yunani dalam negosiasi dengan pemerintah Rusia untuk pembelian sistem rudal baru S-300, dan pemeliharaan S-300 nya , Top M-1 dan rudal Kornet.
Pada tahun 2007 Rusia dan Iran menandatangani kontrak untuk lima baterai sistem S-300, tetapi pada tahun 2010 pemerintah Rusia memberlakukan larangan ekspor, sehubungan dengan sanksi PBB yang diberlakukan terhadap Iran menyangkut program nuklirnya. Pada tanggal 13 April pemerintah Rusia mencabut larangan atas penjualan S-300 ke Iran, setelah terjadinya negosiasi di Jenewa antara Iran dan kelompok negara P5-1 yang menyabut sanksi terhadap Iran.
Sputnik News
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner