Select Language

Kamis, 30 Januari 2014

Kehebatan Tank Amfibi BMP-35 Asal Rusia

Korps Marinir Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut pada hari ini, Senin, 27 Januari 2014, menerima 37 unit tank amfibi jenis BMP-35 (Boyevaya Mashina Pyekhota) dari Kementerian Pertahanan. Upacara penyerahan di Pusat Latihan Pertempuran Korps Marinir, Desa Karangtekok, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, itu dipimpin oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Upacara penyerahan juga dihadiri oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Haluzin.

"Kini Korps Marinir telah memiliki 54 tank modern produksi Rusia. Sebelumnya, pada 11 Desember 2010, Korps Marinir menerima 17 unit tank jenis sama dari Menteri Pertahanan," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Untung Suropati.

Penyerahan tank amfibi itu merupakan realisasi kontrak jual-beli antara Kementerian Pertahanan dengan perusahaan Rusia, Rosoboonexport. Kerja sama itu juga mencakup pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan tank. Pada Juni 2013 lalu, enam prajurit dari Resimen Kavaleri mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan Pabrik Kendaraan Tempur Kurganmashzavod di Kurgan, Rusia.

Tank amfibi BMP-3F adalah kendaraan tempur lapis baja yang mampu bermanuver di air dan darat. Ia punya kemampuan paling unggul di kelas peralatan tempur amfibi saat ini. Tank produksi Rusia itu dirancang untuk menghadapi pertempuran dengan senjata utama meriam canon kaliber 100 milimeter yang mampu menembak sampai jarak 4 kilometer. Dengan berat 18 ton, panjang 7,14 meter, lebar 3,16 meter, dan tinggi 3,57 meter, tank ini mampu membawa tujuh pasukan dan tiga kru. Sistem persenjataan tank ini memadukan artileri, rudal, dan roket dengan kontrol otomatis, sehingga tembakan tetap akurat meski saat berenang. 


Peretas Tembus Jaringan Komputer Kemenhan Israel

Para peretas menyerang komputer-komputer di Israel, termasuk yang digunakan Kementerian Pertahanan yang berkaitan dengan warga di wilayah pendudukan Tepi Barat. Demikian pakar perlindungan data Israel menjelaskan, Senin (27/1/2014).

"Awal bulan ini sejumlah surat elektronik dikirimkan ke beberapa perusahaan di Israel, termasuk perusahaan keamanan," kata Aviv Raff, dari perusahaan keamanan siber Israel, Seculert.

"Dalam surat itu terdapat tautan yang jika dibuka akan menyebarkan virus, semacam kuda Troya, yang memungkinkan peretas mengendalikan komputer. Salah satu komputer adalah milik Badan Kependudukan," tambah Raff.

Sementara itu, militer Israel enggan berkomentar banyak soal kabar ini. Militer hanya mengatakan tengah menyelidiki masalah tersebut.

Raff tidak mengidentifikasi sumber serangan, tetapi Radio Militer Israel mengatakan, serangan itu kemungkinan besar berasal dari Gaza. Sebanyak 15 komputer di Israel menjadi sasaran.

Radio Militer mengatakan, hanya jaringan komputer Badan Kependudukan yang terdampak, dan tidak ada komunikasi rahasia yang bocor.

Para politisi Israel dan pejabat keamanan berulang kali memperingatkan bahaya peretasan dan mengatakan pemerintah sudah berulang kali mengagalkan sejumlah upaya peretasan seperti ini.

Sementara itu, PM Israel yang sedang berada di Davos, Swiss, mengatakan bahwa pemerintahannya terus meningkatkan kemampuan pengamanan terhadap serangan siber semacam ini.

"Di era informasi seperti ini, sangat dipahami bahwa informasi adalah sesuatu yang harus dilindungi, sebab jika tidak maka akan terjadi kekacauan," kata Netanyahu.


Potensi Ancaman Indonesia

Rudal Yakhont  Frigate OWA-354
Rudal Yakhont Frigate OWA-354
Potensi ancaman bagi Indonesia dalam keutuhan wilayah NKRI, pencaplokan sumberdaya Indonesia dan penyerangan moral masyarakat Indonesia agar tetap dalam cengkraman asing sering kita diskusikan dalam tulisan tulisan saya terdahulu.
Kali ini kita mengupas bagaimana Potensi ancaman Indonesia bila dilihat dari sudut militer, konflik LCS dan perebutan pengaruh dan kepentingan asing terhadap geopolitik kawasan dalam perebutan sumberdaya alam.
Dengan beruntunnya gesekan antara Indonesia dan Australia semakin menyadarkan kita bahwa potensi ancaman di sekitar wilayah Indonesia sangatlah besar. Dengan terungkapnya skandal penyadapan dan disambung insiden masuknya 3 kapal RAN ke wilayah teritori Indonesia adalah sebagai “Wake up Call” agar kita tidak menyepelekan segala potensi ancaman yang ada.

Potensi Ketegangan LCS
Ketegangan dan memanasnya kondisi Laut China Selatan -yang dimulai dengan perebutan kepulauan Spratly yang kaya sumber daya alam,- antara negara negara Asean, Amerika Serikat dan RRC mau tidak mau membuat kita bersiaga akan segala dampak buruk yang ditimbulkan oleh ketegangan LCS bila sampai pecah.
Amerika serikat yang tidak ingin hegemoninya di pasifik terancam dengan bangkitnya China menajadi negara super power baru, membuat langkah dan taktik baru politik luar negerinya di pasifik. Sudah banyak berita yang mengabarkan bagaimana 60 persen kekuatan militer Amerika Serikat akan digeser dan ditumpuk di kawasan pasifik.
Bagaimana dengan posisi Indonesia di mata pihak pihak yang berseteru di LCS?
Potensi Ancaman China
Pihak china akan senang bila Indonesia mempertahankan politik Bebas dan aktif, Non Block dan Zero Enemy, itu bisa dilihat bagaiman reaksi China dengan peta lidah naganya yang tidak mencaplok Natuna dalam klaimnya, dan China berusaha mendekati terus gadis cantik Indonesia agar tidak jatuh dalam pelukan barat dan berbalik memusuhi china.
China bahkan menginginkan Timor Leste menjadi pangkalan militernya dengan imbalan ekonomi kepada negeri sempalan NKRI yang baru merdeka tersebut. Untungnya Timor leste mempertimbangkan perasaan Indonesia bila ada pengkalan militer china di wilyahnya.
KONON dengan halus Pemerintah Timor Leste menganjurkan China untuk terlebih dahulu meminta RESTU dari Indonesia dulu bila harus membuka pangkalan militer di wilayah Timor Leste.
China juga tidak diam saja mempengaruhi Indonesia dan MENGINTIP bagaimana sejatinya sikap Indonesia ke depan berkaitan dengan ketegangan di LCS.
Banyak iming iming TOT dan kerjasama militer dan paket bantuan ditawarkan China kepada Indonesia sebagai pemanasan bujukan agar keterpihakan Indonesia jelas kepada China dan mereka tetap melancarkan misi spionase ke segala aspek untuk mengintip bagaimana ke depan sikap Indonesia terhadap LCS dan kelanjutan pengolahan sumber daya alam yang dioperatori oleh negara tersebut.
Produk bersama dan TOT rudal C 705 dan hibah radar maritim adalah perwujudan pemanasan bujukan dan rayuan China terhadap dukungan Indonesia dan akan banyak tawaran yang menggiurkan bila Indonesia mau menjadi proxy China.
Proxy China di negara negara Asean seperti Laos dan Kamboja tidak ada artinya bila dibandingkan dengan Indonesia yang mau bergabung dengan China. Akan timbul block yang dahsyat bila negara berpenduduk terbanyak di dunia digabungkan dengan negara terbesar ke empat penduduknya di dunia.
Tidak menutup kemungkinan suatu saat China mengklaim Natuna masuk wilayah yang akan dicaploknya.
Potensi Ancaman Amerika dan Australia
Ada ANALISA yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat membiarkan Filipina yang lemah militernya untuk dijadikan umpan diinvasi China dalam ekspansi perebutan Pulau Spratly di Laut China Selatan, dan AS dengan aliansinya akan menggebuk bersama china berlindung dengan putusan dari PBB.
TETAPI menurut AS akan lebih hemat dan efisien bahkan revolusioner bila Indonesia yang mau mengahadapi China dan menghadang ekspansi china.
Indonesia bila dijadikan proxy oleh Amerika Serikat maka pihak barat akan mendapatkan suatu negara yang MUMPUNI dalam menghadapi china.
Indonesia adalah negara nomer empat terbesar penduduknya di dunia, mempunyai sumberdaya manusia yang besar, mempunyai sumber alam yang besar, mempunyai rakyat dengan jiwa militansi yang tinggi, dan Indonesia mempunyai sitim pertahanan SISHANTA dan pengalaman perang dengan negara negara barat. Dan yang paling penting GEOPOLITIK Indonesia sangatlah strategis yang diperkirakan sanggup menghadang China.
Hal hal tersebut di atas tidak dimiliki oleh Sekutu Sekutu Barat yang bertebaran di Asia Tenggara dan pasifik, baik itu oleh Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam bahkan Australia dan New Zealand sekalipun.
Amerika Serikat lebih percaya SUMBER DAYA Indonesia yang mampu menghadapi kebesaran China.
Bila saja Indonesia mau dan bersedia dijadikan proxy maka tak heran bila Indonesia menginginkan segala teknologi militer tercanggih dari barat pun akan diberikan.
Kalau kita mau TERIKAT dan bersedia “treaty” dengan segala tetek bengek yang MENGIKAT maka AS akan memperkuat otot otot TNI dengan cepat untuk mengahadapi china.
Mereka akan segera mengirimkan F-16 block 52 dan F-35 dengan jumlah yang nggilani (besar).
Untuk sekarang saja bagaimana mereka menawarkan dan memberikan teknologi Apache Guardian terbaru bahkan Singapura saja belum dikasih, juga alutsista lainnya seperti Javelin, Chinock, Blackhawk eks Afaganistan, F-16 Hibah dan sempat menawarkan fregat OHP class.
Konon ada tawaran terakhir berupa 38 unit F/A-18C/D Hornet hibah eks USMC ditambah 6 unit E-2C Hawkeye eks USN dengan paket lengkap plus retrofit dan tetek bengek lainnya. Bahkan, kalau paket F/A 18 hibah ini diambil, akan dikasih gratisan CH-46 Sea Knight dan SH-3 Viking, namun sampai sekarang tawaran ini belum kita respon positif.
Itu semua adalah PEMANASAN agar kita tetap melihat Barat sebagai Sekutu wealaupun tidak utama dan agar kita tidak berpaling ke Block Timur dan memihak kepada China,
Indonesia ibarat pemuda muda yang lugu di tengah godaan setan penguras SDA yang menjanjikan kenikmatan duniawi untuk kenikmatan sesaat.
Semoga pemimpin kita sekarang dan yang akan datang KUAT IMANnya dengan segala pemanasan, rayuan ringan sampai rayuan berat AS dan yang MENGGIURKAN tetapi akan sangat MEMATIKAN ke depannya bagi bangsa ini.
Sikap TERBAIK Indonesia adalah tetap NON BLOCK dan TIDAK MEMIHAK kesalah satu pihak yang berseteru di LCS tetapi tetap AKTIF untuk menyuarakan perlunya penyelesaian konflik secara damai dan berjalan di jalur diplomasi.
Sambil tetap MENGUATKAN otot sendiri dengan jalan yang BENAR diantaranya membeli alutsista dari berbagai block baik itu dari Amerika Serikat, Rusia, Eropa, Asia dan Amerika Latin.
Penguatan otot sendiri adalah kebutuhan untuk menjaga kekuatan “critical element of combat-ready forces”. Kita tidak Ingin pemuda lugu ini dipaksa pecahkan karang dengan lemah jari tergumpal. Tetapi pemuda lugu yang BEROTOT dengan iman yang indah, cerdik dan BERUNTUNG, diberuntungkan oleh Tuhannya karena kedekatan dengan-Nya. Pemuda lugu ini perlu dibekali dengan mempunyai doa tolak setan penggoda dan pusaka tundung setan (pusaka yang bisa MENUNDUKkan setan jenis manapun)
Coba kita buka apa saja potensi ancaman yang mengililingi teritorial Indonesia:
Pangkalan Rahasia Militer Australia:
AUSTRALIA’s most secret sites are hidden well away from prying eyes, usually far from major population areas. But no one escapes the all-seeing eye of Google Google.
 Pangkalan Rahasia Militer Australia
One of the world’s biggest spy bases is located in the middle of Australia at Pine Gap, NT. (Google Earth Source: Supplied)
As Australian and British foreign and defence officials meet in Perth today to discuss stronger military ties, here’s our virtual tour of Australia’s most secret military and government sites.
One of the world's biggest spy bases is located in the middle of Australia at Pine Gap, NT. (Google Earth Source: Supplied)
One of the world’s biggest spy bases is located in the middle of Australia at Pine Gap, NT. (Google Earth Source: Supplied)
ASIO, ACT (Spy Agency HQ)
The new Australian Security Intelligence Organisation HQ in Canberra will house Australia’s national security service, responsible for protecting us from espionage, sabotage, attacks on the Australian defence system and terrorism. ASIO officers have similar powers to the UK’s Security Service (M15), and do not carry guns.
The new Australian Security Intelligence Organisation HQ in Canberra. (Google Earth)
The new Australian Security Intelligence Organisation HQ in Canberra. (Google Earth)
Campbell Barracks, WA (SAS HQ)
Located in suburban Perth, the low-key army base in Swanbourne, has been the base of the Australian Special Air Service (SAS) since the Regiment was established in 1957. Most training takes place at Bindoon army base, northeast of Perth, which includes live-fire ranges, training areas and an SAS mock-up area with ‘embassy’ building and sniper towers.
Campbell Barracks, WA (SAS HQ)
Campbell Barracks, WA (SAS HQ)
Christmas Island, Indian Ocean (Detention Centre)
Home to 1500 Australian citizens, mostly of Chinese ethnicity, Christmas Island was a thriving phosphate producer before transfer to Australian sovereignty in 1957. Since the MV Tampa controversy in 2001, the island has been the primary goal of asylum seekers attempting to enter Australia. Opened in 2006, the Immigration Detention Centre contains approximately 800 beds, and cost $400m, double the estimated budget
Christmas Island, Indian Ocean (Detention Centre)
Christmas Island, Indian Ocean (Detention Centre)
Kojarena, WA (defence satellite station)
The Australian Defence Satellite Communications Ground Station is located at Kojarena, 30 km east of Geraldton. It is operated by the ADF Defence Signals Division, and houses five radomes and eight satellite antennas linked to a worldwide satellite communication signals interception system that is mainly operated by the US and UK.
Australian Defence Satellite Communications Ground Station at Kojarena, WA.
Australian Defence Satellite Communications Ground Station at Kojarena, WA.
Maralinga, SA (Nuclear Test Site)
The ancient home of the Maralinga Tjarutja indigenous people, Maralinga was the site of seven secret British nuclear tests in the 1950s, with four fission bomb tests followed by three tests of triggering mechanisms. A Royal Commission in 1985 identified significant contamination at the site. Native title was handed back to the traditional owners in January 1987 and efforts were made to clean up the site before resettling the land in 1995.
 Maralinga, SA (Nuclear Test Site)
Maralinga, SA, site of seven secret British nuclear tests in the 1950s.( Picture: Google Earth)
Nauru, Pacific Ocean (Detention Centre)
Originally opened in 2001 to take people rescued by the MV Tampa, the detention centre on the tiny island of Nauru was built to house 1200 asylum seekers in return for a pledge of $30m in development funds. Closed by Kevin Rudd in December 2007, the camp was reopened by the Gillard government in August 2012 to process record numbers of asylum seekers arriving by boat.
Nauru, Pacific Ocean (Detention Centre)
Nauru, Pacific Ocean (Detention Centre)
North West Cape, WA (US Naval Signals)
Naval Communication Station Harold E. Holt is located 6km north of Exmouth, which was built to provide support to the base and house dependent families of US Navy personnel. The base provides very low frequency (VLF) radio transmission to US and Royal Australian Navy ships and submarines in the Pacific and Indian Oceans and is the most powerful transmission station in the Southern Hemisphere
North West Cape, WA (US Naval Signals)
North West Cape, WA (US Naval Signals)
Nurrungar, SA (Ballistic Missile Control)
Located on the edge of Island Lagoon, approximately 15 km south of Woomera, Nurrungar was run by the ADF and the US Air Force from 1969 to 1999. It provided early detection of missile launches and nuclear detonations via US satellites in geostationary orbits. Operations moved to Pine Gap in 1999. Today the ADF uses the site for army tests
Nurrungar, mothballed ballistic missile control site near Woomera, SA. (Google Earth)
Nurrungar, mothballed ballistic missile control site near Woomera, SA. (Google Earth)
Pine Gap, NT (US Listening Post)
Probably the best known secret installation in Australia, Pine Gap near Alice Springs is one of the biggest ECHELON signals intelligence facilities in the world, with an estimated 1000 employees. A former US National Security employee who worked at Pine Gap has claimed that the facility is run by the CIA. Pine Gap controls American spy satellites as they fly over China, North Korea, Afghanistan and the Middle East.
One of the world's biggest spy bases is located in the middle of Australia at Pine Gap, NT
One of the world’s biggest spy bases is located in the middle of Australia at Pine Gap, NT
Swan Island, VIC (Special Forces)
The Department of Defence does not discuss what goes on at Swan Island, and information on the facility is not found on any government website. It is believed that Australia’s Special Forces carry out counter terrorism training here on a base shared with the Secret Intelligence Service
Swan Island, VIC (Special Forces)
Swan Island, Victoria, SIS and special forces training centre
Scherger, QLD (Detention Centre)
Villawood and Darwin are well known immigration detention centres, but did you know that up to 600 asylum seekers at any one time are housed at a facility at RAAF Scherger in Far North Queensland? One of three ‘bare bases’ in the tropics run by skeleton crews, Scherger is set up to house 1400 personnel and 40 aircraft if Australia ever gets into a shooting war with one of our northern neighbours.
Scherger, QLD (Detention Centre)
RAAF Scherger, advance air force base and detention centre. Far North Queensland
Symonston, ACT (Government Panic Room)
Protected by heavy gates, security fences and an array of CCTV cameras on a nondescript Canberra industrial estate, the main purpose of the classified facility at Symonston is believed to be to provide an alternative communications facility for the Australian government. Under the so-called “Plan Mercator”, this is where the Prime Minister, Governor-General and advisers would be whisked to in the event of a terrorist attack or threat against Parliament House.
Govenrment panic room in Symonston, suburban Canberra.
Govenrment panic room in Symonston, suburban Canberra.
TINDAL, NT (Fast jets, Stealth bombers)
Located near Katherine in the NT, RAAF Tindal houses the RAAF’s fast jets outside the cyclone zone at a site easy to defend against external attack. A key launching point for the Australian-led intervention in East Timor in 1999, the base is also rumoured to host US stealth spy planes.
TINDAL, NT (fast jets, stealth bombers)
TINDAL, NT (fast jets, stealth bombers)
Woomera, SA (Weapons Tests, Drones)
The Woomera Test Range in South Australia is a large weapons testing range operated by the RAAF, 500km northwest of Adelaide. A prohibited area off-limits to the public, the range was set up by Britain and Australia in 1946 and was the site for seven nuclear tests between 1955 and 1963 as well as tests for a wide range of conventional weapons before the Australian-Anglo joint project ended in 1980. After a long period when it was effectively abandoned, the range is currently used for ADF trials and leased to foreign militaries.
Woomera, SA (weapons tests, drones)
Woomera, SA (weapons tests, drones)
British stealth drone bomber Taranis, undergoing testing in the Australian outback in early-2013.
British stealth drone bomber Taranis, undergoing testing in the Australian outback in early-2013. (photo: BAE)
British stealth drone bomber Taranis, undergoing testing in the Australian outback in early-2013. (photo: BAE)
Woomera is the most likely test site for new British stealth drone Taranis, which will be conducting outback test flights in early 2013. At its peak the range covered 270,000 square km. Today it covers 127,000 square km, and remains the world’s largest weapons test range.

TNI AL Gelar Seminar Penyiapan SDM Kapal Selam

SURABAYA-(IDB) : TNI Angkatan Laut menggelar seminar tentang Penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) Kapal Selam dalam rangka menyongsong kebangkitan kapal selam Indonesia yang digelar di Auditorium Marore, STTAL, Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut (Kobangdikal), Surabaya, Senin (27/1/2014).
 
Hadir dalam acara tersebut Komandan Kobangdikal Laksda TNI Widodo, S.E., Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjenpothan) Dr. Timbul Siahaan, Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Laksmana TNI (Purn) Sumarjono dan Kasarmatim Laksma TNI Siwi Sukma Aji .
 
Selain itu hadir pula CEO Daewoo Logistic Mr. S. Jung, Project Officer Kapal Selam Laksma TNI Suryo Djati Prabowo, Direktur  Desain dan Teknologi PT Pal Indonesia Syaiful Anwar dan perwakilan Rektor ITS Hendro Nurhadi,  Phd.
 
Seminar yang dihelat di gedung Marore Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Bumimoro Kobangdikal tersebut  mengambil tema Penyiapan  Sumber Daya Manusia dalam Rangka Penguasaan Teknologi Kapal Selam.
 
Dalam kesempatan tersebut tampil sebagai pembicara pertama Mr. S Jung CEO Daewoo Logistic yang menyampaikan sejarah perkembangan kapal selam yang berlangsung di Negara Korea hingga dewasa ini yang telah mampu memproduksi sendiri.
 
Menurut CEO Daewoo Logistic, babak baru Negara Korea dibidang Kapal selam diawali tahun 1978 dengan pengiriman beberapa personil Korea dari berbagai disiplin ilmu untuk melaksanakan Transfer Of Tecnology (TOT)dan On Job Traing (OJT) di perusahaan Kapal selam Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) German Shipbuilding Company.

“Berkat kemauan dan kerja keras seluruh personil yang terlibat TOT dan OJT dan didukung dari pemerintah Korea dalam upaya mewujudkan kemandirian dibidang Kapal Selam tersebut maka bisa terwujud. Saya berharap dari pengalaman tersebut Indonesia kedepan mampu melaksanakan seperti apa yang dilaksanakan Korea,” jelasnya.
 
Sementara itu pembicara kedua dari PT Pal Indonesia yang disampaikan  Direktur Desain dan Teknologi PT Pal Indonesia Syaiful Anwar menyampaikan  bahwa PT Pal Indonesia siap melaksanakan penguasaan teknologi kapal selam dan PT PAL siap melaksanakan pembangunan fasilitas Produksi kapal selam .

Menurutnya dalam upaya penguasaan teknologi tersebut PT Pal telah menyiapkan 25 personil untuk melaksanakan Transfer Of Tecnology (TOT) dan On Job Traing (OJT) di Korea. Dari 25 personil yang tergabung dalam TOT/OJT itu, 20 orang diantaranya berasal dari PT. PAL Indonesia, sedangkan lima orang sisanya berasal dari para Akademisi di bawah Kementerian Negara Riset dan Teknologi.
Sumber : TNI AL

Rocket Launcher 6x6 RHAN 122 Produksi PT AIU


AIU-(IDB) : PT Alam Indomesin Utama menampilkan produksinya berupa kendaraan 6x6 angkut Alutsista Rhan 122 produksi Lapan. PT AIU ini bukan lagi asing dikalangan TNI, beberapa waktu lalu, PT AIU ikut mendesain/turut dalam pembuatan kendaraan militer TNI yang dikenal dengan nama Garda 4x4, lalu berubah nama menjadi Rantis 4x4. selain itu juga sudah berpengalaman dalam perbaikan mesin maupun upgrade kendaraan lain dikalangan TNI.

Kendaraan Angkut terbaru PT AIU ini menurut situs PT Alam Indomesin Utama menggunakan Mercedes Benz Engine w/ 6x6 Drive Train chassis.

Dalam diskusi forum militer Indonesia, di sebutkan bahwa desain awal kendaraan ini merupakan hasil dari Pindad, PT AIU mengaplikasikan mesin maupun body kendaraan ini menjadi nyata. Karena PT AIU sendiri adalah perusahaan yang bergerak dibidang mesin. Betul atau tidak nya, kita nantikan berita resmi dari TNI atau PT yang bersangkutan.
 
Dalam gambar terlihat kendaraan tersebut melakukan ujicoba 'test road' di Hambalang.

Sedangkang Ujicoba Alutsista berupa Rhan Lapan akan di lakukan secepatnya bulan depan dengan peluncur 10 roket. 

 
 
Berikut Gambar Kendaraan diambil dari situs PT AIU :

Sumber : AIU

Lapan Uji Terbang LSU 03

LSU 03
JABAR-(IDB) : Lapan berhasil melaksanakan uji terbang pesawat Lapan Surveillance UAV (LSU) 03 di Balai Produksi dan Pengujian Roket Lapan Pameungpeuk, Jawa Barat, Sabtu (25/1). Kegiatan ini bertujuan untuk menguji kestabilan pesawat. Pesawat LSU 03 diterbangkan pada pukul 07.19 WIB dan berhasil mendarat di lapangan uji Pameungpeuk pada pukul 7.30 WIB.

LSU 03 merupakan pesawat tanpa awak yang berkemampuan mengangkut beban 10 kilogram untuk keperluan Airborne Remote Sensing. Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana, mengatakan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti meningkatnya kemampuan sumber daya Lapan. Ia berharap, di masa depan Lapan terus memperkuat aplikasi pendukung untuk berbagai penggunaan.

LSU 02
Sehari sebelumnya, yaitu pada hari jumat tanggal 24 januari 2014, teknisi Lapan juga melakukan uji terbang terhadap pesawat LSU 02. Sistem autonomous pesawat tersebut telah diperbaiki sehingga dapat terbang lurus sesuai dengan koordinat yang ditetapkan. Uji terbang LSU 03 tersebut dihadiri oleh para pejabat struktural eselon I Lapan. 

Sumber : Lapan

PT. PAL Siapkan Kapal Perang Untuk Filipina

MANILA-(IDB) : Tepat pukul 17.00 waktu Filipina Kesepakatan antara PT PAL INDONESIA (Persero) dengan kementerian pertahanan (Department of National Defence) Filipina telah disepakati dalam pembuatan 2 unit Strategic Sealift Vessel (SSV). 

Penunjukkan ini merupakan hasil pemenangan tender PT PAL INDONESIA (Persero) pada proses lelang yang juga diikuti oleh beberapa perusahaan galangan kapal di dunia. 

Setelah melaksanakan uji adminstrasi, teknis dan komersiil oleh panitya lelang pada akhir tahun 2013, maka PAL INDONESIA mendapatkan kepercayaan sebagai pelaksana pekerjaan proyek pembangunan Kapal SSV ini. 

Pada penandatanganan kontrak yang dilakukan di Manila Filipina ini, PT PAL INDONESIA (Persero) dihadiri langsung oleh Direktur Utama M Firmansyah Arifin dan didampingi Direktur Perencanaan & Pengembangan Usaha Eko Prasetyanto, Direktur Keuangan Imam Sulistiyanto, Kadiv Desain Gonot H, Kadiv Treasury Arif Cahyana, Kadiv Bisnis M. Agus Budiyanto dan Staf khusus Bid. Hukum Dirut Bambang Hardiyanto yang dihadiri juga oleh Perwakilan Duta Besar Indonesia Untuk Filipina.
 
Dalam kontrak tersebut pihak Philippine berharap dengan melihat pengalaman PT PAL INDONESIA (Persero) pembangunan ini dapat terlaksana dengan segera dan tanpa halangan. Proyek ini merupakan  proyek prestisus yang merupakan pembuktian PT PAL INDONESIA (Persero) mampu berkompetisi dialam proses tender Internasional. Proyek pertama di awal tahun 2014 ini, sebagai bentuk tanggungjawab yang besar terhadap pertumbuhan PAL INDONESIA menyongsong era yang baru.
 
Pada kesempatan ini, PAL INDONESIA mendapatkan tanggung jawab baru selain tugas dari Kementerian Pertahanan Nasional sebagai Lead Integrator proyek Alutsista. Proyek ini akan menjadi titik penentu PT PAL INDONESIA (Persero) dalam menghasilkan produknya selain STAR-50, yang telah berlayar di Laut Internasiona. 

Dan proyek ini merupakan ekspor pertama kapal perang yang terjadi sepanjang sejarah PAL INDONESIA berdiri. Maka hal ini seharusnya membuat kepercayaan diri Insan PAL INDONESIA untuk terus meningkatkan kompetensinya kembali dalam persaingan industri galangan maritim.
Selain itu, proyek SSV pesanan Filipina ini juga akan menjadi tonggak kebesaran PAL INDONESIA dalam mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. 

Kebesaran ini telah dimulai dengan proses pembangunan beberapa kapal perang pesanan TNI Angkatan Laut, diantaranya kapal Kawal Cepat Rudal (KCR-60), Perusak Kawal Rudal (PKR-105) dan Kapal Selam. Selain dari proyek tersebut PAL INDONESIA juga berpengalaman dalam memproduksi kapal patroli cepat dan inilah yang menjadi cikal bakal kepercayaan user dalam memesan kapal. 

Sementara itu kapal pesanan Filipina ini merupakan peningkatan/upgrade dari kapal jenis pengangkut yang pernah diproduksi oleh PT PAL INDONESIA (Persero) yakni Landing Platform Dock (LPD-125). SSV pesanan Filipina ini memiliki kapasitas panjang kapal 123 meter, lebar 21,8 meter dan berkapasitas 7.000 Ton. Kapal ini mampu menampung 649 orang baik terdiri dari awak kapal, pasukan dan penumpang. Dan kapal ini mampu melaju hingga kecepatan 16 Knots, dengan mesin pendorong 2 X 3.000BHP.

Sumber : BUMN

Fighter SU 35 Game Changer Indonesia

Sukhoi SU 34 Rusia
Sukhoi SU 34 Rusia

JKGR-(IDB) : Salah satu kandidat pengganti pesawat tempur F 5 Tiger Indonesia adalah Sukhoi SU 35. Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dalam beberapa kesempatan, mengatakan tentang ketertarikan TNI terhadap pesawat tempur Su 35.  

Gayung bersambut, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia juga mengatakan,  Sukhoi SU 35 menempati prioritas pertama dari empat kandidat pesawat tempur pengganti F 5 Tiger, yang akan dipensiunkan.

Keberadaan fighter semacam Su-35 sangat penting untuk mengawal Kapal Selam Kilo, Amur yang akan dibeli oleh TNI. Pasalnya, sekalinya kapal selam ini menembakkan missile Klub-S, pesawat pencari kapal selam akan dengan mudah melacak lokasi asal-usul rudal itu ditembakkan. Apalagi, MQ-4C Triton, versi naval dari RQ-4 Global Hawk yang akan dimiliki Australia, sanggup terbang sehari lebih (30 jam). 

Cukup efektif meronda laut. Siapa tahu tiba-tiba muncul Klub-S dari tengah lautan, Triton akan bisa menganalisis asal-usulnya. Triton kemudian melapor ke pesawat MPA (P8 Poseidon, dan lain-lain) dan kapal perang, akhirnya bisa dengan cepat menemukan keberadaan kapal selam dan menghancurkannya.

Ya, lima tahun lagi, kapal selam termasuk Kilo dan Amur, makin rentan terhadap musuh dari langit. Tahun 2020 Australia akan memiliki P8 Poseidon untuk tracking dan menghancurkan kapal selam dari ketinggian yang sangat tinggi. Pesawat MPA yang ada saat ini, kalau mau menghancurkan kapal selam harus turun sampai ketinggian 200-300 meter di atas permukaan laut, baru meluncurkan torpedonya dengan parasut. Pada ketinggian yang sangat rendah ini, kapal selam semacam Kilo masih bisa menyerang pesawat MPA dengan rudalnya, meskipun harus “nyembul” dulu ke permukaan laut untuk menembakkan rudal.

Anti-submarine warfare and anti-surface warfare, Boeing P-8 Poseidon (Photo: photo by Greg L. Davis)
Anti-submarine warfare and anti-surface warfare, Boeing P-8 Poseidon.
Nanti P8 Poseidon tidak perlu turun sampai 300 meter di atas laut untuk menembak kapal selam, tapi bisa menembak dari ketinggian 18,000 meter dari permukaan laut. Gila !!! 

Dengan keunggulan ini, airframe pesawat akan lebih tahan lama, karena tidak mengalami perubahan stress berulang-ulang saat mengubah-ubah ketinggian dan tidak terpapar hawa dekat permukaan laut yang korosif. 

Boeing saat ini sedang mengembangkan sistem JDAM, yang biasanya dipakai pada bom pintar, untuk diaplikasikan pada torpedo. Dengan teknologi ini, dari ketinggian 18,000-an meter P8 Poseidon akan menembakakn torpedo yang dilengkapi kit JDAM sebagai pengarah ke koordinat yang ditentukan. 

Saat ketinggian mencapai 300-an meter dari permukaan laut, kit JDAM dilepas dan torpedo mengembangkan parasutnya. Setelah mencapai laut, parasut dilepas, dan torpedo sacara mandiri akan mengejar kapal selam.

Operasi P-8 Poseidon
Operasi P-8 Poseidon

Torpedo dengan kit JDAM diperkirakan operasional 2020, dan segera akan mengubah model pertempuran anti kapal selam dengan teknologi yang belum pernah diaplikasikan saat ini. Selain dibantu Triton, P8 Poseidon sendiri akan menggunakan teknologi terakhir dalam mencari kapal selam. 

Sonobuoy (jaringan sonar terapung) tetap masih akan dipakai, tetapi tidak lagi menggunakan MAD karena kapasitasnya yang memakan tempat dan lagian MAD akan efektif saat kapal selamnya tidak jauh-jauh dari permukaan laut. 

MAD akan menganalisis perubahan garis-garis medan magnit di suatu tempat, saat ada benda logam (kapal selam). Sebagai ganti MAD, P8 dilengkapi sensor untuk menganalisis kandungan hidrokarbon pada uap air laut yang dihasilkan dari gas buang mesin disel kapal selam.

LongShot kit on MK54 torpedo
LongShot kit on MK54 torpedo

Dengan teknologi-teknologi ini, kapal selam akan semakin rentan menghadapi musuh dari udara. Tugas SU-35 untuk menyingkirkan benda-benda langit semacam ini: Triton, Poseidon, Pesawat MPA, dan lain lain. Fighter Bomber Su-34 lebih mantap lagi, karena selain membawa misil jarak jauh anti pesawat, juga bisa dikombinasi dengan membawa Klub-S atau 1 Yakhont untuk sasaran di laut dan daratan.

Variasi lain adalah jangan melupakan pengadaan kapal selam Type 212 Jerman, yang sekelas Scorpene, Lada, dan lain-lain. Atau sekalian turunan 212 semacam Type 216 yang sudah punya VLS untuk land attack. Kapal selam 212 sudah bisa dilengkapi missile IDAS. IDAS adalah misil anti pesawat pertama di dunia yang bisa ditembakkan dari bawah permukaan laut. IDAS menjadi salah satu ancaman P8 Poseidon karena jangkauannya cukup jauh, 20 km. Tahun lalu Singapore beli 2 KS Jerman turunan 216, masing-masing seharga 800 juta US$. Saya curiga KS ini sudah dilengkapi IDAS.

Northrop Grumman supplies the P-8's electronic warfare self-protection (EWSP) suite, which includes the Terma AN/ALQ-213(V) electronic warfare management system (EWMS), directed infrared countermeasures (DIRCM) set, radar warning system, and BAE Systems countermeasures dispenser. The Northrop Grumman ESM system for the P-8A has been officially designated the AN/ALQ-240(V)1.
Northrop Grumman supplies the P-8′s electronic warfare self-protection (EWSP) suite, which includes the Terma AN/ALQ-213(V) electronic warfare management system (EWMS), directed infrared countermeasures (DIRCM) set, radar warning system, and BAE Systems countermeasures dispenser. The Northrop Grumman ESM system for the P-8A has been officially designated the AN/ALQ-240(V)1.
Teknologi perang anti kapal selam model baru ini, saat ini memang masih baru, belum mature, termasuk torpedo ber-JDAM nya. Kita tunggu di 2020 nanti. Apapun P8 yangg dibeli Australia nanti, juga bisa di-upgrade dengan teknologi terakhir yang proven. Yang perlu diantisipasi TNI adalah pandai memilih alutsista yang juga bisa untuk menghadapi model perang 2020-up. Misalnya jangan hanya terkancing dengan kapal selam Kilo yang tidak punya AIP.

Tanda tanda jaman mengarah ke teknologi yang sedang dikembangkan di P8 Poseidon. Hal ini mirip dengan perkembangan pesawat stealth, yang diawali F-117, dan kemudian muncul model perang antar fighter gaya baru yang “curang dan tidak adil” yang dipelopori F-22 Raptor. Dan seluruh dunia kini mengarah ke model perang ini.

Sumber : JKGR
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner