Select Language

Kamis, 31 Oktober 2013

Obama Berjanji Tentara AS Dapat Gaji Tepat Waktu

http://assets.kompas.com/data/photo/2013/10/01/1228492Presiden-Barack-Obama-Pidato780x390.jpg
Washington ( MilNas ) - Presiden AS Barack Obama, Selasa (1/10/2013) dini hari waktu AS, lewat sebuah pesan video mengimbau pasukan AS yang sedang bertugas untuk tidak khawatir karena mereka tetap akan menerima gaji tepat waktu. "Sayang sekali, kongres tidak menjalankan tanggung jawabnya, karena gagal mencairkan anggaran," kata Obama dalam pesan yang disiarkan dalam jaringan Penyiaran Angkatan Bersenjata.

Pernyataan Obama ini disampaikan terkait dengan penghentian operasional pemerintah federal AS setelah Kongres tidak mencairkan anggaran hingga batas waktu yang ditentukan. "Bagi Anda yang bekerja dalam kondisi yang berbahaya, kami akan memastikan bahwa Anda mendapatkan semua yang Anda butuhkan untuk menjalankan misi," lanjut Obama.

Meski demikian, Obama mengingatkan, agar pasukan AS yang tengah bertugas saat ini bersiap untuk berbagai kondisi darurat. "Ancaman terhadap negara kita belum berubah, maka Anda harus siap untuk segala kemungkinan," tambah Obama. Meski menjanjikan gaji tepat waktu untuk para prajurit, Obama mengingatkan, sebagian  kontraktor sipil untuk saat ini harus rela bekerja tanpa dibayar.

"Saya memahami beberapa hari ke depan berarti ketidakpastian, termasuk kemungkinan dirumahkan," ujar Obama. "Anda dan keluarga Anda layak mendapatkan yang lebih baik ketimbang disfungsi yang kita lihat di Kongres," tambah Obama. Di penghujung pesannya, Obama berjanji akan bekerja keras agar pemerintah bisa bekerja kembali sesegera mungkin.

Berita Foto : Wamenhan Tinjau Kesiapan Tank Leopard Dan Marder


JAKARTA-( MilNas ) : Wakil Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, Senin (30/9) meninjau dua Unit Kendaraan Tempur Tank Leopard 2A4 dan dua 2 Unit Tank Marder 1A3, hasil produksi Jerman yang datang di Gudang Pusat Kendaraan (Gupusran) Direktorat Peralatan TNI AD, Cakung, Jakarta Timur. 

Turut mendampingi Wamenhan, Kabadan Ranahan Kemhan, Laksda TNI Ir. Rachmad Lubis Direktur Hankam Bapennas, Rizky, dan Dirpalad TNI AD Cakung, Brigjen TNI I Wayan. 

Sumber : DMC

Kapal Selam Lada Di Design Untuk Bertahan Dan Menang

Amur 1650

MOSCOW-( MilNas ) : Kapal selam diesel-listrik kelas Lada dirancang oleh Rusia untuk menghadapi kapal selam dan kapal permukaan, mempertahankan jalur dan pangkalan angkatan laut, serta untuk misi pengintaian.

Yury Dolgoruky, kapal selam pertama dari kelas Borey saat ini sudah dioperasikan Angkatan Laut Rusia, dan kapal-kapal selam dari kelas yang sama yaitu Alexander Nevsky dan Vladimir Monomakh dijadwalkan akan dikirimkan pada akhir tahun depan. Ketiga kapal selam tersebut bertenaga nuklir, mengapa Rusia masih membutuhkan kapal selam non-nuklir seperti kapal selam kelas Lada?

Dalam kerangka program persenjataan Rusia, ada rencana untuk membangun dua puluh kapal selam diesel-listrik pada tahun 2020. Empat belas diantaranya adalah modifikasi dari kapal selam kelas Lada sebelumnya dan sisanya merupakan proyek kapal selam diesel-listrik baru.

Lada terbaru adalah Lada generasi keempat yang dikembangkan oleh Biro Desain Rubin Rusia. Ini menjadi wujud pengalaman panjang yang diperoleh selama pengembangan dan perbaikan kapal selam Lada generasi kedua dan ketiga, yang notabene sudah menjadi kapal selam best-seller di pasar persenjataan laut global.

Desain dan kemampuan kapal selam non nuklir (diesel-listrik) menjadikannya baik untuk dioperasikan di perairan pantai dan lepas pantai Rusia, termasuk kawasan Baltik dan Laut Hitam. Kapal selam Lada tidak hanya mampu untuk mempertahankan pangkalan-pangkalan dan pantai, namun juga untuk mencari dan menghancurkan kapal selam dan kapal permukaan musuh.
Proyek kapal selam Lada pertama diluncurkan pada 1980-an. Proyek teknis pertama disetujui pada 1993, dan upgrade signifikan terjadi pada tahun 1997
Negara-negara asing sudah menunjukkan minat tingginya pada kapal selam hasil rancangan Rubin ini. Terutama saat pemeran LIMA 2013 di Malaysia, dimana disini banyak perwakilan negara-negara dari kawasan Asia Pasifik. Pada tahun 2030, wilayah ini (Asia pasifik) diperkirakan akan menjadi pasar lebih dari setengah kapal-kapal selam non-nuklir di dunia. Ini utamanya disebabkan oleh fakta bahwa kapal selam kelas Lada atau disebut juga Amur (versi ekspor) memiliki keunggulan signifikan atas kapal-kapal selam dari Eropa - mampu menyerang dengan rudal secara voli. Rudal dan torpedo otomatis dengan kekuatan mencolok telah diaplikasikan pada Lada, ini belum pernah ada untuk kapal selam yang berbobot sejenis.

Kapal selam lada adalah kapal selam single-hulled, dengan bobot minim menjadikan tingkat kebisingan terminimalisir sekaligus meningkatkan kekuatan propulsinya. Kelas ini menjadi penggunaan yang pertama kali Rusia sejak tahun 1940 untuk desain mono-hull.

Menurut kepala desainer Lada, Igor Molchanov, desain Lada ini telah mengurangi bobotnya, lebih sedikit membutuhkan bahan baku logam, biaya konstruksi rendah, namun kinerja akustiknya ditingkatkan dan membuatnya menjadi silent.

Molchanov mengatakan kapal selam Lada generasi keempat ini memiliki sejumlah perbedaan mendasar dari kapal selam Lada generasi ketiga. Lada yang baru atau Amur (versi ekspor) dilengkapi dengan rudal dan torpedo yang kuat. Sementara rudal jelajah untuk versi Lada sebelumnya hanya dapat ditembakkan dari dua tabung, maka rudal jelajah pada Lada generasi keempat dapat ditembakkan dari semua tabung (6 tabung). Selain itu Lada terbaru memiliki tingkat kebisingan intrinsik yang rendah. Akhirnya, dibandingkan dengan kelas Lada sebelumnya, Lada terbaru memiliki daya jelajah yang lebih jauh dan setidaknya memiliki umur pakai minimal 25 tahun.

Lada juga dilengkapi dengan Lira, sebuah perangkat sonar canggih dengan sistem antena, yang mana di area permukaan bisa disamakan dengan sonar yang digunakan kapal selam nuklir. Fungsi vital kapal selam ini dijalankan oleh sistem otomatis yang komperehensif guna mengendalikan peralatan teknis serta semua fungsi yang terkait dengan persenjataan.

Kapal selam kelas Lada juga berpotensi besar untuk bisa terus dikembangkan, khususnya untuk perangkat elektroniknya. Proyek ini sendiri berpeluang besar untuk mengupgrade sistem elektroniknya. Selain itu Biro Desain Rubin memenuhi keinginan pelanggan untuk membuat kapal selam atau fitur kapal selam yang mereka inginkan.


Kapal Selam Amur 1650 (Lada next generation)
ProdusenBiro Desain Rubin
HargaUS$ 100 juta ? (Wikipedia)
Panjang
66,8 m
Lebar
7,1 m
Bobot1.765 ton?
Kecepatan20 knot
Daya selam
300 m
Jangkauan
7.000 km (pada kecepatan 10 knot)
Daya tahan di laut
45 hari
Kru35
Persenjataan
  • 6 tabung 533 mm
  • 18 torp
  • 10 silo vertikal untuk rudal BrahMos

Sumber : Artileri

Hibah Kapal Selam Rusia, Bungkus Nggak Ya...????

MOSCOW-( MilNas ) : Sebelumnya Indonesia menerima tawaran 10 kapal selam dari Rusia. Belum jelas kapal selam dari kelas apa dan buatan tahun berapa yang ditawarkan Rusia itu. Untuk menindaklanjuti, pihak Kemenhan sudah mengirimkan tim ke Rusia guna menjajaki tawaran Rusia ini, sekaligus melihat langsung kondisi kapal selam di tempatnya bersandar.

Menurut Tempo, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda Rachmad Lubis mengatakan bahwa kedua negara belum mencapai kesepakatan soal tawaran (disebut-sebut sebagai hibah) ini dan masih mengkaji langkah-langkah selanjutnya. Soal spesifikasi kapal-kapal selam tersebut, Rachmad juga belum mengungkapkannya.

  
Belum ada kesepakatan dengan tawaran Rusia ini. Dua hal penyebabnya, yaitu mungkin Indonesia belum bisa memenuhi apa yang diinginkan Rusia atau pihak Kemenhan sendiri-lah yang masih menimbang kemampuan kapal selam tersebut, biaya perawatan, perbaikan, dan kesiapan infrastruktur. 

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Marsetio menegaskan bahwa kapal selam yang akan dibeli harus sesuai dengan kondisi perairan Indonesia, seperti kondisi geografis dan apakah kapal selam tersebut cocok di samudera atau di archipelago. "Idealnya kapal selam kita memiliki kekhususan dan kekhasan dengan melihat kedalaman dan kontur laut," ujar Marsetio beberapa waktu lalu.

Kelas Kilo

Kalau melihat list kapal selam Rusia yang masih aktif saat ini, kapal selam konvensial (non nuklir) tertua mereka adalah kapal selam kelas Kilo dari Project 877. Kapal-kapal selam dari kelas ini masuk ke layanan pada tahun 1980 -kapal selam pertama tidak aktif lagi, dan kapal selam kedua (1981) masih aktif- dan yang terakhir masuk ke layanan pada 1994.

Ada juga proyek pengembangan selanjutnya dari kelas Kilo yaitu Project 877 EKM, Project 877LPMB dan project 877V, semua kapal selam kelas tersebut juga masuk layanan antara tahun 1980-1990an, namun jumlah yang dibangun tidak sebanyak kapal selam Kilo dari Project 877 (khusus Rusia, dibangun sekitar 20 lebih dan masih aktif sekitar 14 unit). Total, seluruh kapal selam kelas Kilo dari semua Project adalah 57 unit dan masih aktif 47 unit dengan pengguna yaitu Rusia sendiri dan beberapa negara lain yaitu China, India, Iran, Polandia, Rumania, Aljazair dan terakhir tetangga kita Vietnam.
 

Jika melihat dari kuantitas kapal selam yang ditawarkan Rusia, tampaknya memang dari kelas Kilo atau bakal didominasi dari kelas Kilo Project 877 karena beberapa kapal selam dari Project 877 
tok juga sudah ada yang tidak aktif lagi. Atau tidak menutup kemungkinan bahwa yang ditawarkan adalah kapal-kapal selam yang masih aktif, karena Rusia sendiri sudah berencana membangun 20 kapal selam konvensional (kelas Lada) hingga 2020.

Sumber : Artileri

Show Of Force Rudal Jarak Jauh Korea Selatan

Rudal Hyunmu-3

SEOUL-( MilNas ) : Korea Selatan menampilkan rudal jarak jauh Hyunmu-3 dalam sebuah upacara militer besar ulang tahun Angkatan Darat di bandara militer selatan Seoul, 1 Oktober 2013. Rudal Hyunmu-3 merupakan rudal dengan jangkauan terjauh milik Korea Selatan, dan dapat menghantam seluruh kawasan Korea Utara.

Gelar kekuatan ini juga menampilkan berbagai alutsista lain untuk menunjukkan kepada Pyongyang bahwa provokasi apapun akan diganjar dengan balasan yang kuat. Itu merupakan upacara terbesar Angkatan Bersenjata Korea Selatan dalam satu dekade terakhir, dan menjadi upacara pertama sejak Korea Utara melakukan uji coba atom ketiga (underground) yang menimbulkan ancaman perang nuklir di awal tahun tadi.

Sekitar 11.000 tentara, 190 alutsista, 120 pesawat dan peralatan lainnya ditampilkan saat upacara. Yang paling mencolok tentu saja rudal jelajah jarak jauh Hyunmu-3 yang memiliki jangkauan 1.000 kilometer dan dikembangkan oleh Korea Selatan sejak beberapa tahun terakhir. Menurut Departemen Pertahanan Korea Selatan, ini adalah pertama kalinya rudal Hyunmu-3 ditampilkan dihadapan publik.

Presiden Korsel, Park Geun-hye, yang hadir dalam upacara tersebut mengatakan bahwa Korea Selatan harus mempertahankan aliansi yang kuat dengan AS dan membangun pertahanan rudal dan kemampuan serangan 
pre-emptive agar Korea Utara tahu bahwa obsesinya dengan rudal dan senjata nuklir tidak berguna.

"Kita harus membangun (sistem) pencegahan yang kuat terhadap Korea Utara sebelum program senjata nuklirnya matang dan menghadirkan perdamaian di Semenanjung Korea," katanya saat upacara. Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel juga hadir dalam upacara tersebut.
 

Rudal Hyunmu-3 menggunakan mesin turbofan dan tidak jauh berbeda dengan rudal jelajah dari jenis lain. Sistem bimbingannya (pandu) terdiri dari Sistem Bimbingan Inertial dan Global Positioning System (GPS). Muatan maksimum hulu ledak rudal Hyunmu-3 adalah 500 kilogram bahan peledak konvensional (non-nuklir).
 

Alutsista baru lainya yang juga ditampilkan saat upacara adalah rudal Hyunmu-2 yang memiliki jangkauan 300 kilometer dan rudal Spike buatan Israel yang ditujukan untuk menetralkan kekuatan artileri pantai Korea Utara.
Sumber : Artileri

Analisis : Membangun TNI AU Dan Pertahanan Udara Yang Disegani

Pesawat Tempur SU-35BM (photo: SUkhoi)
Pesawat Tempur SU-35BM (photo: SUkhoi)
Target TNI di Minimum Essential Force (MEF) I untuk mengantisipasi konflik/sengketa wilayah dengan negara tetangga di utara, seperti Kasus Ambalat, bisa dikatakan berhasil. Berhasil dalam artian mengumpulkan senjata yang mematikan dan memiliki daya gentar yang tinggi. Untuk pertempuran di garis perbatasan maupun pertempuran anti-gerilya, keberadaan Apache AH-64E Guardian, Mi-35, MBT Leopard, serta pesawat tempur Super Tucano, akan menjadi mimpi buruk bagi lawan.
Akan tetapi Apache AH-64E Guardian, Mi-35, MBT Leopard 2A4 serta Super Tucano menjadi tidak berarti, ketika ada negara lain yang melakukan serangan dengan pesawat tempur dan bomber. Keempat Alutsista itu tidak berdaya, ketika ada skadron pesawat musuh melakukan serangan kilat dan membom obyek vital di Indonesia.
Australia sempat berpikir untuk membom Jakarta dengan F-111 Aadvark, ketika pasukan Untaet yang hendak mendarat di Timor Timur pasca jejak pendapat 1999, hendak dihalangi militer Indonesia. Jika serangan itu terjadi, bombardir yang mereka lakukan terhadap obyek vital, besar kemungkinan akan mendapatkan hasil, meski beberapa fighter atau bomber mereka berhasil dirontokkan fighter Indonesia.
Dalam program MEF I, TNI terus menambah radar untuk dapat memonitor seluruh wilayah udara Indonesia. Namun apalah artinya radar, jika tidak bisa menembak.
Indonesia terlalu luas untuk sekedar memiliki satu skuadron heavy fighter SU-27/30. Apalagi pesawat-pesawat tempur negara di sekitar Indonesia akan terus semakin canggih. Australia dan Singapura sebentar lagi akan memiliki F-35. Malaysia sedang mempertimbangkan untuk membeli F/A 18 E/F Advance. Singapura juga memiliki F-15 Silent Eagle. Belum lagi pesawat-pesawat tempur stealth China seperti Chengdu J-20.
F-35 Joint Strike Fighter
F-35 Joint Strike Fighter
Mungkin kita masih ingat ketika F-16 Indonesia menyergap F/A-18 Hornet  USAF di wilayah Bawean. Namun F-16 Indonesia tidak bisa berbuat banyak, kerena pesawat lawan memberikan gertakan yang lebih kuat. Kehadiran 24 pesawat F-16 block 25 eks US Air Guard, tidak cukup signifikan untuk meningkatkan kemampuan Angkatan Udara Indoesia. AS sendiri hanya menggunakan F-16 block 25 sebagai armada perang lapis kedua. Pasukan pemukul udara AS untuk fighter jenis F-16 berkualifikasi Block 40/42 ke atas.
F/A-18 Hornet USAF (photo: USAF)
F/A-18 Hornet USAF (photo: USAF)
Coba bayangkan akan seperti apa bila F-16 block 25 Indonesia berhadapan dengan F-35 Australia dan Singapura ?. Yang ada pesawat tersebut akan balik kanan, kembali ke markas. Lain halnya jika Indonesia telah memiliki sistem pertahanan anti-udara jarak jauh – menengah seperti S-300 family. Tidak akan mudah bagi pasukan asing untuk menerobos wilayah Indonesia dan F-16 bisa menutup lubang yang masih ditinggalkan S-300.
Praktis sekarang Indonesia hanya memiliki 1 skadron pesawat heavy fighter SU 27/30 untuk mengkover wilayah Indonesia yang demikian luas. Tentu hal itu tidak mencukupi.
Jangan pernah berpikir tidak akan ada perang, karena jika perang itu benar-benar datang, maka porak porandalah kita, karena salah mengambil asumsi. Inggris tidak pernah berpikir akan berperang dengan Argentina yang merupakan sahabat perdagangan mereka. Namun faktanya, perang itu mendatangi Inggris. Begitu pula dengan kasus ancaman Australia maupun provikasi yang dilakukan Malaysia di Ambalat. Sebelumnya, kita tidak pernah berpikir hal itu akan dilakukan tetangga kita.
Kabar gembira muncul dari Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kamis 26 September 2013, bertempat di Surabaya. Panglima TNI tertarik untuk membeli SU 35, untuk memperkuat Skadron SU-27/30 yang dimiliki Indonesia saat ini.
“Syukur kali ini pesawat tempur Sukhoi sudah satu skuadron. Diharapkan akan ada lagi pembelian jenis SU-35 karena lebih canggih. Semoga perekonomian bisa semakin membaik, sehingga negara bisa membeli alutsista sebagai penguatan NKRI,” kata Moeldoko (republika.co.id/ 26/09/2013).
Jika Sukhoi Su-35 jadi dibeli pada MEF II (2015-2019), kekuatan angkatan udara Indonesia, cukup gagah untuk meladeni pesawat tempur asing yang mencoba menyerang Indonesia.
Untuk mendapatkan air superiority, Indonesia membutuhkan setidaknya tambahan 3 skuadron Sukhoi, yang tentunya keberadaannya lebih powerfull dibandingkan Helikopter Apache maupun MBT Leopard. Sukhoi akan dapat bergerak cepat untuk menutup celah yang ada di udara Indonesia ataupun untuk mengusir pesawat yang menyusup.
Pesawat Tempur SU-35BM
Pesawat Tempur SU-35BM
Jika radar Indonesia mendeteksi adanya serangan musuh, Indonesia tidak bisa menembaknya dengan Apache AH-64E ataupun MBT Leopard, melainkan dengan sistem pertahanan anti-udara atau pesawat tempur. Apache dan Leopard hanya dibutuhkan Indonesia ketika musuh telah mendarat ke tanah Indonesia. Hal itu hanya bisa terjadi jika air superiority dan sistem pertahanan udara Indonesia, telah dilumpuhkan musuh.
Pasukan multinasional yang dipimpin AS, hanya melakukan serangan darat ke Irak, setelah air superiority dan sistem pertahanan anti serangan udara dilumpuhkan terlebih dahulu. Sementara dalam kasus peperangan di Serbia, AS tidak berani melakukan serangan udara/ bombardir, karena satelit mata-matanya menangkap ada beberapa baterai S-300 yang digelar oleh Serbia. Padahal usai perang diketahui sebagian besar baterai itu hanyalah dummy alias palsu.
Pada MEF II, TNI harus bisa membuat Angkatan Udara berada pada level pasukan yang disegani lawan (having a respectable Air Force), yang bertujuan untuk membuat pihak asing berpikir puluhan kali jika hendak menganggu wilayah Indonesia.
Meskipun Indonesia merasa yakin tidak ada musuh potensial saat ini, namun mengamankan wilayah udara adalah sangat penting, karena dari situlah wibawa negeri Indonesia ditegakkan. Rudal pertahanan udara, UAV serta pesawat tempur modern dibutuhkan Indonesia, walau jumlahnya masih sedikit. Efek deteren itu antara lain dimunculkan oleh adanya pesawat tempur yang modern/ up to date, bukan pesawat lawas. Sudah waktunya Indonesia merogoh sakunya di MEF II, untuk kebutuhan tersebut.
Kegunaan S-300
Jika Indonesia memiliki sistem pertahanan udara S-300, maka alutsista ini akan secara efektif menghentikan kemampuan ofensif dari musuh dan tidak memberikan mereka air superiority.
S-300 digabungkan dengan sistem anti-udara jarak pendek (meski sudah tua), akan memberikan perlindungan sangat kuat. S-300 tidak akan efektif untuk menangkal pesawat tempur atau rudal yang sudah terlalu dekat,  serta terbang rendah di bawah 25 meter menelusuri relief bumi. Pesawat tempur atau rudal yang lolos ini, akan ditangani dengan baik oleh rudal/senjata anti udara jarak pendek, seperti gabungan starstreak dan Oerlikon Skyshield atau jenis lainnya, seperti Pantsir.
Gabungan S-300 dengan Pantsir atau rudal anti-udara jenis lainnya, akan menjadi duet maut, sangat sulit untuk ditembus. Untuk tidak tidak heran negeri yang memiliki ancaman militer tinggi, seperti Iran dan Suriah, mati-matian untuk mendapatkan S-300 family.
Jenis Rudal Anti-Udara S-300
S-300P (1978) – 5V55K missile, 47 km range.
S-300PS (1983) – 5V55R missile, 75 km range.
S-300PMU1 (1993) – 4N6E missile, 150 km range.
S-300PMU2 (1997) – 4N6E2 missile, 200 km range.
S-400 modifikasi dari S-300PMU2.
Sitem pertahanan anti-udara S-300
Sitem pertahanan anti-udara S-300
Tiga varian S-300 yakni: S-300V, S-300P dan S-300F:
S-300V. Kode V yang berarti Voyska ditujukan untuk pasukan darat. Perlindungan udara untuk pasukan darat ini meliputi:  anti rudal balistik, anti rudal jelajah serta pesawat tempur.  S-300V diangkut oleh MT-T transporters (tracked) dengan amunisi rudal 9M83 “GLADIATOR” berdaya jangkau maksimum 75 km. Sementara 9M82 “GIANT” (SA-12B Giant) dapat mencapai target hingga 100 km dan mampu menyasar pesawat/rudal di ketinggian (altitude) 32 km (100,000 ft).  S-300V lebih ditujukan untuk menangkis serangan Anti-Ballistic Missile.
Sistem Pertahanan Anti Udara S-300V/  SA-12b GIANT/ SA-12a GLADIATOR
Sistem Pertahanan Anti Udara S-300V / SA-12b GIANT/ SA-12a GLADIATOR
Sementara S-300P merupakan versi orsinil dari sistem pertahanan udara S-300. Huruf P berarti PVO-Strany (Sistem pertahanann udara negara). Awalnya S-300P kesulitan untuk menjejak target di bawah 500 meter dari permukaan tanah. Namun Rusia terus mengembangkan sistem Track Via Missile-nya (TVM) sehingga kini mampu menjejak target di ketingian 25 meter.
S-300PT-1 dan S-300PT-1A (SA-10b/c) merupakan versi import maupun kebutuhan dalam negeri Rusia, hasil pengembangan dari sistem S300PT. Sistem rudal ini menggunakan rudal 5V55KD dengan jangkauan 75 km. Pada tahun 1985 diperkenalkan S-300PS/S-300PM dengan rudal baru 5V55SR dengan jangkauan 90km dan dilengkapi dengan terminal pemandu semi-active radar homing (SARH).
Tahun 1992 diperkenalkan S-300PMU untuk versi eksport dengan feature upgrade rudal 5V55U yang bisa menjejak obyek yang lebih kecil serta memiliki jangkauan hinga 150km.
Jenis peluncur maupunjenis rudal terus berkembang. Ukuran dan hulu ledak yang lebih kecil namun memilki janghkauan yang lebih jauh. S-300PMU-2 misalnya dengan mengusung rudal rudal 48N6E2 mampu menggasak sasaran hingga jarak 195km. Sementara rudal 9M96E2 mampu menggasak sasaran yang sangat dekat hingga jauh, yakni dari jarak 1 hingga 120 km.
Varian S-300PMU
Varian S-300PMU
Adapun S-300F yang berarti Flot (fleet) diperkenalkan tahun 1984 untuk pertahanan anti-udara kapal perang yang mengacu pada Sistem S-300P. Dilengkapi rudal baru 5V55RM, jangkauan sistem S-300F bertambah menjadi 7-90 km dengan kecepatan 4 mach dan mampu menghajar target di ketinggian 25 -25.000 meter (100-82,000 ft). S-300FM adalah versi yang lebih baru dan diperkenalkan pada tahun 1990. Kecepatan rudal meningkat pesat menjadi 6 hingga 8,5 Mach dengan hulu ledak 150 kg dan mampu menyasar target 5–150 km (3–93 mi) di altitude 10m-27 km (33–88500 ft). Setelah dilengkapi dengan ultimate track-via-missile guidance method, rudal ini dapat menyergap short-range ballistic missiles.
Sistem Pertahanan Udara S-300F
Sistem Pertahanan Udara S-300F
Katakanlah anda memiliki dua Pangkalan Udara yang satu dilindungi oleh S-300 dan satu lagi dilindungi AAA Gun. Kerusakan keduanya memiliki nilai militer yang sama. Kira-kira Pangkalan Udara mana yang akan dipilih musuh untuk dihancurkan ?. Tentunya yang dilengkapi pertahanan udara AAA Gun. Semua militer akan mencari target yang lebih mudah. Jika S-300 harus diserang oleh musuh, tentu ada berbagai cara yang mereka lakukan.
S-300 bisa dilumpuhkan, namun membutuhkan usaha yang besar. Membutuhkan kordinasi yang tinggi, teknologi jamming- decoy, taktik dan skill. Sistem pertahanan S-300 memiliki keterbatasan persediaan rudal yang akan ditembakkan. Ketika persediaan itu sudah habis dilepas, tentu akan mudah bagi musuh untuk menghancurkannya.
Satu contoh yang bagus, NATO pada tahun 2011 mengujicoba SEAD fighter mereka (Supression of Enemy Air Defenses) dengan Early Warning Aircraft terhadap sebuah sistem pertahanan udara S-300 Slovakia. Usai ujicoba hanya pesawat Rafale yang mampu keluar dari latihan itu tanpa tertembak. Pesawat lain rontok disikat S-300. Untuk itulah mengapa NATO dan Israel sangat resah dengan Suriah yang diduga telah diperkuat oleh Rusia dengan S-300. Rusia terus memodernisasi sistem pertahanan udara Suriah.
Missile S-300PMU-2 merupakan tantangan berat bagi seluruh pesawat tempur generasi 4 atau 4++ dalam jarak 150 km. Kecepatan dari rudal 48N6E2 S-300PMU-2 sekitar 3 km/ detik atau 6 hingga 8 kecepatan suara/ Mach. Bayangkan saja anda seorang pilot F-16 yang terbang dengan kecepatan 1,8 Mach dihampiri oleh rudal kecepatan 6 Mach.
Katakanlah negara kita memiliki dua baterai S-300PMU-2 dengan rudal 48N62E yang setiap baterainya dilengkapi 8 hingga 12 launcher S-300PMU-2. Masing-masing unit S-300PMU-2 dilengkapi 4 rudal siap tembak. Artinya ada 16 hingga 24 S-300PMU-2  dikalikan (x) 4 rudal, yakni 64 hingga 96 rudal ditembakkan dalam waktu 10 menit. Harga 64 hingga 94 pesawat tempur itu sekitar 10 hingga 20 miliar dollar. Kira-kira bagaimana perasaan atau nyali pihak asing yang hendak mencoba-coba atau mengganggu wilayah udara Indonesia?. Pada MEF II, kita membutuhkan a respectable Air Force. (JKGR).

KASAL : Kapal Selam Hibah Dari Kelas Kilo Dengan Kemampuan Rudal

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Marsetio (photo:sindotrijaya.com)

JAKARTA-( MilNas ) : Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Marsetio mengatakan pemerintah belum menentukan sikap atas tawaran hibah sejumlah kapal selam dari Rusia. 

Pernyataan ini disampaikan KASAL usai melakukan kunjungan ke Rusia bersama Kementerian Pertahanan, untuk pembicaraan awal tentang tawaran hibah tersebut.
 
Laksamana Marsetio mengatakan, selain membicarakan urusan hibah, perwakilan Indonesia juga melihat kondisi dan kemampuan kapal selam Rusia. “Yang ditawarkan kapal selam Kilo Class,” ujar Marsetio di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2013.

Marsetio menyebut kapal selam Kilo Class Rusia mempunyai kemampuan bagus dan kapal selam produksi 1990-2000-an itu tergolong canggih.
 
Kapal selam kilo yang ditawarkan Rusia mampu menembakkan rudal dari dalam laut ke permukaan. Rudal yang diluncurkan pun punya jangkauan jauh, yakni 300 kilometer. “Indonesia belum punya kapal selam seperti itu,” ujar Laksamana Marsetio.

Rudal Klub S yang ditembabakn dari Kapal Selam Rusia
Rudal Klub S yang ditembabakn dari Kapal Selam Rusia
Saat ditanya kemungkinan sikap Indonesia dan Rusia, Marsetio mengaku tak tahu. Menurut dia, kedua negara belum ada kesepakatan untuk hibah itu. Marsetio memilih bungkam saat ditanya soal kendala yang dihadapi. 

 Begitu pula soal berapa dana yang diperlukan Indonesia untuk hibah ini. “Itu pembicaraan tingkat Menteri Pertahanan. Soal jumlah (kapal selam yang akan dihibahkan) belum ada kesepakatan juga,” ujar dia.

Rudal 3M-14E berdaya jangkau  290 km dengan hulu ledak 400 kg yang diinstal di kapal selam Kilo pesanan Vietnam
Rudal 3M-14E berdaya jangkau 290 km dengan hulu ledak 400 kg yang diinstal di kapal selam Kilo pesanan Vietnam
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan pemerintah Rusia menawarkan 10 unit kapal selam kepada Indonesia. Meski demikian, Menteri Pertahanan juga belum menyebut titik terang dalam tawaran hibah ini. 

Menyambut pernyataan Menteri Pertahanan tersebut, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengatakan, tawaran 10 unit kapal selam dari Pemerintah Rusia kepada Pemerintah Indonesia, merupakan hal menarik dan tawaran itu perlu dikaji lebih lanjut.

Sumber : JKGR

China Menjadi Tantangan Utama Kekuatan Udara AS

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi142eV11KkdqJ4CzjrOnPST77FPbP4uGvG_YdqRP5y10U-EMyjjJbvV8F9IbMeABRLPZeVBKBxiQ1i8LUvbh0RxtWlEKQecidNbMK-p-v1l4sO6Kd_0E4xF5bSofclOZbE68spswecEy8/s1600/armada-kapal-selam-china.jpg

Beijing ( MilNas ) - Sebagaimana China telah meningkatkan teknologi dan peralatan militernya, Komando Pasifik Angkatan Udara AS (PACAF) harus meresponnya, bahkan meskipun bukan karena China, Komandan PACAF mengatakan pada Rabu, 18 September lalu. "Mungkin kita belum berhadapan dengan China, namun kita akan berhadapan dengan barang-barang (alutsista yang) mereka (jual pada negara lain)," kata Jenderal Herbert Carlisle saat presentasi di konferensi tahunan Asosiasi Angkatan Udara AS di National Harbor, Maryland, AS.

Carlisle, yang sudah lebih satu tahun mengambil alih tampuk komando "teater" Pasifik, mengatakan "bahwa musuh dan musuh potensial telah melihat apa yang bisa dilakukan Angkatan Udara AS dan mereka bertujuan untuk mencegah agar kita menjauh sejauh yang mereka bisa." Tidak hanya Carlisle yang memunculkan momok bahwa China akan menjadi tantangan utama AS.

Sehari sebelumnya, Jenderal Mike Hostage, Komandan Komando Tempur Udara, mengatakan kepada wartawan bahwa lima tahun kedepan China akan mengoperasikan pesawat tempur generasi kelimanya. Ini akan menjadi tantangan berat kekuatan udara Amerika di wilayah tersebut (Pasifik), kecuali jika AS bisa segera mengoperasikan F-35 Lightning II sesuai jadwal.

Angkatan Udara AS sendiri direncanakan akan memiliki 1.763 pesawat tempur F-35 -pemotongan anggaran pertahanan telah mengurangi jumlah ini. Akibat krisis ekonomi pada tahun 2008, program pesawat ini sempat tersendat-sendat dan tidak hanya itu, banyak program Departemen Pertahanan AS lainnya juga terhambat pembangunannya. "Jika kita terus memperlambatnya, kita tidak akan pernah memiliki 1.763 (F-35), sangat penting bagi kita untuk mencapai angka tersbeut," ujar Hostage.

Tahun lalu, PACAF sudah menyatakan kebutuhannya akan F-35, menekankan pada rencana strategis tahunan yang memang teater Pasifik menjadi prioritas utama. "Ancaman-ancaman baru sudah ada disini sekarang," ujar Hostage. Penekanan militer AS ke wilayah Pasifik merupakan respon terhadap strategi keamanan nasional AS

Di hari yang sama, Carlisle juga menyebut China sebagai "the pacing threat" karena memang China-lah yang paling menonjol kemampuannya di wilayah Pasifik. Dia juga mencatat bahwa Rusia terus mengembangkan berbagai alutsistanya canggih dan mengekspornya ke negara-negara lain. "Persenjataan-persenjataan canggih ini bisa berada di seluruh dunia hanya karena mereka bisa membelinya," Carlisle.

Mereka menggunakan sistem serang elektronik yang dapat beroperasi dalam spektrum yang dapat mendatangkan malapetaka pada GPS dan sistem radar AS, kata Carlisle. Musuh potensial yang ingin menjaga jarak dengan AS terlihat akan melakukannya dengan rudal permukaan ke udara, dan rudal anti kapal dan darat canggih.

"Integrasi kekuatan udara dan pertahanan rudal musuh akan menjadi salah satu tantangan terbesar," kata Carlisle. AS butuh kemampuan yang lebih baik dalam menyerang, butuh pertahanan aktif-termasuk rudal Patriot, rudal THAAD dan butuh kemampuan pertahanan pasif seperti aset dan penyaluran bahan bakar yang baik, kamuflase dan kemapanan kontrol dan komando.
Penekanan militer AS ke wilayah Pasifik -dijuluki Pacific Pivot- merupakan respon terhadap strategi keamanan nasional AS yang memerlukan kehadirannya yang lebih kuat di wilayah lain.

"Pemerintahan (AS) mengatakan bahwa kita harus memfokuskan dan menyeimbangkan kembali wilayah Asia Pasifik karena ini memang penting, katanya. Tiga puluh enam negara dan 55 persen dari produk domestik bruto dunia berada di dikawasan ini, dan jelas keamanan dan stabilitas kawasan Asia Pasifik menjadi kunci yang bukan untuk negara kita saja, namun juga untuk banyak negara di dunia," Carlisle mengungkapkan
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner