Select Language

Rabu, 28 Agustus 2013

TAWARAN YANG MENDEBARKAN

Kapal selam jenis Amur buatan Rusia

Tepat di perayaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 2013, Menhan Purnomo Yusgiantoro menghentak publik tanah air khususnya seluruh komunitas forum militer di negeri ini dengan mengumumkan adanya penawaran 10 kapal selam bekas Rusia kepada Indonesia. Inilah tawaran paling spektakuler dari perjalanan perkuatan alutsista TNI sejak tahun 2010 karena yang ditawarkan adalah alutsista bawah air yang paling ditakuti dan memiliki efek gentar yang luar biasa. 
 
Indonesia merasa sangat perlu untuk menambah kuantitas kapal perang pemukul bawah air. Selama ini kepemilikan alutsista strategis itu kita hanya punya 2 biji dari Cakra Class, setidaknya itu yang terpublikasi. Sementara negara jiran Vietnam sebentar lagi memiliki 6 kapal selam Kilo dari Rusia. Malaysia sudah punya 2 Scorpene berencana menambah 2 lagi. Singapura punya 6 kapal selam eks Swedia dan berencana menambah 4 unit lagi. Australia dengan 6 Collins Classnya dan sedang mempersiapkan kapal selam tercanggihnya. Belum lagi bicara tentang punya Cina yang belakangan ini menjadi penganggu ketenteraman Laut Cina Selatan.
 
Logikanya sederhana. Jika memang sekarang kita punya 2 kapal selam lalu 3 tahun ke depan ada tambahan 3 kapal selam jenis Changbogo dari Korsel, artinya tahun 2018 kita punya 5 kapal selam. Tetapi sesungguhnya 2 kapal selam kelas Cakra pada saat itu sudah uzur dan perlu rawat inap lagi atau di museumkan saja. Jadi jumlah efektifnya tak beranjak dari 2-3 kapal selam padahal pada saat yang sama kekhawatiran tentang situasi kawasan “muka belakang” halaman rumah RI makin dinamis dan perlu penjagaan lebih ketat. 
 
Belum lagi menjaga Ambalat yang belakangan ini diganggu manuver kapal selam tetangga. Belum lagi mewaspadai gerakan kapal selam Singapura yang teritori lautnya sempit. Sangat diyakini gerakan kapal selam Singapura selama ini selalu memasuki teritori laut Indonesia. Jadi selain perkuatan armada kapal selam perlu juga pangkalan kapal selam di Dumai Riau selain Teluk Palu dan Surabaya. Sebagaimana skenario sebelum krisis ekonomi 1997 ketika kita hendak membeli 5 kapal selam bekas pakai Jerman U-206 yang cocok untuk perairan dangkal. Sayang tidak jadi beli karena krisis itu. 
 
Memang harus ada pintu lain untuk percepatan target perolehan 12 kapal selam pada tahun 2020. Oleh sebab itu tawaran Rusia merupakan hal yang menggembirakan karena untuk urusan kapal selam Rusia merupakan produsen yang disegani kualitas produknya. Ingat sejarah Trikora dulu, kehadiran 12 kapal selam Whiskey Class Rusia di Indonesia membuat Belanda terpaksa angkat kaki dari Papua. Teknologi kapal selam Rusia sampai saat ini diakui adalah yang paling senyap didunia. 
 
Yang menarik dari tawaran 10 kapal selam Rusia ini adalah “cerita-cerita” sebelumnya sehingga menimbulkan berbagai spekulasi. Seperti diketahui beberapa tahun silam Presiden Vladimir Putin menyetujui pemberian pinjaman dana Kredit State untuk pembelian alutsista sebesar US$ 1 milyar kepada Indonesia. Nah yang 300 juta dollar itu sudah dibelanjakan alutsista made in Rusia berupa Tank Amfibi BMP3F, persenjataan Sukhoi dan suku cadangnya. 
 
Sisanya yang 700 juta dollar anehnya tidak boleh dibelikan alutsista lain selain sosok kapal selam, itu persyaratannya. Skenarionya yang 700 juta dollar itu merupakan jatah 2 kapal selam “herder” jenis Kilo. Tetapi berdasarkan pengumuman, pemerintah Indonesia tidak jadi membeli 2 Kilo karena yang menang tender tahun 2012 lalu adalah Korsel dengan persetujuan membuat 3 kapal selam “anjing kampung” dengan rincian 1 dibuat Daewoo, 1 dibuat bareng Daewoo dan PAL, 1 lagi dibuat PAL dengan supervisi Daewoo. Begitu skenario transfer teknologinya. Rusia mundur dari tender karena ada yang “lucu” disitu. Kan gue yang kasih 700 juta dollar pinjaman untuk 2 kapal selam. Kok pake-pake tender segala sih, kata Paman Beruang Merah. 
 
Tetapi ternyata dalam perjalanan pembuatannya ada klaim dari Jerman sebagai pemilik teknologi U-209 bahwa negeri itu hanya memberi lisensi pada Turki, bukan Korsel sehingga perjalanan pembuatan kapal selam Changbogo yang merupakan fotocopy U-209 tersendat, sebagaimana dinyatakan Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq tanggal 19 Agustus 2013 yang lalu. Sehingga tawaran 10 kapal selam itu perlu dikaji lebih lanjut tentu dengan aroma tak perlu mempersulit minimal soal anggarannya. Jika disetujui baru bisa direalisasikan after 2014 atau MEF tahap II. Tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa Ketua Komisi I DPR langsung mendukung, biasanya selalu ada klarifikasi dulu, atau mempertanyakan atau mengadakan rapat bareng atau “perlawanan ala kadarnya”. 
 
Spekulasi yang berkembang boleh jadi pembuatan kapal selam Kilo terdahulu tetap berjalan tetapi tidak untuk konsumsi publik. Tahun 2009 sudah dimulai pembangunannya sehingga diperkirakan 2 Kilo itu sudah ada di perairan Indonesia saat ini. Nah untuk menutupi perjalanan masa lalu 2 Kilo itu maka skenario tawaran 10 kapal selam dari jenis Kilo, Amur dan Lada bekas menjadi jalan keluarnya sehingga jika pengadaan 10 kapal selam tadi disetujui sudah “include” 2 Kilo proyek sebelumnya. Bukankah Wakil Menteri Pertahanan Malaysia belum lama ini sudah berkoar-koar di Parlemennya bahwa Indonesia sudah punya 2 kapal selam buatan Rusia. Mengapa tidak dibantah. 
 
Asumsi lain adalah jika masing-masing kapal selam yang di upgrade itu memerlukan dana US$ 70 juta maka klop untuk 10 kapal selam dengan kucuran kredit state Rusia yang belum terpakai sebesar US$ 700 juta. Tetapi angka US$ 70 juta itu rasanya kok belum pantas untuk 1 kapal selam bekas. Minimal diperlukan kisaran angka US$ 100 juta. Jangan lupa Vladimir Putin kan pernah menjanjikan tambahan Kredit State sebesar US$ 1milyar lagi untuk pengadaan alutsista Indonesia apalagi jika dikaitkan dengan rencana membangun sistem jaringan rudal penangkis serangan udara di sejumlah titik strategis di Indonesia. 
 
Apapun itu, tawaran yang mendebarkan itu selayaknya patut kita apresiasi dan mendukung realisasinya karena kita memang butuh kapal selam lebih banyak untuk mengawal perairan teritori NKRI. Tentu dengan catatan lebih selektif melihat barangnya, nilai buku dan nilai jual, kepantasan teknologinya, ongkos retrofitnya termasuk biaya pemeliharaan dan ketersediaan awak kapal selam. Disebut mendebarkan karena tetangga kiri kanan juga ikut berdebar dengan tawaran ini termasuk juga spekulasi kehadiran Kilo, rangkaian proses persetujuan pengadaan, anggaran yang tersedia dan kesamaan pandang Ketua Komisi I DPR dengan Pemerintah yang tiba-tiba bisa seiring sejalan gitu loh.
 
 
 
 

Iran Siap Ekspor Produk Pertahanannya Ke Negara Lain

 
TEHRAN : Menteri Pertahanan Republik Islam Iran, Hossein Dehqan menekankan pentingnya kerja sama pertahanan dengan negara-negara lain dan mengatakan bahwa Tehran akan mengekspor produk pertahanan kepada negara-negara lain.
 
"Kami akan menjalin kerjasama dengan berbagai negara mengenai berbagai isu termasuk ekspor produk pertahanan," kata Dehqan pada Ahad (25/8). 
 
Ia menambahkan, Iran akan berusaha untuk bekerja sama dan berbagi pengalaman pertahanan dengan negara-negaratetangga, dan kemudian dengan negara-negara dunia lainnya. Menurutnya, banyak masalah internasional dapat diselesaikan melalui diplomasi defensif. 
 
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah menorehkan prestasi besar di sektor pertahanan dan mencapai swasembada dalam memproduksi sistem-sistem dan peralatan militer penting. Meski demikian, Iran telah berulang kali meyakinkan negara-negara lain bahwa kekuatan militernya tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara lain, sebab doktrin pertahanannya sepenuhnya didasarkan pada pencegahan.
 
Sumber : Dunia Militer

Komisi III perjelas kecurigaan hibah Alutsista negara asing

Komisi III perjelas kecurigaan hibah Alutsista negara asing - Hibah jurstru sedot anggaran TNI - kasus alutsista
kasus alutsista(Foto: ist)

LENSAINDONESIA.COM: Wakil ketua Komisi I DPR (F-PDIP), TB Hasanudin merespon  pernyataan Juru Bicara TNI AU, Kolonel Bambang Supriyadi terkait kecurigaan terhadap hibah Alutsista dari negara asing. Menurutnya, hal ini perlu mendapatkan respon dari pemerintah maupun DPR. Terlebih, sejak awal, penerimaan dana hibah tersebut telah dikritisi oleh Komisi I DPR.
Menurut TB Hasanudin, Alutsista yang dihibahkan negara lain tersebut, akhirnya justru menyedot anggaran TNI untuk pemeliharaan Alutsista. Padahal, menurutnya, tidak efektif digunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara.
“Komisi 1 sudah mengkritisi masalah hibah hibah aneh ini. Pada tahun 2011 sesuai dengan Renstra TNI akan membeli 6 unit F 16 blok 52 yang merupakan unit tercanggih dan terbaru seharga USD 600 juta, tapi kemudian pemerintah CQ Kasau saat itu tiba-tiba memutuskan  menerima hibah pesawat-pesawat F 16  (bekas US National Guard) yang sudah teronggok di gurun Arizona  sebanyak 24 unit” ujar  TB Hasanudin di
Gedung DPR RI, senayan Jakarta, Selasa (04/06/2013) .
“TNI kemudian harus membayar lebih dari USD 700 juta untuk meretrofit, memperbaikinya dan membawanya, dan tetap dalam standar pesawat tua, blok 25 dan blok 32. Dari jumlah mungkin kita bertambah, tapi dari efek daya tangkal terhadap sistim pertahanan udara , hampir tak ada artinya karena negara-negara sekitar kita pun sudah mau meng-grounded-kan pesawat-pesawat tua ini,” katanya.
“Tahun 91 an TNI AL pernah juga menerima puluhan kapal ex-Jerman Timur, negara saat itu harus mengeluarkan anggaran yang tak sedikit,  dan sekarang kapal-kapal itu menjadi beban  pemeliharaan selamanya, tapi sudah tak efisien/efektif lagi untuk dipakai,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, pemerintah dan DPR harus susuk bersama mendefinisikan penerimaan hibah agar mengandung muatan motif politik bangsa lain, yang tidak menguntungkan Indonesia. Terlebih, penerimaan hibah dinilai membuka peluang keuntungan bagi para calo hibah tersebut.
“Ke depan  pemerintah dan DPR harus duduk bersama , membuat definisi yang benar, apa itu hubah? Agar hibah benar-benar hibah murni. Tidak ada motif politik negara lain sifatnya mengikat. Apalagi hanya menguntungkan calo,” tandasnya.

PT DI mampu produksi 65 Helikopter

 
Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan PT Dirgantara Indonesia (DI) saat ini telah berkembang menjadi perusahaan yang produktif dalam kurun waktu tiga tahun terakhir PT DI mampu membuat 65 helikopter.
“Dalam kurun tiga tahun terakhir PT DI mampu membuat 65 helikopter dan ke depan akan membuat pesawat jenis C-295 yang saat ini masih dirakit di Spanyol oleh orang-orang Indonesia,” katanya.
Menurut Dahlan,  kondisi tersebut berbeda dengan PT DI di zaman Orde Baru.  Bahkan,  PT DI sempat mengalami masa sulit ketika terjadi krisis moneter di tahun 1998.  “Sekarang ini PT DI sangat sibuk dan paling sibuk dalam sejarahnya,” kata Dahlan.
Dahlan menambahkan,  PT DI juga memroduksi suku cadang pesawat terbang yang dipesan sejumlah perusahaan asing.  “Bahkan,  berkat Komisi I DPR,  PT DI tidak merugi dalam tutup buku kemarin,” katanya.
Kendati demikian,  dia mengakui BUMN yang bergerak di bidang industri kedirgantaraan ini sedang menghadapi persoalan pelik terkait minimnya sumber daya manusia (SDM).  “Banyak tenaga ahli yang pergi ke luar negeri saat terjadinya krisis moneter,” katanya menjelaskan.
Selain itu,  lanjut Dahlan,  banyak tenaga ahli PT DI yang sudah berusia tua dan belum merekrut tenaga baru selama 10 tahun terakhir

Indonesia Teken Pembelian 8 Unit AH-64E Block III Apache

Presiden SBY saat menyambut kedatangan Menhan AS Chuck Hagel di depan ruang kerja Kantor Presiden, Jakarta, Senin (26/8) siang. (Foto: abror/presidenri.go.id)
26 Agustus 2013, Jakarta: Satu skuadron helikopter serang AH-64E Apache buatan Boeing, Amerika Serikat, akan tiba memperkuat TNI AD, sejalan penandatanganan pemesanan helikopter serang itu, antara Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, dan koleganya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Chuck Hagel, di Jakarta, Senin.
Hagel ke Jakarta dalam rangkaian kunjungan ke Malaysia dan Brunei Darussalam; di negara terakhir ini, Hagel akan menghadiri Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN Plus, yang juga melingkupi Jepang, Amerika Serikat, Rusia, Australia, Selandia Baru, India, dan Korea Selatan.
Disepakati tipe Apache yang dibeli Indonesia dari Amerika Serikat adalah AH-64E Block III sebanyak delapan unit. Apache tipe ini merupakan tipe terbaru walau bukan tercanggih (AH-64D Longbow sebagaimana dimiliki Angkatan Darat Singapura).
AH-64E Apache telah dikirimkan ke Taiwan (30 unit), 22 unit untuk India, dan 24 unit ke Qatar. Khusus India, Boeing “terpaksa” memproduksi bersama AH-64E Apache dengan industri kedirgantaraan negara India.
“Nilai kontrak sekitar 600 juta dolar Amerika Serikat, mulai dari helikopternya, persenjataan, pelatihan awak darat dan pilot, dan lain-lain,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, yang turut menyaksikan penandatanganan itu.
Hagel juga membawa sejumlah besar petinggi militer dan sipil di lingkungan Departemen Pertahanan negaranya.
Selain kontrak pembelian, kedua menteri pertahanan juga membahas peningkatan kerja sama pertahanan diperluas dan pelatihan bersama internasional antiteror ASEAN Plus di Pusat Pelatihan Pasukan Pemeliharan Perdamaian TNI, di Sentul, pada pertengahan September nanti.
Juga program Inisiatif Reformasi Lembaga Pertahanan, yang akan menjadi pola bagi Kementerian Pertahanan meningkatkan kualitas sistem perencanaan strategis, pengadaan barang, dan aspek manajerial lain.
Sumber: ANTARA News

Rusia Tawarkan 10 Kapal Selam

Rusia Tawarkan 10 Kapal Selam
Kapal Selam KRI Nanggala 402. TEMPO/Fahmi Ali
TEMPO.COJakarta – Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, pemerintah mendapat tawaran untuk dapat membeli sekitar 10 unit kapal selam dari Rusia. Jumlah ini di luar rencana pembelian tiga unit kapal selam dari Korea Selatan yang akan datang pada 2014.
“Kapal selam dari Rusia sudah ada. Mereka membuka kesempatan karena kedekatan dengan kita,” kata Purnomo saat ditemui di Istana Merdeka, Sabtu, 17 Agustus 2013.
Purnomo  tidak menjelaskan detail spesifikasi dan tawaran harga yang diberikan pemerintah Rusia untuk mendatangkan 10 kapal selam tersebut. Ia juga menyatakan, pemerintah belum bulat untuk menerima tawaran Rusia karena masih harus mempertimbangkan dan menghitung biaya.
Selain harga kapal selam per unit, menurut dia, pemerintah juga harus mempertimbangkan besarnya biaya perawatan, pemeliharaan, perbaikan, dan kesiapan infrastruktur. Selain itu, hal lain yang menjadi pertimbangan adalah usia atau masa guna kapal selam tersebut.”Kita tidak bisa tergesa, hitung dulu semua,” kata Purnomo.
Sedangkan untuk kapal selam dari Korea, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ini memaparkan, pemerintah bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bertahan dan penangkalan ancaman. Sebagai negara yang memiliki orientasi kedamaian, Indonesia dinilai harus memiliki kemampuan teknologi dan senjata yang kuat. “Kita sedang survei pangkalan kapal selam, salah satunya di Palu.”
Pada 2024 meski belum memastikan sebagai negara terkuat, menurut Purnomo, Indonesia akan berada pada empat negara kuat di kawasan Asia Tenggara bersama Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bersama tiga negara ini, Indonesia akan membentuk ASEAN Defense Ministerial Meeting yang kuat dari ancaman kawasan luar.

Lion akan Beli 50 Pesawat dari PT DI

INILAH.COM, Jakarta – Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan PT Lion Mentari Airline (Lion Air) akan membeli 50 pesawat N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero).
“Beliau (Dirut Lion Air, Rusdi Kirana) mau beli pesawat N219 buatan PT DI sebanyak 50 pesawat,” kata Dahlan saat di gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (12/8/2013).
Pesawat jenis N219 merupakan pesawat perintis berkasitas 19 tempat duduk yang menghubungkan pulau-pulau kecil di Indonesia. Pembelian pesawat tersebut oleh Lion Air diyakini Dahlan akan mendongkrak kinerja keuangan PT DI ke depannya.
“Kita sepakat mengembangkan PT DI untuk menjadikan kebanggaan nasional dan dia (dirut Lion Air) inggin ikut kembangkan PT DI dengan membeli pesawat yang orisinil buatan PT DI,” tutur Dahlan.
Namun Dahlan, belum bisa menyebutkan nilai penjualan 50 pesawat tersebut karena masih dalam pembicaraan lebih lanjut. “Perundingan masih panjang, nilai belum sampai ke situ,” ucap Dahlan.
Lebih lanjut Dahlan mengatakan, pihak PT DI akan memproduksi pesawat jenis N219 dua tahun lagi. Hal itu karena jenis pesawat ini masih dalam rancangan PT DI. “Sekarang sedang bikin prototipenya, ini asli buatan PT DI bukan Spanyol dan Perancis,” kata Dahlan.
Sementara itu, Rusdi Kirana belum mau berkomentar banyak terkait pembelian pesawat N219. “Tanya ke pak Dahlan, kita mau kerjasama dengan PT DI,” ucap Rusdi di tempat yang sama. [mel]

Ini baru TOP ! Bos PT DI Dan Lion Air Bahas Pembelian Pesawat N219 Made In Bandung

Bos PT DI Dan Lion Air Bahas Pembelian Pesawat N219 Made In Bandung 
PT Dirgantara Indonesia (DI) mengakui maskapai nasional Lion Air berminat membeli pesawat asli buatan Indonesia N219. Bahkan kedua pimpinan tertinggi perusahaan yakni Direktur Utama PTDI Budi Santoso dan Direktur Utama Lion Air Rusdi kirana telah bertemu dan membahas rencana pembelian pesawat baling-baling berpenumpang 19 orang ini.”Sebelum lebaran sudah terjadi pembicaraan dari Pak Rusdi (Dirut Lion Air) dan Pak Budi (Dirut PT DI. Perlu workout detail-nya,” ucap Direktur Niaga & Restrukturisasi PTDI Budiman Saleh secara singkat kepada detikFinance Selasa (13/8/2013).
Diakuinya, pesawat ini akan mulai diproduksi secara masal pada tahun 2015. Namun Budiman enggan menyebut lebih jauh mengenai perkembangan pembelian pesawat oleh Lion Air.
Sementara itu Dirut PT DI menjelaskan belum ada pembahasan lebih jauh terkait rencana penggunaan pesawat N219 oleh Lion Air.
“Baru rencana, nanti kalau ada pembicaraan yang kongkrit saya akan kabari,” kata Budi secara singkat.
Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menjelaskan Lion Airberencana membeli 50 unit armada N219 dari PTDI. Direncanakan Lion Air akan menjadi maskapai pertama yang mengoperasikan burung besi yang dibuat dan dirancang di Bandung, Jawa Barat itu.

Pesawat Kena Pajak Barang Mewah, Bos PT DI: Orang Malas Registrasi di RI

Jakarta – Pemerintah masih mengenakan pajak tinggi untuk pembelian pesawat dan helikopter. Untuk pembelian dari produsen di dalam dan luar negeri, setidaknya perusahaan atau masyarakat di Indonesia harus membayar Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) senilai 50% dari nilai barang.
Direktur PT Dirgatara Indonesia (PTDI) (Persero) Budi Santoso menjelaskan akibat dari pengenaan ini membuat kepemilikan pesawat dan helikopter dengan registrasi Indonesia sangat minim.
“Orang males dengan registrasi di Indonesia jadi pesawatnya didaftarkan di luar negeri kemudian disewa ke Indonesia karena nggak kena pajak,” ucap Budi kepada detikFinance pekan lalu.
Budi mencontohkan, ketika Badan SAR Nasional (Basarnas) membeli 2 helikopter ke PT DI senilai Rp 262,98 miliar. Basarnas pun wajib membayar pajak tambahan senilai Rp 130 miliar.
Menurutnya maskapai asal Indonesia lebih memilih menyewa pesawat atau helikopter karena terbebas dari pajak barang mewah. Sementara di luar negeri seperti Singapura kepemilikan helikopter dan pesawat sangat banyak karena di negara tetangga Indonesia itu membeli pesawat dan helikopter dianggap menjadi barang modal dan bukan barang mewah sehingga terbebas dari pajak barang mewah.
“Banyak pesawat kita leasing pesawat dari luar negeri. leasing nggak kena kita cuma sewa,” jelasnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Indonesia Chatib Basri mengaku akan mempelajari pengenaan pajak tinggi terhadap pembelian pesawat dan helikopter dari produsen di dalam dan luar negeri.
“Nanti saya pelajari dulu, saya belum tahu mesti dilihat impact-nya dan efektifitasnya seperti apa,” kata Chatib.
Hal senada juga disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, ia akan mengecek aturan pengenaan pajak barang mewah hingga 50% untuk setiap pembelian helikopter dan pesawat. Diakuinya hal ini bisa berdampak terhadap kurang kompetitifnya produk pesawat PTDI.
“Saya akan cek aturan ini,” terang Dahlan.

Geliat DI dan PT DI

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berhasil melobi Islamic Development Bank (IDB) untuk menyediakan fasilitas pinjaman US$ 3,3 miliar atau setara Rp 30 triliun untuk BUMN produsen pesawat yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI).
Fasilitas kredit ekspor ini diberikan selama 3 tahun untuk membantu calon pembeli yang akan membeli pesawat kepada PTDI.
“Saya kaget, ini pernah dibicarakan tahun lalu, tapi Pak Dahlan malah datang ke situ (ke Mekkah bertemu presiden IDB),” ucap Direktur Utama PTDI Budi Santoso kepada detikFinance seperti dikutip, Sabtu (10/8/2013).
Diakui Budi, fasilitas kredit ekspor ini sangat membantu calon pembeli pesawat PTDI yang tidak memiliki anggaran. Menurut Budi, IDB akan memberi atau memfasilitasi pinjaman kepada negara-negara yang akan membeli pesawat dari PTDI.
“Ada beberapa negara seperti Bangladesh terutama negara Islam, mereka minta kredit ekspor karena negara nggak punya tunai. TNI juga pakai kredit kalau beli pesawat. IDB menilai untuk bisa maju perlu beli pesawat tapi mereka nggak punya uang,” jelasnya.
Sebelumnya, saat melakukan kunjungan kerja dan umroh ke Makkah, Arab Saudi. Dahlan meluangkan waktu bertemu langsung dengan Presiden IDB, Dr Ahmed Mohammed Ali dan pimpinan IDB divisi Asia Selatan dan Tenggara Dr. Ahmed Saleh Hariri di Clock Tower depan Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi.
Dari hasil pertemuan itu, PTDI memperoleh fasilitas kredit ekspor senilai Rp 30 triliun. Dahlan juga bertemu dengan pimpinan perusahaan kontruksi Bin Laden Group.

Bank Pembangunan Islam Bantu Ekspor Pesawat PT DI

VIVAnews – Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengharapkan Bank Pembangunan Islam atau Islamic Development Bank (IDB) membantu pendanaan ekspansi PT Dirgantara Indonesia.
Dalam keterangan tertulisnya, Selasa 6 Agustus 2013, Dahlan mengatakan bahwa hal itu tercentus ketika dirinya mengadakan pertemuan dengan Presiden IDB, Dr Ahmed Mohammed Ali dan Dr Ahmed Saleh Hariri, pimpinan IDB divisi Asia Selatan dan Tenggara di Clock Tower, depan Masjidil Haram, Mekkah.
Dalam pembicaraan itu, ungkapnya, ia meminta agar IDB bisa mendukung ekspor pesawat-pesawat produksi PT DI melalui fasilitas kredit ekspor IDB. Sebab, penjualan pesawat PT DI akan lancar jika menggunakan kredit ekspor karena negara pembeli biasanya minta sekalian pembiayaannya.
Dahlan mengaku bahwa Dr Ahmed sangat antusias menyambut keinginan tersebut, karena IDB memang menyediakan kredit ekspor untuk negara-negara anggota. Selain itu, Indonesia sebagai salah satu pendiri IDB 39 tahun lalu, menurut Dr Ahmed memegang peran penting dalam IDB.
Dalam pertemuan itu, Dahlan juga menjelaskan bahwa PT DI sedang menawarkan pesawat untuk Bangladesh dan ke beberapa negara Afrika. Dan IDB tertarik untuk memberikan fasilitas kredit ekspor bagi Bangladesh.
“Saya juga ditanya, negara mana saja yg sudah menyatakan minatnya tapi terhalang masalah pembiayaan. Saya sudah sampaikan negara-negara dimaksud termasuk Filipina,” kata Dahlan.
Buka Kantor
Selama tiga tahun ke depan, ungkap Dahlan, IDB menyediakan fasilitas pendanaan sampai Rp30 triliun (US$3,3 miliar). IDB juga segera membuka kantor di Jakarta akhir tahun ini. “Selama ini untuk Asia Tenggara IDB berkantor di Kuala Lumpur,” ujarnya.
Dr Ahmed, lanjutnya, mengatakan mengenal baik industri pesawat Indonesia karena pernah diajak Prof Habibie ke Bandung di awal tahun 1990-an. “Dia berharap, apa yang saya inginkan tersebut bisa dilakukan oleh IDB,: tutur Dahlan.
Dr Ahmed, dia menambahkan, menyatakan kegembiraannya mendengar paparan tersebut bahwa kini PT DI memperoleh kemajuan besar dan untuk pertama kalinya tidak lagi rugi.
Selain itu, kata Dahlan, Dr Ahmed mengemukakan kalau IDB sudah berkembang pesat dan sejak beberapa tahun terakhir selalu memperoleh rating tertinggi AAA. “Dia berharap, bisa menjalin kerjasama dengan BUMN Indonesia untuk mengembangkan perekonomian Indonesia,” tutur Dahlan. (ren)

2 BUMN Ini Bakal Bikin Jet Tempur Sekelas F22 dan Kapal Selam Canggih

Jakarta – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia bakal menerima penugasan pemerintah merancang dan mengembangkan pesawat tempur dan kapal selam canggih. Tugas ini diberikan kepada PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT PAL.
Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, PTDI saat ini sedang dalam proses mengembangkan desain pesawat tempur canggih sekelas F22 bersama Korea Selatan.
“Pilihannya mau tetap seperti sama dengan F22 atau naik ke F35,” ucap Purnomo kepada detikFinance lebaran lalu seperti dikutip, Senin (12/8/2013).
Ditegaskan Purnomo, program pengembangan yang bernama Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) ini tetap berjalan, meskipun pemerintah Korsel sempat terjadi penghentian sementara. Untuk pengembangan jet tempur ini, Indonesia mengambil porsi pembiayaan hingga 20% dari total anggaran proyek.
“Dulu kita sudah siapkan skema pembiayaan dan DPR sudah setuju. DPR kan sudah lihat desain kita yang di Bandung. Hanya kita nunggu dari Korea. Ini kan pemerintahan baru, nanti akan ada hubungan 60 tahun Indonesia Korea. Kita akan menandatangani pengukuhan kerjasama pertahanan,” tambahnya.
Selain mengembangkan jet tempur, BUMN lainnya yakni PT PAL siap menerima penugasan untuk mengembangkan kapal selam canggih bersama Korsel. Untuk kapal selam, tahap awal akan diproduksi sebanyak 2 unit di Korsel.
Kemudian PAL akan memproduksi sendiri kapal selam canggih di galangan kapalnya di Surabaya Jawa Timur pada tahun 2015 atau paling lambat tahun 2016.
“Itu sekarang pertama kedua sedang dibuat di Korea. setelah itu dibuat di PT PAL. Di PT PAL kita renovasi dulu kita buat dulu hanggar menjadi tempat pembuatan kapal selam,” jelasnya.

Malaysia Pesan Seragam Militer di Sukoharjo

Ini menambah deretan negara-negara yang kepincut produk Indonesia.



VIVAnews - Pabrik tekstil di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sritex dipercaya pemerintah Malaysia sebagai pembuat seragam tentara negeri Jiran itu. Selain Malaysia, perusahaan yang didirikan HM Lukminto ini juga dipercaya memproduksi seragam militer anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO) .

Presiden Direktur PT Sri Rejeki Isman (Sritex) Iwan Setiawan Lukminto, Jumat 16 Agustus 2013 mengatakan, baru tahun ini Sritex menerima pesanan pembuatan seragam militer dari Malaysia.

"Selain dari Malaysia, tahun ini kami juga menerima pesanan seragam tentara untuk negara Swedia dan Belanda. Itu pemesan seragam militer yang paling baru," kata dia. Iwan juga menyebutkan, sudah ada 30 negara yang memesan seragam militer produksi Sritex.

Perusahaan tekstil di Sukoharjo itu pertama kali menggarap pesanan seragam tentara Indonesia sekitar tahun 1990-an. Setelah itu Sritex banjir pesanan dari negara Eropa, seperti Jerman. "Pesanan pertama untuk menembus di Eropa itu lewat Jerman. Setelah itu baru menembus ke negara-negara lainnya," kata dia.

Selain negara-negara di kawasan Eropa, disebutkan dia negara-negara tetangga juga mempercayakan pembuatan seragam militernya kepada Sritex, di antaranya New Zealand, New Guinea, Timor Leste dan negara lainnya.


Meski pesanan order pembuatan seragam militer membanjiri Sritex, namun porsi produksi masih dikuasai oleh produk fashion. Yakni dengan perhitungan 30 persen untuk seragam militer dan 70 persen untuk produk fashion. "Sejumlah merek terkenal di luar negeri, produksinya di Sritex," tuturnya. (eh).

Kapal Perang Modern Myanmar Navy

1. AUNG ZEYA CLASS



ARMAMENT
8 x Kh-35E anti-ship missiles
1× Oto Melara 76 mm Super Rapid Cannons
4 x AK-630 6-barrel 30 mm CIWS guns
Triple 324 mm YU-7 ASW torpedoes
Rocket Launchers, possibly ASW rockets or decoy rockets
SHIPS : F 11 Aung Zeya & F 12 Kyansittha

2. ANAWRATHA CLASS


ARMAMENT
1 × Oto Melara 76 mm Super Rapid Cannons
2 × Type 58/ZPU 2 Anti-aircraft Gun
1 × Type 69/AK-230 twin-barrel 30 mm CIWS gun
4 × C-802 Surface-to-Surface Missile
2 × RBU-1200 or Type 81 ASW rocket launchers
1 helipad
SHIPS : UMS ANAWRATHA (771) & UMS BAYINNAUNG (772)

FAC STEALTH


ARMAMENT
1 × AK-630 six-barrel 30 mm CIWS gun
4 x C-802 anti-ship missile
===================================

daripada jauh-jauh TOT ke Belanda & Korea ada Negara yang lebih dekat untuk belajar buat Kapal.

Mengenal Konsep Jet Tempur Generasi ke Enam


Dunia kedirgantaraan militer terutama pesawat tempur belum lama ini beranjak memasuki fase generasi ke 5 setelah pesawat tempur Amerika F-22 Raptor memasuki masa dinas operasional pada tahun 2005. Kehadiran F22 secara tak langsung mendorong rival nya Rusia untuk mengembangkan pula pesawat generasi ke 5, hasilnya pada tahun 2010 Rusia memperkenalkan fighter generasi ke 5 melalui Sukhoi T-50 PAKFA yang hingga kini masih dalam tahap uji coba. Selanjutnya China juga tak mau ketinggalan, didiukung kekuatan ekonomi yang menggila ,China sukses menerbangkan prototype fighter gen 5 nya, Chengdu J-20. Praktis di dunia ini hanya ada 3 negara saja yang memiliki pesawat generasi ke 5. Sayang F-22 terpaksa menginjak kulit durian karena harga yang kelewat mahal serta masih adanya gangguan teknis membuat F22 sementara di kandangkan, penggantinya F-35 Lightning juga tak berjalan terlalu mulus.

Jepang yang secara teoritis memiliki kemampuan untuk membangun jet tempur generasi ke 5 terhalang oleh tekanan poliktik Amerika. Jet siluman rancangannya ATDX Sin Sin terpaksa hanya dibuat mock up nya saja untuk keperluat riset lebih jauh. Memandang bahwa generasi ke 5 masih belum di operasionalkan secara merata dan cepat, ditambah kepungan negara tetangganya Rusia dan China yang lebih dulu membuat Generasi ke 5 maka tak ada salahnya bagi Jepang membuat lompatan yang lebih jauh dan strategis yakni Mempelopori era Jet Tempur Generasi ke 6.

Berdasarkan penjelasan konsep generasi ke 6 yang bertebaran di dunia Maya, pada intinya teknologi generasi ke 6 hanyalah peningkatan atau penyempurnaan dari teknologi generasi ke 5 yang berjalan sinergis dengan perkembangan teknologi peradaran, Air Defence, senjata dsb. Generasi ke 6 secara tradisional akan lebih unggul dari generasi ke 5 dalam hal kecepatan, jarak tempuh, sistem senjata, Avionics, kemampuan elektronis, Kasat Mata (stealth) dan teknologi material. Jet tempur generasi 6 juga wajib berfitur Counter Stealth yang dapat merontokan kemampuan stealth jet tempur generasi ke 5.

Boeing juga sudah memperkenalkan konsep sixth generation fighternya yakni F/A-XX yang diperkirakan dapat diproduksi dan dioperasional kan pada tahun 2030 – 2050. Disisi cokcpit, teknologi generasi ke 6 mungkin sudah dapat mengaplikasikan opsi Manned or Unmanned bagi pilotnya. Bisa dikendalikan secara remote dari jarak jauh (Unmannded) layaknya UAV atau masih memakai Pilot manusia (manned), sedang opsi teknologi Artificial Intelegence sepertinya masih terlalu rawan untuk digunakan sebagai otak pesawat tempur.


Perkiraan wujud pesawat2 generasi ke 6 kemungkinan tak berbeda jauh dengan gambaran konsep Boeing F/A-XX , bentuk tempur dari bomber B-2 spirit. Namun bisa juga, tergantung dari rancangan tiap produsen pesawat gambaran wujud generasi 6 bakal hadir secara unik, liar dan keren seperti pesawat2 di film scif-fi ,game atau komik/manga. Salah satu desain pesawat tempur masa depan yang cukup populer adalah VF-1 A yang muncul di serial anime Maccros, di anime pesawat ini bisa bertransformasi menjadi robot dan bisa keluar masuk planet Bumi. Bila Jepang tak dihambat AS bisa jadi Jepang adalah negara pertama yang mengoperasikan pesawat generasi ke 6

MASA DEPAN KEKUATAN TEMPUR UDARA AUSTRALIA

F/A 18 Super Hornet RAAF
F/A 18 Super Hornet RAAF
Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith pada 16 Desember 2012 memberikan keterangan mengenai rencana untuk meningkatkan kekuatan tempur udara Australia di masa depan. "Kekuatan tempur udara Australia merupakan bagian penting dari kerangka kerja keamanan nasional kami. Pemerintah Australia tidak akan membiarkan terjadinya kesenjangan dalam kekuatan tempur udaranya," kata Smith.

Pada Mei tahun ini, Smith mengemukakan rencana transisi untuk kekuatan tempur udara Australia. Penilaian terhadap kemajuan proyek jet tempur F-35A Joint Strike Fighter (JSF) dan setiap kesenjangan potensial dari kekuatan tempur udara Australia, akan disampaikan kepada Pemerintah pada akhir 2012 agar dapat membuat keputusan tentang bagaimana sebaiknya kekuatan tempur udara Australia di masa depan.

Rencana transisi kekuatan tempur udara tersebut disiapkan oleh Departemen Pertahanan mencakup penilaian apakah pilihan alternatif perlu diterapkan untuk menjamin kontinuitas dalam kekuatan tempur udara Australia seperti proyek F-35 JSF yang mengalami penundaan dan masalah penuaan pada armada F/A-18 Hornet Australia.

Rencana transisi kekuatan tempur udara dianggap sebagai usaha yang tepat untuk mengelola transisi Angkatan Udara Australia (RAAF) apabila nantinya Hornet Klasik, Super Hornet dan F-35 berada dalam 1 kesatuan di masa depan. Rencana tersebut meliputi penilaian terhadap kemajuan proyek JSF, keberlangsungan dari 71 unit F/A-18 Hornets Klasik yang ada di armada RAAF, dan kesenjangan potensi kemampuan dan pengelolaan Super Hornet dan kemampuan Growler. Ini juga termasuk opsi untuk menambah armada Super Hornet.

F/A 18 Super Hornet dan Sukhoi terbang bersama
F/A 18 Super Hornet RAAF terbang bersama Sukhoi TNI AU di Darwin
Armada Hornet klasik Australia yang awalnya berjumlah 75 pesawat, mulai beroperasi di Australia antara tahun 1985 dan 1990. Armada Hornet ini telah menjalani perawatan intensif agar bisa dipastikan tetap dapat beroperasi hingga tahun 2020.

Pada bulan September lalu, Australian National Audit Office (ANAO) menyelesaikan audit kinerja pada pengelolaan upgrade armada F/A-18 dan memelihara kemampuan tempurnya. ANAO menemukan bahwa manajemen pertahanan F/A-18 masih efektif sejauh ini dalam mengidentifikasi ancaman dari operasi-operasi mereka dan akan dilakukan pengelolaan yang serius dan berkelanjutan oleh Departemen Pertahanan.

Pemerintah Australia kini mempertimbangkan rencana transisi kekuatan tempur udara dan Departemen Pertahanan telah memerintahkan untuk melakukan pekerjaan lebih lanjut mengenai berbagai pilihan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekuatan tempur udara, termasuk mendapatkan informasi terbaru dari Amerika Serikat tentang harga terbaru dari Super Hornet.

RAAF saat ini memiliki armada 24 pesawat F/A-18F Super Hornet. Armada Super Hornet ini pertama kali beroperasi antara Maret 2010 dan Oktober 2011. F/A-18F Super Hornet merupakan langkah maju yang besar dalam teknologi untuk kekuatan tempur udara Australia. Super Hornet memberikan RAAF kemampuan untuk melakukan tempur udara-ke-udara, menyerang sasaran di darat dan di laut, menekan/supresi pertahanan udara musuh dan termasuk melakukan pengintaian.

Super Hornet sangat penting keberadaannya untuk mempertahankan wilayah udara Australia dari ancaman hingga saatnya nanti menggunakan F-35 JSF. RAFF juga mendapatkan sistem pertempuran elektronik Growler untuk Super Hornet mereka. Growler adalah sistem peperangan yang memberikan Super Hornet kemampuan jamming sistem elektronik radar pesawat dan darat dan sistem komunikasi.

Sekarang Australia akan mengirimkan Letter of Request (LOR) ke Amerika Serikat untuk mengetahui biaya dan informasi ketersediaan 24 pesawat Super Hornet tambahan untuk RAAF melalui program Penjualan Militer Luar Negeri Amerika Serikat.

Sampai saat ini pemerintah Australia memang belum membuat keputusan untuk membeli tambahan Super Hornet. Pengiriman LOR bukan berarti menandai komitmen Australia untuk membeli tambahan Super Hornet. Namun hal ini dilakukan oleh Pemerintah Australia agar bisa mempertimbangkan semua opsi pada tahun 2013 nanti mengenai biaya terbaru, terbaik dan informasi ketersediaan Super Hornet. Hal ini telah dijelaskan Australia kepada AS termasuk pabrikan pertahanannya.

Setelah menerima respon LOR, selanjutnya pemerintah Australia sepenuhnya akan mempertimbangkan apa yang terbaik untuk Kemampuan Tempur Udara RAAF pada tahun 2013.

MASA DEPAN KEKUATAN TEMPUR UDARA AUSTRALIA

F/A 18 Super Hornet RAAF
F/A 18 Super Hornet RAAF
Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith pada 16 Desember 2012 memberikan keterangan mengenai rencana untuk meningkatkan kekuatan tempur udara Australia di masa depan. "Kekuatan tempur udara Australia merupakan bagian penting dari kerangka kerja keamanan nasional kami. Pemerintah Australia tidak akan membiarkan terjadinya kesenjangan dalam kekuatan tempur udaranya," kata Smith.

Pada Mei tahun ini, Smith mengemukakan rencana transisi untuk kekuatan tempur udara Australia. Penilaian terhadap kemajuan proyek jet tempur F-35A Joint Strike Fighter (JSF) dan setiap kesenjangan potensial dari kekuatan tempur udara Australia, akan disampaikan kepada Pemerintah pada akhir 2012 agar dapat membuat keputusan tentang bagaimana sebaiknya kekuatan tempur udara Australia di masa depan.

Rencana transisi kekuatan tempur udara tersebut disiapkan oleh Departemen Pertahanan mencakup penilaian apakah pilihan alternatif perlu diterapkan untuk menjamin kontinuitas dalam kekuatan tempur udara Australia seperti proyek F-35 JSF yang mengalami penundaan dan masalah penuaan pada armada F/A-18 Hornet Australia.

Rencana transisi kekuatan tempur udara dianggap sebagai usaha yang tepat untuk mengelola transisi Angkatan Udara Australia (RAAF) apabila nantinya Hornet Klasik, Super Hornet dan F-35 berada dalam 1 kesatuan di masa depan. Rencana tersebut meliputi penilaian terhadap kemajuan proyek JSF, keberlangsungan dari 71 unit F/A-18 Hornets Klasik yang ada di armada RAAF, dan kesenjangan potensi kemampuan dan pengelolaan Super Hornet dan kemampuan Growler. Ini juga termasuk opsi untuk menambah armada Super Hornet.

F/A 18 Super Hornet dan Sukhoi terbang bersama
F/A 18 Super Hornet RAAF terbang bersama Sukhoi TNI AU di Darwin
Armada Hornet klasik Australia yang awalnya berjumlah 75 pesawat, mulai beroperasi di Australia antara tahun 1985 dan 1990. Armada Hornet ini telah menjalani perawatan intensif agar bisa dipastikan tetap dapat beroperasi hingga tahun 2020.

Pada bulan September lalu, Australian National Audit Office (ANAO) menyelesaikan audit kinerja pada pengelolaan upgrade armada F/A-18 dan memelihara kemampuan tempurnya. ANAO menemukan bahwa manajemen pertahanan F/A-18 masih efektif sejauh ini dalam mengidentifikasi ancaman dari operasi-operasi mereka dan akan dilakukan pengelolaan yang serius dan berkelanjutan oleh Departemen Pertahanan.

Pemerintah Australia kini mempertimbangkan rencana transisi kekuatan tempur udara dan Departemen Pertahanan telah memerintahkan untuk melakukan pekerjaan lebih lanjut mengenai berbagai pilihan untuk mempertahankan atau meningkatkan kekuatan tempur udara, termasuk mendapatkan informasi terbaru dari Amerika Serikat tentang harga terbaru dari Super Hornet.

RAAF saat ini memiliki armada 24 pesawat F/A-18F Super Hornet. Armada Super Hornet ini pertama kali beroperasi antara Maret 2010 dan Oktober 2011. F/A-18F Super Hornet merupakan langkah maju yang besar dalam teknologi untuk kekuatan tempur udara Australia. Super Hornet memberikan RAAF kemampuan untuk melakukan tempur udara-ke-udara, menyerang sasaran di darat dan di laut, menekan/supresi pertahanan udara musuh dan termasuk melakukan pengintaian.

Super Hornet sangat penting keberadaannya untuk mempertahankan wilayah udara Australia dari ancaman hingga saatnya nanti menggunakan F-35 JSF. RAFF juga mendapatkan sistem pertempuran elektronik Growler untuk Super Hornet mereka. Growler adalah sistem peperangan yang memberikan Super Hornet kemampuan jamming sistem elektronik radar pesawat dan darat dan sistem komunikasi.

Sekarang Australia akan mengirimkan Letter of Request (LOR) ke Amerika Serikat untuk mengetahui biaya dan informasi ketersediaan 24 pesawat Super Hornet tambahan untuk RAAF melalui program Penjualan Militer Luar Negeri Amerika Serikat.

Sampai saat ini pemerintah Australia memang belum membuat keputusan untuk membeli tambahan Super Hornet. Pengiriman LOR bukan berarti menandai komitmen Australia untuk membeli tambahan Super Hornet. Namun hal ini dilakukan oleh Pemerintah Australia agar bisa mempertimbangkan semua opsi pada tahun 2013 nanti mengenai biaya terbaru, terbaik dan informasi ketersediaan Super Hornet. Hal ini telah dijelaskan Australia kepada AS termasuk pabrikan pertahanannya.

Setelah menerima respon LOR, selanjutnya pemerintah Australia sepenuhnya akan mempertimbangkan apa yang terbaik untuk Kemampuan Tempur Udara RAAF pada tahun 2013.
hackerandeducation © 2008 Template by:
SkinCorner